
Mengingat desakan Mickey, Lusia berusaha menyelesaikan misinya dengan membawa Rayn pergi keluar Villa. Salah satu tempat yang ingin ia kunjungi saat ini adalah toko buku. Awalnya Rayn menolak untuk pergi dan tetap berada di ruang melukisnya. Namun akhirnya ia luluh dengan rengekan Lusia yang dirasa sangat mengganggu.
Lusia dan Rayn pergi ke sebuah perpustakaan sekaligus toko buku ditemani oleh Arka. Sepanjang perjalanan Lusia mencoba memberanikan diri bertanya kepada Rayn perihal permintaan pengawalan untuk dirinya. “Soal pengawal
untukku, kenapa aku harus memilikinya?” tanya Lusia.
“Jangan menjawabnya dengan bertanya padaku, apa Mickey tidak memberitahumu” perintah Lusia melihat Rayn tampak ragu untuk menjawab. Ia teringat dengan jawaban Mickey saat ia menanyakan hal ini kepadanya.
Rayn tertawa geli. “Aku bahkan belum mengatakan apapun” ucapnya.
“Saat ini, aku hanya bisa memberitahumu jika orang yang datang ke Villa waktu itu bukan orang yang sedang mengincar atau mengancamku. Tapi, itu berkaitan denganmu” jawab Rayn tanpa basa-basi membuat Lusia langsung panik.
“Denganku?” tanya Lusia dengan serius sembari memposisikan dirinya mengahadap Rayn yang duduk di sebelahnya.
“Kita sudah sampai” potong Arka bersamaan saat Rayn akan menjawab pertanyaan Lusia.
“Kita akan membahasnya lebih detail nanti bersama Mickey, saat dia sudah mendapatkan bodyguard untukmu” jawab Rayn lalu membuka pintu mobil.
“Katakan padaku sekarang” sahut Lusia menahan tangan Rayn yang akan membuka pintu.
Rayn berbalik, ia kembali menghadap Lusia. “Jangan khawatir, aku pasti akan memberitahumu. Awalnya aku akan tetap diam karena tidak ingin membuatmu khawatir sampai Mickey selesai menyelidikinya. Tapi, kurasa kau juga perlu tahu agar kau bisa lebih waspada dan berhati-hati” ucapnya.
"Lalu apa masalahmu dengan para pengawal yang sudah dibawa oleh Mickey? Kenapa kau menolaknya dengan alasan yang tidak masuk akal. Terlalu rupawan katamu? Apa sebenarnya kau hanya merasa tersaingi dengan ketampanan mereka dan Arka ?" Tanya Lusia dengan menunjuk Arka. Arka yang memperhatikan dari spion sontak menunduk seolah tidak ingin terlibat dengan perdebatan keduanya.
__ADS_1
"Ada apa denganmu Rayn, Apa yang membuatmu tidak terima jika ia sepanjang waktu ditemani pria tampan yang akan melindunginya. Jujur saja jika kau iri karena tidak bisa melakukannya" gumam Rayn dalam hati berbicara kepada diri sendiri.
"Seorang bodyguard harus terlihat garang dan bar-bar agar ditakuti. Dengan begitu mereka akan melihatnya benar-benar seorang pengawal. Bukan terlihat seperti pasangan yang sedang pergi kencan." jawab Rayn bertentangan dengan apa yang ia pikirkan. Terlihat jelas wajah tidak puas Lusia akan jawaban Rayn. Namun ia sadar jika apa yang dikatakan Rayn ada benarnya.
Lusia kembali meminta kepastian dari Rayn. "Kau yakin itu berkaitan denganku bukan denganmu?" tanya Lusia. Rayn hanya menjawab dengan mengangguk.
"Aku tidak membutuhkan pengawal. Jadi, kau dan Mickey tidak perlu melakukannya" ucap Lusia dengan nada serius.
Lusia masih percaya jika benar orang yang sedang di curigai Mickey berkaitan dengannya, maka pasti orang itu adalah para rentenir. Baginya pengawalan bukanlah solusi, karena mereka akan tetap dan terus mengincarnya. Lusia percaya orang-orang itu tidak akan bodoh asal melukai atau bahkan sampai berniat membunuhnya. Mereka hanya akan selalu mengancam demi mendapatkan apa yang mereka mau, yaitu pelunasan hutang. Dibandingkan dengan dirinya, Lusia justru lebih khawatir jika ancaman itu datang kepada keluarganya.
"Apa kau serius dengan apa yang baru saja kau ucapkan?" tanya Rayn.
Lusia tidak ingin merepotkan dan melibatkan Rayn dalam masalahnya. Baginya bukan kewajiban Rayn untuk melindunginya. "Tentu saja, lagi pula siapa diriku sampai mendapatkan pengawalan khusus. Aku hanya seseorang yang bekerja untukmu. Aku bukan bagian dari keluargamu, istri atau kekasihmu. Namun aku sangat berterima kasih karena kau sudah mengkhawatirkanku dan berusaha untuk melindungiku" jawab Lusia.
"Tiba-tiba? Why?" tanya Mickey terkejut akan perintah Rayn.
"Kita tidak bisa memaksanya jika itu hanya akan membuat Lusia tidak nyaman" jawab Rayn. "Lakukan saja perintahku" lanjut Ryan lalu menutup telepon.
Mickey mengikuti perintah Rayn begitu saja. Meskipun dalam hati ia merasa kesal. Rayn sudah main seenaknya saja membatalkan setelah memaksanya segera mencari pengawal sesuai kriteria seperti sedang mencari jodoh.
Mendengar percakapan Rayn dan Mickey semakin membuat Lusia tidak enak hati. Ia hanya menunduk meminta maaf dan mengucapkan terima kasih. Rayn tersenyum, ia tidak ingin membuat suasana canggung diantara mereka.
"Apa kita bisa keluar sekarang?" tanya Ryan. Lusia mengangguk dengan tersenyum karena Rayn menghargai keputusannya.
__ADS_1
Rayn keluar dari mobil diikuti oleh Lusia. “Apa yang akan kita lakukan disini?” tanya Rayn menatap sebuah toko buku di depannya.
“Tentu saja untuk membaca buku atau membeli buku” jawab Lusia akan pertanyaan konyol Rayn ketika sudah jelas mereka didepan toko buku.
Lusia mengulurkan tangannya kepada Rayn dengan tersenyum meminta Rayn untuk meraihnya. Rayn menatap uluran tangan Lusia. Ia mengatur pernafasannya lalu meraih dan menggenggam tangan Lusia. Lusia semakin erat menggenggamnya. Lusia tidak tahu apa yang mungkin terjadi nantinya, tetapi ia berjanji akan selalu ada untuk Rayn. Rayn mulai melangkahkan kaki mengikuti Lusia untuk masuk.
Arka berjalan lebih dahulu pasang badan untuk menjaga jalan dan melindungi keduanya. Rayn selalu menghentikan langkahnya dan semakin erat menggenggam tangan Lusia setiap kali berpapasan dengan pengunjung lain.
“Kau baik-baik saja?” tanya Lusia melihat Rayn berhenti dan memejamkan matanya.
"Aku tidak bisa melakukannya, kita kembali sekarang” jawab Rayn membuka mata, ia menarik tangan Lusia untuk pergi.
Lusia menahannya. "Kau tidak boleh menyerah, perlahan kau harus bisa melawannya" ucap Lusia.
"Kau tahu jika ini bukan sesuatu yang mudah untuk ku lawan" jawab Rayn. "Apa kau lupa, jika... " lanjut ucap Rayn dengan nada yang semakin tinggi, namun tiba-tiba ia menghentikan ucapannya dan menarik nafas panjang.
"Maafkan aku Lusia, aku tidak bermaksud membentakmu" lanjut Rayn.
“Percayalah padaku” ucap Lusia dengan semakin erat menggenggam tangan Rayn yang sudah mulai terasa sangat dingin. Lusia menyadari, wajah Rayn yang semakin pucat dan keringat dingin yang mengalir namun ia tetap tenang menunjukkan jika Rayn sedang berusaha menahannya phobianya.
“Tidak akan ada yang berubah jika kau memilih untuk menyerah Rayn. Jangan perhatikan mereka, hanya cukup melihatku, mengikuti langkahku dan mendengarkanku saja” lanjut Lusia meyakinkan Rayn.
Harapan Lusia, meskipun yang ia lakukan tidak menghasilkan sesuatu yang besar seperti kesembuhan Rayn. Namun, membuat Rayn bisa melihat dan merasakan langsung indahnya dunia luar sudah cukup baginya. Ia percaya jika dalam hati Rayn yang paling dalam, ia juga menginginkannya.
__ADS_1
*** To Be Continued***