Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 82 - Ibu


__ADS_3

Seorang pria paru baya memasuki ruangan itu, dengan suara lantang ia memberi perintah kepada Dr. Leona untuk tetap melanjutkan Hipnoterapi.


“Tuan Charles” sapa Dr. Leona.


Dr. Leona terdiam memandang ayah Rayn, ia tidak menyangka jika ayah Rayn akan datang. Bahkan ia mengira ayah Rayn berada di Canada.


“Apa yang kau lakukan? Lanjutkan untuk menemukan pemicunya” lanjut perintah Tuan Charles kepada Dr. Leona yang masih terdiam memandangnya.


Mendengar perintah ayah Rayn kepada Dr. Leona, Lusia melepas genggaman tangannya dari Rayn. Ia berdiri menghampiri ayah Rayn yang berdiri dengan beberapa pengawal di belakangnya.


“Tuan, apa anda yakin dengan perintah anda?” bagaimana anda bisa melakukannya kepada putra anda?” tanya Lusia.


“Apa kau dokter disini?" tanya ayah Rayn. "Itu tidak akan membunuhnya” lanjutnya dengan tatapan tajam kepada Lusia.


"Tuan, aku mohon kepadamu, tolong hentikan. Lihatlah betapa tersiksanya Rayn harus melihat kenangan yang menyakitkan itu. Tuan, apa kau tidak melihat putramu yang menderita?" Lusia terus memohon dengan menangis.


Ayah Rayn mengabaikan permohonan Lusia, ia meminta pengawalnya untuk membawa Lusia keluar dari ruangan itu. Ia tidak ingin Lusia mengganggu hipnosis yang dilakukan Dr. Leona kepada putranya.


"Bawa keluar gadis ini sekarang!" perintahnya dengan berteriak kepada para pengawal.


Lusia yang hendak memohon kepada Dr. Leona langsung dihadang oleh pengawal ayah Rayn, mereka mendekati Lusia untuk menyeretnya keluar sesuai perintah ayah Rayn.


"Tunggu" ucap Dr. Leona.


Dr. Leona meminta kepada ayah Rayn untuk tetap membiarkan Lusia berada di sana. Karena tidak hanya dirinya, namun Rayn mungkin juga akan membutuhkan Lusia.


Ayah Rayn akhirnya mengizinkan Lusia tetap berada di sana namun dengan jarak yang jauh, ia dilarang keras untuk mendekat. Lusia hanya bisa menangis menatap Rayn di sudut ruangan itu dengan penjagaan ketat dari 4 pengawal ayah Rayn.


Dr. Leona kini kembali fokus dengan hipnosis yang ia lakukan kepada Rayn. Ia kembali memberi sugesti untuk membuat Ryan lebih tenang.


“Rayn apa kau tidak berteriak meminta bantuan? Seseorang mungkin akan datang menolongmu" ucapnya.


#Flashback


.


“Siapapun itu, aku mohon selamatkan kami, aku mohon selamatkan ibuku" ucapnya dengan suara yang begitu lemah memandang kaca mobil yang retak.


Suara kecil yang lirih itu tidak akan mempu memanggil siapapun yang ada diluar sana diantara gemuruh kembang api. Rayn kembali menatap ibunya dengan berlinangan air mata. Ia seolah tidak merasakan sakit di tubuhnya yang juga penuh luka. Ia hanya takut akan kehilangan ibunya.


"Ibu, ibu... aku mohon kepadamu, bu...bukalah matamu. Aku janji, aku... aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan melakukan kecerobohanku lagi. Ibu kau mendengarku? Ibu jangan tinggalkan aku. I...i...bu...Ibu" panggilnya dengan menangis terisak.


"Ra...yn....."


Terdengar suara ibunya yang memanggil namanya. Perlahan ibu Rayn mulai mendapatkan kesadarannya.


“Rayn apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" tanyanya dengan suara yang sama lemahnya seperti Rayn.


Dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya, ibu Rayn berusaha meraih tangan Rayn. Namun tubuhnya tidak berdaya, ia kesulitan menggerakkan tangannya sehingga ia tidak mampu meraih tangan putranya.


"Maafkan ibu sayang, apa tanganmu baik-baik saja sayang?” tanya ibu Rayn.

__ADS_1


“Rayn, bertahanlah nak. Bertahanlah sebentar lagi, ibu akan meminta bantuan untukmu" ucap ibu Rayn.


"Ibu...." panggil Rayn dengan menangis.


“Tangan itu, tangan itu tidak boleh sampai terluka. Tangan istimewamu untuk melukis, kau tidak boleh melukainya. Kau bisa berjanji pada ibu sayang?" tanyanya kepada Rayn.


"Ibu, aku berjanji. Aku berjanji selalu mendengarkan ibu, aku berjanji akan menjadi pelukis seperti ibu. Tapi ibu tidak boleh pergi. Tangan ini, tangan ini, aku berjanji akan menjaganya tapi ibu tidak boleh pergi" ucap Rayn dengan menangis.


"Anak ibu" ucap ibu Rayn dengan tersenyum memandang putranya.


"Jika ini adalah akhir dari perjalanan ibu, ibu ingin terlihat bahagia di depanmu nak. Ingatlah wajah ibu yang bahagia untukmu. Apapun yang terjadi kepada ibu, kau hanya boleh mengenang senyum ibu ini sayang."


Sebuah senyum yang terlihat begitu tulus dari seorang ibu dengan penuh kebanggan terhadap putranya. Sebuah senyum yang diikuti dengan tetesan air mata yang mengalir. Ia hanya berdo'a untuk keselamatan putranya.


.


.


.


#Back to hipnoterapi


"Apa saya bisa menghentikannya?" tanya Dr. Leona dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ayah Rayn tidak menjawab, ia hanya diam memandang putranya. Ia tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi dengan putra dan istrinya. Tentu saja ini adalah pukulan berat baginya mengetahui penderitaan yang harus dipikul putranya seorang diri selama ini.


Ayah Rayn akhirnya mengerti kenapa Rayn mendorong dirinya untuk melupakan semua kejadian malam itu. Sebuah ingatan yang terlalu mengerikan untuk anak seusianya saat itu.


Ayah Rayn masih belum mengetahui jika Rayn memiliki ingatan lain setelah kejadian itu, sebuah ingatan dimana ibunya yang seharusnya bisa selamat dalam kecelakaan itu harus meregang nyawa ditangan seorang pria yang masih belum ia ketahui siapa. Rayn dan Dr. Leona masih merahasiakannya dari Mickey dan Tuan Charles.


Setelah mendapatkan sugesti, Rayn perlahan bangun dan membuka matanya, dengan nafas yang tersengal ia mulai menitihkan air mata yang membasahi pipinya.


Ia pun menangis mengetahui jika dirinya sendirilah yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Sebuah kecerobohan yang membuatnya mengalami malam kelam bersama ibunya. Ia pun menangis terisak dengan meremas dadanya yang terasa begitu sangat sesak dirasakannya.


Bulir-bulir keringat dingin terus mengalir dan membasahi tubuhnya. Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya lemas tidak berdaya.


"Dimana Lusia?" tanyanya yang menyadari Lusia tidak ada disampingnya.


“Ryan... “ panggil Lusia yang masih di jaga pengawal ayah Rayn di sudut tepat dibelakang Rayn.


Mendengar panggilan itu, Rayn menoleh. “Apa yang kalian lakukan?" Teriak Ryan melihat Lusia yang dihadang para pengawal ayahnya.


"Rayn tenanglah dulu" pinta Dr. Leona melihat Rayn berusaha bangkit dari kursinya dengan sempoyongan.


Rayn yang sudah berdiri langsung menyingkirkan uluran tangan Dr. Leona yang hendak membantunya bangkit.


"Menjauh dariku!!!" teriaknya dengan nafas yang masih tersengal.


"Rayn..." panggil ayahnya mendekat.


"Apa yang kau lakukan disini, keluar kalian semua...!!!" perintah Rayn dengan melangkah mundur menghindari ayahnya.

__ADS_1


Tubuhnya yang masih lemas tidak mampu menahan tubuhnya dan menjaga keseimbangan, ia pun kembali terjatuh menabrak meja kerjanya. Semua yang ada di sana tidak bisa melakukan apapun karena phobia Rayn.


"Rayn..." panggil Lusia hendak membantunya namun masih dihadang oleh para pengawal.


Lusia menangis harus melihat Rayn yang tidak bedaya harus berusaha bangun seorang diri dengan meraih meja didekatnya. Rayn kembali bangkit mencoba berjalan menghampiri Lusia.


"Menyingkir kalian semua darinya" perintah Rayn kepada pengawal ayahnya.


Para pengawal tampak bingung akan perintah Rayn, Meskipun Rayn adalah putra Tuan Charles, namun mereka tidak berani bertindak tanpa adanya perintah ayah Rayn yang lebih berkuasa terhadap mereka.


"Rayn dengarkan ayah” ucap ayah mencoba mendekati putranya.


Ayah Rayn hanya fokus pada putranya dan mengabaikan perintah Rayn terhadap pengawalnya. Ayah Rayn masih tidak menyadari jika saat ini yang dibutuhkan Rayn adalah Lusia. Satu-satunya yang bisa Rayn andalkan adalah Lusia. Tapi ia tidak bisa mendekati Lusia yang dikelilingi banyak orang.


"Leona lakukan sesuatu, berikan obat untuk membantu menenangkannya.” Perintah ayah Rayn kepada Dr. Leona.


“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan Nona Lusia” perintah Mickey yang memasuki ruangan itu.


Melihat pengawal yang fokus akan kedatangan Mickey, Lusia segera menerobos dengan menggigit salah satu tangan pengawal yang sedari tadia memegangnya.


Rayn kembali berusaha berdiri tegap dan berjalan ke arah Lusia yang berjalan ke arahnya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba melangkah. Satu tangannya menahan sakit di dadanya dan satu tangannya mengulurkan tangannya untuk diraih Lusia.


"Rayn...." ia mendengar suara ibunya memanggil dirinya.


"Rayn..." panggilnya lagi. Namun suara itu kini berganti menjadi suara Lusia yang benar-benar memanggil namanya.


Rayn merasa tubuhnya sudah tidak mampu lagi berjalan, pandangannya menjadi kabur. Samar-samar ia melihat ibunya mengulurkan tangan kepadanya dengan tersenyum.


"Ibu...."


Panggil Rayn lirih menatap ke arah Lusia lalu kehilangan kesadarannya. Ia pun terjatuh dalam pelukan Lusia yang berhasil meraih tubuhnya.


.


.


.


- Epilog


Ibu, apa ibu akan marah jika aku tidak ingin menjadi pelukis?"


Pertanyaan yang ditanyakan Rayn kecil kepada ibunya. Ia duduk dipangkuan sang ibu di depan sebuah easel yang menjepit kertas kanvas lukis yang masih putih bersih.


"Kenapa putra ibu tidak ingin menjadi pelukis? Apa kau tidak menyukainya?"


Tanya sang ibu dengan mengarahkan tangan Rayn memberi goresan pertamanya pada kertas kanvas di depannya.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued***


__ADS_2