Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 117 - Drama Romansa Canada


__ADS_3

Rayn membawa Lusia pergi menikmati liburan untuk pertama kalinya. Mungkin dimata orang lain Ryan masih belum bisa memberikan kencan yang sempurna untuk Lusia karena phobia yang dimilikinya. Tapi, arti kesempurnaan bagi Rayn bukanlah hanya sekedar membuat wanita yang dicintainya bisa menikmati kebersamaan yang dilakukan pasangan lain pada umumnya. Kesempurnaan itu hanya cukup dengan membuat Lusia bahagia setiap kali berada disisinya dengan penuh kenyamanan tanpa ada rasa cemas, gelisah atau apapun itu.


"Tunggulah sebentar lagi, aku akan mewujudkan kesempurnaan itu untukmu."


Itulah janji Rayn yang hanya dapat ia utarakan dalam hati saat melihat wanita didepannya itu mengurai senyum kepadanya sembari menunjukkan bunga Aster putih ditangannya. Keduanya saat ini berada di sebuah toko bunga.


"Apa kau tahu arti dari Bunga Aster?" tanya Lusia kepada Rayn.


"Bukankah kau yang lebih ahli dalam hal ini?" gurau Rayn. "Apa itu sesuatu yang baik?" lanjut tanyanya.


Lusia mengangguk " Bunga Aster melambangkan sebuah kesucian dan kepolosan seseorang yang baru" jelas Lusia.


"Apa artinya buang ini cocok untuk seorang ibu atau kelahiran anak?" tanya Rayn.


Lusia membenarkan apa yang dikatakan Rayn. Mendengar hal itu, Rayn langsung mendekat dan meminta penjaga toko memberinya 1 buket.


1 buket Bunga Aster pesanan Rayn telah selesai. Rayn lalu memberikan bunga itu kepada Lusia. "Aku tidak punya kenalan seorang ibu baru ataupun teman yang baru saja melahirkan. Tapi, aku punya wanita yang akan menjadi calon ibu untuk anakku" ucap Rayn sembari meletakkan buket bunga itu ditangan Lusia lalu berjalan keluar toko lebih dahulu.


Calon Ibu untuk anakku? Kata-kata ini membuat wajah Lusia mematung dengan wajah yang memerah bak kepiting rebus. Ia menelan salivanya sembari mengelus perutnya.


"Tidak, tidak, tidak Lusia... jangan masuk kedalam perangkap gombalannya" ucap Lusia menyadarkan dirinya untuk tidak jatuh dalam pesona kata Rayn.


Rayn lalu mengajak Lusia ke bioskop, Rayn sudah menyewa semua kursi sehingga hanya ada mereka berdua menikmati film yang sedang diputar. Lusia merasa jika Rayn tidak perlu melakukannya, tapi kali ini ia tidak akan mengeluhkan sikap Rayn yang membuang banyak uang hanya untuk bisa pergi ke bioskop bersamanya.


Film telah diputar, Lusia menggenggam tangan Rayn dan menyandarkan kepalanya di bahu Rayn. "Kau sudah menyiapkannya untukku, maka aku akan menikmati setiap kebersamaan bersamamu" gumam Lusia lanjut menikmati film yang diputar.


Usai menonton film bioskop, lagi-lagi Rayn menyiapkan sesuatu yang pasti akan membuat iri semua wanita di dunia ini. Rayn telah melakukan reservasi sebuah restauran italia. Tidak hanya satu meja untuk dirinya dan lusia, tapi semua meja sehingga seluruh pelayan hanya akan melayani mereka berdua.


Menikmati hidangan mewah bersama pria tampan yang mereka lihat begitu sangat sempurna adalah impian setiap wanita. Hal ini membuat para waiters saling berbisik karena merasa iri dengan Lusia.


"Karena kau menyewa semua meja, membuat mereka semua hanya memandang kita" bisik Lusia kepada Rayn.


"Apa kau tidak nyaman dengan ini?" tanya Rayn.


Lusia tersenyum dan menggelengkan kepala. "Ini tidak akan menggangguku, karena aku hanya akan melihatmu" ucapnya.


Keromantisan dua sejoli ini memang terlihat sempurna dan membuat iri setiap orang yang melihatnya. Namun, mereka tidak pernah tahu jika semua tercipta karena kelemahan akan phobia Rayn yang tidak akan membiarkan orang lain berada dekat dengan dirinya. Tapi Lusia sangat mengerti karena Rayn sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk dirinya. Selama itu adalah Rayn, maka apapun itu akan menjadi kebahagiannya.


Setelah menikmati hidangan italia, keduanya kini menelusuri kota Quebec yang merupakan sebuah kota tua yang indah dan juga menawan. Berdua menjelajahi jalanan berbatu melewati bangunan abad ke-17 yang terpelihara dengan baik, suasana yang teduh dan jalanan yang basah setelah turun hujan.


Rayn tersenyum saat melihat senyum manis Lusia yang menikmati aroma petrichor yang ditinggalkan oleh hujan. Satu tangannya menggandeng tangan Rayn dan satu tangannya memegang buket bunga yang Rayn berikan.


Selama bersama Lusia dan menggenggam tangannya, maka hal itu mampu memberikan kenyamanan dalam mengurangi phobia Rayn. Hanya cukup tidak membiarkan orang lain menyentuh dirinya, Rayn masih bisa bertahan.


Rayn sesekali menunjukkan rasa tidak nyamannya kepada orang-orang yang dikirim Miceky karena terus mengawal ketat mereka berdua. Meskipun orang-orang itu berpenampilan bak wisatawan dan penduduk lokal, namun gelagat mereka sangat kentara. Hanya Lusia yang tidak tahu dan menyadari hal itu karena Rayn tidak memberitahunya.


Kekesalan Rayn memuncak ketika dirinya dan Lusia tengah menikmati keindahan kota Quebec, tiba-tiba seorang pengendara sepeda meluncur tak terkendali ke arah keduanya.


Pengendara sepeda itu membunyikan bel legendaris dari sepedanya berulang kali dan berteriak jika rem sepedanya tidak berfungsi. Dengan sigap seorang pengawal yang menyadari itu berlari menghampiri keduanya.


Melihat sepeda itu datang ke arah Lusia, Rayn hendak menarik tubuh Lusia untuk menghindari sepeda itu, tapi secara bersamaan seorang pengawal mendekat dan lebih dahulu meraih tangan serta menarik tubuh Lusia.

__ADS_1


Menyadari hal itu Lusia segera melepas gandengan tangan Rayn agar pengawal tidak menyentuh tubuh Rayn. Gerakan sang pengawal saat menarik tubuhnya membuat Lusia harus berakhir dalam pelukan pria bertubuh besar dengan postur yang menawan itu.


Kejadian terjadi begitu cepat dan singkat, beruntung Lusia terhindar dari tabrakan sepeda berkat para pengawal yang sigal dalam waktu yang pas.


-------


Author POV


[Waktu yang pas...????]


[Author, apa maksudmu dengan waktu yang pas?" keluh Rayn kepada penulisnya. Haha]


--------


Meskipun lega karena tidak terjadi sesuatu dengan Lusia, namun Rayn menjadi sangat kesal. Jika bukan karena pengawal itu, Rayn sendiri pun sudah bisa melindungi Lusia. Ia justru tidak bisa melakukannya karena tiba-tiba pengawal itu muncul.


Waktu yang pas itupun juga bisa saja menjadi miliknya, termasuk pelukan itu juga hampir saja akan menjadi miliknya. Inilah yang dipikirkan Rayn dalam kekesalannya yang merasa jika para pengawal itu telah mengacau kesempatan emasnya untuk menunjukkan sisi Boyfriend nya.


Rayn pun langsung menghubungi Mickey, tanpa menyapa ia langsung mengeluhkan semuanya saat setelah Mickey menjawab panggilannya. "Apa kau yakin sudah memberi arahan kepada orang-orang mu bagaimana cara melalukan perlindungan bukan mengacaukan?" tegas tanya Rayn dengan nada suara yang terdengar sangat kesal.


"Mengacau?" tanya Mickey santai. "Aku rasa bukan mengacau jika yang mereka lakukan adalah menjalankan tugas sesuai dengan yang aku perintahkan" lanjut jelas Mickey.


"Menjalankan tugas katamu? Apa maksudmu mengambil kesempatan emas miliku itu adalah tugas yang kau berikan?" potong Rayn.


Ya, bagi Rayn kejadian itu seharusnya bisa menjadi kesempatannya untuk bisa menunjukkan sisi terbaiknya, tapi sayangnya kesigapan para pengawal yang dikirim Mickey selalu saja merusak segalanya. Ia sudah cukup bersabar bersikap seolah tidak mengenal mereka, bahkan Rayn dengan terpaksa menunduk mengucapkan kata terima kasih atas bantuan mereka.


Mickey pun tertawa keras di atas kekesalan Rayn. "Apa mereka melakukan sesuatu yang membuatmu cemburu?" tanyanya.


"Cemburu? Hah, tarik semua orang-orangmu sebelum aku melakukan sesuatu kepada mereka!" perintah Rayn dengan nada mengancam.


"Apa itu cukup dan bisa kau terima?" tanya Mickey. Tanpa menjawab, Rayn langsung menutup teleponnya.


Rayn dan Lusia pun kembali melanjutkan kegiatan mereka menikmati keindahan kota Quebec. Belum jauh mereka berjalan, langkah Lusia terhenti saat melihat seorang pelukis jalannya. Lusia menyarankan Rayn untuk meminta pelukis itu melukis mereka berdua.


"Kau ingin dia melakukannya ? Kenapa ? Disaat kau tahu jelas jika pria depanmu ini juga bisa melukis untukmu" ucap Rayn membanggakan diri.


Lusia hanya ingin memiliki kenangan bersama saat berada di suatu tempat paling estetik di Quebec Kanada yang memiliki jutaan pemandangan yang mempesona.


"Baiklah, jika begitu bagaimana jika kita berfoto saja" sahut Lusia seketika mendengar penolakan secara tidak langsung dari Rayn untuk dilukis.


Lusia lalu pergi meminta seorang pria untuk membantunya mengambil gambar. Namun Ryan menolak karena pria yang dituju Lusia adalah salah seorang pengawal yang diutus Mickey. Rayn sudah terlanjur sensi dengan mereka semua karena itu ia tidak ingin meminta bantuan orang-orang itu.


Rayn kemudian meraih ponsel Lusia dan pergi ke seorang pria musisi jalanan yang sedang merapikan alat musiknya setelah mengamen di sana. Rayn meminta bantuannya dan pria itu tampak senang untuk bisa membantu Rayn. Lusia pun segera menggandeng tangan Rayn dan bersiap untuk mengambil posisi, namun pria itu mengatakan sesuatu yang tidak Lusia mengerti karena menggunakan bahasa perancis.


"Aku akan menciptakan kenangan paling indah untuk kalian berdua. Jadi tersenyumlah" ucap pria itu dalam bahasa perancis.


Lusia tampak bingung, ia mendekati Rayn dan berbisik. "Aku yakin kau pasti mengerti apa yang dikatakannya. Apa yang dia katakan?" tanya Lusia penasaran.


Rayn tersenyum lalu menjawab dengan berbisik kepada Lusia. "Ciptakan pose paling romantis, karena itu syarat mutlak bagi semua pasangan yang mengambil gambar di kota ini agar hubungan mereka bertahan hingga tutup usia. Itu yang dia katakan" jawab Ryan berbohong kepada Lusia.


"Pose paling romantis?" tanya Lusia berpikir keras. "Perkataan sependek itu kenapa panjang sekali artinya" lanjut gumam Lusia berbicara sendiri

__ADS_1


Rayn mengangguk. "Ya, apa kau tahu pose romantis gaya pasangan barat?" tanya Rayn.


Melihat ekspresi wajah Lusia yang percaya akan kebohongannya, Rayn lanjut kembali mengelabui Lusia dengan mengatakan jika sepertinya pria musisi jalanan itu adalah penduduk keturunan asli yang mempercayai mitos budaya di kota ini. Rayn menyarankan Lusia jika tidak ada salahnya mencoba mengikutinya dan menganggapnya sebagai doa atau hal yang baik.


"Ok, pose paling romantis" ucap Lusia mulai memposisikan dirinya mengambil pose.


Lusia berbalik berdiri tepat menghadap Rayn, bahkan ia berdiri tepat didepan Rayn dengan jarak yang begitu dekat. Ia meraih tangan Rayn lalu mengarahkan kedua tangan Rayn memeluk pinggangnya. Lusia lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Rayn.


"Apa ini pose yang menurutmu romantis?" tanya Rayn yang saat ini merasa sangat gugup dengan apa yang dilakukan Lusia. Ia tidak menyangka jika Lusia akan mempercayai ucapnya dan benar-benar melakukannya.


"Minta dia mengucapkan hitungan 1-2-3 dalam bahasa inggris" perintah Lusia kepada Rayn untuk meminta pria itu memberinya aba-aba sebelum mengambil gambar.


"Baiklah. Lalu, apa aku hanya perlu menatapmu seperti ini?" tanya Rayn tersenyum menatap wajah Lusia yang kini tepat didepan matanya. Wajah cantik yang membuatnya begitu sangat gugup.


Lusia mengangguk disertai senyuman yang begitu manis. Ketika semua sudah siap, pria itu mengatakan jika dia akan mulai mengambil gambar dalam hitungan ke 3. Kali ini pria itu berbicara dalam bahasa inggris.


1-2-3....


Cup.... 📸


Tepat dalam hitungan ketiga, Lusia menaikkan badannya dan mengecup bibir Rayn. Jepretan pun tercipta tepat disaat Lusia mencium bibir Rayn sembari melingkarkan kedua tangannya dileher Rayn. Ya, memang ini yang direncakan Lusia, pose romantis gaya pasangan barat. Background bangunan tua diwarnai cahaya matahari yang mulai meredup dan warna langit yang berubah menjadi merah jingga menambah indah hasil foto mereka.


Lusia terlihat bahagia berhasil menciptakan momen itu, namun berbeda dengan Rayn yang justru membulatkan mata karena serangan tiba-tiba dari wanitanya. Melihat reaksi Rayn, Lusia seketika menjadi malu karena ia sendiri baru menyadari jika mereka melakukannya ditempat umum. Begitu banyak pasang mata yang melihat dan justru ikut bahagia melihat kemanisan keduanya.


Lusia sontak melepaskan rangkulan tangannya dan berbalik hendak mengambil kameranya dari pria itu. Namun secara tiba-tiba Rayn menahan tangan Lusia dan menarik tubuh wanita itu untuk kembali ke posisinya.


"Apa kau ingin lari setelah berbuat curang? Apa kau tidak tahu jika aku tidak terlihat natural didepan kamera karena terkejut?" ucap Rayn sembari menarik tubuh Lusia untuk lebih dekat.


"Lalu?" tanya Lusia dengan polosnya.


"Lalu..., mari kita lakukan sekali lagi dengan benar" bisik Rayn.


Rayn melingkarkan kembali kedua tangan Lusia ke jenjang lehernya. Ia pun meraih pinggang Lusia dan menariknya untuk lebih dekat. Rayn menatap manik mata Lusia dengan tatapan yang begitu manis, satu tangannya mendekap pipi Lusia.


"Aku mencintaimu Lusia... "


Rayn mendekatkan wajahnya dan mencium bibi ranum kekasihnya itu. Lusia pun membalas ciuman itu sehingga semakin membuat iri semua pasangan yang ada di sana.


Pria musisi jalanan pun tersenyum lalu kembali mengarahkan kamera ditangannya dan mengambil gambar Rayn dan Lusia lagi. Tentunya jepretan gambar disaat Lusia dan Rayn masih saling berciuman.


"Aku mencintainya, wanita yang sudah menjadi bagian dari rencana masa depanku. Aku menginginkannya, wanita yang mampu mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, merubah kekhawatiranku dengan kebahagiaan, mencintai seseorang yang tidak sempurna sepertiku dengan cara sempurna. Hanya dia, satu-satunya wanita yang aku inginkan bersanding denganku hingga tutup usiaku."




Author kasih visual lagi nih, biar tambah gemesss...


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2