
Cahaya matahari pagi mulai menampakkan sinarnya, menerobos sisi-sisi jendela yang terbuka. Rayn yang ketiduran di ruang melukis mulai memicingkan matanya akibat sinar pagi yang diterima. Ia merentangkan tangannya guna menegangkan semua otot-otot di tubuh nya yang merasa sakit karena tidak tidur dengan posisi yang benar.
Ryan terbangun dengan mata yang masih terlihat sedikit lelah di sana. Dengan gontai nya, Rayn berdiri kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Ia terus berjalan menuruni anak tangga ke lantai bawah.
Langkah kakinya tiba-tiba terhenti, Alisnya mulai mengerut, matanya mulai menyoroti dapur. Di sana berdiri Lusia yang terlihat sangat sibuk dengan peralatan dapur.
"Hoaamm..."
Mulutnya menguap lalu diikuti dengan kedua tangannya yang merangkul lingkar pinggul Lusia. Ia memeluk tubuh Lusia dari belakang, dengan manja menyandarkan dagunya di bahu Lusia.
"Selamat pagi sayang" ucapnya dengan suara serak akibat bangun tidur namun terdengar merdu.
Seketika Lusia menghentikan gerakan mengaduknya, ia tiba-tiba batuk mendengar sebutan 'Sayang' yang dilontarkan Rayn. Ini bukan hanya sikap nya yang tidak biasa, tapi ia belum pernah memanggilnya seperti itu dengan begitu tulus, kecuali untuk membulinya seperti sebelum-sebelumnya.
"Bagaimana aku bisa menyelesaikan masakannya jika kau terus seperti ini?" tanya Lusia berusaha mengendalikan dirinya yang sedang tersipu malu. Ia meminta Rayn untuk segera melepaskan pelukannya.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh melakukannya? Aku ingin melakukannya selagi aku bisa melakukannya" sahut Rayn masih tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Selagi bisa melakukannya? Apa maksudmu dengan itu?" tanya Lusia heran, ia menoleh memandang wajah Rayn yang masih memasang raut wajah manja.
Melihat Lusia yang menoleh memandang wajahnya, Rayn tidak ingin melepaskan kesempatan itu untuk mencuri bibir manis Lusia. Ia mengecup singkat bibir ranum Lusia yang seolah sudah menjadi candu baginya.
"Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin melakukannya" jawab Rayn akan pertanyaan Lusia.
Lusia selesai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Meskipun hanya sarapan sederhana tapi Rayn dengan lahap menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
"Aku ingin meminta sesuatu darimu, apa boleh?"' tanya Rayn.
Tanpa bertanya permintaan apa yang diinginkan Rayn, Lusia sudah langsung mengangguk menyetujuinya. Seolah ia pasti akan memberikan apapun yang Rayn inginkan.
"Kau yakin pasti akan memberikannya tanpa bertanya apa itu?" tanya Rayn lagi dengan tersenyum penuh arti.
"Katakan saja apa itu" sahut Anggun berdiri dari kursi dengan membawa piring kosong untuk dibawanya ke dapur.
"Meskipun aku ingin tubuhmu?" tanya Rayn dengan penuh semangat.
Dubrakkkk...!
Permintaan yang mengejutkan, tubuh Lusia spontan limbung dan hampir terjatuh mendengar permintaan itu. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja diminta oleh Rayn. Bahkan Rayn mengatakannya dengan wajah yang sedang berbunga-bunga, hal itu membuat Lusia segera menoleh dan menaikkan alisnya menatap tajam Rayn yang masih duduk di kursi makan.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau minta?" tanya Lusia lagi.
__ADS_1
"Eemmm... sangat yakin" jawab Rayn mengangguk dan tersenyum.
Rayn bangun dari duduknya untuk membantu Lusia membereskan meja makan, ia mendekati Lusia yang masih berdiri.
"Aku membutuhkan tubuhmu untuk menjadi model lukisanku" bisik Rayn lalu pergi meninggalkan Lusia ke dapur.
Rayn tampak puas melihat wajah Lusia yang memerah seperti strawberry yang merekah siap di panen. Lusia menjadi kesal lagi-lagi Ryan mempermainkannya dirinya.
Usai membereskan semuanya, Lusia pergi ke ruang melukis Ryan, di sana sudah ada Ryan yang menunggunya. Lusia memakai pakaian yang diberikan Rayn untuk dikenakannya saat menjadi model lukisannya.
Lusia terlihat sangat anggun dan tentu saja semakin cantik dengan Ruffled Hem Dress yang ia kenakan. Gaun yang dirancang dengan kain White Cotton Dobby dan disempurnakan dengan detail renda bunga yang indah pada korset dan garis leher, detail terlihat apik, elegan membuat Lusia terkesan sangat dewasa dan mempesona.
"Apa kau hari ini tidak bisa mengambil libur kerja di Cafe?" tanya Rayn sembari mempersiapkan alat melukisnya.
"Kau sudah tahu jawabannya kan?" balas tanya Lusia sembari duduk di kursi yang sudah disiapkan Rayn untuknya. Bahkan Rayn sudah menyiapkan bunga mawar segar berwarna rose gold untuk melengkapi pose Lusia.
"Aku hanya takut tidak bisa menyelesaikannya" sahut Rayn mulai duduk dan bersiap untuk melukis.
"Rayn, ada apa denganmu hari ini? Sikapmu dari tadi membuatku khawatir saja" sahut Lusia mengerutkan keningnya.
"Haha tidak ada apa-apa, aku hanya berpikir jika kecantikanmu membuatku tidak fokus sehingga tidak akan bisa menyelesaikannya dengan cepat" sahut Rayn menggoda Lusia.
"Oh ya tunggu, aku tidak ingin melewatkan kecantikan ini, bagaimana kita mengambil gambar bersama" lanjut potong Rayn mengambil ponselnya.
.
.
.
Hari sudah sore, Rayn dan Lusia mengakhiri waktu melukis mereka meskipun belum selesai karena Lusia harus segera bekerja di Cafe. Rayn mengantar Lusia ke Cafe, kali ini ia harus membiarkan Lusia bekerja tanpa adanya pengawal karena pengganti Arka mungkin dalam 2 hari ke depan baru akan sampai.
Memasuki Cafe, Lusia menghampiri beberapa staf Cafe yang terlihat asyik berkerumun. "Apa yang kalian sibukkan?" tanya Lusia mengejutkan mereka.
"Wahh....." ucap Lusia kagum melihat sesuatu yang indah didepan matanya.
Sebuah buket bunga mawar segar berwarna merah berjumlah 99 tangkai terangkai begitu indah. Pantas saja mereka mengerumuni bunga yang terangkai begitu besar dan sangat cantik itu. Bahkan terdapat sebuah surat kecil yang diselipkan diantara tangkai bunga-bunga itu.
"Sungguh indah sekali, milik siapa? Pasti punyamu kan Vhia. Apa kekasihmu yang mengirimnya. Beruntung banget, buat iri saja" ucap Lusia yang langsung ikut kepo.
Selama ini hanya Vhia satu-satunya staf Cafe yang selalu mendapatkan hadiah istimewa yang mahal dan berkelas dari kekasihnya yang kaya. Jadi tidak heran jika Lusia menduga jika itu milik Vhia.
__ADS_1
"Siapa yang buat iri, siapa yang beruntung. Menyebalkan saja" ucap Vhia meninggalkan mereka dengan raut waja kesal.
"Ada apa dengannya? kenapa dia mengabaikan bunganya?" tanya Lusia polos.
"Bunga itu untukmu Lusia" sahut Grace dengan wajah yang lebih berbunga-bunga seolah dia yang mendapatkan kiriman bunga itu.
"Oh ya? jadi bukan punyanya?" tanya Lusia tidak percaya. Jika benar maka pantas saja Vhia tampak kesal dengan ucapannya.
Lusia meraih pesan yang terdapat dalam bunga itu. Sebuah note yang berisi tulisan tangan dengan kata-kata romantis yang bisa meluluhkan setiap hati para wanita.
[Lusia, apa kau tahu jika aku selalu ada disisimu? Seperti hari ini, aku akan menantikan dan melihat senyum indahmu itu saat menerimanya. Dari 100 tangkai untukmu, 1 tangkai ada padaku yang akan aku berikan langsung kepadamu]
Lusia seketika melihat ke sekeliling mencari siapa orang yang sudah mengirim bunga itu untuknya. Melihat dari pesannya, seharusnya si pengirim saat ini berada tidak jauh darinya. Saat ini di Cafe ia hanya mendapati pengunjung yang berpasangan atau beberapa wanita bersama teman wanita lainnya.
Lusia sempat berpikir jika saja itu adalah Rayn, tapi untuk apa dia harus mengirimnya ke Cafe. "Apa jangan-jangan pria misterius yang selalu mengirimiku hadiah?" batin Lusia hendak berjalan keluar Cafe untuk mencari.
Bersamaan dengan dirinya yang akan keluar, seorang pria muda berwajah tampan membuka pintu dan masuk ke dalam Cafe. Pria itu tersenyum kepada Lusia yang saat ini berdiri tepat didepannya. Kedua mata mereka pun saling bertemu dan saling memandang satu sama lain.
"Apa mungkin dia?" batin Lusia menatap pria itu berjalan ke arahnya.
Jantung Anggun semakin berdegup kencang, ia masih terdiam di sana. Ekor matanya mulai merasa aneh saat pria itu melewatinya usai kembali melempar senyum kepadanya.
"Sayang" panggil seorang wanita yang baru saja membuka pintu.
Lusia mengerjapkan matanya melihat wanita itu memanggil dan menghampiri pria yang baru saja melewatinya.
"Sayang, kau meninggalkan dompetmu di mobil" ucap wanita lalu disambut pria itu dengan menggandeng tangannya.
Lusia menghela nafas lega, itu artinya pria itu bukan orang misterius yang mengirimnya begitu banyak hadiah untuknya, termasuk buket bunga berjumlah 99 tangkai itu. Lusia kembali melanjutkan langkah kakinya untuk ke luar, ia melihat ke sekeliling mungkin saja orang itu masih berada di sana atau mungkin sedang memperhatikannya.
"Siapa orang itu? membuatku merinding dan takut saja" batin Lusia yang masih berdiri di depan Cafe.
Di sebuah restoran italia yang terletak tepat di seberang Friends Cafe, seorang pria duduk di balik kaca menatap ke arah Lusia. Setangkai mawar merah terletak di meja tempat pria itu duduk.
"Itu bukan ekspresi yang aku harapkan, sungguh mengecewakanku" ucap pria itu yang tidak melepaskan pandangannya dari Lusia.
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued ***