
Rayn terlihat sudah datang untuk menjemput Lusia. Rayn yang masih berada diseberang menghentikan mobilnya, ia menatap ke arah Friends Cafe dari seberang sana. Rayn berhenti di sana hanya menyempatkan diri untuk melihat Lusia.
Pandangan Rayn fokus pada Lusia yang terlihat sedang berbicara dengan pelanggan dari kejauhan. Ia tidak melihat ada yang aneh dengan itu. Rayn kembali menyalakan kendaraannya untuk melanjutkan berkendara karena ia harus memutar di putaran yang ada diujung sana untuk bisa sampai ke Friends Cafe.
Rayn menutup kaca mobilnya, namun sekilas ia mulai melihat ada yang salah dengan pergerakan tubuh Lusia yang terlihat seperti sedang terancam. Rayn mengerutkan alisnya dan menajamkan matanya menatap keras apa yang terjadi. Terlihat jelas Lusia sedang menjatuhkan salah satu kursi ke arah pria itu.
"Lusia...!" ucap Rayn dengan cepat ia membuka pintu mobilnya dan berlari untuk menyeberangi jalan.
Pria misterius itu bersikap seperti seorang psikopat, dengan bangga ia mengatakan jika dirinya adalah pengagum rahasia yang selalu setia kepada Lusia. Ia bahkan mengklaim jika hanya dirinyalah satu-satunya pria yang boleh memilki Lusia.
"Pergi atau aku akan melaporkanmu kepada polisi" ancam Lusia mengeluarkan ponselnya.
Tidak mengindahkan ancaman Lusia, pria itu justru tertawa melihat Lusia yang terlihat ketakutan terhadapnya. "Kenapa kau bersikap seperti itu kepada calon suamimu?" tanyanya namun kini dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi mengiba.
"Dasar psikopat" sinis Lusia.
Perkataan itu sepertinya benar-benar menyinggung pria itu sehingga membuatnya marah. "Kau dulu yang mengatakan akan melindungiku dan sekarang aku adalah orang yang akan melindungimu Lusia" ucapnya. "Apa kau tidak mengingatku?" tanyanya sembari membuka maskernya.
Lusia berusaha mengingat wajah itu, meskipun terlihat tidak asing, namun ia sama sekali tidak bisa mengenal atau mengingat pernah bertemu dengannya.
"Morgan...! Namaku Morgan...!!! Apa kau sudah melupakannya?" tanya pria itu dengan berteriak sembari mendobrak meja. Seketika membuat Lusia semakin ketakutan.
Morgan ternyata adalah teman Lusia sewaktu mereka duduk di bangku SMP. Saat itu Morgan menjadi salah satu korban pembullyan di kelasnya oleh teman-temannya. Lusia yang tanpa sengaja melihat perundungan itu lantas membantu Morgan dari para pembully.
"Jika mereka mengganggumu lagi kau bisa datang ke kelasku dan mencariku."
Ya, kata-kata itu yang selalu diingat oleh Morgan. Sejak kejadian itu Morgan selalu memperhatikan Lusia dan mulai jatuh hati kepada Lusia sampai ia memiliki obsesi yang berlebihan. Lusia sama sekali tidak mengenal baik pria itu, namun ia ingat jika pernah membantu seorang anak laki-laki di sekolahnya dulu.
Morgan bahkan mengetahui jika Lusia tinggal di Villa Rayn, dia adalah si pemilik mobil misterius yang pernah di curigai Mickey. Tidak hanya sampai di situ, Morgan juga orang yang datang ke toko bunga tempat Lusia dulu bekerja, ia membeli dan mengirimnya ke Cafe untuk Lusia.
Morgan selalu mengikuti semua akun media sosial dan segala aktivitas Lusia. Dia adalah pria bertudung yang membelikan popcorn untuk Lusia juga mengirim hadiah sepatu yang diinginkan Lusia secara misterius.
"Sepertinya kau salah paham akau sesuatu" ucap Lusia berusaha meluruskan.
Namun sepertinya penjelasan Lusia kali ini sudah terlambat karena kini Morgan benar-benar sudah terobsesi dengannya hingga bersikap bak seorang penguntit. Morgan mendekati Lusia, ia menekan dagu Lusia mengancamnya. Lusia tidak berani bergerak, dengan tubuh gemetar ia menghindari kontak mata tajam pria mengerikan itu.
"Salah paham katamu? Semua berubah setelah pria itu datang, kau juga menolongnya tapi bagaimana dia bisa menjadi pacarmu?" ucap Morgan dengan sinis.
__ADS_1
Melihat mata Lusia yang mulai berkaca-kaca, raut wajah Morgan seketika berubah. Morgan mengusap rambut Lusia dan mengelusnya berulang kali. "Bukankah kita lebih dulu saling bertemu dan aku yang lebih dulu menyukaimu. Seharusnya saat itu kau membiarkan bocah itu dikeroyok para anak preman sekolah" ucap Morgan membicarakan sosok Rayn.
Lusia tidak paham dengan apa yang dikatakan Morgan karena ia tidak ingat jika dirinya juga pernah menolong Rayn. Bahkan ia masih tidak tahu jika dirinya mendapat julukan Gadis Bekuncir Kuda dari Rayn. Namun, ternyata kejadian itu sepertinya juga disaksikan oleh Morgan.
Rayn segera berlari meninggalkan mobilnya, ia tidak bisa membuka pintu Cafe yang sudah dikunci dari dalam oleh Morgan. Rayn berusaha menggedor pintu kaca dan berteriak meminta pria itu membuka pintunya.
"Lusia...!" Teriak Rayn berusaha membuka pintu.
"Rayn" panggil Lusia melihat kehadiran Rayn.
Morgan berbalik, ia menyunggingkan senyuman licik diwajahnya menanggapi kehadiran Rayn. Rayn nekat memecahkan pintu kaca dengan siku tangannya. Ia pun berhasil dan segera memasukkan tangannya kedalam untuk membuka kunci pintu itu.
Seakan tidak takut degan kedatangan Rayn, Morgan justru menantang dan berjalan mendekati Rayn. "Apa kau berani menyentuhku?" tanya Morgan dengan senyum licik.
Tidak hanya tentang Lusia, nampaknya Morgan juga sudah mengantongi informasi tentang Rayn. Bahkan ia tahu jika Rayn memiliki Haphephobia. Morgan mengambil langkah semakin dekat dengan Rayn, Rayn sekuat tenaga berdiri dan bertahan melawan phobianya.
"Rayn... !" panggil Lusia dengan wajah cemas setelah mengetahui jika Morgan sangat berbahaya.
"Lusia, pergilah untuk mencari pertolongan !" perintah Rayn.
Lusia bergegas pergi menuju kasir, ia berusaha menghubungi Dave namun Dave sedang berada dalam panggilan lain. Lusia hendak menghubungi kepolisian, namun Morgan segera berbalik ke arah Lusia untuk menggagalkan panggilan itu.
Usai memukul Morgan, tubuh Rayn pun menjadi lemas seketika. Rayn terlalu memaksakan diri menyentuh tubuh Morgan. Meskipun ia berhasil, namun pada akhirnya Rayn tetap tidak bisa sepenuhnya mengendalikan phobianya.
"Aahhh.... ." Rayn meremas dadanya.
Rayn tidak bisa mengendalikan kecemasan dan kepanikan yang tidak rasional. Rayn mulai merasakan napasnya menjadi cepat, detak jantungnya berdegup kencang. Rayn berusaha mengatur pernafasannya, ia terlihat seperti kehabisan nafas. Keringat dingin mulai bercucuran di sekujur tubuhnya, ia hampir gontai tidak mampu menopang tubuhnya.
"Hahaha, lihatlah betapa pecundangnya pria sialan ini Lusia!"
Teriak Morgan dengan tertawa melihat Rayn yang mulai tidak berdaya. Morgan segera berdiri kembali menghampiri Rayn untuk membalas pukulan yang baru saja ia terima. Rayn berusaha meraih kursi dan melemparnya ke arah Morgan. Morgan kembali terjatuh karena kursi itu tepat menghantam kakinya.
Morgan menjadi semakin marah, ia mengeluarkan pisau lipat dari kantong celananya. "Kau pikir bisa melawanku, Hah!!! Orang lemah sepertimu tidak pantas untuknya. Bukankah lebih baik kau lenyap saja dari muka bumi ini? Aku akan membantumu mengakhiri penderitaan phobiamu itu."
Dengan wajah bak seorang iblis, Morgan berdiri dan bersiap untuk menyerang Rayn setelah memberi ancaman itu. Morgan mulai mempercepat langkah kakinya berjalan ke arah Rayn yang masih terduduk lemah. Ia mengayunkan tangannya yang menggenggam pisau untuk melukai Rayn.
"Rayn.. !!!" teriak Lusia berlari menghampiri Rayn berniat melindunginya.
__ADS_1
Melihat Lusia yang berlari ke arahnya bersamaan dengan psikopat itu yang juga kearahnya dengan sebilah pisau, Rayn memaksakan diri berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan segera meraih tubuh Lusia yang akan memeluknya.
Bersamaan dengan itu, dengan cepat Rayn menerima pelukan Lusia lalu ia memutar tubuhnya untuk melindungi Lusia. Rayn pun kini adalah orang yang berada dalam posisi membelakangi Morgan sambil memeluk Lusia.
"R...Ra...Rayn...." panggil Lusia masih dalam pelukan Rayn.
Lusia mendongakkan kepalanya memandang wajah Rayn yang kini justru melindunginya.
"Rayn, kau baik-baik saja?" tanya Lusia dengan suara yang gemetar melihat Rayn yang memeluknya.
Di sisi lain, Dave yang saat ini dalam perjalanan kembali dan sudah sangat dekat dengan Cafe. Lusia dari tadi tidak bisa menghubunginya karena ia sedang berada dalam panggilan telepon dengan Kelvin yang juga sedang dalam perjalanan ke Cafe.
"Jadi saat ini kau meninggalkan Lusia sendirian di Cafe? Kenapa tidak menungguku datang baru pergi membuang sampah. Bagaimana bisa kau meninggalkannya sendirian?" tanya Kelvin dalam panggilan telepon dengan Dave.
"Maafkan saya pak, tapi jangan khawatir, saya sudah sampai" sahut Dave yang kini sudah berada di depan Cafe. "Ada apa ini?" lanjut ucap Dave melihat pintu yang rusak sementara di dalam berdiri seorang pria dengan sebilah pisau yang ditodongkan ke arah Rayn dan Lusia.
Morgan masih berdiri dengan tangannya yang memegang erat pisau lipat miliknya, masih belum puas ia kembali mengayunkan pisaunya untuk benar-benar membunuh Rayn. Namun beruntung, niat itu digagalkan oleh Dave yang baru saja kembali dan langsung menendang tubuh pria itu hingga tersungkur.
"Ya,, sialan!" teriak Dave memberikan tendangan mautnya.
"Dave, ada apa?" tanya Kelvin panik.
Dengan kemampuan taekwondo yang ia miliki, dengan cepat Dave mampu melumpuhkan Morgan hingga sampai benar-benar tidak berdaya.
Rayn tidak bisa menutupi rasa bersalahnya karena terlambat datang. "Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku terlambat" ucap Rayn menatap Lusia
Tanpa menjawab pertanyaan Rayn, Lusia justru menjatuhkan air matanya dengan tatapan sendu ia meraih pipi Ryan. Rayn tersenyum menatap wajah Lusia lalu memeluknya lagi dengan menenggelamkan kepalanya pada jenjang leher Lusia. "Syukurlah jika kau baik-baik saja" ucap Rayn mencoba mengatur pernafasannya.
Dave mengunci tubuh Morgan lalu menatap pisau yang berhasil ia jatuhkan dari tangan Morgan.
"Darah?" ucap Dave lirih menatap bercak darah yang ada pada pisau itu.
Dave menoleh ke arah Rayn dan Lusia. "Kalian baik-baik saja? Kalian ada yang terluka?" tanya Dave berteriak.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***