
Seperti yang dikatakan Rayn jika semua yang terjadi seperti sebuah sihir yang dapat ia sebut sebagai takdir. Pertemuan pertamanya dengan Lusia yang menjadi awal mula ikatan keduanya seperti bukan hanya sebuah kebetulan. Lagi dan lagi keduanya selalu saling dipertemukan untuk mengisi garis kehidupan keduanya.
Lusia adalah kekuatan untuk kelemahan Rayn, begitu juga Rayn adalah cahaya untuk kebahagian Lusia. Meskipun Rayn dan Lusia sama-sama memiliki luka dimasa lalu mereka, tapi sepertinya itu adalah sebuah alur yang ditorehkan untuk menguatkan cinta keduanya.
Jika semua sudah ditulis dalam buku kehidupan, lalu apakah dewa takdir itu ada? Mungkinkah dia akan berbaik hati memberikan ending yang bahagia atau justru sebaliknya sebuah kisah penuh dengan air mata. Pemahaman tak berdasar ini hanya sepintas lewat dalam pikiran Rayn saat dia sedang memandang istrinya sekarang yang tampak sibuk menyiram bunga.
Jika dewa takdir itu ada, aku harap dia tidak sedang kesal kepadaku, tapi dia sangat peduli. Aku akan menganggap semua rasa sakit dan kesulitan yang aku dapatkan sekarang adalah untuk membuatku sadar jika sudah saatnya aku benar-benar melindunginya dengan tanganku sendiri.
"Dewa takdir?" tanya Lusia membuyarkan lamunan Rayn.
"Eeemm, dewa takdir" sahut Rayn tanpa sadar.
Setelah menjawab dengan asal, Rayn tiba-tiba menjadi terkejut setelah menyadari pertanyaan itu baru saja secara nyata diucapkan oleh Lusia. Dan saat ini wanita itu berdiri tepat didepannya, menatapnya dengan raut wajah serius, diselimuti aura-aura penasaran tentang apa yang baru saja digumamkan Rayn. Mata Lusia lalu melirik, menoleh menatap buku yang ada ditangan Rayn.
[ Takdir Hidupmu ]
Buku berwarna coklat muda, tertulis sebuah judul pada sampul dengan ukuran font besar yang bertuliskan Takdir Hidupmu. Tatapan tajam Lusia pada judul buku itu membuat Rayn panik dan langsung menyembunyikanya dibalik tubuhnya. Lusia pun tertawa kecil, ia tidak menyangka jika selama ini Rayn yang hanya akan membaca buku dongeng kini beralih menjadi buku tentang kehidupan.
"Jika dewa takdir itu ada, aku harap dia tidak sedang kesal kepadaku..." ucap Lusia memperagakan bagaimana dia melihat Rayn mengucapkan hal itu tadi. "Apa baru saja kau sedang menghafal kata mutiara yang ada dibuku itu?" tanya Lusia.
Rayn menghela nafas kasar karena merasa sangat malu didepan Lusia. "Apa aku baru saja mengatakan itu? Kapan? Aaaa.. mungkin aku membacanya terlalu nyaring" sahut Rayn. "Bukankah kau akan berkerja ke Cafe hari ini, bersiaplah aku akan mengantarmu." ucap Rayn mengalihkan pembicaraan dan berusaha untuk kabur.
Lusia berusaha menghentikan Rayn. "Apa kau yakin sedang membaca? Tapi kau mengatakannya tanpa memandang buku itu. Kedua bola matamu sangat jelas memandangku" ucap Lusia sembari memberi isyarat dengan kedua jarinya menujuk kedua manatanya, menggambarkan bagiamana mata Rayn saat itu hanya fokus menatap dirinya bukan buku yang ada ditangannya.
Rayn tidak tahu harus mengelak seperti apa lagi, kepanikannya membuat dirinya tidak bisa berpikir apapun untuk melawan Lusia. Ia hanya terus berusaha menghindar untuk pergi kembali ke kamarnya.
"Lalu, apa itu artinya kata-kata puitis yang dia ucapkan kepadaku selama ini hanya meniru dari buku?" gumam Lusia dengan suara yang disengaja keras agar didengar Rayn.
Rayn yang mendengar hal itu langsung menghentikan langkah kakinya. Ia kembali menoleh menatap Lusia yang masih berdiri ditempat. Dengan wajah cemberut seperti anak kecil yang sedang kesal dia kembali menghampiri Lusia.
__ADS_1
" Hoho... Itu tidak benar. Semua yang aku katakan kepadamu sungguh tulus dari hatiku tanpa meniru dari manapun. Itu semua dari apa yang aku rasakan, yang ingin aku sampai kepadamu murni atas perintah otak ku. Dan juga, tentang dewa takdir yang tadi kau dengar, itu juga bukan dari aku membaca buku ini." tegas Rayn mengacungkan buku tebal ditangannya.
Rayn menarik nafas dalam lalu lanjut membela dirinya. "Itu terlintas begitu saja dalam pikiranku ketika aku sedang menatapmu" lanjut Rayn dengan begitu bersemangat dibalik wajah kesal namun juga malu, Rayn berusaha membela diri dengan memberi klarifikasi kepada Lusia.
Lusia tersenyum. "Itu yang ingin ku dengar darimu" sahut Lusia mengurai senyum kepuasan.
Rayn kembali menghela nafas dan kembali memasang wajah tenang. Ia melangkah lebih dekat. "Jadi kau hanya ingin menghukumku?" tanyanya membuat Lusia tidak mengerti.
Rayn mendekap wajah Lusia lalu mengecup singkat kening Lusia. "Karena telah melewatkan kecupan pagi yang kujanjikan" ucapnya usai memberi kecupan manis dipagi hari sesuai janjinya.
Kini Rayn kembali mendekatkan wajahnya lebih dekat dan menatap Lusia dengan senyum tipis yang begitu manis. Wajah mereka begitu dekat dengan mata yang saling memandang. "Aku juga menagih janjimu" ucapnya.
Lusia mengerti apa yang sedang diminta Rayn sekarang. Lusia pun langsung mengecup bibir suaminya sebagai sambutan pagi seperti yang sudah dia janjikan. Rayn tersenyum bahagia, dirinya semakin tidak kuat melihat Lusia yang selalu menggemaskan. Lusia yang masih belum terbiasa dengan sapaan pagi itu membuatnya malu dan ia langsung pergi meninggalkan Rayn dengan terburu-buru, berdalih jika akan terlambat pergi ke Cafe.
Setelah Lusia selesai bersiap, dia melihat piring salad yang masih terisi penuh tanpa berkurang sama sekali. Itu artinya Rayn sama sekali tidak menyentuh sarapan pagi yang ia siapkan. Rayn mengatakan jika saat ini dirinya sedang tidak berselera. Hal itu membuat Lusia menjadi khawatir, ia bertanya apakah Rayn sakit. Ryan menggelengkan kepalanya, mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan memakannya nanti.
Setelah memastikan jika Rayn baik-baik saja, Lusia meraih kunci mobilnya dan berkata jika dirinya akan pergi sendiri. Rayn tidak perlu mengantarnya. Demi menghemat waktu dan semuanya, bolak balik pergi antar jemput bisa dihindari. Rayn tahu jika dirinya tidak akan bisa memaksa, dengan berat hati Rayn mengizinkan Lusia pergi kerja dengan mengendarai mobil sendiri.
Lusia menghentikan langkah kakinya. "Rayn... kita sudah pernah membahas hal ini" jawab Lusia seraya mengecup pipi suaminya lalu pamit untuk berangkat ke Cafe.
"Baiklah" sahut Rayn yang hanya bisa menatap istrinya pergi bekerja.
.
.
Di Friends Cafe...
Lusia kembali menjalani kesibukannya bekerja di Friends Cafe. Hari-hari dimana dia kembali bertemu begitu banyak orang baru yang menjadi pelanggan Cafe miliki Kelvin. Meskipun Rayn berulang kali meminta Lusia berhenti bekerja, tetapi Lusia memiliki alasan sendiri kenapa dia masih belum bisa melakukannya, dan Ray pun juga sangat tahu akan hal itu.
__ADS_1
Di jam istrirahatnya, Lusia menyempatkan diri mengirim pesan kepada Rayn untuk tidak melewatkan makan siang yang sudah Lusia pesan untuk Rayn.
[ Kau mengatakan jika ingin makan sup iga, aku sudah memesan dari restoran favoritmu. Arka akan mengaturnya, jadi nikmatilah karena aku juga akan menikmati makan siangku ] - Lusia.
"Kita makan ditempat yang berbeda, bagaimana aku bisa menikmatinya. Lagi pula kenapa tiba-tiba dia harus bekerja shift pagi." gumam Rayn usai membaca pesan dari Lusia.
Dengan memasang wajah kesal, Rayn membalas pesan Lusia mengatakan sesuatu yang bebeda dengan isi hatinya.
[ Tentu saja aku harus menikmatinya ] -Rayn dengan emoji love.
Usai mengirim pesan kepada Lusia Rayn yang saat ini sedang duduk dimeja makan menoleh ke arah dapur. Disana Arka berdiri memakai celemek menyiapkan Sup Iga yang baru saja ia bawa untuk Rayn. Arka menyajikannya lengkap dengan peralatan makan untuk Rayn.
"Silahkan menikmati" ucap Arka sembari meletakkan sendok.
Rayn seketika menjadi kesal, seperti anak kecil yang diminta diam dirumah selagi orang tuanya pergi. Ia melampiaskan kekesalannya kepada Arka. "Itu yang harusnya diucapkan istriku, kenapa berbeda rasanya ketika kau yang melakukan ini semua dan mengatakan hal itu kepadaku" keluh Rayn.
Rayn masih belum puas mengeluh. "Dan juga..." ucapnya menunjuk celemek yang dikenakan Arka. "Dan juga kenapa kau harus mengenakannya sementara yang kau lakukan hanya memindahkan wadah. Bukankah itu terlalu berlebihan?" ucapnya sembari menujuk sampah wadah dari restoran yang masih berada diatas meja dapur.
"Penampilanmu semakin membuatku merasa buruk saja. Kita tidak seperti sedang berada dalam drama bromance. Aaaaa... ini bukan kehidupan pernikahan yang aku inginkan" lanjut keluh Rayn merengek seperti anak kucing kepada Arka. Dengan wajah cemberut Rayn menyembunyikan wajahnya menempel pada meja dan berkata jika dirinya sedang tidak berselera makan.
Rayn merasa kesal karena kegiatan romantis yang ia inginkan saat ini kenapa harus berakhir bersama dengan Arka. Arka segera melepas celemek yang ia kenakan karena Rayn tdak menyukainya.
Arka duduk termenung menatap ponselnya. Ia tampak bingung tidak tahu harus bagaimana. Arka tidak berani mengadukan hal ini kepada Lusia karena jika Rayn tahu, itu sama saja dengan bunuh diri secara suka rela. Tapi dia juga tahu harus menjawab apa jika Lusia menanyakan hal ini kepadanya. "Akhirnya aku bisa memahai perasan Tuan Mickey" gumamnya lalu memukulan ponsel ditangnya ke kepalanya.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***