
Jika kebanyakan restoran memiliki suasana santai dan ramah, berbeda dengan restoran yang dipilih Reisa sebagai orang yang ditugaskan untuk memilih tempat dan menu. Reisa memilih sebuah restoran italia yang memiliki konsep fine dining yang dikenal dengan kesan mewah yang bisa dilihat dari luar hingga saat menyantap menu yang disajikan.
Ketika masuk, Lusia sudah disambut oleh seorang pelayan dan diantarkan ke meja. Lusia terlihat takjub dengan desain restoran yang begitu sangat mewah. Lusia masih harus berjalan menuruni tangga khusus untuk sampai pada VIP Room, tempat dimana Reisa dan teman-temannya menunggu.
Saat sampai pada VIP Room, di sebuah ruangan yang hanya memiliki beberapa meja khusus, pelayan tersebut mempesilahkan Lusia lalu pergi. Melihat kedatangan Lusia, Reisa langsung berdiri dari duduknya untuk menyambutnya. Ia tahu Lusia pasti akan sedikit canggung bertemu dengan mereka yang duduk disana.
Semua mata langsung tertuju pada kecantikan Lusia. Lusia terlihat sangat cantik dan anggun mengenakan gaun yang tampak elegan dan mewah. Mereka tidak menyangka jika Lusia menjadi semakin sangat cantik sekarang. Bahkan salah satu teman pria mereka tak berkedip mengakui kecantikan Lusia.
"Aku tidak heran jika sewaktu sekolah banyak pria yang menyukainya. Apa dia sungguh masih single dan tidak ingin pacaran hingga sekarang?" tanya pria itu kepada teman yang duduk disampingnya.
"Ya...! Jangan terlalu berharap, mana mungkin dia masih sendiri. Diantara kita bahkan sudah pada menikah tapi dia justru masih tidak punya pacar? Apa itu mungkin?" sahut teman yang lain mematahkan harapan pria itu.
Selama masa sekolah Lusia memang sudah sangat terkenal akan kecantikannya yang alami. Disaat wanita lain menunjukkan kecantikannya dengan mack up mahal, Lusia justru terlihat cantik meskipun tanpa make up. Banyak siswa laki-laki yang jatuh hati kepadanya, namun Lusia mengabaikan mereka semua dan hanya fokus dengan sekolah.
Kecantikan Lusia saat itu sudah cukup membuat kesal siswa perempuan yang lain, tetapi penolakan yang ia lakukan justru semakin membuat mereka kesal dan merasa jika Lusia tidak tahu diri atau sok jual mahal. Selama ini Lusia hanya menutup mata dan telinga, baginya hanya perlu mengabaikannya selama tiga tahun.
Lusia masih ingat jelas pada acara reuni pertama yang dia hadiri beberapa tahun lalu. Semua temannya masih memperlakukan dirinya sama seperti dulu dan tidak berubah. Mereka masih saja membicaran tentang Lusia sebagai gadis miskin yang bersikap sok dan tak tahu diri. Sejak saat itu Lusia tidak pernah lagi menghadiri acara reuni.
Setelah sekian tahun, kali ini Lusia memberanikan diri hadir didepan mereka. Bukan untuk membuktikan seberapa layak atau tidak layak dirinya. Tapi ia hanya ingin mengahadapi kenyataan yang ada dan tidak ingin lagi bersembunyi.
Semua sudah hadir kecuali satu teman mereka yang juga tak kalah cantik dari Lusia yang belum hadir. Lusia disambut oleh senyum dan sapaan pertanyaan apa kabar yang sudah menjadi keharusan ketika saling bertemu.
Tidak selang lama seorang wanita bernama Rara tiba dan bergabung dengan mereka. Selama sekolah Rara selalu di nobatkan menjadi wanita tercantik dikelasnya. Lusia selalu disandingkan dengan Rara, Lusia dijuluki cantik alami sementara Rara dijuluki cantik abadi.
Rara sangat terkejut dengan penampilan Lusia sekarang. Wanita cantik bermulut pedas ini sama sekali tidak berubah. Dengan wajah bak malaikat ia menyindir penampilan Lusia yang dirasa terlihat sangat memaksakan diri.
"Wah, apa kau ingin terlihat seperti angsa di acara yang biasa ini?" tanya nya dengan wajah tersenyum. "Itu berlebihan" lanjutnya.
__ADS_1
Lusia menyadari sindiran itu, tidak hanya Lusia, semuanya pun juga tahu jika Rara sedang menyerang Lusia. Reisa hendal membantu Lusia untuk membalas sindiran Rara namun sudah didahului Lusia.
"Berlebihan? Apa kau melihatnya ini sungguh tampak berlebihan? Angsa..? Apa itu artinya kau melihat jika hanya aku yang terlihat menawan? Kau terlalu berlebihan dalam memuji. Bukankah pakaian seperti ini sudah menjadi pakaian yang biasa kalian kenakan. Aku tidak mengerti kenapa kau menilainya tampak sesuatu yang berlebihan. Itu seperti kau ingin mengatakan jika semua pakaian mewah yang mereka kenakan terlalu berlebihan" jawab Lusia.
Reisa sontak tertawa kecil mendengar jawaban Lusia, diikuti senyum yang lain dan memandang kesal pada Rara. Rara tidak menyangka jika Lusia tidak hanya mengubah penampilannya tetapi juga mulai berani untuk melawan.
"Lusia benar, itu sama saja kau juga sedang menghina kami" sahut yang lain.
Salah satu dari mereka mengakhiri brolan tidak mengasikkan ini dengan mulai meminta pelayan untuk mulai menyajikan makanan.
Ditengah canda tawa mereka tiba-tiba terdengar suara pelayan yang mempersilahkan seorang pria masuk usai menuruni anak tangga. Pelayan mengantar pria itu duduk pada meja yang berada tepat disamping Lusia dan teman-temannya.
Kedatangan pria itu membuat Rara dan beberapa teman lain yang duduk menghadap ke arahnya dibuat terspesona oleh ketampanan dengan postur tubuh yang sempurna.
Lusia hendak menoleh melihat siapa pria yang sedang mereka bicarakan tetapi bersamaan Reisa meminta Lusia melihat pesan dari David. Pesan dimana David meminta maaf karena akan datang sangat terlambat.
"Lihatlah, berani sekali dia meninggalkan kita sendiri bersama ruba-ruba ini" Gerutu Reisa dengan suara lirih.
Reisa harus menahan keluhannya melihat pelayan datang menyajikan makanan yang sudah dipesannya. Mereka sangat menikmati hidangan yang disajikan, mereka memuji Reisa karena telah memilih tempat yang tepat.
Disaat semua sedang menikmati makan seorang pria bernama Eric memulai obrolan. Eric mengatakan jika dia mendengar gosip tentang Lusia. Sebuah gosip yang mengabarkan jika Lusia sudah menikah. Eric pun mengatakan jika dirinya tentu saja tidak akan mempercayai gosip itu hanya berdasarkan postingan Reisa.
Gosip itu muncul bermula dari postingan Reisa disalah satu akun media sosialnya. Sebuah postingan photo sepasang pengantin yang sedang mengikat janji. Tidak terlihat jelas siapa pengantin dalam photo itu karena Reisa mengambil nya dari sudut belakang. Reisa mempostingnya dengan caption. "Aku berbahagia untukmu, sahabat sejatiku".
Bagi Eric sangat konyol jika hanya berdasarakn hal itu mereka sudah mengasumsikan Lusia sudah menikah. "Reisa, bukan hanya dia teman sejatimu kan?" Mana mungkin jika pasangan itu adalah Lusia" tanya Eric.
"Sayangnya aku hanya punya satu dan itu dia" sahut Reisa dengan tegas.
__ADS_1
Aaa aku mengerti, tetapi dia tidak mungkin sudah menikah buka. Kami bertanya2 siapa yang bikin gosip tak berguna itu.
"Kenapa taidak berguna?" Potong Lusia.
"Lusia, jangan tersinggung. maksudku kenapa mereka harus membuat gosip seperti itu, usil sekali. Saat sekolah kita semua juga tahu jika kau menjauhakn diri dari pria-pria yang mendekatimu. Kami semua tahu karena kau tidak pernah ada waktu untuk itu. Kau sudah sangat sibuk dengan banyak pekerjaan paruh waktu. Bagaimana mungkin gadis yang tidak penah berkencan tiba-tiba menikah. Jadi aku merasa mereka semua sangat usil membuat gosip tidak berguna begitu" jelas Eric terdengar sok peduli.
Lusia bertanya kepada Eric kenapa itu tidak mungkin. Apakah Eric sangat mengenal dirinya? Apakah Eric melihat semua kesehariannya? Atau apa Eric mengikutinya? Kenapa dia sangat yakin dengan apa yang dia pikir itu adalah yang paling benar.
"Kenapa kau bertanya dengan raut wajah seperti sedang kesal begitu. Lalu, apa kau benar-benar sungguh sudah menika? Jika tidak, jangan membuat kami terlihat seperti orang jahat. kami tidak akan terggangu bahkan tidak peduli dengan gosip murahan itu" jelas Eric.
Salah satu dari mereka mengatakan jika beberapa dari mereka yang memiliki hidup lebih baik saja masih belum menikah, bagaimana mungkin Lusia bisa lebih dulu menikah. Di tengah perbincangan itu, mulut Rara semakin membuat pedih telinga.
"Mungkin saja itu terjadi" sahutnya membuat semua mata langsung menatap tajam ke arahnya dengan penuh tanya.
Mengapa seorang Rara bisa begitu mudah mempercayai gosip itu. Mereka bertanya-tanya atas dasar apa Rara membernarkan hal itu. Apa mungkin Rara selama ini mencari tahu banyak tentang kehidupan Lusia. Tidak ada alasan Rara melakukan itu kecuali dia masih menyimpan rasa iri kepada Lusia karena menjadi pesaing selama masa sekolah.
Rara menatap sinis Lusia. "Mungkin saja, jika dia dijodohkan dengan pria tua yang kaya untuk memperbaiki kehidupan sosialnya. Lihatkan dia sekarang, bahkan dia bisa tampil sempurna" lanjut ucap Rara dengan mulut lancipnya.
Duukkkkk....!!!
Terdengar suara gelas yang diletakkan diatas meja dengan kasar oleh pria yang duduk di meja sana. Pria itu mengepalkan tangannya lalu bangkit dari duduknya. Saat ia baru berdiri, terdengar bunyi beep pada ponselnya menandakan adanya pesan masuk.
[Aku sudah sangat muak, aku akan meninggalkan tempat ini. Bisakah kau datang menjemputku sekarang?]
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***