
Usai mengantar Reisa kembali ke rumah kost, Lusia kembali pulang ke Villa. Sampai di depan Villa dilihatnya Arka keluar dari Villa terburu-buru menuju mobil Rayn.
Arka yang hendak masuk mobil mengurungkan niatnya saat melihat kedatangan mobil Lusia. “Arka, ada apa?” tanya Lusia usai turun dari mobil.
“Nona Lusia, anda sudah kembali” sapa Arka. “Saya hendak pergi mencari anda ke Cafe, permintaan dari Tuan Muda Rayn” lanjutnya.
“Mencariku?” tanya Lusia.
“Sudah larut malam tetapi anda belum kembali, Tuan Muda Rayn mengkhawatirkan anda. Bahkan ponsel anda tidak bisa dihubungi” jawab Arka lalu menatap ke balkon lantai atas, di sana Rayn sedang berdiri menatap keduanya.
Lusia langsung memeriksa ponselnya, panggilan tak terjawab lebih dari 10 kali dari Rayn dan Arka 30 menit lalu. “Oh, aku masih memakai mode getar di ponselku. Maafkan aku, mari masuk” ajak Lusia.
Lusia menghentikan langkahnya sesaat lalu menatap Rayn. “Jika dia mengkhawatirkanku kenapa tidak pergi sendiri saja” ucap Lusia lalu melanjutkan langkahknya kembali masuk Villa diikuti Arka yang berjalan di belakangnya.
“Anda tahu jika Tuan Muda Rayn tidak mungkin bisa melakukannya” jawab Arka yang mendengar gumaman Lusia. Maksud dari Arka adalah phobia Rayn yang tidak memungkinkannya untuk pergi sendiri.
“Aku hanya menyindir dia yang terlalu berlebihan. Ini bukan seperti aku sudah tidak pulang semalaman sampai harus memerintahkanmu pergi mencariku” jawab Lusia. Arka hanya tersenyum tipis mendengar ocehan Lusia.
Lusia langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa memeriksa kondisi Rayn. “Anda tidak menemui Tuan Muda Rayn dahulu Nona Lusia?” tanya Arka. Arka tahu kebiasaan Lusia selalu langsung naik ke Lantai 2 untuk melihat kondisi Rayn setiap kali pulang.
“Tentu saja, tapi usai aku mandi. Toh bukannya tadi sudah sama-sama melihat jika dia baik-baik saja. Bahkan, dia masih bisa berdiri menatap tajam kita berdua” jawab Lusia lalu masuk kamar.
.
.
Usai mandi, Lusia Langsung naik ke Lantai 2. Rayn sedang duduk di Sofa membaca buku dongeng, sementara Arka berdiri berjaga di dekat pintu kaca balkon.
“Kau masih belum tidur?” tanya Lusia perlahan. Matanya sambil melirik ruang melukis Rayn yang masih terbuka.
Belum sampai Rayn menjawab, Lusia sudah perlahan melangkahkan kaki mencuri kesempatan untuk memasuki ruangan itu.
“Hentikan langkahmu!” perintah Rayn tanpa menatap Lusia. Ia sibuk membalik bukunya dengan tenang.
“Aku hanya akan membantumu menutupnya, kau sepertinya lupa” sahut Lusia.
__ADS_1
“Arka, kau pergi tutup pintunya” perintah Rayn dengan nada santai.
Lusia mengerutkan keningnya, ia kesal melihat Rayn yang begitu pelit dan melarangnya. Ia sangat penasaran dengan apa yang dikerjakan Rayn selama ini di ruang melukis itu. Lebih tepatnya ia penasaran dengan karya-karya lukisan Rayn.
Arka langsung pergi untuk menutup pintu ruangan itu sesuai perintah Rayn. Ia melewati Lusia begitu saja yang masih belum mau pindah dari tempatnya berdiri sekarang.
“Kenapa kau pelit sekali, untuk apa kau melukis jika tidak boleh dilihat” dumel Lusia sambil kembali duduk di sofa bersebelahan dengan Rayn. Rayn menutup bukunya lalu menatap Lusia.
“Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku juga tidak boleh duduk disini ?” tanya Lusia terdengar ketus.
Rayn berdiri berjalan menuju rak buku. “Kenapa kau cerewet sekali sementara aku tidak mengatakan apapun” jawabnya sambil meletakkan buku yang usai ia baca lalu memilah buku lain yang ingin ia baca.
“Apa karyamu terlalu buruk? Sehingga kau malu menunjukkan kepadaku. Atau… Aaa… Aku tahu” ucapnya ikut berdiri berjalan mendekati Rayn. “Jangan-jangan kau melukis gambar dewasa yah?” tanyanya penuh curiga kepada Rayn.
Rayn sontak memukul kepala Lusia pelan dengan buku yang baru saja ia ambil. “Kenapa pikiranmu selalu liar” ucapnya.
"Kau…. “ ucap Lusia meraih buku secara acak untuk membalas Rayn.
Rayn menahan tangan Lusia yang siap meluncurkan pukulannya. Ia melangkahkan kaki semakin dekat dengan Lusia. Perlahan Rayn mendekatkan wajahnya hingga tepat hanya menyisahkan beberapa cm dengan wajah manis Lusia.
Lusia sontak tak berkutik, ia ingin menghindar tapi jantungnya yang tiba-tiba berdeguk kencang membuatnya tak berdaya. Wajahnya mulai merah merona. Melihat reaksi Lusia, Rayn menggeser wajahnya lalu berbisik di telinga Lusia lirih. “Kenapa? Kau ingin menawarkan diri menjadi modelku?” tanyanya lirih lalu tersenyum puas atas kejahilannya menggoda Lusia.
“Aw……” teriak Rayn mengeram kesakitan akan ulah Lusia.
Arka tersenyum tipis melihat aksi keduanya. “Apa saya perlu turun kebawah?” tanyanya kepada Rayn dan Lusia yang seperti menganggapnya tak kasat mata.
“Tetap di sana !” teriak Rayn dan Lusia bersamaan sehingga mengejutkan Arka. Keduanya yang sedang dalam mood buruk, namun lagi-lagi Arka yang harus kena imbasnya.
“Baik” jawab Arka singkat.
“Tetaplah di sana, karena aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria mesum ini” perintah Lusia kepada Arka.
“Hah, siapa yang berpikiran liar siapa yang dianggap mesum” sahut Rayn.
“Jika tidak ada yang kau sembunyikan di sana, lalu biarkan aku masuk untuk melihatnya, ya, ya, yah?" Pinta Lusia memohon dengan senyum yang dipaksakan.
__ADS_1
Seolah tak tergoda, Ryan justru mengalihkannya dengan menanyakan hal lain. “Kenapa kau terlambat pulang dan tidak menjawab panggilanku?" tanya Rayn serius.
Lusia menggaruk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal karena bingung memikirkan jawabannya. Seharusnya bukan hal yang sulit untuk menjawabnya, namun entah mengapa ia merasa ragu.
“Jika kau menjawabku mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memberimu izin masuk” ujar Rayn. Ia kembali duduk di sofa, mulai membaca buku yang baru saja ia pakai untuk memukul Lusia.
“Kau yakin hanya dengan menjawabnya? OK!” ucap Lusia ikut kembali duduk di sebelah Rayn dengan senyum sumringah. Diam-diam Rayn pun ikut tersenyum tipis melihat sikap kekanakan Lusia yang justru menggemaskan baginya.
Lusia menjelaskan alasan kenapa dirinya pulang larut malam dan mengapa tidak menjawab panggilan Rayn. Ia menceritakan semuanya termasuk pertemuannya dengan David dan Reisa.
“Lain kali kau harus memberitahuku jika akan pulang terlambat, terlalu bahaya pulang seorang diri larut malam. Jadi, aku bisa mengirim Arka untuk menemanimu.” Perintah Rayn kepada Lusia.
Lusia hanya menjawab dengan mengangguk cepat berulang kali. “Lalu apa sekarang aku bisa melihatnya?” tanya Lusia dengan senyum penuh harapan. Ia seolah tidak mengindahkan perintah Rayn baru saja.
Rayn menghela nafas pendek. “Pergilah istirahat, hari ini pasti sangat melelahkan untukmu” ucapnya menutup buku.
“Jangan khawatir, aku akan langsung pergi istirahat setelah aku melihatnya” jawab Lusia.
“Apa yang ingin kau lihat?” tanya Rayn. Lusia langsung menunjuk pintu ruang melukis Rayn.
Ryan tersenyum. “Aku bilang jika aku akan mempertimbangkannya, bukan berarti memberimu izin masuk hari ini. Mem.. per… tim.. bang… kan… nya. Aku rasa aku sudah mengucapkannya dengan jelas” ucap Rayn berdiri menaruh buku di rak. “Sudah larut, aku ingin pergi istirahat. Good Night” lanjutnya berjalan ke kamar meninggalkan Lusia dengan senyum tanpa dosa.
“Apa baru saja dia mengelabuiku?” tanya Lusia dengan nada kesal kepada Arka usai Rayn memasuki kamarnya. Ia merasa sudah tertipu oleh Rayn.
Lagi-lagi Arka dilibatkan dan menjadi sasaran kemurkaan keduanya. “Saya rasa yang dikatakan Tuan Muda Rayn tidak salah, tapi anda yang tampak bersemangat” jawab Arka yang terlalu jujur tanpa melihat situasinya.
Mendengar jawaban Arka yang terdengar membela Rayn, Lusia perlahan mendekati Arka dan bertanya. " Sudah berapa lama kau bekerja dengannya?" tanyanya.
Arka menggerakkan kepalanya perlahan seakan merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Lusia. "Kenapa anda tiba-tiba menanyakannya?" tanya Arka pernuh kehatia-hatian takut jika salah ia bicara.
"Aku hanya khawatir jika lama-lama gaya bicaramu akan ikut sepertinya. Sangat mengirissss hati" jawab Lusia mengingat Arka kelewat jujur.
“Baiklah, aku akan pergi istirahat mengumpulkan tenagaku hingga penuh, untuk mendobrak pintu ruangan itu esok hari” Ancam Lusia melampiaskan kekesalannya lalu pergi menuruni tangga. Ia mengatakannya dengan lantang agar Rayn mendengarnya. Ia kesal jika Rayn sudah mengelabuinya. Sementara Ryan hanya tersenyum mendengarnya.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued***