
Di kamar pribadinya, Rayn terbaring di ranjang tidak berdaya dengan cairan infus yang mengalir memasuki tubuh melalui pembuluh darahnya. Kondisi Rayn mulai membaik setelah melewati beberapa penanganan medis dan perawatan oleh Dokter pribadinya.
Rayn sadar dan perlahan mulai membuka matanya, ia melihat Mickey yang saat ini duduk di kursi tepat disebelah ranjang tidurnya. Mickey tidak bisa menutupi kecemasan di wajahnya, ia segera meminta Arka yang berdiri tidak jauh darinya untuk segera memanggil Dokter. Tanpa menunggu lama, Arka bergegas pergi menjalankan perintah Mickey.
"Rayn, apa kau merasa lebih baik?" tanya Mickey mendekat kepada Rayn.
Rayn berusaha sepenuhnya membuka mata, manik matanya bergrilya memandang seisi ruangan. "Kenapa aku ada disini?" tanyanya kepada Mickey. "Ada apa denganku?" lanjut tanya Rayn melihat infus yang tertancap ditangannya.
Mickey membantu Rayn untuk bangun dan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman. "Apa kau tidak ingat? Kau pingsan di Rumah Sakit, Dokter mengatakan jika kau terlalu banyak memiliki pikiran, rasa cemas dan juga kelelahan" jawab Mickey.
Rayn tidak tahu jika ini sudah memasuki hari kedua dia tidur di ranjang itu. Meskipun kesal karena tidak tahu apa-apa dan datang terlambat, tapi kini Mickey bisa menghela nafas lega karena Rayn sudah sadar.
Mickey menjelaskan jika Reisa menghubunginya saat Rayn pingsan di rumah sakit. Reisa khawatir jika salah mengambil tindakan mengingat Rayn memiliki Phobia.
Mickey yang saat itu tengah berada di Canada guna menyelidiki kasus pembunuhan ibu Rayn, langsung kembali pulang setelah mendengar kabar soal kondisi Rayn dari Reisa. Tanpa menunggu lama ia langsung memutuskan kembali pulang dan menghubungi Dokter pribadi Rayn. Ia bahkan terkejut dengan apa yang terjadi pada Lusia dari Reisa. Rayn tidak pernah memberitahunya tentang kejadian mengerikan yang terjadi pada mereka.
"Lusia, bagaimana dengan Lusia? Apa dia sudah sadar?" tanya Rayn dengan suara yang masih lemah.
"Aku baru menerima kabar dari Reisa, jika semalam Lusia sudah sadar dari komanya. Saat ini mungkin Lusia masih membutuhkan beberapa pemeriksaan dan terapi untuk memaksimalkan fungsi syaraf-syaraf nya. Aku meminta Reisa untuk tidak memberitahu Lusia tentang kondisimu dulu, karena aku takut dia akan cemas. Saat ini Lusia sedang bersama dengan ibunya, jadi aku rasa dia masih akan merasa terhibur" ujar Mickey.
"Apa kau bisa pergi membantuku untuk memeriksa bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Rayn kepada Mickey.
Bagi Mickey Tantu saja itu bukanlah sebuah permintaan yang sulit untuk dilakukan. Mickey akan pergi ke Rumah Sakit untuk memastikan sendiri secara langsung perkembangan kondisi Lusia dan melaporkannya kepada Rayn.
"Tentu saja aku bisa membantumu, tapi jangan khawatir setelah dokter memeriksa kondisimu dan memastikan kau baik-baik saja, kau bisa pergi menemuinya langsung" ucap Mickey.
"Aku tidak akan melakukannya" ucap Rayn menunduk.
Mickey terkejut dengan pernyataan Rayn baru saja. Ia tidak paham kenapa Rayn mengatakan tidak bisa melakukannya, kenapa ia mengatakannya bahkan setelah sampai harus pingsan karena mengkhawatirkan kondisi Lusia. Jika ini soal kondisinya yang juga masih lemas maka Mickey bisa memaklumi itu, tapi Mickey tahu jika itu pasti bukanlah alasan Rayn yang sebenarnya. Mickey berusaha menepis pikiran tidak masuk akal yang memungkinkan Rayn sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Lusia.
"Apa maksudmu?" tanya Mickey untuk meyakinkan dirinya sendiri jika apa yang ia pikirkan tidak benar.
Seolah tidak mendengar apa yang sedang Mickey tanyakan, Rayn tidak menjawab. Rayn justru mengalihkan pembicaraannya. "Tentang pamanmu, apa kau sudah mendapatkan petunjuk?" tanya Rayn mengalihkan pembicaraan.
"Rayn... !!!" teriak Mickey.
Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun tinggal dan tumbuh besar bersama, tentu saja Mickey sudah hafal mati akan sikap Rayn. Mickey marah melihat respon Rayn yang mengalihkan pembicaraannya. Mickey masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara Rayn dan Lusia. Mickey marah kenapa Rayn tidak ingin menemui Lusia, kenapa dia melakukannya disaat Lusia sangat membutuhkan sosok Rayn untuk kondisi saat ini.
"Aku hanya telah membuat keputusan. Jangan khawatir, cukup beri tahu aku perkembangan kondisinya" ucap Rayn lalu kembali berbaring. Ia menutup matanya dengan lengannya yang hampir menutupi separuhnya wajahnya.
Rayn mencoba menahan air mata yang hampir lepas membasahi pipinya, ia menahan rasa sakit yang menghujam hati dan meremas jantungnya. Rayn pun merasa jika ini juga sangat sulit baginya, ingin rasanya ia datang dan memeluk Lusia dengan hangat. Tentu saja Rayn tidak bisa mengingkari hati dan sangat merindukan wanita yang sudah banyak mengubah hidupnya menjadi lebih berarti. Tapi ia tidak memiliki jalan lain selain melepas sesuatu yang tidak mungkin diantara mereka.
__ADS_1
.
.
.
Di Rumah Sakit...
Lusia duduk dengan pikiran kosong, ia di temani Reisa yang juga duduk tepat disebelahnya menunggu perawat yang akan membawa Lusia untuk mendapatkan CT-scan. Terlihat jelas kesedihan menyelimuti wajah Lusia. Dia tampak mengkhawatirkan dan menunggu kedatangan Rayn, pria yang sangat dicintainya namun belum ada menampakkan diri semenjak ia membuka mata.
"Bagaimana dengan kondisi Rayn? tanya Lusia kepada Reisa karena sudah tidak dapat menahannya lagi.
Dengan senyum kecil penuh keraguan Reisa menjawab pertanyaan itu. "Jangan khawatir, dalam insiden itu dia baik-baik saja. Aku belum memberitahunya jika kau sudah sadar, aku akan segera melakukannya nanti" sahut Reisa kembali mengurai senyum dibibirnya.
"Tidak apa, aku akan mengirim pesan langsung kepadanya nanti setalah mendapat pemeriksaan" sahut Lusia tersenyum.
Dalam lubuk hati yang paling dalam Reisa merasa bersalah karena harus membohongi Lusia. Mickey melarangnya memberitahu Lusia jika terakhir Rayn pingsan karena kelelahan. Bahkan Reisa juga belum tahu atau mendapat kabar lagi dari Mickey tentang perkembangan kondisi Rayn. Ia tidak tahu jika saat ini Rayn juga sudah sadar.
Sepanjang hari Lusia fokus dengan pemeriksaan lanjutan dan melakukan beberapa terapi sesuai dengan arahan Dokter. Sesekali Lusia menatap ponselnya memeriksa apakah Rayn membalas pesan yang ia kirim.
[Aku sudah membuka mataku, tapi aku tidak melihatmu. Apa kau baik-baik saja?] -Pesan Lusia.
Lusia menatap bunga yang ada diruang ia di rawat saat ini, bunga yang seperti akan segera layu itu adalah bunga terkahir yang Rayn bawa untuknya. Mata Lusia lalu tertuju pada buku dongeng yang juga di tinggalkan Rayn di sana.
Rayn bukan sengaja meninggalkan buku itu di sana, itu karena di akhir kunjungannya Rayn jatuh pingsan. Namun dari situ Lusia tahu jika selama ini Rayn pasti selalu berada disisinya dan menemani nya.
Dalam hati Lusia, tidak apa jika dirinya masih harus sabar menunggu sampai sekarang, karena ia yakin jika Rayn juga sudah melakukan hal itu saat dirinya koma. Pemikiran itulah yang ingin Lusia tanamkan di kepalanya guna menyingkirkan kegundahannya akan ketidakhadiran Rayn saat ia membuka mata.
"Ada apa dengannya? kenapa dia masih belum membaca pesanku? Apa dia tidak khawatir denganku?" ucap Lusia lalu pergi membaringkan diri untuk tidur.
Hari talah berganti, Lusia mulai mendapatkan terapi untuk bisa menggerakkan kembali syaraf-syaraf dengan normal pasca koma. Selama ini Lusia harus dibantu kursi roda karena masih sulit menopang tubuhnya dengan kuat. Reisa dan ibunyalah yang selalu membantunya untuk kembali pulih.
Lusia kembali gelisah karena Rayn belum merespon pesannya. Lusia menjadi semakin tidak tenang saat ia mencoba untuk menghubungi Rayn namun nomornya sudah tidak aktif.
"Lusia..." panggil Reisa yang baru saja datang membawakan makanan kesukaannya.
Reisa menatap Lusia yang sepertinya kecewa melihat kedatangannya, sebuah respon yang menunjukkan jika dirinya sedang menunggu kedatangan orang lain dan orang itu siapa lagi jika bukan Rayn. "Lusia, ada apa?" tanya Reisa.
"Apa kau sudah bisa menghubungi Rayn atau Mickey? Dia tidak membaca pesanku dan saat ini dia tidak bisa dihubungi" ujar Lusia panik.
"Itu...." sahut Reisa.
__ADS_1
"Apa dia benar-benar baik-baik saja? Reisa, kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?" tanya Lusia.
Dengan gugup Reisa menjawab pertanyaan itu. "Sepertinya... Rayn tidak akan datang" jawabnya.
"Apa maksudmu?" tanya Lusia
"Mickey memberitahuku jika Rayn sudah tidak ada di negara ini lagi, dia sudah kembali ke Canada" ujar Reisa.
Reisa juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Rayn, terakhir Mickey hanya memintanya untuk tidak memberitahu Lusia tentang kondisi Rayn. Namun kemarin Mickey menghubunginya dan memintanya untuk membantu merawat dan menjaga Lusia karena ia dan Rayn akan kembali ke Canada.
Mata Lusia mulai berkaca-kaca, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan Reisa. "Kenapa dia kembali ke Canada? Berapa lama dia akan pergi?" tanya Lusia.
"Aku juga tidak tahu karena Mickey tidak mengatakan apapun, bahkan setelah itu aku sudah tidak bisa menghubunginya lagi. Dan..." jelas Reisa lalu menghentikan ucapannya.
"Dan apa ? Ada lagi pesannya yang belum kau katakan?" tanya Lusia melihat Reisa tampak ragu dan ingin menutupi sesuatu darinya.
"Dia..." sahut Reisa menunduk lalu kembali memandang wajah Lusia. "Dia mengatakan kepada Mickey untuk menyampaikan pesan kepadamu jika kau... tidak perlu menunggunya" lanjut ucap Reisa lirih.
Lusia seketika terdiam, tubuhnya seperti mendapat serangan yang menyakitkan. Jantungnya seperti diremas begitu kuat. Lusia akhirnya menjatuhkan air matanya lalu bangkit untuk turun dari ranjang, ia melepas infus yang masih terpasang ditangannya dengan kasar.
"Itu tidak mungkin" ucap Lusia mencoba melangkah keluar ruangan, namun tubuhnya yang masih lemas langsung membuatnya terjatuh.
"Lusia...!!" Teriak Reisa membantu Lusia untuk bangun.
"Lusia, tenangkan dirimu" minta Reisa sembari memeluk tubuh Lusia dengan menangis.
"Apa itu artinya dia meninggalkanku? Katakan padaku jika itu tidak benar Reisa" ucap Lusia menangis dalam pelukan Reisa.
"Lusia, aku mohon tenanglah, lukamu masih belum pulih" minta Reisa.
"Kau mengatakan kepadaku jika dia selalu datang membawakan bunga itu untukku dan buku dongeng itu miliknya, itu artinya dia juga selalu datang untuk membacakannya untukku, itu artinya dia juga menungguku membuka mata. Tapi kenapa? Kenapa dia pergi meninggalkanku?" ucap Lusia masih tidak bisa menahan tangisnya yang pecah.
Reisa berteriak meminta bantuan, tidak lama Perawat dan Dokter datang untuk memberikan penanganan medis karena yang dilakukan Lusia telah membuat lukanya memburuk. Dokter menyuntiknya obat penenang kepada Lusia agar ia tenang dan tidak semakin memperburuk lukanya.
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1