Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 40 - Fakta Yang Tak Terungkap


__ADS_3

Lusia keluar dari kamar Rayn, Ia terkejut jika ternyata ada Arka yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Rayn. “Dia sedang istirahat, kau tidak perlu menjaganya. Kau boleh pergi untuk istirahat” ucap Lusia kepada Arka.


Arka mendengarkan perintah Lusia. Ia meminta maaf kepada Lusia atas kejadian hari ini karena tidak bersama dengan Rayn. Lusia tidak bisa banyak berkata, ia hanya meminta Arka untuk tidak membahas apapun lagi dengan Rayn nantinya tentang apa yang terjadi. Lusia tidak tahu apakah Arka terlibat atau tidak, tapi ia merasa tetap tidak bisa menyalahkannya karena yang ia tahu itu adalah keputusan Rayn untuk pergi sendiri. Lusia mempersilahkan Arka kembali turun.


Lusia menghampiri Mickey yang duduk di sofa ruang baca. Ia meminta Mickey ikut dengannya ke lantai 1. Lusia ingin mendengar penjelasan dari Mickey tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Rayn hari ini.


Mickey sudah bisa menebak jika Lusia pasti akan menanyakannya, ia mengikuti Lusia turun ke lantai 1. Mickey meminta Arka pergi sejenak untuk menikmati udara diluar. Karena ia tidak ingin mendengar apa yang akan ia bicarakan dengan Lusia. Arka paham jika itu adalah kode yang memintanya untuk pergi meninggalkan Villa dulu.


“Apa yang sebenarnya terjadi hari ini?” tanya Lusia kepada Mickey tanpa basi-basi setelah Arka keluar Villa.


“Duduklah” Mickey mempersilahkan Lusia untuk duduk.


Mickey sangat yakin jika Rayn pasti tidak memberitahu Lusia. Namun, ia merasa jika Lusia harus tahu karena Lusia adalah satu-satunya orang yang diharapkannya mampu membuka kunci masa lalu Rayn. Mickey perlahan mulai menceritakannya kepada Lusia setelah Lusia duduk di sofa tamu berhadapan dengannya.


“Ia baru saja menemui ayahnya. Ayahnya datang dari Canada untuk urusan bisnis. Seperti yang kau tahu jika hubungan Rayn dan ayahnya tidak baik semenjak kematian ibunya. Rayn merasa jika ayahnya menghentikan pengobatan dan mengasingkannya karena tidak bisa menerima kematian ibunya yang kemungkinan besar karena dirinya” ucap Mickey.


“Apa maksudmu… Rayn adalah penyebab kematian ibunya?” tanya Lusia. Ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja Mickey katakan. “Bukankah dulu kau mengatakan kepadaku jika Rayn yang menolak pengobatan, bukan ayahnya yang menghentikan pengobatannya?” lanjut tanya Lusia dengan tatapan semakin serius kepada Mickey. Ia merasa Mickey menyembunyikan banyak hal darinya.


Mickey membenarkan jika keduanya yang menolak pengobatan untuk phobia Rayn. “Ayahnya memang menghentikan pengobatan Rayn. Tapi, Rayn sendiri pun juga menolak pengobatan itu” jawab Mickey.


"Soal kematian ibunya. Kita semua tidak ada yang tahu kecuali Ryan. Hanya dia satu-satunya saksi bisu yang mengetahui penyebab tragedi itu” ujar Mickey.


“Kenapa harus dia? Jika dia seorang saksi bisu, kenapa kalian menyebutnya sebagai penyebab kematian ibunya?” tanya Lusia.


“Aku mengerti kenapa kau bertanya seperti itu. Sebelum aku menjawabnya, berjanjilah padaku untuk membantuku dan tidak akan meninggalkannya atau pun melukainya suatu saat nanti” tegas Mickey. “Setelah kau mengetahui masalah besar keluarga Anderson, aku harap kau tidak mengingkari janjimu dengan sebuah penghianatan. Karena jika itu terjadi, aku pun tidak bisa menjamin keselamatan nyawamu dari tangan keluarga Anderson” lanjut Mickey secara tidak langsung mengancam Lusia.


“Jangan khawatir, itu adalah janji yang kukatakan kepadanya dan aku bukanlah orang yang mengingkari janji” jawabnya dengan penuh keyakinan.


“Baiklah, aku percaya padamu. Mungkin ini masih hanya sebagian yang bisa kukatakan kepadamu. Perlu kau tahu, Rayn bukan hanya seorang saksi. Tapi, ia juga korban dalam kecelakaan itu. Ia selamat dari tragedi yang merenggut nyawa ibunya malam itu. Rayn ditemukan tidak sadarkan diri dan koma selama 2 minggu. Tapi… “ Mickey menghentikan perkataannya karena ia merasa ini suatu yang sulit untuk dikatakan.


“Tapi apa?” tanya Lusia.


Mickey terdiam sejenak lalu menghela nafas dan melanjutkannya kembali. “Tapi, saat ia sadar dari komanya ia tidak mengingat apapun yang sudah terjadi. Rayn hanya ingat jika malam itu ia pergi dengan ibunya menikmati perayaan sebuah festival. Dan potongan ingatan lain yang ia ingat, pada saat kecelakaan terjadi ia menangis meminta pertolongan untuk ibunya kepada orang-orang yang ada disekitar” ucap Mickey.

__ADS_1


“Lalu… ?“ tanya Lusia.


“Yang ia katakan Itu berbeda dengan apa yang terjadi di TKP. Mereka menemukan Ryan sudah tak sadarkan diri di dalam mobil, lalu mereka menolongnya” jawab Mickey.


“Jadi, menurut kalian ia berbohong?” tanya Lusia. “ Itu tidak mungkin” lanjutnya.


Mickey menjelaskan jika Rayn tidak berbohong. Tapi mereka juga tidak bisa menarik kesimpulan jika itu benar. Ingatan yang dimiliki Rayn bertolak belakang dengan fakta dalam kejadian. Dokter mengatakan jika sepenggal ingatan yang ia miliki itu hanya potongan ingatan yang Rayn ciptakan sendiri dari alam bawah sadarnya saat itu. Pasti ada suatu fakta pahit yang sulit ia terima, sehingga mendorong dirinya untuk melupakan dan menciptakan ingatan baru yang tidak benar.


Saat Rayn bangun dari koma, ia bukan hanya tidak dapat mengingat jelas kejadian itu, tapi ia juga mengalami perubahan pada dirinya. Rayn tidak bisa menerima sentuhan dari siapa pun. Dokter mendiagnosa Rayn menderita Haphephobia akibat trauma berat yang ia alami pada kecelakaan itu.


Rayn dapat menyembuhkan phobianya dengan hipnoterapi untuk menemukan pemicu dari trauma terberatnya. Ia harus menggali ingatannya kembali tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam kecelakaan pada malam festival itu.


“Pemicunya?” tanya Lusia.


“Kebenaran atau fakta yang ia paksa lupakan bisa saja menjadi pemicu Phobianya” jawab Mickey.


Lusia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Meskipun begitu, tidak ada yang membuktikan jika Ryan adalah penyebab kecelakaan dan kematian ibunya. Bisa saja itu hanya kecelakaan bukan karena adanya sesuatu. Soal ingatan mengapa ia tidak ingat, bukankah saat itu ia masih sangat kecil. Wajar saja jika berat baginya untuk mengungkap fakta. Apa yang salah dengan itu. Bagaimana ayahnya hanya memikirkan kebenarannya daripada kondisi putranya sendiri. Bukankah itu terlalu kejam dengan menyalahkannya hanya karena memiliki ingatan yang bukan kebenarannya” sahut Lusia.


Malam itu Rayn memaksa ingin pergi ke acara festival ditemani oleh ibunya. Ayahnya, Tuan Charles yang saat itu sedang berada di luar negeri tidak mengizinkannya. Namun, karena desakan dan rengekan Rayn, akhirnya ibu Rayn memutuskan pergi secara diam-diam untuk menikmati malam festival bersama Rayn. Tidak ada yang menyangka jika malam itu menjadi malam yang tragis untuk keluarga Anderson.


flashback


Saat itu, Mickey yang usianya hanya terpaut satu tahun lebih tua dari Ryan sedang menangis, ia duduk di tempat tidur dengan jarum infus yang masih tertancap di tangannya. Ia ditemani seorang bibi pengasuh keluarga Anderson. “Tuan Muda Mickey… ini semua bukan salah anda” ucap bibi pengasuh dengan mengusap air mata Mickey.


“Kecelakaan itu terjadi bukan salah anda. Meskipun Tuan Muda Rayn mengingatnya nanti, ini tetap bukan salah anda Tuan Mickey” ucapnya terus menerus dengan memeluk Mickey yang terus saja menangis dengan tubuh yang gemetar.


Ingatan lain yang ia ingat adalah saat Rayn menghampirinya beberapa waktu sebelum pergi menikmati malam festival dengan ibunya. “Jangan khawatir, aku yang akan menggantikanmu untuk pergi melihat festival itu” ucap Rayn dengan tersenyum lalu memeluknya.


back


Mickey memejamkan matanya sejenak dengan menarik nafas panjang lalu kembali memandang Lusia. Ia tidak menjawab pertanyaan Lusia lagi. “Hanya itu yang bisa aku katakan saat ini. Aku menaruh harapan besar kepadamu untuk kesembuhannya. Selain ayahnya yang memutuskan menghentikan pengobatan, Rayn juga menolaknya karena ia merasa ini adalah hukuman yang layak untuknya. Dan ia memilih akan menerima kebencian ayahnya seumur hidup demi ibunya. Jadi lakukan apapun untuk mendorongnya kembali melakukan tindakan medis hipnoterapi. Selain kesembuhannya, itu juga akan mengungkapkan fakta yang aku yakin dalam hati Rayn juga ingin mengetahuinya” ujar Mickey.


“Aku juga ingin tahu, apa yang akan ia pikirkan dan lakukan kepadaku jika mengingatnya” lanjut ucap Mickey dalam hati dengan meremas ponsel ditangannya dengan kuat.

__ADS_1


Mickey bangkit dari duduknya. “Pergilah istirahat, aku akan menghubunginya untuk kembali” ucap Mickey meninggalkan Lusia.


Lusia kembali naik ke kamar Lusia, ia membukanya pintu kamar dan melihat Rayn yang sudah tertidur lelap. Ia hanya memandang Rayn dari pintu yang hanya dibukanya setengah.


“*Selama ini, pasti sangat berat untukmu. Aku tidak bisa membayangkan kau memilih menjalani hidup dengan menanggung penderitaan itu seseorang diri.


Percayalah, itu bukan salahmu. Merekalah para orang dewasa yang egois dan tidak memahami betapa sulitnya kau menanggung beban itu.*


"Aku tidak peduli, misteri dan rahasia apa yang kau punya. Aku akan selalu percaya padamu”  batin Lusia lalu menutup pintu.


.


.


*** To Be Continued***


.


.


.


Hallo Reader,


Salam hangat penuh cinta dari Author....


Maaf jika Author belum bisa Crazy Up.


Author sangat Welcome sekali untuk kritik dan saran dari para reader agar Author bisa terus belajar dan menyempurnakan karya P.B.M.H ini hingga menjadi karya yang layak untuk di baca.


Harap di maklumi, Authornya masih hijau alias tunas muda yang masih abal-abal 🤭.


Tapi Jangan khawatir, Author tetap akan update 2 hari sekali sampai karya ini END.

__ADS_1


Please support terus dengan tetap jadikan Favorite, Like dan Comment.


Terima kasih atas segala dukungannya.


__ADS_2