Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 69 - Jangan Pergi


__ADS_3

Hari ini, sesuai dengan jadwal yang sudah disetujui Rayn, ia akan melakukan Hipnoterapi dengan Dr. Leona. Hipnoterapi yang akan mereka lakukan bukanlah yang pertama bagi Rayn, karena Rayn sudah pernah melakukan Hipnoterapi bersama Dr. Brian kemudian dilanjutkan Dr. Leona, sampai akhirnya Rayn memutuskan untuk berhenti.


Dr. Leona sudah menunggu di lantai 2 ruang baca Rayn ditemani Arka. Sembari menunggu Rayn, ia berjalan melihat setiap baris buku koleksi Rayn yang tertata sangat rapi di rak setinggi hampir 3 meter diruangan terbuka itu.


“Ia masih saja membaca buku dongeng” gumam Dr. Leona tersenyum. Ia tahu jika Rayn sangat suka mengoleksi dan membaca buku dongeng.


“Arka” panggil Lusia.


Arka yang sedari tadi berdiri menemani Dr. Leona segera menghampiri Lusia yang memanggilnya. “Kau sudah bisa tinggalkan kita” perintah Lusia.


Arka menunduk mematuhi perintah Lusia, ia lalu pergi menuruni anak tangga. Rayn yang baru saja membersihkan diri keluar dari kamarnya menghampir Lusia dan Dr. Leona.


“Apa kau sudah siap?” tanya Dr. Leona kepada Rayn.


Lusia masih dengan cemas memandang Rayn. Ia justru menjadi orang yang lebih takut diantara mereka. Lusia masih ingat betapa menderitanya Rayn pada saat pesta kembang api waktu itu.


Dr. Leona menawarkan jika ia akan membawa Rayn pada pertemuannya dengan Lusia pertama kali di Galeri. Hal itu perlu ia lakukan untuk mengetahui alasan dibalik rasa aman yang membuat Rayn tidak memiliki reaksi phobia dengan Lusia.


Meskipun itu tidak akan sepenuhnya mempengaruhi hasil yang diharapkan, namun Dr. Leona bisa memastikan jika dari 100%, alasan itu bisa memberi petunjuk 10-15% untuk mengetahui kunci dari trauma Rayn.


Rayn tidak mengatakan jika pertemuannya dengan Lusia di Galeri bukanlah yang pertama kalinya. Begitu juga dengan Lusia yang masih tidak menyadari jika dirinya adalah gadis berkuncir Rayn.


Rayn menolak untuk kembali ke waktu itu, ia tidak ingin melakukaknnya karena alasan pribadi. Rayn merasa jika dirinya tidak perlu tahu kenapa tidak memiliki reaksi terhadap Lusia.


“Rayn…, jika itu bisa membantu, apa yang membuatmu sulit?” tanya Lusia perlahan berjalan mendekati Rayn.


“Aku takut akan fakta yang mungkin saja tidak bisa aku terima” jawab Rayn.


“Takut?” tanya Lusia.


“Aku takut, dengan mengetahuinya akan mengubah segalanya. Aku takut jika alasan itu justru akan membawaku pada kondisi yang sebaliknya, dimana aku juga akan memiliki reaksi terhadapmu nantinya. Aku takut tidak bisa lagi mengandalkanmu” sahut Rayn. Ia memandang Lusia lalu melanjutkan ucapannya. “Aku tidak peduli dengan yang lain, tapi tidak akan aku lakukan jika itu menyangkut dirimu” lanjutnya.


“Rayn, aku tahu apa yang kau khawatirkan tapi…” ucap Lusia mencoba meyakinkan Rayn jika apapun yang terjadi tidak akan mengubah perhatiannya terhadap Rayn.


“Nanti…” potong Rayn.


“Rayn…” sahut Lusia.


“Nanti... aku akan melakukannya nanti. Beri aku waktu, dan itu tidak sekarang” lanjut ucap Rayn kepada Lusia dengan penuh keyakinan. Dengan tatapan mengiba, berharap Lusia bisa menerima keputusan yang juga menjadi permintaannya.


“Baiklah, kita tidak bisa memaksakannya. Aku khawatir kau justru akan mengunci semuanya” sahut Dr. Leona.


Dr. Leona mulai duduk di sebelah sofa yang sudah disiapkan khusus untuk Rayn. “Kau bisa ceritakan kepadaku apa yang kau ingat malam itu. Dan setelahnya, aku bisa membawamu kembali dan membuka gerbang selanjutnya” ucap Dr. Leona.


Dr. Leona meminta Rayn untuk berbaring setengah duduk dengan posisi senyaman mungkin, kemudian ia memintanya menutup mata. Dr. Leona mulai memutar alunan musik suara percikan air mengalir yang lembut dan menenangkan. Ia meminta Rayn mulai menarik nafas kemudian melepasnya pelan-pelan. Rayn mulai menarik nafas dalam 4 hitungan, kemudian menahan nafas dalam 4 hitungan, dan melepaskannya lewat mulut dalam 8 hitungan.


Dr. Leona mulai memberi instruksi dan sugesti yang merupakan inti dari proses Hipnoterapi. Sebuah sugesti yang terdiri dari repetisi verbal dan gambaran mental untuk mempengaruhi persepsi, perasaan, pikiran, dan perilaku Rayn. Ia perlahan mulai menurunkan volume dan menggantinya dengan denting jarum jam saat Rayn mulai relax dan fokus dengan sugesti yang diberikan Dr. Leona.

__ADS_1


Dengan teknik affect bright atau jembatan perasaan, Dr. Leona mulai mendapatkan akses yang lebih luas pada memori masa kecil Rayn. Rayn mulai mendapat bimbingan terapis dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadarnya. Ia mulai memasuki kondisi hipnosis yang lebih dalam, sehingga gelombang otak yang semula berada pada gelombang beta akan berubah pelan-pelan menuju gelombang alpha.


Lusia dengan cemas duduk tidak jauh dari Rayn, ia terus mendampingi Rayn sesuai dengan permintaan Rayn. Secara tidak langsung Rayn membiarkan Lusia tahu tentang apa yang terjadi dari apa yang akan ia gambarkan dalam hipnosis.


“Apa yang kau lihat?” tanya Dr. Leona dengan penuh kehati-hatian.


Rayn mulai melihat gambaran dirinya tepat pada malam sebelum kecelakaan itu terjadi.


#Flashback.


Malam itu Rayn sedang berada di sebuah kamar mewah dikediamannya, kediaman keluarga Anderson. Dilihatnya seorang wanita parubaya duduk di bibir tempat tidur dengan memegang tangan seorang anak kecil yang sedang terbaring dengan jarum infus ditangannya.


Wanita itu adalah Bibi Adelin, seorang pengasuh di keluarga Anderson. Anak kecil laki-laki yang sedang ia jaga saat itu adalah Mickey. Bibi Adelin sudah menjadi pengasuh Rayn semenjak ia masih dan kini ia tidak hanya menjadi pengasuh Rayn, tapi juga bertugas mengasuh Mickey.


Rayn mulai berjalan mendekati Bibi Adelin yang terlihat sangat cemas. “Apa dia baik-baik saja?” tanya Rayn.


“Tuan Muda Mickey sudah dalam keadaan yang semakin membaik. Tuan Muda Rayn tidak perlu khawatir” jawab Bibi Adelin.


Mickey perlahan mulai membuka mata dari tidurnya setelah mendengar suara Rayn, ia memanggil nama Rayn yang saat itu berdiri tepat disebelahnya terbaring.


“Rayn… “ panggil Mickey.


Rayn mendekat. “Jangan pergi” ucap Mickey dengan suara yang lemah.


Belum sampai Rayn merespon ucapan Mickey, seorang wanita dengan pakaian rapi masuk dan langsung menghampiri Mickey yang masih terbaring di tempat tidur. Ia mengusap dengan lembut rambut Mickey. Wanita berambut ikal dengan paras nan cantik itu adalah ibu Rayn.


“Ibu…” ucap Mickey. Ia sekuat tenaga berusaha untuk bisa berbicara lebih lagi.


“Wah… Bibi Adelin, kau mendengarnya?” tanya Ibu Rayn kepada Bibi pengasuh saat mendengar Mickey memanggilnya ibu. Bibi pengasuh merespon dengan senyum yang menunjukkan jika dirinya ikut bahagia.


“Jangan pergi” lanjut ucap Mickey.


“Mickey, jangan sedih sayang. Di Festival tahun depan kita bisa pergi bersama. Ibu, Mickey, Rayn dan ayah Rayn. Ibu merasa sangat senang, karena biasanya Rayn sangat tidak suka dengan kerumunan atau keramaian, tapi kali ini entah apa yang membuatnya sangat antusias untuk pergi ke acara Festival” ucap Ibu Rayn kepada Mickey dengan wajah yang bahagia.


Saat itu Rayn merengek kepada Ibunya untuk pergi ke acara Festival. Ibu Rayn tidak merasa aneh dengan sikap Rayn yang tidak biasa. Rayn biasanya tidak suka dengan kerumunan atau kermaian, namun kali ini ia mengatakan jika ingin pergi.


“Bibi, hubungi saya jika terjadi sesuatu. Saya sudah meminta Dr. Daniel untuk tetap stay disini, khawatir jika demam Mickey tiba-tiba naik lagi” ucap ibu Rayn kepada Bibi Adelin, ia lalu meminta Rayn bersiap untuk pergi.


Ibu Rayn lebih dulu meninggalkan kamar Mickey diikuti Rayn yang berjalan di belakangnya. Rayn tiba-tiba menghentikan langkah kakinya saat mendengar Mickey kembali memanggil namanya. Rayn berbalik dan kembali mendekati Mickey.


“Mickey, jangan khawatir. Aku akan memenuhi janjiku untuk pergi ke acara Festival menggantikanmu. Seperti yang ibu katakan, aku benci kerumunan dan keramaian. Tapi kali ini aku akan menikmatinya untukmu. Kau bilang jika Festival tahun ini sangat penting bagimu, karena itu kau bersikeras untuk pergi. Tapi lihatlah, disaat waktunya tiba kau malah terbaring sakit. Kau harus sembuh OK!" ucap Rayn dengan tersenyum lalu beranjak untuk pergi.


Rayn yang sudah memegang gagang pintu kembali berbalik dan kembali memandang Mickey. "Aku melihat ibu sangat bahagia karena kau akhirnya memanggilnya ibu. Sebagai gantinya, ingat yang akan aku janjikan padamu saat ini. Jika kau sembuh, kita akan pergi bersama ke acara Festival tahun depan, dan saat perayaan pesta kembang api dilepaskan ke langit, saat itu aku akan mengakui dan memanggilmu “Brother”. Karena itu kau harus sembuh” ucap Rayn dengan tersenyum. Ia melambaikan tangannya dengan tersenyum riang sambil melanjutkan membuka pintu lalu mininggalkan kamar Mickey.


Mickey hanya bisa membalas senyum dan lambaian Rayn dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya .Bibi Adelin mengusap air mata Mickey dan berkata kepada Mickey, jika dia adalah anak yang beruntung karena berada diantara orang-orang yang sangat menyayanginya. Namun, ucapan Bibi Adelin justru membuatnya semakin merasa bersalah, karena dirinya yang lemah saat itu justru memberikan bencana kepada orang-orang yang juga ia sayangi.


Malam itu, yang seharusnya pergi ke acara Festival adalah Mickey. Mickey mengatakan kepada Ryan jika dirinya sangat ingin pergi ke acara Festival itu bersama Ibu Rayn. Namun, karena kondisi Mickey yang tiba-tiba demam tinggi sehingga tidak memungkinkannya untuk pergi. Rayn akhirnya memutuskan untuk pergi menggantikan Mickey. Rayn berencana melakukan panggilan video sehingga Mickey juga bisa menikmati festival yang sedang berlangsung.

__ADS_1


Sesuatu yang tidak diketahui ibu Rayn adalah alasan Rayn ingin pergi ke acara Festival hanya demi menggantikan Mickey. Ibu Rayn hanya tahu jika itu murni permintaan Rayn sendiri yang ingin pergi.


Dan ironisnya, Rayn juga tidak mengetahui alasan seungguhnya kenapa Mickey sangat ingin pergi ke acara Festival dengan Ibunya. Rayn murni melakukannya karena peduli kepada Mickey, ia ingin mewujudkan keinginan Mickey karena acara Festival itu hanya diadakan satu kali dalam setahun.


#Back


“Brother…” ucap Rayn dengan menteskan air matanya.


Dr. Leona mulai melakukan terminasi, sebuah tahapan membangunkan Rayn setelah diberikan sugesti. Ia melakukan dengan lembut, sabar, dan tidak buru-buru agar kondisi psikis Rayn tidak kaget dan bisa sadar seperti semula dengan rileks.


Rayn yang sudah mendapatkan kesadarannya kembali perlahan membuka mata, ia menutup matanya dengan satu tangan untuk menutupi tetesan air matanya.


“Kau mempioritaskan pikiran dan perasaanmu. Seharusnya kita bisa melanjutkan ingatan yang kau dapatkan terakhir kali dan melihat siapa pria itu, tapi kenapa kau mendorong dirimu kembali ke momen itu?” tanya Dr. Leona. "Aku ingin membawamu kembali tapi menurutku ini hanya masalah kecil dan kau memiliki hak itu" lanjut ucap Dr.Leona.


Rayn mengambil nafas dalam, ia lalu berusaha untuk duduk dengan tegap. “Kita lakukan disesi berikutnya, aku rasa hari ini cukup sampai disini” sahut Rayn.


“Apa kau menolak mempercayai apa yang sudah kau ingat terakhir kali? Itu sebabnya kau berusaha keras membuktikan pada dirimu sendiri jika yang kau ingat waktu itu salah. Itu sebabnya kau berada disana bukan. Kau ingin membuktikan jika Mickey tidak mungkin terlibat” lanjut ucap Dr. Leona membicarakan perihal hasil dari hipnoterapi saat ini.


“Kenapa? Kau masih ingin membuktikan dan mempercayai Mickey?” lanjut tanya Dr. Leona.


Rayn bangkit dari duduknya. “Karena aku masih peduli dengannya” sahut Rayn lalu beranjak pergi meninggalkan Lusia dan Dr. Leona.


“Lihatlah, bahkan dia juga mengabaikanmu yang sudah menunggunya dengan cemas” ucap Dr. Leona kepada Lusia.


Lusia tersenyum dan mengatakan jika dia baik-baik saja dengan itu. Lusia sangat mengerti jika saat ini mungkin Rayn bukan mengabaikannya tetapi butuh waktu untuk sendiri. Meskipun ia sangat penasaran soal apa yang terjadi antara dirinya dan Mickey. Namun Ia sadar, bagaimanapun juga dirinya masih orang asing yang baru saja memasuki kehidupan pribadi Rayn.


Rayn duduk termenung dalam ruang melukisnya, ia memikirkan apa yang sudah ia dapatkan kali ini dari melakukan hipnoterapi. Ia semakin ragu dan bimbang. Ia mulai memikirkan apa yang tidak pernah terpikirkan selama ini.


"Dia yang menginginkan untuk pergi bersama ibu, tapi dia juga yang akhirnya melarang kami untuk pergi. Ini seperti dia mengetahui sesuatu yang akan terjadi.” ucap Rayn dalam hati.


Rayn masih belum mendapatkan jawaban, kenapa harus menjadi kesalahannya seperti yang dikatakan oleh pria yang sudah tega membunuh ibunya.


Rayn teringat kembali dengan panggilan 'Brother (Kakak)' yang ia janjikan kepada Mickey. Janji yang tidak pernah terpenuhi hingga mereka dewasa saat ini. Karena semenjak kecelakaan itu bukan hanya membuat Rayn menderita phobia, tapi tentunya mereka sudah tidak pernah pergi ke acara Festival itu lagi ditahun-tahun berikutnya.


.


.


*** To Be Continued***


Duh..duh.. semakin dekat saja nih dengan profil Mickey yah reader… ^^


Siapa sih sebenarnya Mickey dalam keluarga Anderson?


Apa Mickey benar-benar terlibat disaat usia mereka yang kala itu masih kecil?


Nantikan terus bab selanjutnya yah…

__ADS_1


__ADS_2