
Rayn dan Lusia akhirnya kembali pergi mengunjungi ayah Lusia. Sesampainya disana, tepatnya didepan kamar pasien 503, Lusia berdiri dengan ragu. Ia terlihat seperti sedang mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin ayahnya akan kembali mengabaikannya atau terburuknya apa yang terjadi kemarin akan terulang lagi.
Rayn mendekat, ia meraih bahu Lusia dan merangkulnya. "Ada aku disini" ucap Rayn lalu tersenyum.
Lusia menoleh dan menatap wajah suaminya, kehadiran Rayn bersamanya tentu saja telah memberi kekuatan sendiri untuk Lusia. Lusia menarik nafas dalam lalu menghelanya, perlahan ia membuka pintu.
Pintuk terbuka, didalam kamar terlihat Ibu Lusia yang sedang menyisir rambut sang ayah. Sebuah senyum hangat ibu Lusia terurai menyambut kedatangan putri dan menantunya. "Kemarilah..." panggilnya.
Lusia melangkahkan langkah pertamanya seraya tersenyum. Tepat disamping sang ayah yang duduk dengan tenang dikursi roda, Lusia menyapa dengan memanggilnya. "Ayah, aku... putrimu datang" ucapnya berdiri sembari memegang wadah berisi makanan yang ia bawa.
Namun sayangnya, Lusia harus menahan sesak yang seperti mengiris hatinya. Ayah Lusia tidak memberi respon apapun, ia hanya diam dengan tatapan kosong tanpa memandang wajah putrinya. Meskipun begitu Lusia tetap tersenyum dan meraih tangan ayahnya. Ibu Lusia mencoba berbicara dengan suaminya, dia mengatakan jika putrinya datang membawakan bekal pagi untuknya. Namun semuanya masih sama, suaminya tidak memberi respon apapun.
Ibu Lusia meraih bahu Lusia dan mengelusnya perlahan. Dia meminta Lusia untuk bisa lebih bersabar dan memahami kondisi ayahnya. Tidak ingin membuat ibunya cemas, Lusia melempar senyum dan berkata jika dirinya baik-baik saja, bukan salah ayahnya memperlakukan dirinya seperti itu.
Lusia segera berpaling mengakhiri suasana sedih itu, ia meminta ibunya untuk membawa ayahnya ke taman. Lusia datang membawakan makanan untuk mereka bisa sarapan pagi bersama. Rayn sudah menyiapkan meja dan kursi untuk mereka menikmati kebersamaan dibawah cerahnya sinar mentari pagi yang begitu hangat serta sejuknya angin pagi yang menyegarkan.
Semua makanan yang ia bawa kini telah tersaji diatas meja. Lusia membuat suasana seolah mereka sedang piknik. Rayn membantu Lusia menyiapkan semuanya hingga tersaji dengan sempurna. Ibu Lusia datang sembari mondorong kursi roda ayahnya.
Rayn melambaikan tangan kepada kedua mertuanya yang berjalan ke arahnya. Ia lalu mendekati Lusia sembari mengusap keringat yang mengalir pada kening istri tercintanya. "Aku akan menunggu, menikmati udara segar disana" ucap Rayn usai menyelesaikan semua tugasnya.
Rayn yang masih menderita Haphepobia tentu saja tidak bisa bergabung dengan mereka. Ia memilih untuk duduk di bangku yang ada dibawah pohon tidak jauh dari meja mereka. "Kenapa kau duduk disana, kau harus bergabung. Aku akan mengambilkan kursi lagi untukmu dan kau bisa duduk disebelahku" pinta Lusia.
Rayn menahan tangan Lusia yang hendak pergi mengambil kursi. Rayn meminta Lusia untuk tidak mencemaskan dirinya. "Aku baik-baik saja, fokuslah dengan ayah dan ibumu. Ini adalah momen yang tidak bisa kau dapatkan setiap hari, jadi aku tidak ingin membua fokusmu terbagi dengan menjagaku. Aku akan menunggumu" jelas Rayn.
Lusia meraih tangan Rayn, ia sudah sangat memahami Rayn. Jika Rayn sudah memutuskan maka Lusia tidak bisa lagi memaksa. Lusia hanya bisa mengucapkan kata maaf. "Maafkan aku Rayn"
"Jangan meminta maaf, karena aku juga tidak ingin merugi. Sebagai gantinya aku akan tetap menagih waktu ku sendiri bersamamu nanti" sahut Rayn dengan tersenyum lalu meminta Lusia kembali ke ayah dan ibunya.
Berkat dukungan Rayn, Lusia bisa mewujudkan impiannya untuk bisa piknik bersama ayah dan ibunya yang sudah ia lewatkan sejak belasan tahun silam. Meskipun ayahnya masih tidak mengenalinya, namun Lusia merasa sangat bahagia. Baginya, apa yang ia dapat sekarang sudah cukup.
__ADS_1
Sembari menunggu, Rayn tampak menikmati pemandangan taman sekitar yang dipenuhi beberapa bunga nan cantik yang sedang bermekaran. Pandangan Rayn terhenti pada seorang lansia yang sedang duduk seorang diri sembari menatap bunga yang ada didekatnya.
Rayn bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri wanita lansia itu. Lusia menoleh dan melihat Rayn yang meninggalkan tempat duduknya tapi ia hanya bisa mengabaikannya karena saat ini ayahnya mau menerima suapan darinya.
Rayn mendekat dan menyapa wanita lansia itu. "Apa anda sangat menyukai bunga itu?" tanya Ryan lalu duduk dibangku lain yang berhadapan dengan bangku nenek itu.
Nenek Wuri, ya namanya adalah Wuri. Nama itu tertulis jelas pada baju yang dikenakannya. Nenek Wuri tampak sangat ingin memetik tangkai bunga yang dilihatnya, namun tangannya tertahan dan ragu.
Rayn bangkit dari duduknya lalu ia memetiknya tanpa dosa. Rayn lalu meletakkan bunga itu disamping Nenek Wuri duduk. "Ini untuk anda" ucapnya.
Tapa kata Nenek Wuri hanya menatap apa yang sudah dilakukan Rayn. "Jika perawat disini bertanya atau mungkin memarahi anda, katakan saja jika anda hanya memungutnya. Katakan kepada mereka jika saya yang memetiknya lalu meninggalkannya disini" ucapnya lalu kembali ke tempat duduknya.
Nenek Wuri masih diam, dia tidak menjawab dan hanya menatap Rayn yang memberikan bunga itu tetapi memilih duduk jauh dibangku terpisah darinya. Melalui matanya, Rayn memberi isyarat kepada Nenek Wuri untuk mengambilnya. Rayn tahu jika saat ini nenek itu pasti sedang memandangnya dengan pikiran aneh.
Rayn tersenyum lalu mengakat tangannya lalu menatap jemari-jemarinya. "Maafkan saya, bukan maksud saya berbuat tidak sopan, tetapi saya menderita sakit dimana saya tidak bisa mendapat sentuhan dari orang lain" jelas Rayn lalu kembali menatap wanita lansia yang duduk didepannya saat ini.
"Apa anak muda ini juga pasien disini?" Akhirnya Nenek Wuri berbicara kepada Rayn.
Nenek Wuri tersenyum lalu meraih bunga pemberian Rayn, ia menghirup aroma bunga itu sembari mengurai senyum yang menggambarkan jika dirinya sangat bahagia. Rayn pun ikut tersenyum melihat senyum diwajah Nenek Wuri. Ia juga bisa merasakan kebahagian itu.
"Kenapa anda duduk seorang diri disini, ketika saya melihat yang lainnya saling bersama ?" tanya Rayn.
Nenek Wuri melihat ke sekeliling, memandang para pasien lain yang sedang bercengkrama dengan sesama pasien ataupun keluarga mereka yang sedang berkunjung. "Meskipun nenek pergi bergabung dengan mereka hari ini, berbagi pengalaman hidup ataupun hanya sekedar bercanda gurau, itu hanya akan menjadi momen angin lalu yang tidak bisa dikenang. Nenek akan kembali merasa sendiri esok hari atau mungkin bahkan sebelum hari berganti."
Rayn tampak tidak mengerti dengan ucapan nenek itu. Namun sebelum Rayn menanyakannya, Nenek Wuri melanjutkan ucapannya dan membarikan jawaban yang menyentuh hati Rayn.
"Nenek menderita Alzheimer. Di usia nenek yang semakin tua, maka akan semakin cepat nenek melupakan semua yang baru saja terjadi" lanjut ucap Nenek Wuri.
Nenek Wuri menderita penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku. Nenek Wuri tidak ingin menambah beban bagi pasien lain yang dekat dengannya. Meskipun mereka bersama dan menghabiskan waktu hari ini, saat esok pagi Nenek Wuri akan kembali merasa sendiri karena dirinya tidak akan lagi mengingat apa yang sudah ia lalui.
__ADS_1
"Apa karena itu anda ragu memetik bunga itu?" tanya Rayn.
Nenek Wuri kemabali menatap Rayn. Ia tidak menyangka anak muda yang duduk didepannya saat ini bisa begitu cepat memahami perasaannya. Rayn benar, alasan Nenek Wuri ragu memetik bunga yang diinginkannya karena pada akhirnya ia akan lupa akan kepuasan hatinya saat memetik bunga itu. Esok hari dia tidak akan mengingatnya, bahkan akan merasa terluka karena kehilangan bunga itu entah kemana.
"Terlepas dari alasan itu, terima kasih kau sudah memetiknya untuk nenek. Tapi, saat nak Rayn sadar jika nenek ragu memetiknya, kenapa nak Rayn memetiknya?" tanya Nenek Wuri.
Rayn menoleh, memandang ke arah Lusia yang sedang bersama dengan ibu dan ayah mertuanya. "Nenek, anda lihat wanita cantik yang ada disana, dia adalah istriku. Seperti caraku mendapatkan dan mencintainya, tidak akan aku biarkan keraguan mengusik hatiku. Dinding keraguan itu, sudah pasti akan kuhancurkan" ucap Rayn seraya menatap ke arah Lusia.
"Seperti itu juga yang akan aku lalukan untuk mengejar dan mendapatkan kebahagian yang aku inginkan. Jikapun kebahagian yang aku kejar pada akhirnya hanya akan menjadi kebahagiaan yang sesaat, aku akan tetap melakukannya tanpa ragu karena aku tidak ingin menyesalinya. Aku tidak peduli, meskipun itu hanyalah sebuah kebahagian yang singkat."
"Sama seperti perasaanku saat memetik bunga itu, saya harap anda juga akan merasakan dan melakukan hal yang sama. Meskipun anda akan melupakan semuanya, meskipun itu hanya kepuasan dan kebahagian sesaat yang akan anda lupakan, jangan pernah menahannya. Jangan melewatkannya, biarkan anda merasakan kebagian yang tidak akan anda sesali."
Nenek Wuri kembali mencium aroma bunga ditangannya dan meraba setiap helai mahkota bunga dengan lembut. Ia menikmati kecantikan bunga Gardenia lalu meletakkan kembali bunga itu di bangku tepat dimana Rayn meletakkannya tadi. Nenek Wuri meminta Rayn mengambilnya karena bunga itu kini ia berikan kepada Rayn.
Rayn bertanya kenapa Nenek Wuri memberikan bunga itu kepadanya. Nenek Wuri memberikan jawaban dari apa yang sudah ia pelajari dari Rayn baru saja. "Bukankah Nak Rayn bilang jangan menahannya? Sekarang nenek sudah mendapatkan kebahagian nenek karena mendapatkan bunga ini. Meskipun nenek tidak akan mengingatnya tapi nenak tidak ingin menyesal karena nenek tidak menelantarkan bunga ini. Jadi ambilah Nak Rayn" pinta Nenek Wuri kepada Rayn.
Rayn bangkit dari duduknya, tiba-tiba seorang perawat datang dan meminta Nenek Wuri untuk kembali ke kamarnya. Nenek Wuri mengikuti perawat yang menuntunya. Sebelum meinggalkan Rayn, Nenek Wuri mengucapkan terima kasih kepada Rayn. Dia berkata, meskipun dirinya mungkin akan melupakan yang terjadi saat ini dan melupakan sosok Rayn, tapi ia merasa bahagia sekarang. "Nenek akan terus bahagia dan tidak akan lagi melewatkannya meskipun kebahagian itu akan nenek lupakan. Nenek tidak akan lagi menahannya." ucap Nenek Wuri lalu pamit pergi meninggalkan Rayn.
Rayn meraih bungan yang ditinggalkan Nenek Wuri. Bersamaan dengan itu, Rayn mendengar Lusia memanggil namanya dan berjalan ke arahnya sembari melambaikan tangan. "Rayn..." panggilnya.
Rayn menatap Lusia yang berjalan ke arahnya dengan wajah bahagia. Dengan senyum yang begitu indah Lusia kembali melambaikan tangannya. Rayn menatap bungan ditangannya lalu kembali memandang ke arah Lusia seraya mengurai senyum.
Rayn merentangkan keduang tangannya dimana satu tangannya masih menggenggam bunga gardenia. Ia menyambut Lusia dengan sebuah pelukan.
"Aku juga tidak akan pernah melewatkan kebahagian sekecil apapun bersamamu. Aku tidak akan menahannya. Aku akan menghancurkan semua dinding keraguan yang membatasiku untuk menyentuh hatimu. Tidak ada satupun momen yang ingin kusesali, karena itu aku tidak akan menahannya" ucap Rayn dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***