Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 83 - Bukan Salahmu


__ADS_3

Mickey segera membantu Lusia untuk membawa Rayn ke kamarnya. Dr. Leona segera menyuntikkan obat penenang dan Rayn pun tertidur. Dr. Leona dan Rayn pamit turun kebawah untuk berbicara dengan Tuan Charles, sementara Lusia tetap menjaga Rayn di kamarnya.


Di kamar Rayn, Lusia tidak berhenti meneteskan air mata seraya menatap Ryan yang terbaring dengan terus menggenggam tangannya.


Lusia sangat mengkhawatirkan kondisi Rayn, ini akan semakin sulit untuk Rayn setelah mengetahui sebuah fakta yang begitu menyakitkan dimana dirinya sendirilah yang menyebabkan kecelakaan itu. Sebuah kecerobohan yang tidak sengaja ia lakukan sehingga membuat ibu dan dirinya mengalami malam kelam itu.


“Itu semua bukan salahmu, kau tidak harus menyalahkan dirimu. Senyum ibumu adalah bukti jika dia tidak pernah menyalahkanmu. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh terluka lebih dalam lagi Rayn. Sudah cukup belasan tahun kau menanggung penderitaan itu seorang diri”


Sebuah ungkapan hati Lusia yang begitu tulus untuk Rayn. Ia meletakkan punggung tangan Rayn dipipinya sehingga membuat tangan itu ikut basah akan air matanya. Lusia kemudian membaringkan kepalanya bersandar disebelah Rayn.


.


.


Di lantai bawah, Mickey berusaha membujuk ayah Rayn untuk sementara mempercayakan urusan Rayn kepada dirinya dan Dr. Leona. Ia juga meminta Tuan Charles tidak perlu mengkhawatirkan soal kehadiran Lusia.


Dr. Leona yang baru saja usai menerima panggilan Dr. Daniel segera menghampiri Tuan Charles yang duduk di sofa tamu menunggunya.


“Apa Dr. Daniel mengatakan sesuatu? Selain penyebab kecelakaan itu, apa kalian menemukan pemicunya?” tanya Tuan Charles tegas kepada Dr. Leona.


“Kami akan segera menemukannya dan saya perlu melakukan hipnoterapi kembali untuk..." jawab Dr. Leona. Belum sampai ia menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh Tuan Charles.


“Apa hanya itu yang dikatakan Dr. Daniel kepadamu?” tanyanya dengan suara tinggi.


“Nyonya Angelina” potong Dr. Leona.


“Sama halnya dengan saya, Dr. Daniel juga mengkhawatirkan jika Nyonya Angelina lah pemicunya” lanjut Dr. Leona dengan suara berat.


“Apa katamu? istriku?” sahut Tuan Charles berdiri dari duduknya.


Nyonya Angelina yang tidak lain ibu Rayn, adalah orang yang memiliki peran kuat dalam phobia Rayn. Tanpa disadari dia sudah memberi sugesti secara tidak langsung kepada Rayn. Saat itu, dalam kondisi mental Rayn yang tidak stabil dengan berbagai tekanan dan rasa takut yang dialaminya, Nyonya Angelina meminta Rayn untuk tidak melukai tangannya, ia mengatakan jika Ryan harus bisa melindungi tangan itu karena Ny. Angelina mengharapkan Rayn bisa menjadi penulis kelak.


“Saya sangat khawatir dengan janji yang Rayn ucapan kepada Ny. Angelina, janji yang mendorong Rayn pada phobianya" jawab Dr. Leona.


"Jika benar Ny. Angelina adalah pemicunya, apa ada jalan untuk menyembuhkannya?" tanya Mickey.


"Kita masih bulum sepenuhnya memutuskan jika itu karena Ny. Angelina. Karena ini kita butuh melakukan hipnoterapi lagi dan membawanya lebih dalam pada titik pemicunya untuk bisa memastikan dan mendapatkan jawaban pemicu sesungguhnya. Tapi, aku rasa kita harus menunggu Rayn lebih tenang dan bisa menerima dahulu tentang fakta apa yang sudah ia lihat hari ini" jawab Dr. Leona kepada Mickey.

__ADS_1


“Aku tidak ingin kalian menunda atau mengulur waktu lagi. Mickey, katakan kepada Rayn jika peringatan ulang tahun ibunya sudah semakin dekat, dan keputusanku soal pameran lukisan sudah bulat. Jika dia tidak ingin aku mengusik lukisan ibunya maka sudah waktunya dia melepas topeng Lotus” perintah Tuan Charles kepada Mickey.


“Tuan Charles, apa anda tidak bisa menunda pameran lukisannya?” tanya Mickey.


“Lakukan saja apa yang aku perintahkan" jawab Tuan Charles.


Tuan Charles meminta asistennya menyiapkan mobil untuk pergi meninggalkan Villa. Dr. Leona hanya menunduk membungkukkan badannya kepada Tuan Charles yang melangkah keluar, sementara Mickey menemani Tuan Charles pergi ke mobilnya.


“Ada apa dengannya? bukankah dia tadi terlihat terpukul dan berempati kepada Rayn? Kenapa tiba-tiba dia kembali memutuskan untuk terus mendorong dan menekan putranya?" gerutu Dr. Leona kepada Mickey yang baru saja kembali masuk ke dalam Villa.


“Bukankah kau yang seharusnya lebih ahli menilai sifat dan tingkahlakunya? Kenapa kau malah bertanya kepadaku “ sahut Mickey.


"Aku mengatakannya setelah melepas jubah kedokteranku" celetuk Dr. Leona kesal.


"Agar kau bisa mengumpat kepadanya?” sahut Mickey bertanya dengan tersenyum. Ia tahu jika Dr. Leona selalu berusaha profesional dalam bekerja, tapi bagaimanapun dia tetaplah wanita biasa yang juga punya rasa kesal.


Dr. Leona menarik nafas dalam lalu menghelanya perlahan. “Aku mengerti apa yang dirasakan Tuan Charles, di satu sisi dia merasakan penderitaan Rayn sebagai seorang ayah, tapi di satu sisi dia tidak bisa mengendalikan kekecewaannya jika kecelakaan itu terjadi karena kecerobohan


putranya sendiri" ucap Dr. Leona merubah mimik wajahnya iba seraya duduk di sofa


"Mickey, apa kau tahu jika Rayn tahu kau telah menyimpan ponselnya?” tanya Dr. Leona kepada Mickey yang duduk di Sofa berhadapan dengannya.


Dengan wajah yang tetap tenang, Mickey hanya menjawabnya dengan gumaman saja. " emm" sahutnya.


"Apa Rayn pernah bertanya kepadamu kenapa ponsel itu bisa ada di tanganmu?" tanya Dr. Leona lagi.


"Apa yang ingin kau tahu?" tanya Mickey. "Dia bilang kepadaku jika dia tidak akan menanyakannya tapi dia akan menungguku untuk mengatakannya" lanjutnya.


"Aku tidak tahu ada apa dengan kalian berdua, kenapa dia harus menunggumu mengatakannya dan kau menunggunya untuk menemukan jawaban sendiri. Tidakkah ini terlalu konyol sementara kalian bisa berjuang bersama mengungkap faktanya?" sahut Dr. Leona tampak geram.


“Apa maksud ucapanmu? Apa ada sesuatu yang kau temukan pada hipnoterapi?" tanya Mickey. Kini ia mulai menatap Dr. Leona dengan memasang wajah serius.


"Rayn kehilangan ponselnya dalam kecelakaan itu dan baginya itu hal wajar jika ia kehilangan. Mungkin ponsel itu sudah hancur dan tidak bisa mendapatkannya kembali. Namun pada akhirnya Rayn tahu kau menyimpannya, ia masih tidak ingin memiliki pikiran buruk kepadamu untuk itu ia tidak bertanya kenapa kau bisa memilikinya dan masih saja menyimpannya. Awalnya bagi Rayn ponsel itu hanya membawa kenangan buruk dan tidak memiliki pengaruh apapun meski dengan kau menyimpannya. Meskipun ingin tahu tapi ia hanya akan menunggumu sampai kau mengatakannya sendiri kepadanya" ungkap Dr. Leona.


"Aku tahu hal itu" sahut Mickey


"Tapi apa kau tahu apa yang dia lihat pada hipnoterapi? Ibu Rayn bukan meninggal karena kecelakaan, tapi ada seseorang yang sengaja datang setelah kecelakaan itu untuk membunuhnya. Pembunuh itu adalah orang terakhir yang membawa ponsel milik Rayn. Jika ponsel itu ada di tanganmu, maka kau pasti tahu siapa pria yang telah keji melakukannya kepada ibu Rayn" ucap Dr. Leona.

__ADS_1


"Apa katamu?" tanya Mickey tidak percaya jika kematian Ibu Rayn bukan sepenuhnya karena kecelakaan.


“Kau sungguh tidak mengetahuinya?" tanya Dr. Leona akan reaksi Mickey. "Lalu, bagaimana kau bisa mendapatkan ponsel itu? Jika kau asal menemukannya, bukankah normalnya yang dilakukan adalah mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya? Kenapa kau menyimpannya?" tanya Dr. Leona dengan ragu.


Dr. Leona tidak ingin mencurigai atau menuduh Mickey, tapi ia tidak punya jalan lain selain membiarkan Mickey tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kenapa kau menanyakan pertanyaan yang seharusnya aku orang yang menanyakan hal itu kepadanya?” tanya Rayn yang berdiri di antara anak tangga.


Mickey dan Dr. Leona segera menghentikan pembicaraan mereka. Keduanya menoleh ke arah Rayn bersamaan.


"Rayn..." panggil Mickey berdiri dari duduknya.


"Apa kau pernah bertemu pria itu?" tanya Rayn tanpa basa basi seraya kembali menuruni anak tangga.


Lusia yang tertidur saat menjaga Rayn terbangun, ia baru menyadari jika Rayn sudah tidak ada di kamarnya. Ia segera berlari keluar kamar mencari Rayn. Ia melihat Rayn sudah menuruni anak tangga dengan wajah serius berbicara dengan Mickey.


"Rayn, aku tidak tahu" sahut Mickey.


"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu Mickey. Malam itu, pada malam kecelakaan itu, bukankah kau seharusnya dirawat di rumah? Itu sebabnya aku yang pergi menggantikanmu pergi ke perayaan itu. Tapi, apa kau meninggalkan rumah dan pergi ke suatu tempat?" tanya Rayn.


"Aku..." jawab Mickey menghentikan ucapannya.


"Saat aku melakukan video call untuk menunjukkanmu pesta kembang api, aku melihatmu sedang berada di dalam mobil. Kau terlihat sedang dalam perjalanan bukan?" tanya Rayn semakin mendekati Mickey.


Dengan wajah yang masih terlihat pucat Rayn menghampiri Mickey dengan pertanyaan yang mengejutkan. Mickey masih terdiam menatap Rayn yang berjalan ke arahnya. Lusia dan Dr. Leona pun ikut terdiam memandang keduanya, menunggu jawaban Mickey akan pertanyaan yang dilayangkan Rayn.


"Apa kau juga pergi ke festival itu? Apa kau datang dan berada di tempat kejadian saat itu?" lanjut tanyanya.


"Rayn..." panggil Lusia dalam hati menatap Rayn.


.


.


.


*** To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2