Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
Bab 31 - Penguntit ?


__ADS_3

Reisa dan Lusia penasaran siapa pria itu dan apa maksud dari pesan yang ditulisnya untuk Lusia.


“Kau yakin tidak mengenalnya?” tanya Reisa.


“Jika kita saling kenal, menurutmu kenapa dia tidak menyapa dan langsung memberikannya kepadaku” jawab Lusia membaca kembali pesan yang tertulis.


Reisa mencoba menerka-nerka pesan yang ditulis mengarah ke kejadian yang baru saja dialami Lusia semalam. Pesan itu menunjukkan jika pria itu menyesal karena ia terlambat sehingga tidak bisa membantu Lusia dan ia juga marah kepada orang-orang yang sudah melukai Lusia.


“Apa ada orang lain lagi yang mengetahui kejadian itu Lusia? Apa jangan-jangan pria itu Rayn?” tanya Reisa kepada Lusia dengan ekspresi curiga. Lusia menepisnya karena ia percaya jika Mickey tidak akan ingkar janji dengan mengatakan kejadian itu kepada Rayn.


“Lalu siapa lagi jika bukan dia, aku yakin itu dia” tegas Reisa memaksakan keyakinannya kepada Lusia.


“Aku yakin bukan dia, kau tahu kenapa? OK, aku jelaskan padamu” ucap Lusia sembari memposisikan duduknya menghadap Resia


“Satu, kondisi Rayn sangat tidak memungkinkan dia untuk datang kemari seorang diri apalagi sampai sampai popcorn. Meskipun ia memaksakan diri, kurang kerjaan sekali sampai mengikuti kita kesini” ucap Lusia dengan mengacungkan satu jari telunjuk tanda menghitung.


“Dua, dia adalah pria yang berpikir kritis, blak-blakan dan benci sesuatu yang merepotkan, pesan-pesan misterius lebai seperti ini bukan gayanya sama sekali” lanjut Lusia dengan mengacungkan dua jari.


Tiga, ini yang sudah pasti” lanjutnya menggeleng kepala. “Aku sangat tahu seperti apa postur tubuh Rayn dan pria tadi, meskipun dari belakang sangat jelas dia bukan Rayn" lanjut Lusia.


"Empat, mungkin kau berpikir bisa saja dia meminta orang lain melakukannya. Dan jika ia, orang itu pasti tidak lain adalah Mickey. Tetapi Mickey adalah orang yang suka to the point. Jadi, sangat tidak mungkin dia akan mengatur orang hanya untuk menyampaikan pesan yang tinggal ia ucapkan langung. Ok, kau paham sekarang?” tanya Lusia kepada Reisa yang dari tadi fokus mendengarkannya dan hanya menaruh curiga kepada Rayn.


“Kau benar, itu masuk akal. Kenapa sekarang jadi membuatku merinding. Lusia kau yakin tidak memiliki masalah dengan orang lain selain para rentenir itu?” tanya Resia mulai cemas.


“Ini bukan tentang orang yang bermasalah denganku atau sebaliknya, tapi bukankah ini lebih tepatnya seperti... ” jawab Lusia ragu.


“Aaaaa…. “ celetuk Reisa dengan mulut ternganga.


“Penguntit” ucap Lusia dan Reisa bersamaan.


“Ah tidak mungkin, tidak bisakah kita anggap dia penggemar saja?" lanjut ucap Lusia dengan tawa yang dipaksakan. Lagi pula sejauh ini kehidupan privasiku tidak terganggu. Jadi, belum sampai ke tingkat penguntit” ujar Lusia menghibur diri menurunkan kecemasannya.

__ADS_1


"Kau benar. Baiklah, sebentar lagi filmnya mulai yuk. Tinggalkan saja popcornnya disini” ajak Reisa menarik lengan Lusia lalu ia merobek pesan kertas itu dan membuangnya ditempat sampah.


***


Di Villa, saat ini Mickey sedang berada di ruang baca bersama Rayn. Rayn terlihat sibuk di depan komputernya. Sementara Mickey duduk di sofa asyik bermain game di ponselnya. Sebelumnya Rayn sengaja mengatakan sibuk di ruang melukisnya kepada Lusia karena ia ingin memberi waktu kepada Lusia untuk menenangkan diri dengan sahabatnya.


“Terkadang kau sangat mengejutkanku. Aku penasaran kenapa malam itu kau melarangku memberi wanita Bar itu sejumlah uang? Menurutku itu cara yang cepat untuk membuat Lusia keluar dari sana” ucap Mickey menghentikan permainan game bertanya kepada Rayn.


Rayn yang sedari tadi sibuk mengetik seketika melirik Mickey menghentikan jemarinya. “Bukankah Lusia sudah memutuskan berhenti dengan sendirinya, jadi apa yang kau ingin bahas sekarang? Tidak ada gunanya aku menjawab rasa penasaranmu” jawab Rayn santai seolah mengganggap bahwa ini sudah berlalu.


“Memang benar Lusia telah memutuskan keluar dari bar itu dengan sendirinya, bahkan sebelum aku benar-benar memberi jaminan uang kepada wanita itu untuk mengeluarkan Lusia dari sana. Aku kira itu tidak masalah bagimu dengan memberinya imbalan, tapi ternyata kau pelit juga” ucap Mickey menggelengkan kepalanya lalu lanjut kembali memainkan game.


Mengingat sekenario malam itu di Bar, Mickey menemui Mami Rere untuk memintanya mengeluarkan Lusia dari pekerjaan itu, namun wanita itu menolak karena kecantikan Lusia adalah pundi uang baginya. Ia merasa akan rugi besar jika melepaskan Lusia begitu saja.


Mendapati penolakan dari Mami Rere, Mickey berencana memberinya sejumlah uang sebagai kompensasi, namun Rayn melarang itu dan meminta Mickey sementara cukup mengawasi dan menjaga Lusia. Tidak di sangka bersamaan ternyata Lusia mengalami kejadian memilukan sehingga dengan sendirinya ia memutuskan untuk berhenti karena insiden kekerasan dan pelecehan yang ia alami.


“Aku masih ingat kau teriak padaku dengan keras jangan bodoh! apa yang bodoh? Itu jalan satu-satu kita sebelum mengetahui keputusan Lusia untuk berhenti” gerutu Mickey tanpa memandang Rayn.


“Apa maksudmu dengan membelinya?” tanya Mickey kembali menghentikan permainan gamenya.


“Itulah kenapa aku katakan kau bodoh!” jawab Rayn dengan tatapan kecewa jika pria kepercayaannya ini kadang tidak paham situasi.


“Aku hanya tidak mengerti dengan apa yang kau maksud dengan membelinya?” tanya Mickey.


“Kau ingin aku melepaskan barang yang berharga? Jika kau mau, kau harus membayar dengan setimpal. Bukankah sudah jelas itu maksud dari wanita bar itu? Lalu kau akan masuk kedalam lubangnya dengan memberinya uang?” tanya Rayn.


“Tapi, itu bukan hal yang besar bagimu kan?” tanya Mickey kembali.


“Jika berbicara uang tentu itu bukan masalah bagiku. Tapi, jika aku memberinya uang itu artinya aku telah menebus dirinya. Menebusnya artinya aku telah menukarnya dengan uang itu. Jika aku menukarnya dengan uang secar  tidak langsung artinya aku membelinya. Lusia adalah seorang wanita bukan barang, bagaimana bisa kau membuat kesepakan dengan uang. Kesepakatan itu bukan hanya akan melukai harga dirinya tapi juga perasaanya” jawab Rayn serius.


“Wah… “ sahut Mickey berdiri menghampiri Rayn. “Apa kau benar-benar Rayn yang ku kenal?” lanjut tanya Mickey berniat menepuk bahu Rayn. Namun, Rayn dengan cepat meraih buku yang ada di mejanya untuk menapis tangan Mickey yang sudah dekat dengan dirinya.

__ADS_1


“Apa kau juga sudah tidak menyayangi tanganmu?” tanya Rayn setelah menapis tangan Mickey.


Mickey hanya tertawa canggung. “Aku terlalu sering dan terbiasa melihatmu sangat santai dengan Lusia. Jadi, aku merasa seperti semuanya sudah baik-baik saja” jawab Mickey membicarakan masalah phobia Rayn. Ia mengelus tangannya yang di tepis Rayn dengan buku lalu kembali duduk.


“Aku sudah memutuskan, pergilah cari tau masalah keuangan yang Lusia hadapi” perintah Rayn berdiri dari duduknya.


“Eemm, yang aku tau dia menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja artinya pasti dia selalu berada dalam kondisi kekurangan uang bukan. Lalu masalah seperti apa yang ingin kau tau?” tanya Mickey.


“Wah, apa kau benar-benar Mickey yang ku kenal?” tanya Rayn mengcopy ucapan Mickey kepadanya tadi.


Rayn menjelaskan kepada Mickey yang saat ini seperti sedang kehilangan koneksi di otaknya. Seperti yang mereka tahu selama ini Lusia hanya bertahan bekerja di toko Bunga dan Cafe. Namun tiba-tiba dia memaksakan diri bekerja di Bar yang sudah jelas dia tau itu sulit untuknya. Pasti terjadi sesuatu yang mendesak dan mengharuskannya mendapatkan uang dengan cara cepat.


“Jika begitu aku hanya perlu bertanya kepadanya kan” sahut Mickey.


“Jika dia akan menerima bantuanmu, dia pasti sudah akan mencarimu dan meminta gaji dimuka” sahut Rayn.


“Kau benar, aku masih tidak mengerti kenapa dia tidak pernah mencariku untuk memintanya jika ternyata dia sedang membutuhkan uang ya?” tanya Mickey.


“Jangan membuang waktu untuk menebak-menebak, lakukanlah saja yang ku minta” jawab Rayn bersiap meninggalkan ruang baca.


“Baiklah, aku akan mengaturnya untukmu. Aku juga ingin tahu hal besar apa lagi yang akan kau lakukan untuknya” sahut Mickey dengan senyum menggoda Rayn.


“Sebenarnya aku juga penasaran kenapa kau begitu peduli padanya sampai sejauh ini? Apa jangan-jangan kau… “ lanjut goda Mickey. “Tapi sudahlah jika ku lanjutkan tidak hanya buku, tapi notebook di tanganmu itu yang akan melayang ke arahku. Haha” ledek Mickey dengan tertawa canggung.


“Jika itu mengganggumu, kau tinggal pecat saja dia” jawab Rayn dengan berjalan meninggalkan Mickey ke kamarnya.


"Tentu saja tidak mungkin itu terjadi” teriak Mickey. “Apa dia tidak tahu susah payahnya aku membawa Lusia kemari” gerutu Mickey terhadap pria yang terlihat sama sekali tidak pernah terusik dengan candaannya.


Mickey pun masih heran dan tidak mengerti dengan sikap Rayn terhadap Lusia. Ia terlihat sangat peduli tetapi juga terkadang dengan santai mengatakan seolah tidak masalah jika Mickey memecatnya.


*** To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2