
Malam yang panjang itu telah berganti pagi... .
Cahaya matahari belum menampakkan sinarnya, tetapi Lusia sudah terlihat sangat sibuk didapur. Lusia terlihat sangat disibukan dengan peralatan dapur dan bahan makanan yang akan ia olah. Ini kali pertama Lusia bangun pagi buta hanya untuk memasak.
Dengan langkah yang berat, Rayn yang baru saja bangun menapakkan kakinya menuruni anak tangga. Rayn langsung pergi mencari Lusia karena tidak mendapati Lusia disampingnya saat membuka mata. Rayn menghela nafas lega ketika melihat sang istri tampak sibuk seorang diri di dapur dan ia pergi menghampirinya.
Sambutan salam ucapan selamat pagi terdengar begitu merdu untuk Rayn. Senyum manis Lusia yang begitu indah selalu menjadi awal pagi yang ia damba. Rayn menatap setiap olahan yang sudah Lusia selesaikan. Rayn tampak ragu apakah mungkin sarapan itu untuknya, sementara Lusia sangat tahu jika Rayn hanya akan sarapan pagi dengan salad sayur. Rayn pikir Lusia tidak harus menyiapkan ini semua untuknya.
Rayn memandang Lusia dengan memasang wajah penasaran ingin tahunya, untuk siapa semua masakan ini, siapa orang yang sudah berani membuat istrinya bangun sepagi ini dan menyibukkannya.
Lusia mematung melihat Rayn tampak serius manatap masakan yang ia buat dengan raut wajah penasaran. "Ada apa dengan tatapanmu itu? Masakan ini bukan untukmu. Aku membuatnya untuk ibu dan ayahku. Aku akan pergi membawakan mereka sarapan pagi ini" ucap Lusia seraya melempar senyum untuk Rayn.
Rayn mengambil langkah dekat lalu duduk di meja makan. "Sungguh? Jika begitu aku tidak boleh cemburu pada ibu dan ayah mertuaku" sahut Rayn sembari mengurai senyum lega.
Lusia tertawa keras mendengar ocehan Rayn pagi-pagi. Sungguh sulit dipercaya apakah baru saja dia benar-benar sedang cemburu. Lusia mengatakan jika sayangnya masakan yang ia buat tidak hanya untuk Ibu dan ayahnya saja. Seperti yang sudah Lusia duga jika Rayn pasti akan langsung memutar otak berpikir keras, untuk siapa lagi Lusia akan membuat masakan ini.
"Apa kau juga akan memberikan makanan yang kau buat ini kepada Kelvin ?" tanya Rayn dengan begitu tegang, ia mengerutkan keningnya hingga begitu tajam.
Lusia mendekat dengan membalas mengerutkan kening juga. "Aku masih mengingat jelas saat kau merangkul pinggangku, memeluk ku dengan berkata jika kau tidak ingin duniamu bersamaku hancur karena kecemburuan yang bodoh" ucap Lusia mengingatkan Rayn.
Lusia mengacak pinggangnya. "Apa saat itu kau tidak serius mengatakannya? Atau kau tiba-tiba berubah pikiran saat aku mengatakan jika aku menyukai kecemburuanmu yang bodoh itu?" tanya Lusia setelah melihat tingkah Rayn yang seperti sedang cemburu sekarang.
"Aku? Cemburu? Aku tidak sedang cemburu. Aku... aaa... aku... aku hanya ..." sahut Rayn panik dengan sendirinya, ia segera bangkit dari duduknya untuk membela diri. Ia hendak melangkah mendekati Lusia untuk mengklarifikasinya.
"Selain ibu dan ayahku, aku membuatnya untuk orang yang spesial untukku. Selain ayah dan ibuku, orang spesial itu adalah kau, suamiku" sahut Lusia membuat Rayn langsung berhenti melangkah.
Rayn terdiam, ia tersenyum dengan raut wajah memerah tersipu malu. Dia tampak sangat bahagia mendengarnya. "Suu... sua...mi? Benar, aku suamimu" ucapnya perlahan menatap ke arah Lusia dengan senyum bahagia yang tertahan.
Raut wajahnya sungguh seperti anak kecil yang senang mendengar dirinya dipuji, seperti itulah yang Rayn rasakan sekarang.
"Apa aku sesenang itu?" tanya Lusia.
"Kau memasak sup tomyum, jika itu juga untukku apa itu artinya..." belum sampai Rayn menyelesaikan pertanyaannya sudah dipotong oleh Lusia.
__ADS_1
"Aku tidak menambahkan udang didalamnya. Bukankah kau tidak menyukainya..." sahut Lusia.
"Kau benar, aku tidak menyukainya, kau tahu hal itu. Jadi kau sungguh membuatnya untukku, suamimu" ucap Rayn seraya mencoba menghirup aroma sup tomyum buatan Lusia.
Rayn perlahan melangkah mundur untuk kembali duduk. Tapi tiba-tiba ia urung dan kembali berbalik menatap Lusia. "Apa kau ingin suami mu ini membantumu menyelesaikan yang lain?" tanya Rayn.
Dengan wajah yang menggemaskan, Lusia menolak bantuan Rayn. Ia meminta Rayn cukup duduk disana sembari tetap menatap dirinya hingga puas. Dia akan menunjukkan kepada Rayn jika Rayn telah memilih istri yang tepat.
"Wah,, kenapa kau tega melakukan ini kepadaku, membuatku benar-benar ingin menerkammu" ucap Rayn menghela nafas lalu salah tingkah meraih air mineral dimejad dan meminumnya.
"Menerkamku? Aku pikir semalam aku sudah cukup memuaskanmu" sahut Lusia membuat Rayn langsung menyemburkan air dari mulut nya.
Rayn tidak habis pikir jika Lusia benar-benar akan terus membuatnya merasa tertekan dan malu.
"Karena itu berhenti memikatku dan membuatku menjadi seperti pria cabul. Aku peringatkan kau untuk berhenti menggemaskan" perintah Rayn dengan wajah yang semakin memerah.
Rayn berpaling memeriksa suhu tubuhnya dengan menempelkan tangan pada keningnya. Ia lalu mengipas sembari mengeluh kenapa suhunya ruangannya tiba-tiba panas.
Tingkah Rayn semakin membuat Lusia ingin terus menggodanya. "Kau bilang apa tadi? Memikatmu? Seperti ini?" tanya Lusia sambil memberikan raut wajah yang sangat menggemaskan dan menggoda.
Rayn mengibarkan bendera putih, ia tidak akan sanggup bertahan jika terus berada disana. Rayn memutuskan akan kembali ke kamarnya namun Lusia terus mengejarnya dengan semakin berkspresi menggemaskan. Rayn terus berteriak meminta Lusia berhenti, namun Lusia tetap malakukannya.
"Kau...." ucap Rayn tiba-tiba berhenti dan membuat Lusia tanpa sadar menabak tubuhnya.
Rayn berbalik, ia menatap Lusia lalu mendorong tubuh mungil itu hingga menempel dinding. Lusia tidak bisa berkutik karena Rayn megunci pergerakan tubunya dengan kedua tangannya. Wajah menggemaskan Lusia seketika berubah menjadi panik.
"Raaa....ra ra yyyynnn. OK aku akan berhenti" ucap Lusia gugup.
"Sudah aku katakan jika aku tidak akan bisa menahannya jika kau terus seperti itu" ucap Rayn mendekatkan wajahnya.
"Aku hanya bercanda" sahut Lusia.
Rayn tidak memperdulikan ucapan Lusia ia terus mendekatkan wajahnya dan semakin membuat jantung Lusia berdeguk kencang. Rayn bertanya mengapa Lusia terlihat sangat gugup mengingat kedekatan ini bukan kali pertama. Tanpa memberi kesempatan Lusia menjawab, Rayn langsung mendaratkan kecupan manis dikening Lusia. "Aku akan selalu menyambut pagimu seperti ini" ucap Rayn lalu melepaskan kukuhan tangannya.
__ADS_1
Rayn tersenyum lalu pamit untuk kembali ke kamarnya. Tapi Lusia menahan lengan Rayn yang hendak meninggalkannya. Lusia mengambil langkah lebih dekat lalu mengecup singkat bibir Rayn. "Jika begitu, apa aku boleh menyambut pagimu dengan ini?" ucap Lusia seraya mengurai senyum.
"Kau...." sahut Rayn.
Sebuah kecupan yang membuat Rayn tidak bisa menahan diri. Tiba-tiba ia mendekap kedua pipi Lusia, membalas kecupan singkat itu dengan ciuman yang lebih dalam. Lusia semakin terhanyut dan melingkarkan kedua tanganya pada jenjang leher Rayn.
"Aaaa....!!!" terdengar teriakan dan suara tutup panci yang jatuh.
Rayn dan Lusia segera melapas tautannya dan menoleh ke arah sumber suara itu berasal. Keduanya terkejut melihat keberadaan Arka didapur sembari memegang penutup panci yang baru saja ia jatuhkan.
"Arka, bagaimana kau bisa ada disana?" tanya Rayn panik.
Dengan datar Arka menjawab jika ia datang untuk menemui Rayn, namun tiba-tiba mencium bau gosong dan pergi mematikan kompor serta memeriksa apakah masakan itu benar-benar gosong. Tapi penutup pancinya terlalu panas dan tidak sengaja ia menjatuhkannya.
"Aku bertanya bagaiman kau bisa ada disana tanpa bersuara" teriak Rayn dengan perasaan kesal menutupi rasa malunya.
"Saya sudah membunyikan bel dua kali lalu masuk dengan menekan sandi. Saya rasa itu sudah cukup membuat suara. Lagi pula bagaimana mungkin saya mengganggu anda... ah tidak, tidak saya tidak berniat menggangu. Saya langsung fokus mencari sumber aroma gosong dan melihat kompor yang masih menyala..lalu..."
"Apa kau tidak bisa mengabaikannya sebentar saja"
"Jika saya mengabaikannya lalu terjadi kebakaran, apa anda yakin? Lagi pula saya juga tidak tahu seberapa lama anda dan Nyoya...."
"Cukup...!!! sudah cukup" potong Lusia mengakhiri perdebatan Rayn dan Arka yang begitu konyol. "Arka terima kasih, kau bisa pergi sekarang dan Rayn bukankah Arka mencarimu pergilah atau membaca buku sembari menungguku sampai aku menyelesaikan masakanku." lanjut pinta Lusia.
Arka pun pamit dan pergi mengikuti Rayn karena ia datang memang untuk menemui Rayn. Lusia menghela nafas pendek. "Kau merasa malu tapi malah berdebat dan membuatnya semakin jelas" ucap Lusia akan tingkah Rayn yang terkadang seperti anak-anak. "Aku rasa Arka sengaja menjatuhkannya untuk membuat suara keributan. Lusia kenapa kau bisa begitu terhanyut hingga tidak menyadari apapu" lanjut keluhnya sembari menatap makanan yang sudah hangus.
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1