
Kebahagian Rayn dan Lusia akan semakin sempurna jika saja Rayn terbebas dari Phobia yang sudah membelenggunya selama bertahun-tahun. Kini Rayn memiliki alasan membangkitkan kembali keinginannya untuk sembuh setelah sekian tahun ia menerima semua kekurangannya dengan hidup sendiri.
Lusia...
Yah, dialah satu-satu wanita yang menjadi alasannya. Seorang wanita istimewa yang telah menjadi pendamping hidupnya.
"Seorang wanita yang mampu melihat perasaan dan isi hati yang tidak bisa ku suarakan. Seseorang yang mampu melihat duka di balik senyumku, melihat cinta di balik kemarahanku, dan makna di balik sikap diam ku. Aku tidak membutuhkan yang sempurna, aku hanya menginginkan dia, wanita yang dapat membuatku merasa bahwa aku adalah satu-satunya untuknya."
.
.
Masih di kediaman Ibu Lusia di Perkampungan nelayan, waktu telah menunjukkan datangnya pagi namun cahaya matahari masih belum menampakkan sinarnya. Rayn sudah lebih dulu bangun, bahkan ia sudah berpakaian rapi dengan stelan jogging hoodie olahraga yang dikenakannya.
Pergerakan Rayn mulai mengusik pendengaran Lusia yang masih tertidur. Tanpa sengaja Rayn menjatuhkan jam tangan yang akan ia kenakan. Lusia pun terbangun dengan mata yang masih enggan untuk terbuka. Meskipun dengan pandangan yang masih samar-samar, Lusia menyapa Rayn yang berjalan ke arahnya. Rayn pun lalu duduk di bibir tempat tidur tepat disisi tubuh Lusia yang masih nyaman membaringkan tubuhnya.
Lusia mengurai senyum kecil ketika Rayn memintanya untuk tidur kembali sembari mengelus lembut kepalanya. "Apa aku membangunkanmu? Maafkan aku, kau bisa tidur kembali. Aku akan pergi olahraga menikmati udara pagi disini" ucap Rayn lalu mengecup dengan penuh kasih pada kening Lusia.
Lusia sangat ingin menemani sang suami pergi olahraga, tapi apa daya jika dirinya belum memiliki persiapan apapun, ia tidak ingin membuat Rayn menunggunya dan melewatkan segarnya udara pagi. Lusia mengatakan jika dirinya akan menyusulnya nanti.
.
.
Rayn sangat menikmati kegiatan paginya tanpa Lusia dan Arka. Saat Rayn pergi, Arka masih tertidur pulas diruang tamu rumah Lusia. Sepertinya Arka sangat kelelahan karena sudah mengemudi untuk Rayn dan Lusia. Rayn berlari kecil sembari menikmati bangunan rumah kuno yang masih terjaga di wilayah itu.
Jalanan yang masih sepi karena masih terlalu pagi untuk warga sekitar memulai aktivitasnya. But wait, itulah yang tadinya dipikirkan Rayn. Tapi masalahnya ia lupa saat ini dirinya tidak sedang berada ditengah kota, ia harus sadar jika dirinya berada di perkampungan nelayan, dimana penduduk disini justru memulai aktivitas bahkan saat masih petang.
Rayn tiba-tiba mulai mengurangi kecepatan larinya, ia sempat berhenti sejenak lalu lanjut berjalan dengan langkah kaki pelan. Rayn melihat situasi yang akan membuatnya berada dalam kesulitan. Di sudut jalan yang akan ia lalui, berdiri sekelompok ibu-ibu sedang berkumpul, berbisik dan mereka tampak sedang asyik berbincang dengan tatapan ke arah Rayn.
Para wanita paru baya itu tampak jelas seperti sedang membicarakan dirinya. Rayn menghela nafas pendek lalu mencoba memalingkan pandangannya ke arah lain, ia hendak memilih memutar arah untuk menghindari mereka.
"Hai, anak muda!" terdengar teriak panggilan dari seorang wanita yang membuat Rayn menghentikan langkah kakinya.
Rayn menghentikan langkahnya, ia memutar tubuhnya kembali memandang ke arah para ibu-ibu yang berkumpul. Rayn melirik ke kiri dan ke kanan, ia memastikan apakah ada orang lain selain dirinya atau memang benar dirinyalah yang sedang mereka panggil. Wajah Rayn menatap para ibu-ibu itu dengan raut penuh tanya, ia lalu menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan. "Saya?" tanyanya ragu.
Seorang wanita yang terlihat memiliki usia paling tua diantara mereka melambaikan tangan memanggilnya. Rayn mulai mengurai senyum setelah yakin jika memang dirinya. Rayn menunduk memberi salam untuk terlihat lebih ramah lalu berjalan dengan ragu menghampiri.
Di seberang jalan Arka yang baru saja hendak menyusul Rayn terlihat kaget. "Apa yang akan dilakukan Tuan Muda? Apa Tuan Muda benar-benar sedang berjalan menghampiri mereka?" batin Arka melihat Rayn.
Rayn menyapa dengan senyum ramah yang ia paksakan dibalik tubuhnya yang mulai gemetar. "Selamat pagi, apa anda memanggil saya?" tanya Rayn masih dengan menjaga jarak dua meter dari kerumunan ibu-ibu itu.
Rayn mengepalkan kedua tangannya yang ia sembunyikan dibalik kantong hoodie yang ia kenakan. Tampak jelas jika Rayn berusaha menahan phobia nya.
"Wah... benar-benar tampan. Apa kau baru tinggal disini?" tanya salah satu dari mereka yang terlihat kagum dengan wajah tampan Rayn. Rayn kembali hanya bisa membalas dengan melempar sebuah senyum.
Beberapa dari mereka mulai mengajukan pertanyaan seolah tidak menganggap Rayn sebagai orang asing. Mereka bertanya kepada Rayn tentang semuanya mulai dari penampilan, asal usul, pekerjaaan, bahkan mereka sangat penasaran bagaimana Rayn bisa memiliki dan mempertahankan wajah dan fisik yang begitu mempesona.
Seolah seperti sedang berebut kesempatan dalam sesi tanya jawab, para ibu-ibu itu terus menanyakan hal-hal unik kepada Rayn. Bahkan Rayn tidak memiliki kesempatan untuk menjawab satu persatu pertanyaan yang dilayangkan kepadanya bak gerbong kereta yang sedang melaju dengan kecepatan penuh.
Sesekali Rayn mengambil satu langkah mundur setiap kali mereka mencoba untuk terus mendekat. Rayn berusaha sebaik mungkin menghindar dengan mengalihkan perhatian mereka. Hanya senyum dan tawa canggung yang bisa ia berikan sembari menahan phobia yang mulai mengganggunya.
Rayn tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan ibu-ibu itu karena menjaga rasa hormat dan menghargai mereka yang lebih tua. Terlebih lagi ini adalah tempat tinggal ibu mertuanya, ia merasa jika dirinya harus menjaga sikap demi menjaga nama baik keluarga Lusia.
Salah seorang wanita paru baya lain tiba-tiba mendekat saat Rayn tengah waspada dengan ibu-ibu yang ada dihadapannya. Wanita itu tiba-tiba menyentuh tangan Rayn dan mengelusnya sembari berkata " Wah... kau memiliki kulit yang halus" ucapnya.
Rayn sontak terkejut dan ia menepis tangan ibu itu dengan kasar dan mengambil langkah mundur untuk menghindar. "Apa yang anda lakukan? Berhenti menyentuhku ... !" teriak Rayn dengan suara lantang sehingga mengejutkan mereka semua.
Kejadian itu pun seketika membuat para ibu-ibu yang lain juga menjadi sangat terkejut, termasuk wanita yang memegang tangan Rayn pun langsung terdiam bingung seolah tidak mengerti apa yang salah.
__ADS_1
Menyadari sikap kasarnya, Rayn langsung meminta maaf. "Maafkan sikap saya baru saja" ucapnyabsembari menundukkan tubuhnya.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia harus bersikap kasar seperti itu kepada orang yang lebih tua?" ucap seorang ibu sembari merangkul temannya yang masih terdiam usai mendapat perlakuan kasar dari Rayn.
"Dia sangat tidak sopan."
"Apa mentang-mentang dia dari kota bisa seenaknya merendahkan orang."
"Dia tidak punya sopan santun."
"Kenapa orang sekasar dia bisa ada disini"
Bak pisau tajam, perkataan itu terus dilontarkan kepada Rayn, bahkan mereka mengucapkannya dengan raut wajah penuh kekesalan. Satu persatu ucapan mereka membuat Rayn tidak bisa menahan diri lagi dari siksaan phobia yang ia tahan sedari tadi.
Seperti sedang mendapatkan umpatan bertubi-tubi, Rayn mulai merasa gelisah tertekan bahkan seperti sedang terancam. Tubuhnya menjadi gemetar dan lemas. Nafas Rayn terus memburu, wajahnya menjadi pucat disertai bulir-bulir keringat dingin yang mulai bercucuran.
"Maa...ma..." ucap Rayn masih tertunduk mengendalikan diri, ia ingin meminta maaf namun tidak sanggup mengucapkannya.
"Apa yang akan dilakukannya sekarang? Apa dia akan melawan kita? Apa dia akan mengumpat? Anak muda zaman sekarang memang mengerikan." ucap salah satu dari mereka melihat Rayn yang hanya menunduk mengabaikan mereka.
Rayn.....
Panggil Lusia yang langsung berlari menghampiri Rayn dan memeluknya. Rayn perlahan memejamkan matanya seketika berada dipelukan Lusia. Seperti mendapatkan tempat perlindungan, Rayn mulai menenangkan dirinya, ia mencoba mengendalikan rasa cemas yang mencekiknya.
"Maafkan aku Rayn, aku sudah ada disini, semua akan baik-baik saja" ucap Lusia semakin erat memeluk Rayn.
Rayn perlahan mengeluarkan tangannya dari dalam kantong dan melepaskan kepalannya seiring dengan rasa nyaman yang ia dapatkan dari Lusia sekarang.
"Tunggu, bukankan dia Lusia?" tanya salah seorang dari mereka yang mengenali Lusia.
Ibu Lusia yang juga baru tiba di sana langsung meminta maaf kepada para tetangganya. "Oh, Maria, Sonia, Lisa... maaf jika mengejutkan kalian" ucap Ibu Lusia.
Ibu Lusia menyapa mereka dan meminta maaf, ia meminta Lusia untuk membawa Rayn pulang menenangkan diri. Saat ini kondisi Rayn lebih penting, sementara ibu Lusia akan mecoba menjelaskan untuk meredakan kekesalan tetangganya akibat kesalahpahaman yang terjadi.
"Lusia, jadi pria kasar ini adalah suamimu?" celetuk salah satu dari mereka.
Lusia melepaskan pelukannya, ia menggandeng tangan Rayn lalu mengajaknya untuk meninggalkan tempat itu. Sebelum itu, Lusia hendak membungkuk meminta maaf kepada mereka mewakili Rayn.
Disaat Lusia akan melakukannya Rayn menahan Lusia, ia lalu berjalan mendekati para ibu-ibu itu. Rayn semakin erat menggenggam tangan Lusia seolah ingin mendapat keberanian lebih.
Rayn membungkukkan badannya sembari mengucapkan kata maaf dengan benar. "Maafkan saya, saya benar-benar meminta maaf. Saya mengatakan ini bukan untuk membela diri, namun saya benar-benar tidak bermaksud bertindak kasar ataupun tidak sopan" ucap Rayn dengan ketulusan hatinya.
Para ibu-ibu tetangga Lusia masih memandangnya dengan tatapan seolah tidak percaya dan masih belum sepenuhnya menerima permintaan maaf dari Rayn. Mereka beranggapan jika permintaan maaf Rayn hanya karena takut terlihat buruk dimata ibu mertuanya. Inilah yang mereka pikirkan sekarang.
"Huft,,, kesialan apa yang kita dapat pagi ini" ucap salah satu dari mereka sembari mengajak yang lainnya untuk pergi.
"Itu karena saya menderita Hapephobia" ucap Rayn tiba-tiba.
Perkataan Rayn membuat mereka langsung menghentikan langkahnya. "Ha.. Ha... pe.. phobia, apa yang baru saja dikatakannya?" tanya ibu itu kepada temannya yang tampak kesusahan menyebutnya.
Dengan penuh keberanian Rayn mengatakan sebenarnya tentang kondisi yang membuat kesalahpahaman ini terjadi. Tanpa ragu ia berterus terang jika dirinya menderita Hapephobia sejak kecil, hal ini membuatnya tidak bisa menerima sentuhan dari siapapun. Rayn mengatakan apa yang ia rasakan, gelisah, sulit bernafas bahkan seperti sedang tercekik jika seseorang menyentuhnya. Tidak ada satupun yang bisa menyentuh dirinya kecuali satu orang yaitu istrinya tercinta, Lusia.
Mengetahui hal itu, para ibu-ibu merasa tidak enak hati dan bersalah karena sudah memaki Rayn tanpa tahu kondisi yang diderita Rayn. Mengaku salah, mereka langsung meminta maaf kepada Rayn. Salah satu dari mereka hendak menjabat tangan Rayn untuk meminta maaf dan menguatkannya namun tiba-tiba Arka datang dan menghadangnya.
Melihat sikap Arka, ibu itu langsung berhenti dan mengambil langkah mundur dengan sendirinya. Ia sadar jika dirinya tidak seharunya menyentuh Rayn, ia hampir lupa karena terlalu merasa bersalah. Mereka lalu bertanya siapa lagi pria tampan yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka saat ini.
"Sepertinya desa kita kedatangan banyak pria muda yang tampan, membuat kita kembali muda dan bersemangat" canda ibu itu sambil tertawa diikuti tawa yang lainnya untuk memecahkan kecanggungan diantara mereka.
Untuk mengakhiri kesalahpahaman ini dan sebagai permintaan maaf, salah seorang wanita paru baya diantara mereka mengundang Lusia dan suaminya untuk datang ke acara makan malam di rumahnya. Suaminya baru saja kembali pulang setelah melaut hampir satu bulan dan seperti sudah menjadi tradisi, mereka akan mengadakan makan bersama tetangga untuk penyambutan.
__ADS_1
Ibu Lusia pun senang mendengar undangan itu. Mereka lalu pamit kepada Rayn dan Lusia untuk kembali. Ibu Lusia menemani para ibu-ibu kembali ke rumah mereka. "Jangan lupa datang dan ajak mereka semua" ucapnya wanita itu kepada ibu Lusia.
Lusia menatap Rayn yang masih menatap punggung para ibu-ibu yang sudah berjalan meninggalkannya. Ini pertama kalinya Rayn mengungkap phobia yang ia derita kepada orang lain. Arka pun menghela nafas, melihat apa yang terjadi membuatnya merasa lega karena sepertinya Tuan nya mulai membuka diri kepada orang lain.
"Kenapa kau yang harus meminta maaf?" tanya Rayn tiba-tiba kepada Lusia dengan tatapan yang masih memandang ke arah ibu-ibu.
"Aku yang bermasalah, bukan dirimu. Aku yang bersalah dan juga bukan salahmu. Lalu kenapa kau yang meminta maaf?" lanjut tanya Rayn. Kali ini ia berbalik memandang wajah Lusia dengan tatapan yang begitu serius. Nada bicaranya begitu datar dan lirih namun yang ia ucapkan begitu tegas, sulit ditebak perasaan apa ini?.
"Rayn, ada apa dengan pertanyaan mu ? Kau membuatku takut" sahut Lusia lirih.
Arka hanya bisa terdiam, ia menggaruk kening dengan satu jarinya yang tidak benar-benar terasa gatal. Ia sendiri tidak paham dengan situasi saat ini. Apakah Tuannya sedang marah? Inilah yang sedang ia tanyakan dalam hati.
"Ini membuatku takut" sahut Rayn.
"Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi nantinya, aku tidak tahu kesalahpahaman seperti apa lagi yang mengusikku nantinya. Dan aku tidak tahu, apa kau yang akan selalu membereskannya untukku. Aku takut... " ucap Rayn tertahan.
"Lusia, aku takut... Aku takut ini akan membuatmu lelah, terus lelah dan merasa semakin melelahkan saat bersamaku. Kau akan merasa muak, lalu...kau akan meninggalkanku. Aku pikir aku harus mengatasinya sendiri, aku harus membereskan semua masalahku sendiri. Tapi..." ucap Rayn menunduk lalu kembali menatap Lusia.
"Apa aku bisa melakukannya? Semakin aku memikirkannya, kini aku semakin takut, aku takut jika orang yang akan merasa lelah itu adalah diriku." lanjut ucap Rayn.
Lusia menunduk untuk menghela nafas sesaat, lalu kembali menatap wajah Rayn. "Rayn... Apa kau tahu apa yang aku pikirkan usai mengucapkan janji suci kita? Aku beryukur.... " jelas Lusia.
"Aku berterima kasih kepasa kepada Tuhan. Terima kasih Tuhan, karena kini aku menemukan seseorang yang membuatku merasa tenang dan aman. Aku memiliki rumah yang akan selalu menjadi tempat pulang dengan perasaan yang paling indah di dunia karena ada dia yang menunggu dan menyambutku dengan cinta." ucapnya.
Lusia lalu mengangkat tangan Rayn yang masih ia genggam, ia menunjukkan kepada Rayn jika apapun yang terjadi ia tidak akan pernah melepaskan genggamannya. Tidak peduli siapa yang harus melindungi dan dilindungi, siapa yang harus menjaga dan dijaga, serta siapa yang harus memaafkan dan bersalah. Hanya cukup salah satu diantara mereka yang tidak menyerah, maka semua akan baik-baik saja.
"Rayn, aku memilihmu. Dan apapun yang terjadi nanti, aku akan tetap memilihmu lagi, lagi dan lagi. Tanpa henti, tanpa ragu, dalam sekejap tanpa berpikir sedetik pun, aku akan terus memilihmu." ucap Lusia meyakinkan Rayn akan ketulusan hatinya.
Lusia lalu tersenyum, ia menaikkan tubuhnya hendak memberikan kecupan manis untuk Rayn dan wait....
"Wait ... !!" teriak Arka menahan scene kiss itu terjadi dengan kedua tangan memberi isyarat kepada Lusia untuk berhenti.
"Apa Tuan dan Nyonya akan benar-benar melakukannya disini? Apa Tuan lupa atau bahkan tidak melihatku? Ini tempat umum. Selain itu, ini adalah tempat tinggal ibu mertua anda. Tuan dan Nyonya harus bisa menahannya dan kembalilah ke rumah, di sana kalian bebas melakukan apapun" ucap Arka sembari menunjuk ke arah jalan pulang.
Lusia pun tertawa, ia melanjutkan aksinya hanya dengan mengecup singkat pipi Rayn lalu mengajak mereka berdua untuk kembali.
"Ayo kita pulang" ajak Lusia menepuk bahu Arka lalu berjalan lebih dulu meninggalkan keduanya.
Rayn menghampiri Arka. "Apa yang kau pikirkan? Hanya ciuman saja bukan seperti kita akan berbuat asusila ditempat umum." keluh Rayn.
"Dan juga... tunggu ... ! apa kau tadinya berencana akan menemaniku jogging dengan pakaian seperti ini?" tanya Rayn menatap Arka yang selalu berpakaian rapi layaknya seorang pengawal pribadi
"Apa Mickey yang mewajibkanmu berpakaian seperti ini? Santailah sedikit. Kau bisa berpakaian lebih santai" ucap Rayn lalu berjalan lebih dulu menyusul Lusia.
Arka menggelengkan kepala menatap sedih pada dirinya sendiri. Ia lalu menatap tajam ke arah Rayn yang berjalan meninggalkannya. "Anda benar, anda sudah resmi menjadi suami istri" ucap Arka dalam hati.
"Apa yang kau khawatirkan Arka?" tanya Arka kepada diri sendiri. "Dan juga, saya sudah bertahun-tahun menemani anda dengan pakaian seperti ini, apa artinya anda baru menyadari keberadaan saya" ? ucap
.
"Tuan... tunggu.. " panggil Arka berlari untuk menyusul.
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued ***