Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 36 - Anak AYam


__ADS_3

Rayn mengambil nafas panjang dan menghelanya perlahan. Ia memutuskan mendengarkan Lusia dan kembali mengikutinya.


“Ini adalah toko buku yang sering aku kunjungi dulu bersama dengan Reisa dan David. Kita sudah melakukan survei jika disini memiliki harga paling murah dari toko yang lain” ucap Lusia terus berbicara kepada Rayn agar perhatiannya teralih mendengarnya.


Arka memberi kode jika lorong baris rak buku dongeng yang ingin Lusia tuju, tidak ada pengunjung.


“Jadi kau membawaku kesini hanya untuk mengenang masa nostalgia kalian?” tanya Rayn kepada Lusia.


“Tentu saja tidak, bukankah kau suka membaca buku. Aku membawamu kemari karena itu. Disini kau bisa membaca buku tanpa harus membelinya. Tetapi jika kau menginginkannya, kau juga tetap bisa membelinya dengan mendapatkan yang baru” jawab Lusia.


“Aku pun tahu jika aku suka membaca buku. Tapi, maksudku kenapa harus kemari sementara aku bisa melakukannya di Villa untuk membaca. Lagi pula aku bisa meminta Mickey memesankan buku yang aku mau” ucap Rayn.


“Kau benar, apapun bisa kau lakukan di Villa. Bahkan, melihatmu bisa tumbuh sampai sebesar ini hanya dengan diam di Villa sudah menunjukkan jika kau bisa hidup dan tidak butuh dunia luar. Ibarat anak ayam, yang tetap bisa bertahan hidup meskipun hanya dikurung di dalam kandang asalkan tetap diberi makan” ucap Lusia sembari berjalan melihat barisan buku dongeng di rak.


“Kau samakan aku dengan anak ayam?” tanya Rayn melepas genggamannya lalu menghadang langkah Lusia dan berdiri tepat didepan Lusia.


Lusia tampak berpikir sejenak untuk menjawab. “Hanya perumpamaan” jawabnya dengan mengangguk. Sementara tangannya merayap mengambil sebuah buku dongeng secara acak.


“Baperan sekali” gerutu Lusia lirih dengan memberikan buku yang asal ia raih kepada Rayn tanpa memeriksanya.


Rayn mengerutkan keningnya membaca judul buku dongeng yang Lusia berikan kepadanya ‘Kisah Anak Ayam dan Anak Rubah’ .


“Kenapa? Kau tidak menyukainya? OK, akan aku carikan yang lain” sahut Lusia melihat reaksi Rayn sambil mengintip judul buku dongeng yang sudah ia berikan kepada Rayn.


Lusia terkejut melihat judul buku yang terlihat seperti sengaja menyindir Rayn. Ia sontak mengambil kembali buku dongeng itu dari tangan Rayn, namun Rayn menahan bukunya.


“Apa yang kau lakukan? Sepertinya cerita ini memang sangat cocok untukku. Aku bisa belajar bagaimana menjadi Anak Ayam yang bisa melawan si Anak Rubah” ucap Rayn merampas buku itu kembali dari tangan Lusia. Ia membawanya pergi setelah memberi senyum sinis kepada Lusia.


“Lalu, apa baginya akulah si Anak Rubah itu?” tanya Lusia dengan menunjuk dirinya sendiri kepada Arka yang berdiri tidak jauh darinya.


“Untuk mengetahui jawabannya, sepertinya anda juga perlu membaca kisahnya terlebih dahulu bersama Tuan Ryan” jawab Arka dengan tersenyum lalu pergi mengikuti Rayn.


Lusia menatap keduanya dengan kesal. “OK, kalian belum pernah lihat apa jadinya jika mengusik Rubah Betina dan membuatnya marah” sahut Lusia.


Rayn duduk di kursi membaca buku yang Lusia asal berikan kepadanya. Lusia pergi menelusuri rak buku di lorong lain. Dilewatinya tiga orang gadis yang terlihat asyik di lorong itu.


“Wah, sumpah nih. Ganteng banget kalau Kang Daniel pilih model rambut begini. Manly banget… ” bisik seorang wanita yang lagi asyik dengan kedua temannya.


“Aku merasa Cha Eun Woo atau Dadi Tang masih lebih cool darinya?” sahut wanita lain.


Mendengar antusias mereka terhadap para pria tampan, membuat Lusia terpikirkan sesuatu. Ia yakin jika ketampanan Rayn juga bisa menggoda mereka. Lusia mencoba memancing dan menggiringnya agar berada dalam 1 meja dengan Rayn.


“Aku masih klepek-klepek dan bertahan setia dengan Babang Sungkyu” celetuk Lusia tiba-tiba diantara mereka.


“Kau benar, aku juga suka dia” sahut seorang wanita lalu melirik ke arah sumber suara dari orang yang tidak ia kenal tapi asal nyamber saja. Lusia tersenyum, perlahan ia mencari kesempatan untuk bergabung dengan mereka dan mengikuti obrolan mereka .

__ADS_1


“Benar kan..., jadi kau juga penggemarnya” ucap Lusia. Bertemu dengan sesama fangirl membuat jiwa K-Pop nya langsung bergejolak.


“Apa mereka tahu SungKyu mana yang kau maksud? Anggap saja dia memang juga menggemari artis bernama SungKyu, tapi belum tentu kita membicarakan orang yang sama dari sekian banyak idol bernama SungKyu … haha” ucap dalam hati Lusia.


“Oh ya. Apa kalian tahu, jika di sana ada seorang pria yang sedang duduk membaca buku. Dia ganteng banget… bahkan dia tahu tempat duduk yang memiliki estetika untuk melengkapi kegantengannya. Bagaimana kalau duduk di sana melanjutkan perbincangan para suami online kita?" Bisik Lusia kepada gadis-gadis itu.


“Haha, lebih tepatnya suami halu kita.Tapi ngomong-ngomong pria yang kau bilang tadi, pasti dia sudah ada pacar “ sahut seorang gadis.


“Aku yakin tidak punya, aku sering lihat dia datang seorang diri. Kan lumayan membaca buku ditemani pemandangan yang memanjakan mata" jawab Lusia.


“Kau sering datang kesini? Aku tidak pernah melihatmu” tanya seorang gadis lain.


“Haha, mungkin karena kita sering datang diwaktu yang berbeda. Jadi, karena itu kita jarang bertemu.


“Sudah, sudah, sudah. Kita pergi lihat saja” ajak gadis lain yang terlihat sangat penasaran dengan terburu-buru ingin membuktikan ketampanan pria yang dibicarakan Lusia.


Gadis-gadis itu pergi menghampiri Rayn yang duduk seorang diri, sementara Arka berdiri dengan jarak 1 meter dibelakang Rayn. Menyadari beberapa orang mulai mendekat membuat Rayn tidak tenang. Perlahan ia meraih ponselnya untuk menghubungi Lusia. Namun tiba-tiba Rayn mengurungkan niatnya saat melihat Lusia berjalan dibelakang gadis-gadis itu ke arahnya.


Ryan melambaikan tangannya kepada Lusia agar datang kepadanya, namun lambaian Rayn yang juga mengarah kepada gadis-gadis itu membuat mereka salah mengira.


"OMG, apa dia baru saja memberi kode untuk duduk di sana" bisik seorang gadis. Mereka tidak mengetahui jika Lusia sebenarnya mengenal Rayn.


Gadis-gadis itu menghampiri menyapa Rayn dengan senyum lalu duduk dimeja berhadapan dengan Rayn. "Wah, dia ganteng banget" bisik seorang gadis kepada temannya sambil duduk. Seorang gadis menyarankan Lusia duduk disebelahnya.


Ryan hanya fokus menatap Lusia. Ia mengerutkan keningnya menatap Lusia yang tersenyum pada gadis itu dan duduk di samping mereka. Rayn berusaha menahan diri untuk tetap tenang melihat Lusia sengaja mengabaikannya.


Pertanyaan Arka justru mengundang heboh para gadis itu. "Apa, Tuan? Apa dia pengawalnya? Sepertinya pria itu sangat kaya sampai memiliki pengawal. Sudah kaya, ganteng lagi" bisik gadis itu. Lusia hanya diam menunggu reaksi Rayn.


Rayn mengamati sikap Lusia yang sengaja seolah tidak mengenalnya. Lusia hanya berinteraksi canggung dengan para gadis yang Rayn pikir mungkin teman mereka adalah temannya.


Para gadis itu terus berbisik soal ketampanan Rayn. Terlihat salah seorang gadis berusaha diam-diam mengambil gambar Rayn.


"Kalian tidak boleh mengambil gambarnya!" teriak Lusia berdiri tiba-tiba menutup lensa kamera ponsel gadis itu dengan tangannya. Sikap Lusia mengejutkan mereka.


"Kau bilang dia tidak mungkin punya pacar, jadi harusnya tidak apa selama dia tidak keberatan" sahut gadis.


"Bagaimana kau tahu dia tidak keberatan sementara kau tidak ada meminta izin terlebih dahulu kepadanya" ucap Lusia.


"Kau yang menyarankan kita untuk bisa menikmati ketampanannya dengan duduk disini, aku hanya mengambil kesempatan" celetuk gadis itu.


"Apa yang kalian lakukan? Turunkan suara kalian!" Perintah salah satu temannya.


"Ehemm... Nona Lusia" sahut Arka meredakan suara keduanya yang tidak menghargai jika orang yang sedang diperdebatkan ada didepan mereka.


Lusia sontak duduk, dan gadis itu langsung diam. Mereka baru menyadari jika baru saja kehilangan kontrol sementara masih ada Rayn disitu.

__ADS_1


"Tunggu, jadi kau mengenal mereka?" tanya seorang gadis kepada Lusia setelah mendengar Arka memanggil nama Lusia.


Lusia tampak bingung dan hanya bisa merespon dengan senyum polos nampak canggung. "Tamatlah riwayatku" gumam Lusia dalam hati.


"Lusia, apa yang kau lakukan di sana? Kau tidak ingin pulang?" tanya Rayn setelah menutup buku yang ia baca dengan kasar.


"Jadi kalian saling kenal? Wah, apa jangan-jangan sebenarnya kau sedang ribut dengan pacarmu?" tanya gadis itu kepada Lusia.


"Aku mewakilinya meminta maaf jika istriku sudah membuat kesalahpahaman" ucap Rayn menunduk sopan kepada mereka. Lusia sontak melotot mendengar ucapan Rayn.


"Jika kau sedang kesal dengan suamimu jangan melibatkan orang lain" ucap mereka.


"Maafkan aku, tapi bukan begitu" jawab Lusia kepada mereka menyadari situasinya menjadi kacau.


"Kenapa juga kau harus mengatakan... " lanjut ucap Lusia kepada Rayn. Namun Rayn sudah pergi meninggalkannya dengan Arka.


"Maafkan aku" ucap Lusia menunduk kepada mereka lalu pergi menyusul Rayn.


Lusia akhirnya melihat Rayn yang berjalan untuk keluar toko, ia memanggilnya namun Rayn tampak mengabaikannya.


"Maaf, pria tadi mengatakan jika anda akan mengurus administrasi buku yang ia bawa" panggil seorang penjaga kasir kepada Lusia yang asal lewat saja.


"Oh, baik. Tapi dia sudah membawanya, bagaimana anda menerbitkan billnya" tanya Lusia sambil menatap Rayn yang sudah keluar. "Aku akan mengambil bukunya dulu" lanjut ucap Lusia. Ia merasa mungkin masih ada kesempatan untuk mengejar Rayn dengan alasan meminta bukunya.


"Anda bisa membantu saya hanya dengan menyebutkan judul buku yang ia bawa" ujar petugas kasir yang membuat Lusia tidak bisa mengejar Rayn.


"Oh begitu, judulnya "Anak Ayam & Anak Rubah" sebut Lusia perlahan dengan mengingat perdebatannya dengan Rayn soal anak ayam.


Usai menyelesaikan pembayaran Lusia pergi untuk keluar. Dilihatnya Arka yang masih menunggunya diluar. "Dimana Rayn?" Tanya Lusia.


"Tuan Rayn sudah pergi dengan mengendarai mobilnya" jawab Arka.


"Mengemudikannya sendiri?" Tanya Lusia. Arka menjawabnya hanya dengan mengangguk.


"Dan dia meninggalkan kita begitu saja?" lanjut tanya Lusia dan kembali Arka hanya menjawabnya dengan anggukkan.


"Aku tahu dia marah, tapi bagaimana bisa dia meninggalkan kita begitu saja" sahut Lusia.


"Jangan khawatir, saya sudah meminta seseorang untuk menjemput kita. Tuan Rayn bukan meninggalkan kita, tapi.." ucap Arka.


"Dia mungkin memang marah padaku, tapi kenapa dia harus meninggalkanmu juga" sahut Lusia memotong perkataan Arka yang belum ia selesaikan.


Lusia menyadari meskipun niatnya adalah membantu Rayn mengatasi phobianya,tapi cara yang ia lakukan tadi salah. Wajar baginya, jika Rayn marah karena hal itu. Tapi ia merasa jika kepergian meninggalkannya saat ini terlalu kekanakan.


Benarkah Rayn meninggalkan mereka karena marah akan sikap Lusia ?

__ADS_1


*** To Be Continued***


__ADS_2