Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 09 - Malam Yang Panjang


__ADS_3

Hujan masih turun dengan lebatnya, bahkan sesekali suara petir menyambar. Tidak ada yang tahu, siapakah yang bertamu dimalam hari. Lusia sudah tidak bisa menahan rasa takutnya, seluruh tubuhnya semakin menjadi dingin dan gemetar. Jantungnya berdebar seketika Rayn tiba-tiba menggenggam tangannya.


“Apa yang kau lakukan ?” tanya Lusia kasar.


Rayn tidak menjawab, dia hanya fokus meyakinkan dirinya sekali lagi sebelum Lusia meninggalkan kediamannya. Ia masih tidak percaya jika tubuhnya tidak memiliki reaksi apapun terhadap Lusia. Lusia berusaha menarik lengannya dari genggaman tangan Rayn. Namun cengkraman Rayn menahannya hingga sulit untuk melepaskankan.


“Ambil dan minumlah dahulu, aku akan melihat siapa yang datang” jawab Rayn memberikan sebotol air mineral yang masih bersegel agar Lusia tidak harus khawatir untuk meminumnya.


Rayn pergi meninggalkan Lusia untuk melihat siapa yang datang dan mengaktifkan layar. Ia pun terdiam sesaat melihat sosok seorang pria yang tidak dikenalnya berdiri dibalik pintu.


“Siapa kau ?” tanya Rayn melalui layar.


“Lusia ? dimana Lusia ?” sahut pria itu dibalik pintu.


Mendengar suara yang tidak asing memanggil namanya, Lusia bergegas lari menuju pintu dan memastikan jika benar itu adalah suara Kelvin.


“Kelvin... ” ucap Lusia menatap layar.


Lusia bergegas membuka pintu, namun Rayn dengan cepat menahan tangan Lusia yang sudah memegang gagang pintu hendak membukanya.


“Apa lagi yang kau lakukan ?” tanya Lusia.


“Kau sungguh yakin mengenalnya ?” tanya Rayn. Ia khawatir jika Lusia hanya pura-pura mengenal pria itu karena merasa ada kesempatan untuk keluar meninggalkan Villa.


"Lepaskan tanganmu" perintah Lusia mengabaikan pertanyaan Rayn.


Rayn semakin erat memegang lengan Lusia. "Kau tidak harus memaksakan diri mengatakan mengenalnya jika kau tidak benar-benar mengenalnya" ucap Rayn menahan Lusia untuk tidak melanjutkan membuka pintu.


Lusia mengabaikannya dan tetap membuka pintu. Melihat pintu terbuka, Kelvin langsung bergegas masuk. Kelvin mengerutkan dahinya tampak marah melihat Lusia berdiri disebelah Rayn. Matanya terpusat pada tangan Rayn yang menggenggam lengan Lusia.


“Apa yang kau lakukan padanya ?” tanya Kelvin mendekat berusaha untuk melepaskan tangan Ryan dari Lusia.


Menyadari Kelvin mendekat, Rayn langsung melepaskan tangan Lusia dan mengambil langkah mundur sebelum Kelvin menyentuhnya dengan pandangan dingin itu.


Melihat kedatangan Kelvin, Lusia langsung melangkahkan kaki berdiri ke sebelah Kelvin. Ia menunduk mengucapkan terima kasih kepada Rayn. “Terima kasih untuk minumannya dan juga perapiannya“ ucapnya.


“Kita pamit“ lanjutnya sambil mengajak Kelvin meninggalkan tempat itu. Kelvin meraih payungnya memeluk bahu Lusia dan membawanya pergi ke mobil. Rayn hanya diam melihat kepergian mereka.


“Aku akan kembali dengan membawa Momo” ucap Lusia.


“Kau ikut mobilku…“ perintah Kelvin.


“Tapi bagaimana dengan Momo?” tanya Lusia.


“Disaat seperti ini, kau masih mengkhawatirkan mobil Cafe ?" tanya Kelvin dengan nada tinggi. Ia sudah tidak bisa menutupi kecemasannya. Melihat Lusia hanya diam memandangnya, Kelvin menurunkan nada bicara dengan membuang nafas perlahan. "Aku akan mengurusnya besok, jangan khawatir. Sekarang pulanglah bersamaku” lanjut ucap Kelvin sambil membukakan pintu mobilnya untuk Lusia.


Lusia mengikuti perintah Kelvin, ia masuk kedalam mobil Kelvin. Kelvin mulai berkendara meninggalkan Villa. Lusia hanya diam dengan menatap Villa yang ditinggalkannya dibalik kaca spion. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling berdiam menjadikan suasana sangat hening. Kelvin tidak berbicara sepatah katapun, ia hanya fokus mengemudi ditengah hujan yang masih deras.


“Kenapa kau tidak menanyakan sesuatu ?“ tanya Lusia tanpa memandang kearah Kelvin. Ia hanya menatap seduh jalanan yang dilaluinya.

__ADS_1


“Kau bisa menceritakannya besok saat kau sudah merasa lebih baik. Perjalanan masih membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Istirahatlah sejenak, aku akan membangunkanmu jika kita sudah sampai” jawab Kelvin.


Kelvin merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menunjukkan kekhawatirannya yang luar biasa dengan memberondong pertanyaan kepada Lusia. Kecemasan dan ketakutan yang ia lihat di wajah Lusia membuatnya memilih untuk menahan diri.


Mereka telah sampai didepan rumah kost Lusia. Kelvin yang sedari tadi sudah mematikan mobil sengaja tidak membangunkan Lusia. Kelvin hanya tetap tenang duduk di kursi kemudi menatap wajah Lusia.


'Apa masih jauh, kenapa kau masih belum kembali ?' Terlihat notifikasi pesan masuk dari Reisa dilayar ponsel Lusia. Kelvin meraihnya perlahan dan membalas pesan Reisa.


'kita sudah didepan, beri aku waktu 10 menit lalu turun jemput dia. Dia masih tertidur, aku hanya tidak ingin membangunkannya sekarang. -Kelvin' Kelvin membalas pesan Reisa lalu meletakkan kembali ponsel Lusia.


10 menit berlalu, terlihat seorang wanita dengan payung berjalan mendekati mobil.


Tok.. Tok….


Reisa perlahan mengetuk pintu kaca mobil. Reisa merasa sangat cemas, bahkan dirinya benar-benar turun menjemput Lusia tepat dimenit kesepuluh sesuai perintah Kelvin. Ketukan pintu Reisa membangunkan Lusia. Ia terkejut jika ada Reisa yang sudah menunggunya.


“Terima kasih untuk malam ini, aku pamit” ucap Lusia keluar dari mobil.


Reisa menyambut dan membagi payungnya dengan Lusia, ia menunduk pamit kepada Kelvin. Melihat mereka sudah memasuki rumah kost, Kelvin mulai menyalakan mobilnya dan pergi.


***


“Lusia, apa yang sebenarnya terjadi ?” tanya Reisa yang sudah berusaha menahan rasa ingin tahunya karena lama menunggu Lusia selesai mandi. Lusia menghela nafas kemudian menjelaskan kejadian yang dialaminya.


“Apa kau bodoh sampai harus menawarkan diri untuk mengantarnya?. Untung ada Kelvin, jika tidak aku tidak tau apa yang terjadi padamu“ ucap Reisa setelah mendengar penjelasan panjang Lusia. Ia masih tidak percaya dengan yang dilakukan Lusia.


“Dia orang yang sangat dingin, tidak banyak bicara dan juga cukup aneh. Tapi menurutku dia bukan orang jahat, sepertinya aku yang terlalu berlebihan” jawab Lusia.


Lusia tertunduk. “Dia sama sekali tidak menyakitiku, hanya saja mulutnya yang suka ceplas ceplos mendarat pedas sampai di hati” ucapnya.


“Banyak orang jahat di bumi ini memiliki modus-modus baru Lusia, kau harus waspada dan berhati-hati” ujar Reisa.


Lusia tidak merespon dan hanya diam mengingat kejadian dimana Rayn sungguh tidak berdaya saat itu.


“Jangan pergi ! sebentar saja, kumohon. Hanya sebentar saja kau tetap disini“


Kata-kata itu yang terus mengusik pikiran Lusia sambil menatap telapak tangannya yang masih bisa merasakan genggaman erat Rayn.


“Lusia, Lusia…, Lusia... !” Panggil Reisa berulang kali melihat Lusia melamun tanpa mendengarkan pertanyaannya.


“Hemm… ?” jawab Lusia singkat


“Wah, barusan kau benar-benar tidak mendengarkanku ?” tanya Reisa kesal.


"Maafkan aku, haha. Sudahlah, kita lupakan pria itu. Bagaimana dengan acaramu tadi ?” tanya Lusia mengalihkan pembicaraan.


“Semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja, aku sangat menikmati acaranya” sahut Reisa.


Reisa tidak memberitahu Lusia jika sebenarnya saat itu mereka meninggalkan acara sebelum selesai. David memutuskan untuk membawa Reisa kembali ke Galery. Meskipun Reisa mengatakan tetap tinggal karena dirinya baik-baik saja, namun David dapat melihat dengan jelas dari raut wajah Reisa jika ia masih tidak tenang. Saat diperjalanan menuju Galeri, David baru menerima laporan dari stafnya jika mereka sudah menutup Galeri dan Lusia sudah meninggalkan Galeri.

__ADS_1


“Lagi dan lagi aku mengacaukan semuanya” ucap Reisa dalam hati memandang foto David yang dijadikan Home Screen di ponselnya. “Banyak hal yang kau berikan padaku, tapi apa yang kulakukan untukmu ?” lanjutnya.


“Hei, apa kau tidak bosan ? sudah setiap hari bertemu tapi masih menjadi bucin dengan memandang fotonya terus“ ledek Lusia sambil menggelengkan kepala.


“Bucin? kau sendiri daripada memperdulikan kisah asmaraku, lebih baik cepat cari pria sana” Reisa membalas ledekan Lusia.


“Mungkin sudah takdirku hidup sendiri seumur hidup” jawab Lusia dengan tatapan lesu memanyunkan bibirnya.


“Sudah, sudah, berhenti membicarakanku dan David. Kita lanjut ceritakan lagi soal pria misterius itu. Oh ya, siapa namanya ?” tanya Reisa masih lanjut kepo. Bukan Reisa namanya jika tidak menggali rasa penasarannya sampai menciptakan lubang besar untuk menampung berita.


“Aku tidak tau… “ jawab singkat Lusia dan langsung berbaring membelakangi Reisa.


“Kau serius tidak tahu namanya? sudah sampai mengantarnya pulang tapi tidak tau ? Wah, kau juga sesuatu” ucap Reisa heran.


“Untuk apa aku tahu namannya, kita juga tidak akan bertemu lagi setelah aku mengantarkan mobilnya besok.”


“Mobil… ? Kenapa kau yang harus mengembalikan mobilnya, kenapa tidak biarkan dia sendiri yang mengambilnya di Galeri ?” tanya ketus Reisa.


Plak……


Tamparan keras Reisa mendarat di pantat Lusia karena mengabaikannya. "Hei, kenapa Lusia ?" tanyanya lagi.


“Jangan khawatir, aku akan menyelesaikannya besok, lagian aku juga masih meninggalkan Momo di Villanya" jawab Lusia bangun dan kembali duduk menemani Reisa.


“Disaat seperti ini apa kau sedang melakukan pelayanan sosial untuknya ?” tanya Reisa.


“Emmm… anggap saja seperti itu. Atau apa aku perlu meminta bayaran untuk ini ?” tanya Lusia sambil tersenyum dengan menaikan alisnya berulang.


“Berhenti memainkan alismu …!!!” ucap Reisa melemparkan bantal ke wajah Lusia. Lusia hanya tertawa geli melihat kekesalan Reisa yang dari tadi serius melulu.


“Aku masih tidak mengerti, apa kau masih tidak merinding setelah kejadian ini ? jika tahu begitu seharusnya aku meminta Kelvin membuang dirimu di hutan sana sekalian tadi” lanjut Reisa.


“Bukan begitu. Lagipula aku juga tidak ingin merepotkan Kelvin diwaktunya yang sibuk hanya untuk urusan mobil Cafe” jawab Lusia.


“Oh ya, soal Kelvin… apa kau kau akan terus bersikap seperti ini ?” tanya Reisa.


“Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Malam ini sudah serasa sangat panjang bagiku” jawab Lusia kembali baring di kasur dan menutup telinganya dengan bantal.


*** To Be Continued***


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.

__ADS_1


 


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆


__ADS_2