Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 143 - Kau Tidak Mencintainya


__ADS_3

Masih dimalam yang sama, Rayn tiba-tiba meminta Kelvin untuk bertemu dengannya dan merekapun bertemu lagi. "Apa Lusia sudah mulai merasa baik?" tanya Kelvin kepada Rayn.


"Hari ini telah menjadi hari yang sangat panjang untuknya, tapi dia akan melewatinya dengan biak, kau tidak perlu khawatir." jawab Rayn.


Meskipun saat ini bukan momen yang tepat, tapi Kelvin menyempatkan diri mengucapkan kata selamat kepada Rayn atas pernikahannya dengan Lusia. Jika tidak sekarang, Kelvin tidak yakin apakah dia masih akan memiliki kesempatan untuk mengatakan itu kepada Rayn langsung.


Kelvin tampak sangat serius mengatakannya. "Selain itu, aku akan menarik kata-kataku yang mengatakan jika kau tidak mampu melindunginya. Dan aku mengatakannya dengan tulus" lanjut ucap Kelvin.


Rayn bertanya, kenapa Kelvin menarik kata-katanya disaat Rayn sendiri mengakui jika dengan kondisinya saat ini, dirinya tetap akan menjadi orang yang tidak bisa menjaga atau bahkan tidak akan pernah bisa melindungi Lusia. Mungkin bagi orang lain yang melihat hubungan Rayn dan Lusia juga akan berpikir sama dengan Rayn. Hapephobia yang di derita Rayn adalah sebuah penghalang.


Namun, kali ini Kelvin mulai menyadari jika melindungi seseorang bukan hanya sekedar menjaganya untuk tidak terluka secara fisik, tetapi melindungi hati dan juga mempertahankan kepercayaan yang diberikan adalah hal yang paling penting dalam menjaga sebuah hubungan.


Dan sayangnya, hal itu yang tidak pernah dimiliki Kelvin untuk Lusia. Kelvin sadar, jika semua tentang dirinya hanya akan selalu berakhir dengan luka yang tidak pernah sanggup ia pertanggung jawabkan.


"Lalu, kenapa kau ingin bertemu denganku?" tanya Kelvin.


Rayn memalingkan tubuhnya menatap ke langit, ia terdiam sejenak lalu menoleh kembali memandang ke arah Kelvin yang masih menunggu jawabannya. "Apa kau sangat mencintainya?" tanya Rayn tiba-tiba.


Pertanyaan yang begitu abu-abu dan mengejutkan Kelvin. Kelvin tidak mengerti kenapa Rayn mempertanyakan hal itu dalam situasi saat ini. Apa dia akan menyerah lagi? atau sebaliknya dia akan meminta hal itu dariku? Pertanyaan yang bisa Kelvin pikirkan sekarang.


Kelvin tidak menjawab pertanyaan itu, ia justru berbalik tanya kepada Rayn tentang alasan kenapa dia menanyakan hal itu kepadanya.


"Jika kau ingin aku menyerah, aku sudah melakukannya. Jika kau ingin aku melupakan perasaanku, meskipun sulit aku tahu jika aku harus melakukannya. Tapi...." ucap Kelvin dengan lantang lalu tertahan. "Tapi, aku sungguh tidak mengerti kenapa kau mempertanyakan hal itu kepadaku sekarang" lanjut ucap Kelvin.


"Kau tidak pernah mencintainya!" sahut Rayn dengan tatapan serius.


"Apa maksudmu?" tanya Kelvin.


POV Rayn


Semua tentang perasaanmu, kau tidak pernah mengatakannya selama ini dengan alasan jika itu untuk melindunginya. Lalu apa yakin jika kau sudah melindunginya? Kau selalu tahu jika pada akhirnya hanya akan membawa penyelasan karena itu kau memilih untuk tidak melangkahkan kaki yang kau pikir jika itu akan melewati batas.

__ADS_1


Kau memutuskan untuk menunggu tapi kau sama sekali tidak mengamatinya. Melihatnya hadir dihadapanmu dengan senyum sudah cukup melegakanmu karena bagimu itu artinya dia baik-baik saja. Kau tidak pernah mencoba mencari tahu apa arti dibalik senyum yang dia urai apakah ada hati yang gembira atau ada luka yang ia coba tutupi.


Kau selalu berpikir jika semua yang kau lakukan sudah cukup dan tidak perlu mengharapkan sesuatu yang lebih. Hanya cukup bisa berada disisinya dan sudah cukup untuk memastikan dia tersenyum bahagia. Itulah perasaan yang kau yakini sebagai cara untuk melindunginya. Lalu, apa kau pernah berpikir jika yang kau lakukan selama ini bukanlah melindunginya, tapi melindungi perasaanmu sendiri.


Persaaan yang kau miliki, semua berawal dari rasa bersalah yang terus mendorongmu pada perasaan ingin menjaganya, kau tidak terluka ataupun menderita. Tapi bukankah perlahan perasaan itu semakin membingungkanmu? Kau bersamanya, tapi yang kau lakukan hanya bisa berdiri ditempat. Itu karena kau tidak pernah menemukan jawaban akan perasaanmu sendiri.


Saat kita benar-benar mencintai seseorang, apapun yang akan terjadi nantinya, bukankan kita harus tetap mengambil satu langkah lebih di depan?


Jika yang aku lakukan akan menyakitinya maka aku juga yang akan mengobatinya. Jika aku orang yang telah membuatnya menangis maka aku adalah orang yang akan memeluknya. Jika keputusan yang aku pilih menyesatkan maka aku juga yang akan membukakan jalan baru untuknya. Dan jika aku harus mendorongnya jatuh, maka aku yang akan menggantikan posisinya.


Bukankan itu yang harus kita perjuangkan jika kita mencintai sesorang? Buat dirimu menjadi satu-satunya orang untuknya. Sehingga dia hanya akan menangis didepanmu, dia akan bersandar dibahumu, dia akan beritirahat dalam pelukanmu, dia akan menggegam tanganmu dan menjadikanmu satu-satunya tujuannya untuk kembali. Bukankah itu yang harus kau lakukan jika kau benar-benar mencintainya?


Back to


POV Author


Dalam diam Kelvin mendengar semuanya dan mulai merasa sangat ingin marah. "Apa saat ini kau sedang menilaiku?" tanyanya kepada Rayn.


"Saat kau mulai merasakan perasaan yang pikir jika kau menyukainya, tapi kau sendiri orang yang terus mengabaikan perasaanmu itu. Dan itu adalah kesalahan yang membuatmu tidak akan pernah bisa menyentuh hatinya" lanjut ucap Rayn.


Kelvin menjadi sangat marah, ia mengepalkan tanganya dengan kuat. Kemarahan itu bukan untuk Rayn yang sudah berani menilai dirinya serta perasaan yang ia miliki untuk Lusia. Tapi dia sangat marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa memahami semua itu.


"Kata cinta itu, seharusnya kau tidak mengatakannya" tegas Rayn kepada Kelvin. Ia membahas ungkapan cinta Kelvin kepada Lusia yang Kelvin ungkapkan bersamaan dengan ucapan perpisahan diakhir.


"Kenapa kau mengatakan kata yang tidak bisa kau pertanggung jawabkan. Apa kau sungguh ingin melepas beban perasaanmu itu? Apa kau pikir dengan begitu artinya semua telah berakhir? Kau seharusnya memendamnya jika pada akhirnya kau benar-benar ingin melepasnya. Meskipun itu akan menyiksa hatimu bahkan seperti meremas dan mengoyak jantungmu, kau seharusnya tetap menahannya. Tidak seharunya mengatakan kata cinta yang hanya akan membebaninya." ucap Rayn dengan sorot mata yang begitu tegas, ia pun berusaha menahan amarahnya.


"Aku menemuimu untuk memperingatkanmu bukan hanya sebagai suaminya. Jangan mengikatnya kembali dengan apa yang telah terjadi terhadap ayahnya. Jangan pernah membawa perasaanmu dalam masalah ini. Berhenti membebaninya dan membingungkannya. Jika kau mengerti ucapanku, kau seharusnya tidak akan memiliki keraguan atau mempertimbangkan apapun. Cukup lakukan apa yang harus dan sudah semestinya kau lakukan." tegas Rayn kepada Kelvin.


Rayn pun lalu pergi meninggalkan Kelvin seorang diri disana. Kelvin hanya menatap langkah dan punggung Rayn yang meninggalkannya. "Aku akhirnya mengerti kenapa Lusia memilihmu" ucap Kelvin lirih.


.

__ADS_1


.


Rayn kembali ke Villa, ia melihat lampu Villa yang menyala, tidak seperti ketika dia meninggalkan Villa. Tanpa ragu, Rayn menekan sandi dan langsung masuk. Di dalam Villa, Lusia berdiri menatap melihat kedatangannya, di genggamnya ponsel dengan raut wajah gelisah menunggunya.


Lusia segera mengahampiri Rayn dan menanyakan dari mana saja Rayn larut malam seperti ini. Rayn melihat pakaian yang dikenakan Lusia kotor. "Apa kau pergi ke Dervilia untuk mencariku?" tanya Rayn yang langsung menduganya.


Lusia mengangguk, dia memang pergi ke Dervilia tengah malam seorang diri tapi tidak menemukan Rayn disana. Lusia kembali setelah dijemput Arka. Arka mendapat laporan dari team pengawas cctv jika Lusia pergi ke sana seorang diri disaat Rayn tidak pergi kesana. Mereka melihat kendaraan Rayn bukan ke Dervilia tapi meninggalkan kawasan Villa, itu sebabnya team pengawas cctv segera melaporkannya kepada Arka.


Lusia sangat khawatir saat tidak menemukan Rayn disisinya saat ia terbangun. Lusia tidak bisa menghubungi Rayn karena ponsel mati. Tanpa kata Rayn langsung memeluk tubuh Lusia. Ia memeluknya erat dan semakin erat, Lusia bertanya apakah terjadi sesautu yang membuat Rayn pergi tengah malam dan kembali dengan sikap yang aneh menurutnya.


"Lusia, kau tau jika aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu" ucap Rayn masih memeluk Lusia. "Apapun yang terjadi, katakan kau tidak akan pernah meragukan perasaanku. Jikapun nanti itu terjadi, aku akan terus meyakinkanmu dan terus akan meyakinkanmu jika aku benar-benar tulus mencintaimu" lanjutnya.


Lusia melepas pelukan Rayn, ia lalu menatap Rayn dengan tatapan yang sendu. Lusia mengangguk dengan senyum yang begitu hangat. "Hal yang sama yang akan aku kulakukan untukmu, karena aku juga sangat mencintamu Rayn" ucapnya.


Rayn meraih dan mendekap kedua pipi Lusia. Rayn terdiam, ia pun semakin lekat menatap wajah Lusia. Tanpa kata Rayn mendekatkan wajahnya lalu mengecup singkat bibir Lusia. Lusia mengurai senyum usai Rayn melepaskan kecupannya. Lusia mendekap rahang dan jenjang leher Rayn lalu membalas kecupan itu dengan ciuman lembut yang menghanyutkan suaminya.


Rayn kembali memagut bibir Lusia lebih dalam, meraih pinggul sang istri untuk lebih dekat dan terus menyapu bibir manis Lusia hingga merasuk rongga mulut sang istri. Keduanya saling bertautan kecupan dan sesekali melepasnya untuk melempar senyum. Rayn kembali dan terus menyambar senyum indah Lusia yang menggetarkan jantungnya itu dengan ciuman liarnya.


Tanpa melepas tautannya, Rayn menggendong tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dengan perlahan ia menjatuhkan tubuh Lusia diatas tempat tidur. Tangan Rayn mulai melepas setiap helaian yang melekat seiring dengan tautan yang tidak ingin ia lepaskan. Rayn menyingkirkan semua yang menghalanginya meninggalkan jejak kepemilikannya.


Rayn kembali merangkak ke atas mendaratkan hujan ciumannya.Tangan Rayn mulai bergerak san terus bergerak memberikan sebuah rasa nikmat disetiap lekuk keindahan yang dimiliki Lusia melalui sentuhan hangat dari jemarinya.


Dengan nafas yang memburu Rayn kembali menatap wajah cantik Lusia yang mempesona, wajahnya menengadah ke atas dengan dagu yang menggunggah dirinya untuk menccumbunya lebih dalam malam ini.


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2