
Di dalam Dervilia, Lusia menatap keindahan halaman Dervilia dari balik jendela. Keindahan yang Rayn ciptakan untukknya. Ia masih bertanya dalam hati, bagaimana cara Rayn menyiapkan semua ini, karena Rayn tidak mungkin melakukannya seorang diri.
Lusia mengerutkan kening menatap pria yang sibuk membuat teh untuknya. "Tidak ada yang tidak mungkin baginya" ucap Lusia. Bagaimanapun, ia sangat bahagia dengan kejutan yang Rayn berikan.
Lusia berjalan mendekati setiap baris lukisan yang berada di ruangan utama Dervilia. “Sebenarnya tempat ini? Aku
tidak pernah menyangka akan ada Villa lain di sekitar sini. Bahkan Mickey tidak pernah mengatakan kepadaku dan tidak ada dalam daftar denah yang Mickey berikan” tanya Lusia kepada Rayn.
Lusia lanjut menatap sebuah lukisan yang sudah mencuri perhatiannya dari tadi, sebuah lukisan seorang wanita yang tersenyum penuh kebahagiaan menatap seorang bayi laki-laki dipangkuannya.
“#Dervilia…” gumam Lusia lirih membaca inisial pada lukisan tersebut.
Rayn menghampiri Lusia dan memeluknya dari belakang. “Itu adalah karya dari wanita yang sangat aku cintai, wanita yang sangat berarti dalam hidupku selain dirimu” ucap Rayn.
“Aku tahu, wanita itu adalah ibumu dan bayi laki-laki dalam lukisan itu adalah dirimu” ucap Lusia menoleh pada Rayn. Lusia sudah bisa mengetahuinya karena ia pernah melihat foto ibu Rayn yang ada dikamar Rayn.
“Kau benar, dia adalah wanita yang telah melahirkan pria tampan ini” jawab Rayn.
Lusia melepaskan pelukan Rayn dan melanjutkan kembali melihat lukisan karya ibu Rayn yang lain. Rayn menceritakan semuanya kepada Lusia, semua tentang Dervilia yang tidak hanya menjadi nama pena sang ibu, tapi juga nama dari Villa yang saat ini mereka singgahi.
Begitu banyak pertanyaan yang Lusia tanyakan tentang kisah masa kecil Rayn dengan ibunya. Termasuk kenangan indahnya saat Mickey mulai masuk dalam kediaman Anderson.
Rayn tampak dengan senang hati disibukkan menjawab petanyaan Lusia satu persatu. “Banyak sekali pertanyaan yang sudah terangkum di kepala kecilmu itu. Kini bolehkah aku yang bertanya?” tanya Rayn.
Rayn duduk disofa berpangku tangan memandang Lusia yang masih asyik melihat lukisan dan bertamasyah melihat keseluruhan yang ada di Dervilia.
“Apa kau pernah berpacaran sebelumnya?” tanya Rayn.
“Belum pernah, sekalipun” jawab Lusia singkat tanpa memandang Rayn.
“Jika begitu, ada yang sedikit menggangguku” lanjut ucap Rayn.
Mendengar kata itu, Lusia langsung menoleh. “Mengganggumu? Apa itu?” tanyanya.
“Kau terlihat sangat ahli menghanyutkan hati pria. Bahkan setiap kali kau membalas kiss….” ucap Rayn. Belum sampai ia menyelesaikan ucapanya, Lusia sudah memotongnya.
“Aku rasa ini sudah sangat larut, kita haru kembali ke Villa” potong Lusia berjalan ke arah pintu melewati Rayn yang duduk di Sofa. Lusia tampak enggan menjawab pertanyaan Rayn karena malu.
Lusia sendiripun sesungguhnya juga tidak mengerti kenapa ia bisa melakukanya sementara ini kali pertama ia berpacaran.
Ryan menarik tangan Lusia untuk menahannya. “Justru karena sudah sangat larut malam, kita tidak bisa kembali” ucapnya mendongakkan kepala memandang Lusia yang berdiri dihadapannya.
“Tidak bisa kembali? Apa maksudmu dengan tidak bisa kembali. Kita bisa sampai disini, kenapa tidak bisa kembali? Lagian apa yang akan kita lakukan disini jika tidak kembali?” tanya Lusia dengan tatapan penuh curiga.
Rayn hanya diam memandang Lusia, ia bisa melihat kegugupan dan kekhawatiran Lusia yang terus memberondong pertanyaan kepadanya. Pertanyaan yang intinya semua sama, Lusia hanya ingin segera kembali seolah takut jika saja Rayn akan menyerangnya.
Rayn yang masih memegang tangan Lusia, menarik tubuh wanita itu untuk lebih dekat dengan dirinya. Rayn menyandarkan kepalanya di perut Lusia yang sejajar dengannya duduk. Lusia yang masih berdiri membiarkan Ryan merangkul pinggangnya dengan manja.
“Jangan khawatir... aku tidak akan melakukan apapun padamu” ucap Rayn dengan nada suara yang tampak lelah.
Merasa Rayn bisa membaca pikirannya, Lusia mencoba mengelak dengan cepat. “Memangnya apa yang aku pikirkan …” sahut Lusia.
“Kenapa? Apa kau kecewa? Apa kau ingin aku melakukannya?” tanya Rayn menatap Lusia.
"Apa kau sudah gila? Baiklah, jika kau tidak mau kembali aku akan kembali sendiri sekarang” acam Lusia dengan wajah yang memerah.
Ancaman itu justru membuat Rayn tersenyum, ia merasa reaksi Lusia justru sangat menggemaskan. Rayn melepaskan pelukannya lalu meraih kedua tangan Lusia.
“Apa kau tidak takut diluar sana?” tanya Rayn.
“Kenapa? Apa kau takut kembali karena gelap?” tanya balik Lusia.
“Tentu saja aku tidak takut apapun, tapi meski begitu tetap saja tubuhku tidak akan mampu jika harus berhadapan dengan binatang buas” jawab Rayn.
“Aku lebih takut pada binatang buas yang mungkin saja akan menerkamku di dalam Villa ini” sahut Lusia menatap tajam Rayn seolah ia dengan terus terang mengatakan jika Raynlah binatang buas itu.
“Hahaha” tawa Rayn yang merasa geli dengan ucapan Lusia.
"Jika kau takut binatang buas, lalu untuk apa kau membuat hunian ditengah hutan begini” celetuk Lusia.
“Untuk kita berdua bisa berada dalam situasi seperti sekarang” jawab Rayn kembali menggoda Lusia.
“Sepertinya kau sudah lama menyiapkannya untuk menjebak gadis-gadis diluar sana" celetuk Lusia.
“Untuk apa aku melakukannya sementara aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhku” sahut Rayn membalas Lusia.
Rayn menatap bagaimana dirinya menggengam tangan Lusia. " Tidurlah di kamar, aku akan menjagamu tidur disini" ucap Rayn.
"Kau yakin aku bisa mempercayaimu?" tanya Lusia.
Rayn kembali menatap Lusia. "Ingatlah apa yang akan aku janjikan kepadamu, janjiku kepada wanita yang paling berharga dalam hidupku” ucap Rayn.
__ADS_1
“Aku… Rayn, pria yang sekarang berada dihadapanmu, pria yang sekarang menggenggam tanganmu, pria yang sangat mencintaimu dan sangat kau cintai. Aku berjanji untuk selalu melindungimu, apapun itu bahkan termasuk hal
yang paling berharga bagimu. Aku tidak akan merampas kesucian yang sudah kau jaga sebelum kau sah menjadi milikku. Aku akan melindunginya, aku akan menjaganya. Aku tidak akan melukaimu sedikitpun. Itulah janjiku kepadamu Lusia, bisakah kau mempercayainya?” tanya Rayn.
Lusia terharu mendengar janji yang diucapkan Rayn. Ia tersenyum lalu mengecup kening Rayn dengan singkat "Selamat malam" ucapnya lalu berlari ke kamar yang artinya ia mempercayai Rayn.
“Kau pun juga harus mengingat janji yang sudah kau ucapkan itu” perintah Lusia lalu masuk ke dalam kamar.
Mendapat kecupan kening dari Lusia membuat Rayn terdiam. "Bagaimana aku bisa menepati janjiku jika dia yang terus memancingku” gumam Rayn tersenyum.
.
.
Malam telah berganti pagi…
Kring… kring…
Lusia langsung membuka mata dari tidurnya setelah mendengar ponselnya berbunyi. “Hallo…” sapa Lusia dengan nada berat karena nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
“Aku yakin kau masih tidur” ucap seorang wanita dalam panggilan.
“Kau pun tahu ini masih jam berapa Resia” jawab Lusia yang membenarkan dugaan Reisa sahabatnya jika ia baru bangun tidur.
“Ya, aku sangat tahu ini jam berapa. Karena itu kau harus bangun, aku menunggumu dibawah. Aku sudah ada di depan Villa" ucap Reisa.
Lusia melihat jam diponselnya yang masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. “Apa yang kau lakukan pagi-pagi disini?” tanya Lusia.
Reisa memintanya untuk tidak banyak bertanya dan segera membukakan pintu untuknya yang sudah menunggu.
“OK, OK, tunggu sebentar, aku akan turun” sahut Lusia bangkit dari tidurnya.
Lusia segera bangun, dirinya yang masih posisi duduk di kasur dengan selimut yang sudah setengah terbuka tampak bingung. Ia melirik kiri kanan memperhatikan seisi kamar.
“Dervilia…” teriak Lusia.
Menyadari dirinya masih ada di Dervilia, Lusia langsung loncat dari ranjang berlari keluar. Lusia tidak melihat Rayn berada di sofa, ia mencari keberapa tempat dalam Villa sembari memanggil nama Rayn dengan panik.
Lusia membuka pintu, dilihatnya Rayn sedang menata beberapa bunga di halaman. “Rayn, cepat, cepat, kita harus kembali ke Villa utama segera” pinta Lusia dengan berlari menghampiri Rayn.
Rayn menahan tangan Lusia menanyakan apa yang terjadi. Rayn menghela napas lalu meraih tangan Lusia memintanya untuk duduk di kursi halaman Dervilia.
“Rayn, ini bukan waktunya untuk duduk santai, kita harus kembali ke Villa karena Reisa sudah ada di depan Villa utama" ucap Lusia.
Rayn menatap kaki polos Lusia yang susah kotor. “Sepenting apapun itu, mana bisa kau kembali tanpa alas kaki” ucap Rayn dengan membersihkan kaki Lusia yang sudah terlanjur kotor lalu memasangkan sandal di kaki Lusia.
"Apa yang membuatmu sepanik itu sampai berlari tanpa alas kaki? Kau cukup memintanya untuk menunggu” lanjut ucap Rayn usai memakaikannya sedal.
Lusia tidak menjawab ia langsung berlari pergi meninggalkan Ryan dan memintanya untuk menyusul.
Di tengah perjalanan kembali ke Villa utama, Reisa kembali menelepon Lusia. Lusia mengabaikan panggilan itu dan terus berlari kembali ke Villa utama. "Oh tidak, tamatlah riwayatmu Lusia" umpatnya pada dirinya sendiri.
Dengan nafas tersengal, Lusia melihat Reisa yang terus mencoba menghubunginya. “Hei, maaf membuatmu menunggu lama” sapa Lusia.
“Hya, darimana saja kau? Bukannya seharusnya kau ada didalam?” tanya Reisa dengan menunjuk Villa. Ia terkejut melihat Lusia tiba-tiba muncul di belakangnya. “Apa kau baru saja berlari?” lanjut tanya Reisa melihat nafas Lusia yang tidak beraturan.
“Oh itu, iya aku baru saja olahraga lari pagi” sahut Lusia mengipas keringat dengan tangannya.
Di tengah kepanikan Lusia dan kebingungan Reisa, tiba-tiba Rayn datang menghampiri keduanya. Hal ini menambah kecurigaan Resia. Reisa mendengar sendiri jika Lusia baru bangun dari tidurnya dan mengatakan akan turun membukakan pintu, tapi ia tiba-tiba sudah berada di luar dan kembali bersama dengan Rayn.
“Untuk apa kau kemari pagi-pagi? Ayo masuk” ajak Lusia mengalihkan kecurigaan Reisa.
“Tunggu…!” perintah Reisa dengan wajah serius.
“Eh…?” A.. ke… kenapa Reisa?” tanya Lusia mulai gugup.
“Apa kau dari luar bersamanya?” tanya Reisa melirik Rayn.
“Eemm, benar” jawab Lusia mengangguk dengan cepat.
“Jadi, sebelumnya kau juga keluar bersamanya?” tanya Reisa lagi.
“Eemm, benar” jawab Lusia mengangguk lagi dengan cepat.
“Lalu apa kau bermalam dengannya diluar dan baru kembali?” tanya Reisa sampai pada intinya.
“Eemm, benar” jawab Lusia tanpa disadari ia mengangguk dengan cepat. “Ah tidak, bukan, tidak, bukan begitu” lanjut ucap Lusia semakin panik.
Lusia mengubah anggukkan itu dengan menggelengkan kepala. Ia merasa bodoh asal mengangguk hingga masuk dalam jebakan pertanyaan Reisa.
“Ok, kita bisa masuk sekarang” ucap Reisa dengan mimik wajah menakutkan meminta Lusia membuka pintu yang dikunci dengan sandi.
__ADS_1
.
.
Di dalam, Lusia duduk di sofa dengan kaki dan tangan yang terus gemetar. Ia menunduk tidak berani menatap Reisa yang duduk dihadapannya dengan kedua tangan yang menyilang. Sementara Rayn tampak santai dan tenang duduk disebelah Lusia.
"Aku datang kemari untuk memberimu kejutan ulang tahun, tapi sepertinya aku yang mendapatkan kejutan” ucap Reisa.
Bak orang tua yang sedang melakukan sidang kepada putrinya yang kepergok melakukan hal terlarang. Reisa terus memberondong pertanyaan kepada Lusia.
Lusia yang tidak pandai berbohong atau mengarang cerita, tidak bisa menjawab pertanyaan Reisa dengan benar. Hal itu justru membingungkan Reisa. Reisa sudah mencium bau-bau yang tidak beres, ia bertanya sekali lagi kepada Luisa.
“Jad, kau semalaman tidak berada di Villa tapi berada di tempat yang entah dimana bersama dengan pria ini ?” tanya Reisa.
Lusia tidak bisa berterus terang karena ia belum siap mengatakan kepada Reisa jika dirinya sudah berpacaran dengan Rayn. Lusia takut jika Reisa tidak akan menyukai hubungannya dengan Rayn. Karena Reisa sangat selektif dalam memilih pasangan, apalagi sesorang yang akan menjadi pacar Lusia sahabatnya yang lugu itu.
“Aku tahu dia adalah pria jujur dan apa adanya. Jadi Lusia, katakan sekarang atau aku yang akan meminta dia menjawabnya” ancam Reisa.
“Reisa, ini tidak seperti apa yang kau pikirkan” jawab Lusia.
Lusia merasa akan semakin buruk jika Rayn yang membuka suara. Karena pria itu sulit ditebak apa yang ada dipikirkannya, tapi yang pasti Rayn hanya akan memperkeruh suasana dengan ucapannya yang ceplas ceplos tanpa saringan.
Rayn masih saja diam tanpa suara, ia justru tersenyum melihat kepanikan Lusia.
“OK, tidak ada gunanya bertanya kepadamu aku akan bertanya kepadanya” ucap Reisa kepada Lusia.
Reisa menatap Rayn dengan tatapan serius. “Apa kau habis bermalan bersama dengannya? Dimana? Dan apa yang sudah kau lakukan kepadanya?” hardik Resia.
Menurutmu, dimana kami bisa bermalam disekitar sini?” tanya balik Rayn dengan wajah tenang.
"Ketenangan diwajahnya justru membuatku takut" gumam Lusia dalam hati memandang Rayn.
Reisa mulai berpikir. “Kau benar, seperti yang kita lihat, sepanjang jalan hanya ada hutan, semua yang aku lalui tadi hanya hutan. Lusia baru bangun dan kembali tanpa kendaraan. Jika begitu...." ucap Reisa masih berpikir.
"Semak-semak?” cuit Reisa berteriak mengejutkan Lusia.
Reisa langsung bangun dari duduknya. "Kemari kau" perintahnya meminta Lusia berdiri dan memeriksa seluruh pakaian Lusia.
“Lusia… apa yang kau lakukan di tempat itu? Meskipun itu salah, bagaimana bisa kalian melakukannya di semak-semak. Pria mengerikan, setidaknya dia membawamu ke tempat yang lebih layak. Hah, semak-semak" lirik Reisa dengan tatapan bak nenek lampir kepada Rayn.
"Tapi tunggu, kenapa bajumu tampak masih bersih” ucap Resia bingung.
“Hya….! Teriak Lusia.
“Apa yang kau pikirkan dengan semak-semak Reisa?” tanya Lusia yang merasa imajinasi Reisa sudah terlalu liar.
Rayn tersenyum melihat keduanya. “Memangnya apa yang bisa kita lakukan?” potong Rayn. “ Aku hanya menunjukkan keindahan kepadanya” lanjutnya.
“Hya… Raynnnnn !!! terak Lusia.
“Wah…. wahh“ sahut Reisa terduduk lemas.
“Katakan dengan jelas, keindahan apa yang kau maksud? Apa yang sudah kau lakukannya padanya?” tanya Reisa kepada Rayn.
"Reisa, kami hanya bermalam…” ucap Lusia ingin beterus terang.
“Aku bertanya kepadanya” tegas Resia meminta Lusia untuk tidak menjawab apapun lagi.
“Keindahan... seperti memberikan kenangan malam yang istimewah, malam yang tidak terlupakan, malam penuh dengan taburan bunga dan bintang. Sesuatu yang membuatnya bahagia dan ….” Rayn memperlambat ucapannya, ia sengaja mempermainkan kata-kata yang membuat Reisa semakin merinding.
Rayn bisa melihat dari kekhawatiran Reisa menunjukkan jika Reisa adalah sahabat yang baik untuk Lusia. Ia sengaja tidak membela Lusia, karena Rayn ingin mendorong Lusia berkata jujur kepada sahabatnya. Rayn ingin jika Lusia sendirilah yang mengatakan kepada Reisa soal hubungannya, bukan dirinya.
"Apa? Kenapa kau melakukannya kepadanya?"
Rayn berdiri dari duduknya. “Sayang, aku harus membersihkan diri karena kau juga tahu jika hari ini aku ada jadwal dengan Mickey. Kau juga bersihkan dirimu, sa...yang” ucap Rayn memandang Lusia dengan tatapan yang dibuat semanis mungkin.
Rayn mendekati Lusia dan berbisik. “ Tugasku hanya sampai disini, sisanya kau bisa selesaikan kesalapahaman tak berdasar ini dengannya” bisik Rayn dengan tersenyum lalu pergi menaiki tangga lantai 2.
"Sa... sayang?" tanya Reisa.
Lusia mengambil nafas dalam lalu menghelanya. "Ok, Aku berpacaran dengannya" ucap Lusia dengan lantang.
Lusia lalu melirik pada Rayn. "Kau puas?" tanyanya dalam hati. Lusia sudah hafal permainan Rayn.
Mendengar pengakuan Lusia, Rayn menghentikan langkahnya. Ia tersenyum puas lalu berbalik. “Oh yah saran dariku sayang, kenapa tidak kau tunjukkan saja rekaman dan gambar yang sudah kita abadikan semalam” ucap Rayn lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka.
“Kau bahkan mengabadikannya?” teriak Reisa yang masih mengira jika mereka telah melakukan hubungan diluar batas.
Lusia akhirnya pasrah, tidak ada yang perlu ditutupi lagi karena Reisa sudah tahu dia dan Rayn berpacaran. Lusia berterus terang meluruskan pikiran liar Reisa. Ia menunjukkan kepada Reisa rekaman dan gambar yang sudah ia abadikan dengan Rayn adalah sebuah momen perayaan ulang tahunnya di Dervilia.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued***