Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 177 - Menghibur


__ADS_3

Setelah melewati malam di kediaman Anderson, kini malam itu telah berganti pagi menyambut Lusia yang masih tidur di atas ranjang. Rayn yang sudah lebih dulu bangun berdiri di balkon merasakan sejuknya hembusan angin pagi. Pagi terasa sangat indah dengan hadirnya suara kicau burung-burung. Begitu merdu menyapa pagi, hingga sukacita mereka mampu membawa perasaan bahagia dan memberikan kedamaian dalam hati.


Kicauan burung di luar sana telah sampai pada telinga Lusia. Lusia mengerjapkan mata menatap ke arah jendela dimana tirai berayun akan tiupan angin. Di balik tirai itu, sekilas Lusia melihat sosok suaminya yang berdiri di luar sana.


Meskipun belum sepenuhnya sadar dari tidurnya, Lusia tetap berusaha bangun. Ia memijakkan kakinya turun dari ranjang. Lusia berjalan ke arah balkon dan menggeser sedikit pintu kaca geser. Rayn menoleh seiring dengan pintu yang kini sepenuhnya terbuka.


"Kau sudah bangun" ucap Rayn menyapa Lusia dengan senyum mesra


Rayn merentangkan kedua tangannya meminta Lusia untuk datang ke pelukannya. Lusia mengurai senyum lalu melangkah menghampiri Rayn. Ia memeluk tubuh suaminya lalu berdiri dalam pelukan Rayn yang kini memeluknya dari belakang.


"Kau bisa masuk angin" ucap Rayn seraya menutup tubuh istrinya dengan kardigan yang masih merekat di tubuhnya. Lusia nampak seperti anak kanguru yang berada dalam kantong tubuh induknya.


Lusia menoleh mendongak menatap ke arah Rayn. "Selamat pagi sayang" sapa Lusia mendekap kedua pipi Rayn lalu mengecup singkat manis bibirnya. Rayn pun membalas kecupan singkat itu dengan kecupan yang mendarat pada kening Lusia. Seperti inilah cara mereka menyambut indahnya pagi dengan penuh romansa.


"Apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi hari ini?" tanya Rayn.


Lusia terdiam mendengar pertanyaan itu, ia ingat akan pesan Mickey yang memintanya sebisa mungkin menahan Rayn dirumah dan tidak pergi kemanapun sebelum Mickey kembali.


"Hari ini aku hanya ingin disini. Kau harus mengajakku mengelilingi rumahmu yang sangat luas ini. Selain itu, di sana, lihatlah taman bunga di sana. Aku ingin pergi ke sana. "


"Tentu saja kita bisa melihatnya nanti, karena kita memiliki banyak waktu. Jika kau belum memikirkan tempat yang ingin kau kunjungi, maka kita pergi ke tempat yang aku pilih" sahut Rayn.


Lusia tampak panik, alasan apa yang harus ia buat untuk menolak ajakan itu. Lusia bertanya kepada Rayn, apakah dia bisa pergi nanti saja, untuk saat ini cukup berdiam diri di rumah saja.


"Tempat itu, aku yakin kau juga ingin pergi melihatnya. Tempat dimana ibuku banyak menghabiskan waktu di sana" ucap Rayn.


Jujur Lusia sangat penasaran dan sangat ingin pergi ke sana, tapi tidak bisa dilakukan sekarang. "Lusia, Lusia" panggil Rayn memecah lamunan Lusia yang sedang berpikir.

__ADS_1


"Lalu apa yang kau ingin kita lakukan selama di rumah?" tanya Rayn.


Lusia tampak memutar otak memikirkan jawabannya. "e... itu.. emmm.. " jawab Lusia gugup.


"Baiklah, bagaimana jika membersihkan diri bersama sambil memikirkan apa yang akan kita lakukan seharian dirumah" bisik Rayn ditelinga Lusia.


Rayn melepaskan pelukannya, meraih lengan Lusia mengajaknya masuk kembali ke kamar. Sepertinya Rayn tidak main-main, dia sungguh ingin menikmati guyuran air dari shower bersama sang istri.


Didalam kamar mandi Rayn mengukuh Lusia dan menguncinya hingga tersudutkan. Rayn merengkuh tubuh sang istri untuk kembali dekat menempel pada tubuhnya. Rayn mendaratkan ciuman manisnya seraya meraih dan memutar kran shower.


Air mulai mengalir dari atas membasahi tubuh keduanya seiring dengan ciuman liar Rayn yang diterima dan dibalas liar oleh Lusia. Sentuhan hangat tubuh Rayn membuat Lusia menginginkan lebih. Lusia menatap dan meraba bidang datar dada Rayn yang dialiri air. Kecupan tiap kecupan terus didaratkan Lusia hingga jenjang leher Rayn.


"Aku ingin merasakan sensasinya, berikan padaku" bisik Lusia di telinga Rayn dengan suara basar sebasah tubuhnya.


Rayn mengurai senyum, ia meraih mulusnya paha Lusia dan menariknya satu kaki itu naik. Satu tangan Rayn mencoba membuat tubuh Lusia untuk bisa menyatu dengan tubuhnya. "Aku akan mulai sayang" balas bisik Rayn seiring dengan hujaman yang ia berikan.


"Rayn...."


"Lusia...."


Panggilan nama yang saling bersaut dengan ikatan dibawah sana yang saling menaut. Kenikmatan yang membuat mata dan telinga meraka tuli akan hal lain selain apa yang mereka rasakan.


Diluar sana, Bibi Adelin terpaksa masuk kamar setelah mengetuk pintu untuk kesekian kalinya. Bibi Adelin nampak bingung melihat kamar yang kosong. Namun setelah mendengar suara yang tidak seharusnya ia dengar dari kamar mandi membuat Bibi Adelin dengan cepat meletakkan nampan sarapan pagi diatas nakas. Bibi Adelin segara meninggalkan kamar Rayn seraya tersenyum.


Setelah hampir satu jam keduanya didalam, Rayn dan Lusia akhirnya keluar dengan aroma wangi dari tubuh mereka. "Rayn.... " panggil Lusia dengan nada suara panik.


Rayn sontak menghampiri Lusia dan menanyakan apa yang terjadi. Dengan wajah cemberut Lusia menunjuk sarapan yang sudah tersaji diatas meja. "Lihatlah..." ucap Lusia.

__ADS_1


"Oh, pasti Bibi Adelin yang sudah menyiapkannya untuk kita" sahut Rayn dengan santai seolah itu bukan masalah.


Lusia sontak berlari melewati Rayn begitu saja ke arah kamar mandi. Ia menutup pintu kamar mandi lalu menempelkan telinga pada pintu. "Rumah semewah ini, apa mungkin kamar mandi ini kedap suara?" tanya Lusia.


Menyadari maksud dari kekhawatiran Lusia, Rayn sontak tertawa melihat kepolosan sang istri saat ini.


"Bagaimana lagi, Bibi Adelin pasti sudah mendengarnya, itu sebabnya ia pergi begitu saja" goda Rayn sembari mengambil langkah mendekati Lusia.


"Sepertinya suaraku yang lebih tampak bergairah....aaaaaaa tidak tidak. Rayn bagaimana aku bisa menghadapi Bibi Adelin setelah ini" keluh Lusia. "Apa yang harus aku lakukan?" lanjut tanya Lusia.


Rayn mengurai senyum kecil, ia sungguh sedang berusaha menahan tawa. "Kenapa kau bertanya kepadaku? Aku hanya korban disini karena kau yang memintanya" lanjut goda Rayn.


Rayn mengambil langkah semakin dekat lalu meraih pinggul Lusia dan menarik tubuhnya. "Karena sudah kepalang ketahuan, bagaimana jika lebih baik kita meneruskannya ke ronde dua?" bisik Rayn.


"Hyaa.... Rayn !!!"


Teriak Lusia membawa rasa sakit pada kaki Rayn yang juga menerima injakan spontan Lusia. "Berhenti mengambil kesempatan" sahut Lusia melangkah pergi menghindari suaminya yang saat ini menyebalkan.


Rayn menahan lengan Lusia lalu mengendong tubuh Lusia dan menjatuhkannya di atas ranjang. Dengan kedua tangan yang terkunci, Lusia tidak bisa melepaskan diri dari kukuhan suaminya. "Aku tidak sedang mengambil kesempatan, tapi sedang meminta hak ku" ucap Rayn lalu kembali menyambar tubuh istrinya.


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2