
Sepanjang perjalanan menuju perayaan, Mickey hanya diam menatap jalanan melalui jendela mobil. Ia sesekali berusaha menghubungi Rayn beruang kali namun tidak mendapat jawaban dari Rayn.
Saat itu Rayn sedang asyik berbincang dengan ibunya. Rayn tidak memperhatikan ponselnya yang menyala tanpa suara karena ia memasang mode silent pada ponselnya.
“Tuan Muda Mickey baik-baik saja?” tanya Bibi Adelin yang melihat Mickey tampak gelisah sejak masuk mobil.
“Tidak apa Bi” jawab Mickey singkat lalu kembali menatap ponselnya.
“Jika Tuan Muda Mickey merasa ada yang sakit, bilang Bibi yah” pinta Bibi Adelin sembari merapatkan jaket Mickey karena takut jika anak itu akan masuk angin.
Bibi Adelin sangat khawatir dengan kondisi Mickey yang memaksakan diri pergi ke perayaan meskipun dalam kondisi yang sedang sakit. Meskipun Bibi Adelin menyadari keputusannya tidak akan dibenarkan oleh Ny.Angelina, namun ia tidak tega melihat Mickey yang mengiba. Bibi Adelin pun takut jika terjadi sesuatu dengan Mickey, tapi ia sudah pasrah jika harus dimarahi Ny. Angelina kalau saja tahu dirinya telah membawa Mickey keluar rumah.
“Bi, apa kita bisa sampai sebelum perayaan dimulai?” tanya Mickey.
“Bibi tidak yakin Tuan Muda, mungkin kita akan sedikit terlambat” sahut Bibi Adelin.
Mickey ingin segera menemui Rayn dan Ny. Angelina. Meskipun dirinya masih tidak tau pasti apa yang akan terjadi dengan mereka, namun hatinya begitu gelisah dan sangat cemas jika sesuatu yang buruk akan terjadi dengan keduanya. Ia merasa sangat bersalah dan menyesal, kenapa ia menyetujui keputusan Rayn yang pergi ke perayaan untuk menggantikan dirinya. Seharusnya dia yang pergi dan seharusnya dia yang ada di sana saat ini bukan Rayn.
Andai saja ia mengabaikan pesan itu, andai saja ia tidak mengatakan kepada Rayn soal keinginannya pergi ke perayaan mungkin semua ini tidak akan terjadi. Mungkin saat ini ia akan tetap berada di rumah dengan Rayn dan Ny.Angelina dan ia tidak akan sekhawatir ini.
Di dalam mobil, Mickey mengingat kembali awal dan alasan dibalik kekhawatirannya. Semua bermula saat ia menerima pesan yang berisi ancaman dari seseorang yang tidak ia kenal beberapa hari sebelumnya. Orang itu mengirim gambar ibu Mickey yang terbaring koma di Rumah Sakit. Dalam pesan ancaman itu, ia meminta Mickey untuk datang ke acara perayaan dengan Ny.Angelina. Jika tidak, maka Mickey tidak akan bisa melihat ibunya lagi.
Mickey yang saat itu hanyalah seorang anak kecil pasti akan mudah terpengaruh dengan ancaman itu. Dirinya yang sangat mencintai dan tidak ingin kehilangan sang ibu langsung panik. Ia bahkan tidak berani meminta bantuan Rayn ataupun Tuan Charles. Mickey hanya didera rasa gelisah, ia tidak peduli siapa orang yang sedang mengancamnya, kenapa harus dirinya, kenapa harus ibunya dan kenapa harus Ny. Angelina. Ia terus merasa takut, dalam pikirannya hanyalah sang ibu, ibu dan ibunya.
Setelah ia menerima pesan ancaman waktu itu, Mickey diam-diam pergi ke Rumah Sakit tempat dimana ibunya terbaring koma seorang diri. Saat itu sedang hujan lebat, tanpa payung ia berlari keluar mencari taxi. Dengan langkah kaki yang begitu cepat ia berlari menuju ruang ICU. Dengan pakaian yang basah kuyup ia berdiri di depan pintu ruang ICU dengan nafas yang tersengal.
__ADS_1
Mickey mulai merasakan lega ketika melihat ibunya masih berada di sana, berada dalam ke ruang ICU itu. Meskipun sang ibu masih tidak sadarkan diri dengan begitu banyak alat medis menempel pada tubuhnya, setidaknya ibunya masih baik-baik saja.
Masih di depan ruangan itu, Mickey kembali melihat pesan ancaman yang ia terima. Kenapa orang itu melakukan ancaman kepadanya bukan kepada Rayn atau Tuan Charles jika si pengancam menginginkan Ny. Angelina. Begitu sebaliknya, jika orang itu hanya mengincar dirinya dan ibunya, lalu apa hubungannya dengan Ny.Angelina, kenapa si pengancam memintanya pergi ke perayaan bersama Ny.Angelina. Pertanyaan itu mengganggu pikiran Mickey tanpa menemukan jawaban, hingga akhirnya Mickey jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri didepan ruang ICU.
Rumah sakit akhirnya menghubungi Ny.Angelina memberitahu jika Mickey sedang dirawat di Rumah Sakit setelah ditemukan pingsan didepan kamar ICU ibunya dan ia mengalami demam tinggi. Mickey dibawa pulang oleh Ny.Angelina dan dirawat oleh dokter pribadi keluarga Anderson. Setelah sadar, Mickey hanya mengatakan kepada Rayn sambil menangis jika ia ingin pergi ke perayaan bersama Ny.Angelina.
Namun Rayn saat itu salah mengira akan permintaan Mickey, ia mengira jika Mickey murni hanya ingin pergi ke perayaan bersama sosok seorang ibu. Namun karena Mickey sedang sakit, itulah alasan kenapa Rayn memutuskan pergi ke perayaan menggantikan Mickey. Pergi untuk bisa merekam momen meriah yang diadakan setahun sekali itu secara live agar bisa Mickey saksikan.
Sementara Mickey yang baru menyadari kesalahannya karena tidak berkata jujur soal ancaman itu, membuatnya cemas dan khawatir terjadi sesuatu. Itulah mengapa ia meminta untuk menyusul mereka dengan Bibi Adelin.
#Back
.
Rayn terdiam akan penjelasan Mickey, jujur ia baru tahu alasan kenapa Mickey sangat ingin pergi ke perayaan saat itu meskipun ia saat sedang sakit. Jika Rayn tahu soal ancaman itu, mungkin ia akan meminta ayahnya menyelidikinya. Mungkin Rayn tidak akan menggantikan Mickey pergi dengan ibunya.
Namun, Rayn merasa jika masih ada yang kurang dan mengganjal hatinya akan peryataan Mickey. Mickey belum melanjutkan penjelasannya apa yang terjadi usai ia dan Bibi Adelin sampai di perayaan.
“Lalu, kau pasti memiliki orang yang kau curigai bukan?” tanya Rayn.
“Orang yang mungkin ku curigai?” tanya Mickey balik seolah tak mengerti dengan maksud pertanyaan Rayn.
“Kau pergi ke Rumah Sakit dan sudah memastikan jika ibumu baik-baik, bukankah itu sudah cukup untukmu bisa mengabaikan pesan itu. Kenapa kau masih tetap ingin pergi? Hanya ada satu alasan kenapa kau tetap ingin pergi" ucap Rayn tegas.
Rayn masih menatap Mickey dengan tatapan tajam. "Karena kau ingin memastikan sesuatu, sesuatu dimana kau mungkin sudah menduga siapa orang yang melakukan ancaman itu, orang yang mungkin saja membunuh ibuku dan orang yang seharusnya memiliki ponselku bukan?” lanjut tanya Rayn.
__ADS_1
Pertanyaan Rayn kembali membuat Mickey terdiam, ia tersenyum tipis seolah sudah tahu jika Rayn pasti akan menganalisanya sedetail itu.
“Kau benar…, saat itu aku sangat ingin memastikan sesuatu. Tapi kau memintaku untuk tetap di rumah dan menggantikanku pergi ke sana. Saat itu,hanya ada satu orang yang terlintas dalam pikiranku. Orang itu…" ucap Mickey menghentikan ucapannya lalu menunduk.
Mickey mengambil nafas dalam lalu menghembusnya perlahan dan kembali menatap Ryan dengan tatapan serius. "Orang itu… mungkin saja ayahku” ucap Mickey dengan nada suara tegas tanpa ragu.
“Mustahil” sahut Rayn. “Kau ingin aku mempercayainya?” lanjutnya.
“Aku pun tidak percaya, karena itu aku ingin pergi ke sana untuk membuktikan jika itu tidak benar” jawab Mickey.
Tidak hanya Rayn, Lusia dan Dr. Leona pun sama-sama terkejutnya mendengar kata ‘ayahku’ keluar dari mulut Mickey.
“Bagaimana mungkin ia memikirkan orang yang sudah mati” gumam Dr.Leona.
"Orang yang sudah mati?" tanya Lusia mendengar gumaman Dr. Leona. Ia lalu menatap Rayn dan Mickey.
Rayn dan Mickey mungkin sering berselisih pendapat atau saling marah tapi kali ini keduanya saling memberikan tatapan yang tidak biasa.
Dalam pikiran Mickey kecil saat itu, satu-satunya orang yang mungkin saja memiliki alasan keduanya adalah ayahnya. Tapi itu tidak mungkin, sangat tidak mungkin. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa mengancam dan melakukan pembunuhan itu.
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued***