Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 52 - Apa Dia Pacarnya? (Misi ke-3 Part 1)


__ADS_3

Lusia akhirnya hanya bisa pasrah, dengan langkah yang berat ia melangkah hendak masuk mobil. Lusia terdiam ia menahan pintu yang sudah dibukakan Arka. Ia menunduk dan bertanya kembali kepada Rayn yang sudah duduk di dalam mobil. “Kau yakin kita pergi ke Cafe tempatku bekerja?” tanyanya.


“Apa kau punya masalah dengan itu?” tanya Rayn balik.


Lusia berpikir sejenak, ia hanya merasa pasti akan sangat canggung di depan rekan-rekannya nanti. Namun Lusia juga merasa jika dirinya harus profesional dan bisa mengenyampingkan perasaan pribadinya. “OK, tidak ada masalah. Aku akan meminta Dave menyiapkan VIP room” jawabnya lalu masuk dan duduk di sebelah Ryan. Arka hanya tersenyum lalu menutup pintu mobil.


“Kenapa harus meminta mereka menyiapakan VIP Room?” tanya Rayn.


“Karena itu lebih aman dan mereka juga harus tahu kondisimu agar tidak ada sembarangan mendekatimu” jawab Lusia sembari sibuk dengan ponselnya yang akan menghubungi Dave.


Mendengar jawaban Lusia, Rayn langsung merampas ponsel Lusia. “Kenapa kau memberitahu mereka? Aku tidak ingin kau mengatakan kepada mereka akan kondisiku” perintah Rayn.


“Kenapa tidak boleh?” tanya Lusia heran.


“Itu akan membuatku terlihat aneh jika seorang pria berlindung dibalik wanita” jawab Rayn sembari membatalkan panggilan Lusia dengan Dave.


“Tapi justru akan lebih aneh jika mereka melihatmu terus menggandengku, mereka akan berpikir jika kau pacarku” gerutu Lusia.


Rayn memposisikan duduknya menoleh memandang Lusia. “Itu masalahmu dan bukan urusanku. Dan jangan lupa jika kau yang lebih tahu saat ini kita tidak seperti akan pergi kencan atau sekedar ingin minum kopi. Tapi, kau sedang menjalankan misimu. Jadi, sudah menjadi tugasmu entah bagaimana caranya membuat semua berjalan seperti biasa dan membuatku bertahan dengan terlihat normal. Jika tidak, untuk apa aku duduk di sana kalau semua orang sudah akan menjaga jarak dengan sendirinya. Jadi, ingat kau sedang menjalankan misimu” jawab Rayn dengan mengembalikan ponsel Lusia lalu kembali memandang ke depan.


"Wah... kenapa panjang sekali" gumam Lusia mendengar ucapan Ryan.


.


.


***


Mereka telah sampai di Cafe, Lusia tetap meminta Dave menyisihkan meja untuk dirinya dan mengatakan jika akan datang dengan seorang teman.


Masih didalam mobil, Lusia menghantukkan kepalanya berulang kali ke kaca mobil. “Kenapa dia harus datang hari ini” ucapnya dengan lesu melihat mobil Kelvin yang terparkir di parkiran khusus staf Cafe.


Rayn ikut melihat mobil Kelvin lalu memandang raut wajah Lusia. "Hah, seperti yang aku harapkan" ucapnya tersenyum puas sembari keluar mobil setelah Arka membukakan pintu.


"Kau yakin ini Cafe bukan pasar?” tanya Ryan usai turun dari mobil diikuti Lusia yang kini berdiri disampingnya.

__ADS_1


Rayn merasa heran jika Cafe di depan matanya itu dipenuhi dengan banyak pengunjung. Terlihat setiap meja penuh, bahkan memiliki barisan antrian yang panjang untuk take away karena tidak kebagian tempat duduk.


Ryan hanya menggelengkan kepalanya. “Lihatlah, apa mereka sedang berwisata ke museum?” tanyanya melihat para pengunjung yang terlihat sibuk live streaming dan mengambil gambar setiap sudut Cafe. Terutama view yang berpusat pada Kelvin, Dave dan barista yang lain.


"Tentu saja, itu karena kita punya Artefak bernilai tinggi yang mampu mendatangkan mereka semua" sahut Lusia dengan kembali menatap mobil Kelvin dengan wajah lemas.


Lusia menghela nafas. "Ok, Lusia kau pasti bisa" ucapnya menyemangati dirinya sendiri. Ia berusaha mempersiapkan mentalnya karena saat ini misi itu dilakukan ditempatnya bekerja. Dimana tidak hanya akan ada rekan kerjanya tapi saat ini juga ada Kelvin di sana.


Lusia mengulurkan tangannya. “Kau yakin sudah siap?” tanyanya kepada Ryan. Rayn mengangguk, ia mengambil nafas panjang dan menghelanya. Ryan meraih uluran tangan Lusia dan menggenggamnya dengan erat.


Mereka akhirnya memasuki Cafe setelah Arka membantu membuka pintu untuk keduanya. Bunyi denting lonceng yang tergantung di pintu yang menandakan pengunjung masuk langsung menarik perhatian semua yang ada di dalam.


Melihat kedatangan Lusia, Dave langsung melambaikan tangan dan memberi kode kepada Lusia letak meja yang sudah ia keep untuk Lusia.


Usai menerima balasan lambaian tangan Lusia, raut wajah Dave yang tadinya girang perlahan berubah menjadi bingung dan penasaran. “Dia mengatakan kepadaku jika akan datang dengan temannya tapi apa yang ku lihat sekarang?” gumam Dave melihat Lusia datang dengan seorang pria bahkan bergandengan tangan.


“Bukankah itu pria yang pernah datang dengannya waktu itu” sahut Vhia membicarakan Arka. “Sudah kuduga, jika pria itu adalah pengawal utusan pacarnya saat itu” lanjutnya menatap Lusia dan Rayn.


“Lusia sudah punya pacar?” tanya Grace kepada Dave. Dave adalah salah satu staf yang sangat dekat dengan Lusia, karena itu dia selalu menjadi sasaran kepo mereka.


“Sangat mengejutkan, sepertinya dia pandai menggaet pria kaya. Begitu dia selalu berlagak sok polos” celetuk Vhia dengan senyum sinis.


Mendengar ucapan Vhia, Dave langsung mendekati Vhia dan bertanya. “Apa kak Vhia sedang membicarakan diri sendiri?” tanya Dave dengan tatapan tajam.


“Heisttt.... Jaga mulutmu itu !!!” gertak Vhia menyadari jika Dave sengaja menyindirnya.


"Asal kak Vhia juga bisa menjaganya dan bisa memberi contoh yang benar, maka aku juga akan mencoba menjaga mulutku" jawab Dave.


“Sudah, semuanya kembali fokus bekerja” perintah Kelvin memotong pembicaraan mereka. Ia kemudian menatap Lusia dan Rayn.


“Apa benar kak Lusia sudah punya pacar?” tanya Dave kepada Kelvin.


“Kenapa kau bertanya kepadaku sementara yang membawa pria itu adalah dia” jawab Kelvin ketus.


“Ok, akan aku tanyakan langsung sendiri” sahut Dave lalu pergi menghampiri Lusia untuk menyapanya.

__ADS_1


“Hai..." sapa Dave. "Dari banyaknya Cafe kenapa harus Cafe ini? Apa tidak bosan? Bahkan Kak Lusia sudah membuat kehebohan di dapur dengan kedatangan kakak dengan... siapa dia? tanya Dave dengan menunjuk tangan Lusia dan Rayn yang masih bergandengan.


"Aku pun sulit memikirkan jawaban apa yang mungkin bisa kalian terima tentang siapa dia" jawabnya tidak ingin membahas lebih. Dave hanya mengangguk, ia paham jika Lusia tidak ingin dirinya bertanya lagi.


Lusia meminta Rayn untuk duduk. "Duduklah, aku akan pesan minuman untukmu” ucap Lusia kepada Rayn.


Rayn menahan tangan Lusia yang hendak melepas tangannya. “Tidak “ jawabnya dengan membuka masker. “Aku akan ikut dan melihat sendiri menunya“ lanjutnya dengan berjalan lebih dahulu menuju kasir dengan tetap menggandeng Lusia.


Ryan yang membuka masker sontak menarik perhatian banyak pengunjung yang mayoritas semua adalah wanita. Mereka semua mulai berbisik dan tidak melepaskan pandangannya dari Rayn dan Lusia.


"OMG.... tampan sekali dia" bisik para pengunjung.


"Bukan kah gadis itu adalah salah satu staf Cafe ini?" bisik seorang pengunjung setia Cafe yang hafal dengan seluruh staf. Bahkan ia juga tahu jika Lusia adalah salah satu staf Cafe.


"Benar, bahkan aku juga mengikuti akun sosial Cafe ini dan akun semua stafnya termasuk gadis itu. Apa dia pacarnya? Wah tampan sekali" bisik yang lain.


Lusia sesekali menutupi wajahnya dengan satu tangannya karena risih sedang manjadi perhatian. Tapi, ia juga tidak mungkin melepas tangan Rayn.


“Seharusnya biarkan saja aku yang memesan. Kau tidak lihat bagaimana mereka menatap kita?” bisiknya kepada Rayn.


“Tidak perlu pedulikan, fokus saja dengan misimu” jawab Rayn.


Kelvin menghentikan aktivitasnya usai menyajikan kopi yang sudah ia buat kepada staf untuk diberikan kepada pelanggan. Kelvin tidak melepaskan tatapannya kepada Lusia dan Rayn yang sudah berdiri di depan meja kasir untuk memilih menu dan memesan.


Kelvin menyapa Lusia dengan senyum. Ia sudah tahu jika Rayn adalah atasan Lusia. Tapi melihat mereka bergandengan tangan membuat Kelvin sulit percaya jika keduanya sudah sedekat ini.


"Kau ada disini rupanya" ucap Lusia dengan senyum canggung.


Entah apa yang membuat hati Lusia merasa sangat tidak nyaman dengan situasi saat ini karena adanya Kelvin. Lusia tahu dengan jelas sangat tahu jika dirinya tidak memilki perasaan atau hubungan spesial dengan Kelvin. Tapi, karena dirinya sudah tahu bagaimana perasaan Kelvin kepadanya yang membuat Lusia merasa seperti gadis jahat.


.


.


*** To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2