
Hujan telah mengguyur kota, Rayn memutuskan untuk langsung kembali ke kediamannya, ia membawa Lusia singgah di salah satu apartemen pribadinya yang tidak jauh dari Yayasan. Kemanapun mereka pergi Lusia selalu melaporkan nya kepada Mickey.
Saat sampai di apartemen Lusia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ponsel Lusia terus berdering, panggilan video masuk dari Reisa. Rayn meraih ponsel Lusia lalu menjawab panggilan itu. Reisa sangat terkejut melihat Rayn yang berada dalam panggilan.
"Lusia sedang mandi, jika kau memiliki sesuatu untuk dikatakan kepadanya kau bisa mengatakannya kepadaku atau aku akan memintanya menghubungimu" ucap Rayn.
Reisa menitip pesan untuk disampaikan kepada Lusia jika dirinya dan David saat ini sedang berada di Meksiko. Dalam dua hari kedepan, mereka akan mengunjungi Lusia di Kanada setelah urusan bisnis David selesai. Reisa ingin memberi kejutan namun ia justru lebih tidak sabar untuk memberitahu Lusia.
"Lusia pasti akan sangat senang, aku akan menyambut dan menjamu kali dengan baik" ucap Rayn.
Reisa mengakhiri panggilan, selang beberapa menit Lusia sudah keluar dari kamar mandi. Rayn menatap lekat Lusia yang berdiri mengenakan juba handuk yang mengekspos sedikit bagian dadanya serta rambut basah yang terurai.
Lusia lekas merapatkan jubah handuknya. "Jangan berpikir macam-macam, aku sangat lelah" ucapnya.
Rayn pun tertawa kecil mendengarnya. "Kemarilah" ucap Rayn meminta Lusia datang ke sofa tempatnya dia duduk sekarang.
Lusia pun menghampiri Rayn dan duduk. Rayn meraih handuk kecil dan hair dryer dari tangan Lusia lalu meminta Lusia untuk baring dan menyandarkan kepalanya pada pangkuan Rayn.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Lusia.
Rayn meraih rambut Lusia dan mengurainya. "Bukankah kau bilang sangat lelah, aku akan membantumu mengeringkan rambutmu" sahut Rayn.
"Aku bisa melakukannya sendiri itu akan lebih cepat dan tidak merepotkanmu" ucap Lusia.
Tanpa banyak kata lagi, Rayn mulai mengeringkan air yang masih menetes dengan handuk. Secara hati-hati Rayn mengusap lembut rambut Lusia dan menahan dengan handuk untuk menyerap air yang menetes.
"Rayn, ini akan membuatmu basah" ucap Lusia.
Rayn mengurai senyum. "Jika kau mau aku bisa melakukannya setiap hari untukmu. Tidak hanya mengeringkan rambut, tapi semua kegiatan romantis yang kau ingin, aku akan melakukannya untukmu" ucap Rayn.
Lusia terdiam, ia menatap lekat wajah Rayn yang berada tepat di atas wajahnya. Dengan tatapan mata yang berbinar Lusia mendekap kedua pipi Rayn, menariknya turun dan mengecupnya singkat.
Rayn pun terdiam, membulatkan kedua matanya dengan tangan yang masih menggenggam handuk. "Apa ada sesuatu didalam sana yang membuatmu semakin agresif akhir-akhir ini?" tanya Rayn seraya menatap perut Lusia.
Lusia melepas dekapan tangannya. "Aku hanya sedang sangat bahagia, dan berharap kita bisa melalui hari-hari dengan perasaan seperti saat ini setiap hari. Hari dimana aku bisa selalu bersamamu, tanpa rasa cemas dan gelisah akan sesuatu. Rayn, kau tau jika aku sangat sangat mencintaimu. Terima kasih sudah menerima diriku dalam hidupmu" ucap Lusia dengan tulus.
"Aku semakin mengantuk, aku akan istirahat sebentar" lanjut ucap Lusia lalu memejamkan matanya.
Lusia pun tertidur dalam pangkuan Rayn. "Kau curang, bagaimana kau bisa mengatakan cinta itu sendirian. Aku juga mencintaimu sayang" ucap Rayn lalu mengecup kening Lusia yang sudah tertidur.
.
__ADS_1
.
Hari sudah semakin sore, hujan pun sudah berhenti. Cuaca teduh di luar dengan semilir angin dingin memberikan kedamaian hati yang menenangkan. Lusia terbangun dari tidurnya, ia mendapati dirinya yang sudah berada di ranjang tidur. Rayn telah menggendong dan memindahkan Lusia untuk bisa tidur dengan nyenyak ditempat yang nyaman.
Lusia turun dari ranjang dengan memanggil nama suaminya. Lusia berjalan ke beberapa ruangan namun tidak mendapati sosok Rayn. Lusia pun panik bergegas mengambil ponsel nya di atas nakas dan menghubungi Rayn.
Rayn menjawab panggilannya membuat Lusia merasa lega. "Kau sudah bangun, aku sedang di luar. Apa kau mau pergi menikmati keindahan kota bersepeda denganku?" tanya Rayn.
"Kau, pergi seorang diri?" tanya Lusia.
Rayn mengatakan jika dia memang seorang diri, tetapi banyak pengawal dimana-mana yang menjada dan mengawasinya. Rayn tidak peduli dengan mereka karena ia hanya ingin menikmati waktunya. "Aku akan kembali menjemputmu" ucap Rayn menatap ke arah atas apartemen.
"Tidak Rayn, aku hanya perlu mengganti pakaianku. Aku yang akan pergi menemuimu" ucap Lusia lalu mematikan ponselnya.
Rayn menunggu Lusia hingga Lusia keluar dari apartemen. Lusia berjalan mencari titik lokasi yang dikirim Rayn. Lusia melihat Rayn sedang sibuk dengan sebuah sepeda di pinggir jalan.
Lusia berjalan mendekat dan memanggil nama Rayn. Meskipun suara panggilan Lusia berbaur dengan gemuruh kendaraan, tapi Rayn dapat mendengar dengan jelas teriakan Lusia yang memanggil namanya. Rayn melambaikan tangan ke arah Lusia, satu tangannya menahan sepeda agar tetap bisa berdiri.
Lusia mengurai senyum ia segera menghampiri Rayn dengan perasaan bahagia. "Bukannya kau bilang kita akan bersepeda bersama?" tanya Lusia. Lusia heran saat melihat hanya ada satu sepeda dengan satu kursi saja. "Kau tidak bermaksud memintaku duduk didepan kan?" tanya lagi Lusia.
Sepeda telah ditukar, Rayn duduk didepan lalu meminta Lusia duduk di belakang. Rayn meraih kedua tangan Lusia untuk berpegangan padanya. Keduanya bersepeda menikmati keindahan kota yang baru saja diguyur hujan. Jalanan yang masih basah menciptakan aroma pertichor bercampur dengan hawa yang sejuk.
Keduanya tampak sangat menikmati momen itu hingga cuaca mulai kembali hangat karena adanya sinar matahari sore yang kembali menampakkan dirinya dibalik awan. Langit pun kembali cerah, Lusia melihat Rayn yang mulai bercucuran keringat.
"Bagaimana kita istirahat sebentar, lihatlah kau berkeringat. Apa kau mengayuh dengan semua tenagamu? atau karena aku yang terlalu berat?" tanya Lusia seraya mengusap keringat suaminya dengan jari jemarinya.
Rayn dan Lusia pun berhenti dan melanjutkan dengan berjalan kaki di sekitar pertokoan. Lusia melihat sebuah toko pakaian dengan tiga lantai yang mencuri perhatiannya. "Apa ada yang ingin kau beli?" tanya Rayn.
"Mari masuk, entah ada yang ingin aku beli atau tidak akan tahu setelah kita melihat ke dalam" ucap Lusia menggandeng tangan Lusia.
Lusia dan Rayn pun masuk dan meminta pengawal untuk menunggu di luar. Mereka tidak ingin keberadaan para pengawal akan membuat pengunjung tidak nyaman. Lusia ingin menikmati momen selayaknya pasangan penduduk lokal. Bersepeda, menikmati jajanan, berjalan kaki dengan bergandengan tangan, serta masuk ke setiap pertokoan yang ditemui.
Lusia melihat beberapa pernak pernik lalu mencoba beberapa bucket topi dengan Rayn. "Aku ingin mendapatkannya untukmu dan diriku" ucap Lusia mencobanya bersama Rayn. "Meskipun kita sudah menikah, kita masih seperti pasangan muda" lanjut bisik Lusia.
Banyak barang menarik di dalam toko berukuran sebesar itu. Semua seperti serba ada, semua kebutuhan untuk semua usia pun dijual di sana. Lusia lalu melihat coat dan mencobanya, seorang pramuniaga menawarkan scarf yang sangat cocok dipadukan dengan coat yang sedang dicoba Lusia.
"Bagiamana menurutmu Rayn?" tanya Lusia menoleh.
"Rayn...?" panggil Lusia yang tidak melihat Rayn bersamanya.
__ADS_1
Lusia melepas semuanya lalu pergi mencari Rayn yang ia sendiri tidak sadar sudah sejah kapan Rayn tidak bersamanya lagi. Meskipun toko tidak terlalu ramai pengunjung tapi Lusia langsung panik dan khawatir. Lusia menghubungi salah seorang pengawal bertanya apa mereka melihat Rayn keluar dari toko, mereka mengatakan jika mereka terus berjaga namun tidak melihatnya.
Lusia menelusuri setiap barisan display pakaian dan mulai menelusuri setiap lantai. Lusia naik ke lantai dua dan bertanya kepada pramuniaga yang ada apakah mereka melihat pria dengan ciri-ciri yang ia sebutkan.
Lusia melihat sekeliling sembari menghubungi Rayn. Terdengar nada panggilan Rayn berbunyi tak jauh darinya. Lusia bergegas berlari ke arah sumber suara itu. Ia melihat punggung Rayn, bersamaan Rayn menjawab panggilan telepon Lusia.
"Kau membuatku khawatir" ucap Lusia dalam panggilan telepon seraya berjalan ke arah Rayn dengan nafas yang memburu.
Rayn mendengar suara istrinya lalu berbalik memandang ke arah istrinya. Rayn mengurai senyum dan menunjukkan benda yang ada ditangannya pada Lusia. "Bukankah ini sangat menggemaskan" ucapnya masih dalam panggilan.
Lusia sontak menghentikan langkahnya, ia mematikan panggilannya lalu berjalan menghampiri Rayn. Sepasang sepatu pre-walker rajut bayi perempuan berwarna dasar putih dengan aksesoris bunga berwarna pink. Sepatu menggemaskan dengan ukuran yang begitu kecil membuat Rayn merasa begitu terharu.
Rayn merasa dirinya tidak bisa membayangkan apa yang harus ia lakukan nanti jika mereka memiliki seorang bayi. Melihat ukuran kaki dengan jemari yang begitu mungil membuatnya khawatir. "Melihat sepatu yang mungil ini, aku tiba-tiba takut akan melukainya saat memeluk bayi kita nanti" ucap Rayn.
"Bayi kita? Kau ingin bayi perempuan?" tanya Lusia.
Rayn menyipitkan matanya tampak berpikir sejenak. "Bagaimana jika kita memiliki keduanya? Tapi, terlepas dari yang kita inginkan, laki-laki atau perempuan dia adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Aku bersiap menyambutnya dengan suka cita"
Di tengah perbincangan mereka, berapa pengunjung mulai datang. Lusia segera menggandeng tangan Rayn untuk mengajaknya meninggalkan tempat itu. Ia khawatir akan sulit menghadapi situasinya karena toko yang semakin ramai. Rayn segera meletakkan kembali sepatu bayi itu pada tempatnya dan mereka pun pergi ke kasir untuk membayar beberapa barang yang sudah dipilih.
Keduanya kembali menikmati momen kebersamaan dengan berjalan disekitar. "Apa yang ingin kau lakukan jika kita memilki seorang bayi, selain memanggilmu ayah?" tanya Lusia.
Rayn mulai berpikir dan membayangkan bagaimana hidupnya setelah adanya kehadiran seorang anak dalam rumah tangga mereka. "Pertama, tentu aku akan terus mengajarinya untuk memanggilku ayah. Baby girl or Baby Boy, aku memilik andil untuk membesarkannya dengan caraku. Tapi aku tidak akan memaksakan kehendak ku. Aku akan mengajarinya bersepeda dan kita bisa pergi bersepeda bersama seperti sekarang. Aku ingin mengadakan pesta ulang tahunya untuk nya. Aku ingin menjadi ayah yang bijaksana dan bisa dia banggakan" jelas Rayn.
Lusia mendengarkan semua yang dikatakan Rayn, berjalan mengambil langkah lebih dulu lalu menoleh memandang Rayn.
"Rayn, mari kita berusaha"
Kata yang diucapkan Lusia lalu mengurai senyum pada Rayn. Itu artinya ia juga akan berusaha mewujudkan impian itu.
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1