Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 165 - Perihnya Kekuasaan


__ADS_3

Lusia telah sampai di Villa, ia langsung pergi ke kamarnya untuk memeriksa kondisi Rayn. Akan tetapi Lusia tidak melihat Rayn dikamarnya. Lusia mencari keberadaan Rayn di kamar mandi dan ruangan lain sembari mencoba menghubungi Rayn. Tidak lama, Rayn mengirimnya pesan sebuah foto yang munjukkan dimana dirinya sekarang.


Rayn saat ini ternyata sedang berada di ruang lukis nya. Lusia menghela nafas lega lalu segera pergi ke ruang lukis untuk menemui Rayn. Lusia langsung masuk usai menekan sandi. "Kenapa kau sudah bekerja hingga larut seperti ini setelah kondisimu baru saja membaik?" tanya Lusia dengan raut wajah kesal dan cemas.


Rayn hanya mengurai senyum, ia meletakkan palet ditangnya lalu melepas apron yang terikat ditubuhnya. Rayn berdiri berjalan menghampiri Lusia lalu memeluknya. "Bagaimana dengan harimu hari ini?" tanya Rayn.


Rayn mengerti jika Lusia telah melewati hari yang berat hari ini. "Kau tampak lelah dan juga masih harus bertemu dengan pria kasar itu. Aku semakin marah karena dia bukan meminta maaf, tapi malah berani menggertak dan berteriak kepadamu" lanjut ucap Rayn.


Lusia tidak bisa berkata-kata karena bahkan apa yang terjadi dengan Eric di Cafe sudah langsung sampai ke telinga Rayn. Sepertinya mereka benar-benar menjadikan Dave sebagai agen ganda.


Rayn semakin memeluk erat Lusia yang masih berada dalam dekapannya. "Aku hanya ingin membuatnya sadar, jika semua yang dia miliki bukanlah segalanya. Jika dia ingin menggunakan kekayaannya sebagai perisai untuk merendahkan orang lain, maka dia telah melakukan kesalan besar. Aku hanya ingin menunjukkan bagaimana seharusnya menggunakan kekayaan. Mengubah kekayaan itu menjadi sebuah kekuasaan yang menakutknya" tegas Rayn.


"Jadi, tetang apa yang terjadi dengan perusahaanya, benar jika itu karena dirimu?" tanya Lusia mendongak menatap Rayn.


Rayn memandang wajah mungil istrinya yang sedang menatapnya. Dengan manisnya Rayn menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Lusia. "Aku sedih, pertanyaanmu membuatku seolah telah melakukan sesuatu yang jahat. NK Group adalah perusahaan ayahku . Aku hanya meminta sesuatu yang sederhana, jadi jangan khawatir" ucap Rayn.


"NK Group? bukankah perusahaan ayahmu N...C...I Cons...truc...tion..." ucap Lusia ragu karena takut salah menyebutkan. Selama ini Lusia tidak pernah memeriksa latar belakang keluarga Rayn. Ia hanya pernah sekali mendengar lewat berita karena itu ia takut salah.


"NCI Construction? itu hanyalah anak perusahaan dibawah naungan NK Group" sahut Rayn.


Lusia tidak percaya, itu artinya ayah Rayn adalah orang yang sangat luar biasa. "Tapi Rayn, terlepas dari seberapa besar perusahaan ayahmu, aku pikir itu tidak sedehara. Mungkin bagimu itu sedehana tapi itu salah, Rayn. Jika perusahaan ayah Eric benar-benar mengalami kebangkrutan hanya karena hal ini. Aku akan menjadi orang yang sangat merasa bersalah" jelas Lusia.


Lusia pun menjelaskan maksud ucapannya. "Berapa banyak karyawan yang akan kehilangan pekerjaannya. Rayn, jika karena sikap Eric, bukankah kita cukup menghukum Eric, bukan karyawan yang tidak berdosa juga harus menaggungnya. Pikirkanlah bagaimana beban seorang pemimpin yang harus menanggung ratusan, bahkan ribuan karyawan. Rayn, tidak bisakah kau memafkannya dan jangan melibatkan perusahaan ayahnya?" tanya Lusia.


Rayn menatap lekat wajah Lusia, ia mengurai senyum seraya mendekap wajah Lusia dengan kedua tanganya. "Kau sungguh wanita yang luar biasa dan juga bijaksana. Baiklah aku mengerti, maafkan suamimu ini  jika sudah bertindak tanpa mempertimbangkan perasaanmu. Kau benar, aku telah melakukan kesalah besar tanpa mimikirkan konsekuensinya. Tapi, terkadang aku juga sulit mengendalikan amarahku, bagaimana aku bisa mengubah suasana hatiku yang sudah terlanjur buruk ini?" tanya Rayn dengan wajah tampannya yang mempesona.


"Bagaimana dengan ini?" tanya Lusia menarik kerah baju Rayn lalu mendaratkan ciuman pada bibir manis suaminya.


Rayn pun membulatkan matanya saat mendapatkan serangan tiba-tiba dari istrinya. Rayn pun kembali mendekap wajah Lusia dan membalas ciuman itu dengan ciuman panasnya yang lebih liar. Rayn sungguh membuat Lusia kehabisan nafas namun semakin membuatnya menginginkan lebih. Rayn pun mengangkat tubuh istrinya dan membawanya keluar ruang lukis tanpa melepaskan ciumannya. Di dalam kamar pribadinya, Lusia akan mengubah suasana hati Rayn yang buruk itu dengan sebuah kehangatan.


Keesokan harinya...


Jam kerja Lusia sebentar lagi akan berakhir, Arka memberitahunya jika sepulang bekerja dari Cafe, Rayn memintanya untuk bertemu. Tidak hanya itu, Rayn jugasudah menyiapkan baju ganti untuk Lusia. Lusia sebelumnya tidak tahu akan hal itu karena Rayn tidak mengatakan apapun saat ia pergi bekerja tadi. "Pantas saja dia memintaku untuk mengganti shift pagi hari ini" gumam Lusia.


Sepulang bekerja Arka langsung membawa Lusia ke sebuah Hotel mewah. Arka mempersilahkan Lusia untuk berganti pakaian sebelum ia akan mengantarkan Lusia pada Rayn.


Lusia menatap dirinya pada cermin yang memperlilhatkan keindahan dress yang ia kenakan. "Apa dia masih tidak puas dengan semalam? Apa hatinya masih merasa buruk sampai harus membawaku ketempat ini" gumam Lusia melirik ke sekitar.

__ADS_1


Lusia yang selesai berganti pakaian langsung di antar Arka menuju lantai Exclusive Penthouse suite, dimana Rayn sudah menunggunya disana. Sesampai di depan lift yang akan langsung menuju ruang utama, Arka mempersilahkan Lusia untuk masuk.


Disana Rayn berdiri dengan segelas wine ditanganya, memandang ke arah luar yang menampilkan pemandangan kota yang mempesona. Melihat kamar yang luas dan mewah, serta Rayn yang berpakai rapi dengan jas dan segelas wine ditangannya membuat Lusia mulai berpikir liar.


"Kenapa kau memintaku bertemu disini?" tanya Lusia.


Rayn menoleh, menyambut kedatangan istrinya dengan senyum manis yang mendebarkan. "Kau sangat cantik" ucap Rayn memuji penampilan Lusia dengan dress yang ia pilih.


Mendengar pujian itu, Lusia lantas mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya. "Apa kau membawaku kemari untuk lanjut ronde kedua ?" tanya Lusia dengan suara seperti sedang berbisik karena Arka yang masih berdiri disana.


Rayn melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah mendekati Lusia. "Ronde kedua? Kenapa? Apa suamimu ini tidak boleh menginginkannya? Kenapa kau menutupnya, aku sudah sering melihat semuanya. Dan kenapa kau menjadi pemalu disaat kita sudah melakukannya untuk kesekian kalinya" goda Rayn yang terus mendekat dan berbicara dengan suara yang terdengar sensual.


Lusia dengan panik memberi kode kepada Rayn untuk berhenti karena ada Arka disana. Rayn yang sudah berada tepat didepan Lusia pun lalu menatap ke arah Arka sejenak lalu kembali memandang Lusia. "Jika aku memintanya pergi, apa kita akan melakukannya?" bisik Rayn.


Rayn mendekatkan wajahnya membuat jantung Lusia semakin berdeguk kencang. Rayn menatap ke arah Arka yang memberinya sebuah pertanda lalu berbisik ditelinga Lusia. "Kita akan melakukannya nanti, sekarang kita temui tamu yang ku undang" ucap Rayn lalu menyelipkan helaian rambut Lusia ke belakang telinga. "Kau sungguh sangat cantik" lanjut ucapnya.


Tidak lama datang beberapa orang perwakilan NK Group dan juga dua orang yang tidak asing dimata Lusia. Melihat kedatangan tamunya, Rayn meletakkan gelas wine lalu berdiri dengan menyandarkan didirnya diujung meja, bersandar dengan kaki menyilang.


"Eric? Dan bukankan pria itu ayah Eric?" gumam Lusia.


Lusia pun tampak terkejut melihat siapa yang datang. Lusia menatap Rayn yang terlihat sangat tenang meskipun ada beberapa orang asing saat ini berada disekitarnya. Ayah Eric melangkah ke arah Rayn untuk menyapanya namun di cegah oleh Arka. Orang-orang itu harus tetap menjaga jarak dari Rayn. Bagaimanapun juga mereka tidak boleh tahu kondisi Rayn yang memiliki Haphephobia.


"Saya tidak ingin berbasa-basi, langsung pada intinya. Apa alasan anda sangat ingin bertemu dengan saya?" tanya Rayn seolah tidak tahu.


"Saya ingin meminta maaf kepada anda atas perbuatan hina putra sulung saya" ucap Ayah Eric membungkukkan tubuhnya.


"Kenapa anda yang meminta maaf ketika ada orang lain yang harus melakukannya. Dan juga kenapa anda meminta maaf kepada saya ketika ada orang yang benar-benar tersakiti disni." sahut Rayn.


Ayah Eric segera menarik Eric dan memintanya untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang ia lalukan. Ayah Eric pun lalu memandang ke arah Lusia yang berdiri tidak jauh dari Rayn.


"Lusia, itu dirimu kan? kau adalah teman Eric sewaktu sekolah. Lusia, paman meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan Eric. Dia memang anak yang bodoh dan sangat ceroboh." ucap Ayah Eric kepada Lusia.


"Lusia...?...." sahut Rayn.


"Apa baru saja anda menyebutnya dengan nama?" lanjut tanya Rayn kepada Ayah Eric dengan suara tegas.


Rayn mengulurkan tangannya pada Lusia, meminta Lusia untuk mendekat dan datang padanya. Lusia pun mendekat pada Rayn dan berdiri tepat disebelah Rayn. Rayn melingkarkan satu tanganya pada pinggang Lusia seolah dengan tegas menunjukkan jika dia adalah wanita nya.

__ADS_1


"Wanita ini...." tanya Ayah Rayn ragu.


"Dia adalah istriku" sahut Rayn.


Mendengar hal itu, ayah Eric kembali meminta maaf karena tidak tahu sehingga memanggilnya hanya dengan nama. "Maafkan saya Tuan Rayn dan Nyonya Lusia. Maafkan sikap lancang saya baru saja" ucapnya.


"Jika bukan karena kemurahan hati istri saya, saya tidak akan pernah mengizinkan NK Group untuk kembali membina hubungan bisnis dengan perusahaan anda. Karena saya sangat tidak menyukai putra anda. Dan juga anda tidak perlu tahu bisnis apa dan hubungan seperti apa yang saya miliki dengan NK Group. Disana Tuan Mark, perwakilan NK Group dan team nya yang akan menyelesaikan urusan kerjasama."


"Terima kasih atas kemurahan hati anda Nyonya Lusia." ucap Ayah Eric setelah mendengar jika perusahaannya selamat karen Lusia.


Rayn menggandeng tangan Lusia dan mengajaknya untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Tuan Mark dan teamnya menunduk memberi salam hormat kepada Rayn dan Lusia. Ayah Eric dan Eric pun melakukan hal yang sama sembari mengucapkan terima kasih.


Setelah kontrak kerjasama selesai, perwakilan NK Group pun meninggalkan ruangan itu. Kini hanya menyisahkan Eric dan ayahnya.


"Apa kau sungguh tidak tahu siapa suaminya sebelum kau berulah?" teriak ayah Eric kepada Eric.


Eric hanya bisa bersujud dan meminta ampun kepada ayahnya. Dia mengaku jika benar-benar tidak tahu jika suami Lusia memiliki pengaruh besar dan memegang kekuaasa tinggi karena dia bisa mengendalikan NK Group untuk menarik saham.


"Plakkkkk!!!"


Tamparan keras dilayangkan ayah Eric. "Kau tidak hanya menghancurkan perusahaan ayah, tapi juga membuat ayah malu karena harus memohon. Dasar anak tidak berguna!!!"


"Ayah, ayah, maafkan Eric" Eric bersujud dan terus memohon.


"Maaf..? Ayah akan mengirimu ke luar negeri dan jangan kembali sampai kau dibutuhkan" ucap Ayah Eric lalu pergi meninggalkan putranya.


Kejadian itu disaksikan oleh Rayn melalui layar tablet di tangannya karena Arka sudah mengatur cctv disana. "Bereskan semuanya" perintah Rayn kepada Arka yang saat ini mengemudi untuk nya dan Lusia.


Rayn meletakkan tabletnya lalu menggenggam tangan Lusia yang duduk tepat disebelahnya. Lusia hanya bisa terdiam melihat apa yang sudah dilakukan Rayn. Seperti telah melewati waktu yang panjang dan sulit, Rayn menyandarkan kepalnya pada bahu Lusia. "Apa kau marah?" tanyanya lirih.


Lusia pun membalas genggaman tangan Rayn dengan menggenggamnya. Satu tangannya maraih bahu Rayn dan menepuknya perlahan. "Aku memang sangat terkejut, tapi bagaimana bisa aku marah. Aku sangat bahagia dan bangga padamu Rayn karena sudah melindungiku. Aku ingin menunjukkan pada dunia betapa hebatnya suamiku" ucap Lusia menghibur Rayn.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2