
Pernyataan Mickey membuat Rayn dan yang lain terkejut, ia menyebutkan sebuah nama yang tidak pernah mereka ketahui dan dengar dari Mickey sebelumnya.
"Paman Louis ?" tanya Rayn mengulang kembali pernyataan Mickey.
"Dia adalah saudara kembar ayahku" sahut Mickey.
"Rayn..." gumam Lusia lirih menatap Rayn yang semakin erat menggenggam tanganya. Lusia bisa merasakan kemarahan yang sedang Rayn coba tahan setelah mendengar ucapan Mickey.
"Kenapa dia melakukannya? Kenapa dia melakukannya kepada ibuku? Kenapa dia membunuh ibuku, kenapa ???" tanya Rayn tanpa jedah dengan amarah yang sudah tidak mampu ia tahan lagi.
"Akupun tidak tahu, tapi aku akan mencari jawabannya dan memastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal. Karena aku yakin dia pasti juga terlibat dalam kematian ayahku" ucap Mickey tegas.
"Rayn tenanglah...." pinta Lusia.
"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu lagi, ini juga mengerikan bagiku. Aku hanya bisa memohon
kepadamu Rayn, beri aku waktu untuk menemukannya. Aku akan kembali ke Canada" ucap Mickey kepada Rayn dengan raut wajah penuh dengan rasa bersalah.
Tidak hanya bagi Rayn, kenyataan itu juga menjadi pukulan besar bagi Mickey. Ia tidak pernah menyangka jika semua petaka ini karena ulah dari keluarganya. Andai bisa memutar waktu, mungkin Mickey saat itu ia tidak akan pernah memilih menerima pertolangan Rayn.
Mickey telah memutuskan untuk kembali ke Canada, ia akan mencari jawaban dengan menemukan keberadaan pamannya. Mickey akan mengusut dan membongkar kasus pembunuhan yang kemungkinan besar dilakukan oleh saudara kembar ayahnya itu.
Mickey meninggalkan Villa bersama Dr. Leona. Sebelumnya, Dr. Leona sudah memberikan beberapa obat untuk Rayn, ia menitipkannya kepada Lusia.Dr. Leona meminta Lusia untuk selalu berada disisih Rayn dan menghiburnya. Dr. Leona sangat tahu jika Rayn adalah orang yang sangat pandai menyembunyikan kesedihannya, tapi sesungguhnya ia rapuh. Rayn lebih memilih memendam kesedihannya seorang diri, hal ini dikhawatirkan Dr. Leona akan memperburuk kondisi Rayn.
Dalam perjalanan meninggalkan Villa, Mickey hanya diam didalam mobil yang dikemudikan oleh Dr. Leona. Dr. Leona juga mengkhawatirkan Mickey yang terlihat sangat terpukul dengan semua yang terjadi.
"Kau yakin akan kembali ke Canada untuk menyelesaikan kasus ini seorang diri?" tanya Dr. Leona.
Dr. Leona menanyakannya bukan karena ia tidak bisa melihat situasi yang sedang dihadapi Mickey. Bagi orang lain, tentu saja mereka tidak akan membahas hal sensitif yang bisa saja semakin membangkitkan emosi dan luka sesorang. Tapi, Dr. Leona justru ingin menjadi tempat untuk Mickey bisa melampiaskan dan menceritakan semua yang sedang ia rasakan.
__ADS_1
Di saat seperti ini, Mickey perlu seseorang yang akan mendengarkan dan berada dalam satu pemikiran dengannya. Membiarkan dia seorang diri merasa sendirian menanggung beban dalam masalah ini justru bisa membuatnya memutuskan jalan yang salah.
"Karena itu satu-satunya cara untukku bisa menebus semuanya" ucap Mickey tanpa memandang Dr. Leona. Ia hanya menatap hutan pinus yang mereka lewati di balik kaca jendela mobil.
"Kenapa harus dirimu yang menebus semuanya sementara mereka yang melakukannya? Apa karena kau merasa jika saja kau tidak meminta pertolongan Rayn saat itu, semua ini tidak akan terjadi? Apa itu yang kau pikirkan?" tanya Dr. Leona.
Mendengar perkataan Dr. Leona membuat Mickey mengingat kembali bagaimana dia memohon kepada Rayn dengan menangis saat itu.
"Aku mohon tolong selamatkan ibuku."
Sebuah permintaan yang ia pikir adalah awal dari petaka yang terjadi dengan Rayn dan ibunya. Mickey merasakan rasa bersalah yang begitu mendalam atas kematian Ny. Angelina dan phobia Rayn.
"Itu semua adalah takdir yang tidak bisa dihindari" ucap Dr. Leona memecahkan lamunan Mickey yang terus menyalahkan dirinya.
"Takdir?" tanya Mickey berbicara pada dirinya dengan senyum tipis.
"Mickey, kau bukan Dewa atau Tuhan yang bisa melihat isi hati manusia atau melihat apa yang akan terjadi dimasa depan. Karena itu, jangan menyesali atau menyalahkan sesuatu yang terjadi diluar dari kendalimu." ucap Dr.Leona.
"Karena itu dengarkan aku, Mickey" ucap Dr. Leona menghentikan mobilnya.
Memahami kecemasan Dr. Leona, Mickey menatap Dr. Leona dan memintanya untuk tidak khawatir. "Jangan khawatir, aku tidak akan bertindak bodoh. Kau pun tahu, jika aku sebodoh itu mungkin aku tidak akan bertahan sampai saat ini. Mungkin saat itu aku sudah menyerah dan memutuskan untuk mengakhiri semua penderitaan itu dengan tenang bersama ibuku. Entah dengan melenyapkan nyawa ayahku, atau melenyapkan nyawaku sendiri dan ibuku" ucap Mickey yang menunduk karena mulai menjatuhkan air matanya.
Mickey harus mengingat kembali penderitaan yang dialaminya dan ibunya. Bahkan ia belum sempat membalas pengorbanan yang dilakukan sang ibu dengan selalu melindunginya dari kekejaman sang ayah. Bahkan ia belum sempat mengucapkan maaf dan terima kasih kepada ibunya yang lebih dahulu menutup usia setelah hampir satu tahun koma. Ia belum sempat membuat ibunya tersenyum bahagia, hanya sebuah senyum yang dipaksakan oleh sang ibu yang membekas dalam ingatan Mickey.
"Mickey...." panggil Dr. Leona lirih menatap Mickey mengusap air matanya lalu kembali menatap jalanan.
Dr. Leona kembali menjalankan mobilnya, ia memberi waktu untuk Mickey bisa melepaskan kesedihannya. Sepanjang jalan Dr. Leona tidak membahas apapun lagi hingga mereka sampai di depan Apartemen mewah tempat Mickey tinggal. Mickey turun dari mobil usai mengucapkan terima kasih kepada Dr. Leona dengan singkat.
Melihat Mickey yang hendak memasuki lobby apartemen, Dr. Leona segera keluar mobil dan memanggilnya. "Mickey..." panggilnya.
__ADS_1
"Aku tadinya akan memberitahumu setelah selesai membahasnya dengan Dr. Daniel. Tapi, aku rasa kau perlu tahu dan aku harap ini juga bisa menjadi kekuatan untukmu bisa melewati semuanya" lanjut ucap Dr. Leona.
"Kekuatan?" tanya Mickey.
"Eemmm..." gumam Dr. Leona mengangguk dengan tersenyum.
"Perjuanganmu tidak sia-sia Mickey, jadi berhenti menyalahakan dirimu atas semua yang terjadi terhadap Rayn. Aku rasa aku telah menemukan pemicu dari Phobianya. Karena itu, jangan khawatir dan kau bisa percayakan Rayn kepadaku" lanjut ucap Dr. Leona.
Mendengar hal itu memancing senyum dibibir Mickey. "Terima kasih sudah memberitahuku. Kau benar, ini adalah kabar bahagia yang membuatku bisa bernafas lebih lega." ucapnya dengan senyum.
Dr. Leona hanya membalasnya dengan senyum, meskipun dalam lubuh hatinya ia juga masih merasa sedih dan pilu saat menatap punggung Mickey yang berjalan meninggalkannya.
"Oh ya" ucap Mickey menghentikan langkahnya dan kembali berbalik memandang Dr. Leona.
"Maafkan aku sudah merepotkanmu dengan membuatmu mengemudi untukku. Hati-hati dijalan saat kembali" lanjut ucapnya melambaikan tangan dengan tersenyum. Ia menyadari jika ia terlalu kejam hanya dengan mengucapkan terima kasih dengan singkat kepada wanita itu.
"Haha, sejak kapan dia bisa mengataknnya dengan semanis itu kepada wanita" gumam Dr. Leona yang sudah lama mengenal sifat Mickey. Dr. Leona membalas dengan lambaian tangan dan tersenyum.
Dr. Leona sangat mengenal Mickey, ia adalah satu-satunya orang yang tahu setiap kesedihan Mickey. Mickey mungkin selama ini terlihat seperti orang acuh, apa adanya dan bahagia seperti tidak memiliki beban. Tapi, sesungguhnya ia juga adalah orang yang memiliki begitu banyak luka dan kenangan pahit yang sulit ia lupakan seumur hidupnya. Ia hidup dengan memiliki begitu banyak topeng untuk menutupi setiap lukanya.
Berkat Dr. Leona yang juga menjadi dokter pribadinya, Mickey mulai bisa melepas setiap luka dan kenangan pahit itu dari hidupnya. Dr. Leona perlahan membantu Mickey membangun istana kebahagiannya dengan terus berada disisihnya dan memberinya semangat.
Seperti yang dilakukan Rayn yang selalu ada dan menjaga perasaan Mickey. Bagi orang lain yang melihat kesetiaan Mickey terhadap Rayn dan keluarganya mungkin mereka akan mengira jika itu hanyalah sebuah balas budi, tapi tidak bagi Mickey. Bagi Mickey, Rayn adalah orang yang memberinya harapan untuk hidup. Orang yang membuatnya bisa merasakan arti keluarga sesungguhnya.
Tanpa Rayn dan Dr.Leona disisihnya, mungkin Mickey hanya akan tetap menjadi serpihan kaca yang terus terperangkap dalam kegelapan. Seperti yang Dr. Leona katakan jika dia bukan Dewa dan juga bukan Tuhan, ia hanyalah manusia yang tidak akan mampu bertahan seorang diri melewati hari-hari yang penuh dengan keputusasaan.
.
.
__ADS_1
.
***To Be Continued***