
Lusia masih duduk bersama Leona dan ia pun tidak terlalu banyak bicara dengannya, lebih banyak Leona yang selalu lebih dahulu membuka obrolan dengan Lusia. Lusia tidak tahu harus membahas apa dengan wanita itu, ia hanya merasa cukup untuk menjawab apa yang ia tanya saja.
Tidak lama Mickey kembali setelah selesai berbicara dengan Dr.Brian. “Maaf menunggu lama” ucap Mickey dengan menghampiri Leona dan Lusia.
“Tidak apa, bagaimana dengan Dr. Brian?” tanya Leona.
“Aku sudah meminta Arka untuk mengantar kembali Dr. Brian” jawab Mickey.
“Jika begitu aku juga harus pergi karena ada urusan yang harus aku selesaikan” ucap Leona.
“Secepat itu?” tanya Mickey.
Leona mengangguk dan tersenyum. “iya, aku akan menghubungimu nanti” ucapnya kepada Mickey.
Leona kemudian kembali memandang Lusia. “Ada banyak hal yang ingin aku bahas denganmu, aku juga akan menghubungimu nanti. Aku harap kau tidak menolak panggilanku jika kau juga peduli dengannya” ucap Leona tersenyum lalu pamit pulang.
“Sepertinya dia gadis yang baik” gumam Lusia dalam hati memandang Leona yang hendak menuruni tangga.
“Oh ya Lusia, sampaikan pada Rayn soal kedatanganku hari ini dan katakan juga, jangan terlalu keras menolakku, karena itu hanya akan sia-sia” ucapnya lalu melanjutkan langkah kakinya diikuti oleh Mickey berjalan dibelakangnya.
Lusia hanya membalas dengan senyum lalu kembali bergumam dalam hati. “Menolak? Apa maksudnya dengan Ryan menolak? Apa mungkin firasatku benar jika wanita itu…” sahutnya Lusia dalam hati. “Apa pedulimu Lusia, jikapun ternyata ia adalah wanita yang di takdirkan untuk Rayn, bukannya itu lebih cocok” lanjutnya.
Lusia memasuki kamar Rayn, ia menatap Rayn yang masih terbaring ditempat tidurnya. “Lakukan saja pekerjaanmu Lusia, kau hanya perlu fokus dengannya dan tetap menjaga janjimu yang akan selalu ada untuknya” ucap Lusia berbicara pada dirinya sendiri dengan meraih air yang usai ia pakai untuk mengkompres Rayn untuk digantikan dengan yang baru.
Mickey masuk kamar Rayn mencari Lusia, namun Lusia masih di kamar mandi Rayn mengambil Air yang akan ia gunakan untuk membasuh Rayn. Lusia masih melamun di kamar mandi memikirkan apa yang terjadi dengan Rayn bahkan sampai ia tidak sadar jika air sudah penuh.
"Lusia..." panggil Mickey.
“Apa dia sudah kembali” tanya Lusia keluar dari kamar mandi pribadi Rayn.
“Apa kita bisa bicara?” tanya Mickey.
Lusia mengambil nafas dalam. “Tentu saja” jawabnya dengan nada sendu lalu meletakkan kembali air yang ia pegang. Mickey mengajak Lusia keluar kamar Rayn dan berbicara dia ruang baca Rayn.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Lusia tanpa basa-basi lagi karena pertanyaan itu sudah memenuhi kepalanya. Mickey mulai menceritakan apa yang terjadi saat ayahnya datang ke Villa.
.
.
#Flashback
Sepulang menjalankan Misi ke-3 dari Cafe tempat Lusia bekerja, Rayn mendapat panggilan dari Mickey jika ayahnya sedang ada di Villa bersama Leona.
__ADS_1
.
.
Di Villa, Rayn langsung menemui ayahnya. “Anda benar-benar datang kemari, untuk mencarinya?” tanya Rayn kepada ayahnya yang menatap kamar Lusia.
Semenjak hubungan Rayn dan ayahnya renggang, Rayn tidak pernah lagi memanggil ayahnya dengan sebutan ayah. Ia lebih bersikap seperti seorang bawahan yang menghormati atasannya.
“Hi Rayn, sudah lama tidak bertemu” potong Leona menyapa Ryan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Rayn, Ayah Rayn memberi isyarat kepada Pak Alex aistennya untuk memberikan sebuah draft undangan kepada Rayn.
"Sepertinya akhir-akhir ini kau banyak disibukkan oleh gadis itu" ucap sang ayah meninggalkan depan pintu kamar Lusia.
Rayn terkejut dengan undangan yang Pak Alex berikan kepadanya. “Ayah… apa yang ayah lakukan?” teriak Rayn.
“Disaat seperti ini kau baru memanggilku ayah? Apa ayah harus melakukan hal yang lebih ekstrem lagi agar kau masih memandangku sebagai seorang ayah? ” tanya ayahnya dengan duduk di sofa. “Ayah hanya membantumu menyelesaikannya dengan cepat” lanjutnya.
“Apa ayah sampai harus melakukannya ini ?” tanya Rayn dengan tatapan marah.
Ayah Rayn memberikan draft undangan pameran lukisan yang rencananya diselenggarakan di hari ulang tahun ibu Rayn. Tertulis jelas jika pameran itu untuk mengenang mendiang sang istri dengan menyajikan karya seni peninggalan sang istri.
"Ayah yang membuat ibu mengubur mimpinya, apa ayah merasa masih punya hati nurani dengan mengatakan pameran itu untuk mengenang ibu?" tanya Rayn.
“Hah” sahut Rayn dengan senyum menyeringai.
“Apa ayah pikir aku akan memberikan lukisanku?” tanyanya.
“Jikapun kau tidak ingin memberikan lukisanmu, apa kau pikir lukisan ibumu itu semua milikmu?” tanya Ayahnya.
"Bagaimana ayah bisa sekejam ini?" tanya Rayn dengan nada suara seperti mengiba.
"Kejam?" tanya balik ayahnya dengan menyilangkan kaki.
“Katakan, apa yang sebenarnya ayah inginkan dariku?” tanya Rayn. Ia tahu jika ayahnya pasti memiliki tujuan lain atas apa yang ia lakukan dan itu lebih seperti ke sebuah ancaman untukknya.
“Baguslah jika kau paham, ayah masih belum meresmikan undangan itu tapi pameran akan tetap diselenggerakan. Dan seperti yang ayah bilang, ayah bisa menjadikan pameran itu milikmu.
“Aku tidak membutuhkannya” sahut Rayn tanpa berpikir panjang.
"Tapi sayangnya ayah membutuhkanmu… “ sahut ayahnya.
“Apa ayah berpikir aku boneka ayah? Apa lagi yang ayah ingin aku lakukan? Sampai kapan ayah akan terus mempermainkanku?" tanyanya dengan nada marah
__ADS_1
“Jangan lupa kau adalah pewaris keluarga Anderson, meskipun kau tidak menginginkan itu, tetap kau satu-satunya yang memiliki garis keturunan keluarga Anderson. Ayah hanya ingin kau membuang topeng Lotus dan menjadi pewaris Anderson" jawab ayahnya.
"Pewaris ...? Apa ayah lupa? Ayah yang membuangku, ayah yang mengasingkanku dan ayah….” Rayn menahan ucapnnya, ia mencoba untuk bernafas dari sesak yang ia rasakan saat ini.
“Ayah yang menutupi keberadaan putramu ini dari dunia.” Lanjut Rayn dengan bibir yang bergetar. “Dan kini ayah ingin aku tersenyum di depan dunia dengan berpura-pura seperti pria normal dalam pameran itu?" tanya Rayn tidak percaya dengan apa yang ayahnya lakukan.
"Disaat putramu ini membutuhkanmu karena kau satu-satunya yang dimilikinya, apa yang ayah lakukan? Ayah menganggapnya seperti tak pernah ada, seolah itu beban dalam hidupmu. Kini saat ia bisa bertahan hidup tanpamu, kau datang untuk kepentinganmu dengan mengatakan aku putramu. Apa ayah pikir hidupku hanya sebuah permainan?" tanya Rayn.
"Jika pada akhirnya ayah hanya akan menggunakanku sebagai bonekamu, kenapa ayah harus menghentikan pengobatan itu? Kenapa ayah membiarkanku menjalani hidup seorang diri dengan penderitaan itu? Why....!!! Kenapa ayah melakukannya?” tanya Rayn dengan nada tinggi.
Ayah Rayn masih tetap tenang. "Bukankah Mickey mendorongmu untuk kembali melakukan pengobatan? Tapi kau menolak, dan kini kau mengatakan itu semua salah ayah?" tanya ayahnya.
“Apa ayah pernah ingin tahu kenapa aku menolaknya?" tanya Rayn dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Karena saat itu aku ingin menyerah pada hidupku" lanjut ucapnya.
“Apa katamu?” tanya ayah Rayn.
“Apa ayah tahu betapa putus asanya diriku selama ini? Apakah ayah pernah tahu jika aku sudah tidak sanggup hingga ingin mengakhiri hidupku? Pengobatan itu, untuk siapa aku melakukannya sementara satu-satunya orang yang aku milikipun tidak menginginkannya. Pikiran itu... pikiran itu yang selalu menekanku hingga rasanya ingin membuatku gila" ucap Rayn dengan mengepalkan tangannya. Suaranya bergetar karena berusaha menahan air matanya didepan sang ayah.
Rayn merasa tidak ada gunanya melakukan pengobatan atas permintaan mickey sementara ayahnya sendiri tidak memperdulikan kesembuhannya. Bahkan ia sampi pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan meminum banyak obat dan miras. Yang ia lakukan hanya menghancurkan tubuhnya sampai akhirnya Lusia datang dalam hidupnya dengan mengulurkan tangannya.
Ayah Rayn bangkit dari duduknya, seolah ia tidak ingin mendengar lagi semua perkataan putranya. "Ayah memberimu waktu sampai hari dimana udangan itu ditetapkan soal siapa pemilik pameran itu. Jika kau tidak ingin ayah mengusik kenangan ibumu, maka kau harus menggantikannya dengan melepaskan topeng Lotusmu itu. Seperti yang kau bilang, jika kau menganggap dirimu hanya sebatas boneka, maka saatnya ayah akan membawamu untuk naik ke panggung" ucapnya lalu pergi meninggalkan Rayn diikuti Pak Alex, Leona Dan beberapa pengawalnya.
Ayah Rayn secara tidak langsung memberi ancaman kepada Rayn dengan menggunakan kenangan ibunya. Ia tahu jika itu bukan pilihan untuk putranya tapi lebih mendorong putranya untuk mengungkap identitasnya sebagai pewaris keluarga Anderson kepada dunia.
"Apa anda tidak merasa itu terlalu kejam?" tanya Leona kepada Ayah Rayn yang berjalan dibelakangnya. Ia sedari tadi sudah berusaha menahan diri untuk tidak ikut campur.
Mendengar ucapan Leona, ayah Rayn menghentikan langkahnya. "Apa itu yang juga kau pikirkan?" tanya ayah Rayn dengan berbalik memandang Leona.
Leona menaikan dagunya memandang ayah Rayn. "Saya memang datang atas permintaan anda, tapi bukan berarti saya sepenuhnya berpihak kepada anda. Saya akan menghentikannya, jika itu hanya akan menambah penderitaannya. Maafkan jika saya lancang, tapi saya juga punya hak untuk memutuskan" ucapnya lalu menunduk pamit lebih dahulu kepada ayah Rayn.
#Back
Mendengar cerita Mickey, tanpa sadar Lusia menjatuhkan air matanya. Ia tidak percaya, bahkan setelah ayahnya mengetahui Rayn pernah mencoba mengakhiri hidupnya, ia tetap memaksakan ambisinya untuk mengungkap identitas Rayn sebagai putra pewaris keluarga Anderson dengan melepas topeng Lotus.
Lusia memasuki kamar Rayn, ia mendekat dan meraih tangan Rayn. Lusia semakin erat menggenggamnya dengan memandang wajah Rayn. "Aku berjanji akan membantumu untuk sembuh bukan untuk menjadi boneka ayahmu, tapi untuk hidupmu sendiri. Hidup yang seharusnya menjadi milikmu sendiri" ucap Lusia lalu menyandarkan kepalanya di tempat tidur Rayn sejajar dengan kepala Rayn. Ia terus menatap Rayn yang masih tertidur hingga akhirnya ia pun ikut tertidur bersama Rayn dengan tetap menggenggamnya tangannya.
.
.
*** To Be Continued***
__ADS_1