Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 57 - Siapa wanita itu?


__ADS_3

Sudah larut malam, Lusia baru kembali ke Villa. Ia tidak melihat mobil Rayn terparkir di halaman Villa. Lusia bergegas masuk Villa dan memanggil Rayn sambil menaiki anak tangga menuju kamar Ryan.


“Kenapa mereka belum kembali?” gumam Lusia mendapati kamar Ryan yang kosong. Lusia langsung menghubungi Arka untuk memastikan dimana mereka dan mengapa belum kembali ke Villa.


Dalam panggilan telepon. “Arka… dimana kalian? Kenapa belum kembali ke Villa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Lusia.


“Maaf Nona Lusia, jika kami akan terlambat kembali ke Villa atau mungkin tidak bisa kembali malam ini" jawab Arka


“Kenapa tidak bisa kembali? Apa terjadi sesuatu?” tanya Lusia kembali.


“Memang benar sesuatu telah terjadi, namun mungkin nanti bisa anda bicarakan langsung dengan Tuan Muda Rayn” jawab Arka.


“Apa Rayn baik-baik saja?” tanya Lusia mulai cemas.


“Anda tidak perlu khawatirkan Tuan Muda Rayn, Nona. Saat ini Tuan Muda Rayn berada di tempat yang aman, Nona” jawab Arka.


“Aku bertanya apa dia baik-baik saja?” tanya Lusia dengan nada tegas. “Katakan padaku, kalian ada dimana aku akan pergi kesana” lanjut tanya Lusia.


“Maaf Nona, saya tidak bisa memberi tahu anda dimana kami saat ini, dan untuk kondisi Tuan Muda Rayn, Tuan Ryan sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Maaf Nona Lusia jika saya tidak bisa memberikan jawaban yang bisa memuaskan anda" jawab Arka yang hanya bisa meminta maaf kepada Lusia. "Saya akan menghubungi anda kembali segera jika membutuhkan bantuan anda” lanjutnya.


“OK! Baiklah, itu artinya saat ini dia tidak membutuhkanku. Dia bebas melakukan apapun sesuka hatinya dan aku juga tidak akan menunggunya pulang” ucap Lusia lalu menutup teleponnya dengan nada kesal.


Lusia berpikir jika Ryan sedang menghindarinya. Ia tidak tahu jika saat ini Ryan justru sangat membutuhkannya. Namun, Arka tidak bisa menceritakannya kepada Lusia karena ia tidak bisa memberitahu Lusia soal Dervilia tanpa izin Ryan.


“Apa dia harus semarah itu sampai tidak mau pulang hanya karena aku menolak kembali dengannya? Kenapa dia kekanakan sekali. Terserah dia mau kembali atau tidak, toh juga ada Arka dan Arka mengatakan jika mereka berada ditempat yang aman. Untuk apa aku mencemaskannya. Mungkin juga membuang-buang uang lagi dengan menginap diapartement atau hotel” dumel Lusia kesal kembali ke kamarnya.


Belum sampai 1 jam Lusia mengatakan tidak peduli apakah Rayn akan pulang atau tidak, tapi kini ia sudah berdiri di depan ruang tamu dengan bantal dan selimut ditangannya.


Lusia memandang pantulan dirinya dari jendela ruang tamu. “Apa yang kau lakukan Lusia, apa kau akan menunggunya? Hahaha, kau bilang tidak peduli tapi apa yang membuatmu kini berdiri disini. Ah… sudahlah” ucapnya dengan melempar bantal dan selimut ke sofa ruang tamu lalu membaringkan diri di atasnya.


Waktu terus berlalu, sesekali ia mengintip jam di ponselnya dan memeriksa apakah ada panggilan atau pesan masuk dari Arka. Waktu menunjukkan jam 3, lalu jam 4, dan jam 5 pun sudah berlalu tapi Ryan belum kembali. Lusia masih lanjut menunggu hingga akhinya ia tertidur di sofa.


Kini waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi, ia terbangun dan lekas mengintip jendela namun masih belum melihat mobil Ryan. Dengan begitu artinya Ryan masih belum kembali. Lusia mulai panik, ia segera meraih ponsel untuk menghubungi Mickey, mungkin saja jika Ryan menginap disana.


.


.


Di Dervilia, Arka berusaha mengetuk pintu dari luar, ia memastikan apa Ryan masih tidur atau sudah terbangun. Arka mencoba memanggil namun Ryan tidak menjawab panggilannya. Arka akhirnya memutuskan berjalan menuju jendela kamar tidur dengan tirai yang sedikit terbuka.


Arka terkejut jika ternyata Ryan tidak berada di dalam kamarnya. Ia tidak bisa melihat keseluruh ruangan, namun tempat lain yang memungkinkan untuk Ryan tidur adalah sofa yang berada di ruang peristirahatan. Jika pun benar ia berada di sana, maka Ryan seharusnya dapat mendengar panggilannya.


Arka kembali menuju pintu ruang utama, ia mencoba memanggil Ryan kembali. Sejujurnya ia takut jika mungkin saja Ryan masih tidur dan panggilannya justru akan membangunkan Ryan. Namun ia memiliki firasat buruk karena Ryan tidak pernah tidur di sofa.


“Tuan Ryan, apa anda mendengar saya?” panggil Arka dengan sesekali mengetuk pintu.


“Tuan Rayn…bolehkah saya masuk?” panggil Arka lagi.


“Maafkan saya Tuan, jika saya terpaksa akan masuk” ucap Arka dan masih belum mendapat respon dari Ryan. Arka yang sudah mengetahui sandi Dervilia akhirnya memutuskan masuk.


“Maaf Tuan, saya akan masuk sekarang” ucapnya dengan menekan sandi.


Saat membuka pintu, Arka terkejut melihat Ryan yang tidak sadarkan diri terbaring di lantai dengan beberapa botol minuman kosong yang sepertinya usai ia minum habis.


“Tuan Ryan…” teriak Arka dengan mencoba meraih tubuh Rayn untuk disandarkan pada dirinya.

__ADS_1


Wajah Ryan terlihat sangat pucat dan suhu tubuhnya sangat panas. Arka terus memanggil, namun Ryan tetap tidak membuka matanya.


"Cepat siapkan mobil!” teriak Arka memberi perintah kepada para penjaga.


Arka membopoh Ryan dipunggungnya keluar Dervilia, dengan berlari ia menggendong Rayn menuju jalan utama. “Tuan Rayn, bertahanlah…” ucap Arka dengan terus berlari.


Beberapa penjaga sudah siap dengan mobil Ryan. Arka segera membawa Ryan kembali ke Villa.


.


.


Di Villa, Lusia masih mencoba menghubungi Mickey namun tidak mendapat jawaban. Lusia memutuskan mengambil jaket dan kunci mobilnya untuk pergi ke apartemen Mickey mencari Rayn. Dengan mengenakan jaketnya ia berjalan menuju pintu. Baru beberpa langkah ia menghentikan langkahnya karena mendengar seseorang mencoba masuk dengan menekan sandi. “Apakah itu dia?” tanyanya. Dengan berjalan semakin cepat menghampiri pintu.


Pintu terbuka, Lusia terkejut melihat Arka berdiri tepat di depannya dengan menggendong Ryan yang tidak sadarkan diri dipunggungnya. “Nona Lusia… “ ucapnya dengan nafas tersengal-sengal.


“Rayn…” panggil Lusia panik.


“Arka, apa yang terjadi?” tanyanya kepada Arka dengan mempersilahkan Arka membawa Ryan ke kamarnya.


“Saya sudah menghubungi Tuan Mickey, dan saat ini ia sudah dalam perjalanan kemari dengan seorang dokter” ucap Arka dengan membaringkan Ryan di tempat tidur.


Lusia langsung mendekat dan memeriksa suhu tubuh Ryan. “Bagaimana ia bisa sampai demam seperti ini?” tanyanya. “Tubuhnya panas sekali dan wajahnya sangat pucat” lanjutnya dengan menyentuh kening Rayn.


Lusia meminta Arka membawakannya air dan handuk kecil untuk mengkompres Rayn selagi menunggu Mickey dan dokter datang.


“Arka, apa kita tidak bisa membawanya ke rumah sakit?” tanya Lusia dengan wajah yang semakin cemas.


“Maaf Nona, kita tidak bisa membawanya ke Rumah Sakit. Jangan khawatir sepanjang perjalanan saya sudah mengubungi Tuan Mickey dan memberitahu dokter kondisi Tuan Muda Ryan. Tuan Mickey meminta saya untuk menunggu.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin hanya masalah denganku ia sampai sperti ini” tanya Lusia dalam hati mengingat kejadian di depan kantor polisi.


“Saya hanya tahu jika Ayah Tuan Muda datang kemari” jawab Arka.


“Ayahnya?” tanya Lusia.


“Benar, jelasnya soal apa yang terjadi, maaf saya tidak tahu Nona, karena saya hanya berjaga di luar” jawab Arka.


.


.


Mickey datang dengan seorang dokter pribadi yang dipercaya keluarga Anderson. Dr. Brian, dia adalah seorang dokter yang di beri tanggung jawab untuk kondisi Ryan. Dr. Brian langsung mengambil tindakan, dan meminta mereka menunggunya di luar.


Lusia menghampiri Mickey. “Mickey apa kau tahu sesuatu?” tanyanya. “Dia tidak kembali ke Villa semalaman. Melihat Arka dan Ryan kembali tanpamu, itu artinya ia tidak menginap di tempatmu" ujar Lusia.


“Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, tapi kita bisa membahasnya nanti. Saat ini kita fokus dahulu dengan kesembuhan Ryan.


“Kau benar, bodohnya aku tidak menyadari apa yang terjadi dengannya” gumam Lusia menyesali sikapnya yang justru menyalahkan Ryan bersikap kekanakan.


“Aku juga tidak bisa memintamu untuk memahami situasiku saat ini”


Lusia teringat ucapan Rayn. Ia tidak tahu jika saat itu Ryan sedang berada dalam kesulitan dan tekanan.


“Jangan khawatir, kau tidak salah” jawab Mickey mendengar gumaman Lusia.

__ADS_1


Tidak lama Dr. Brian keluar dan meminta mereka untuk tidak khawatir. Saat ini Rayn hanya perlu banyak istirahat dan menghindari beban pikiran yang semakin membuatnya tertekan. Dr.Brian meminta Mickey untuk berbicara. Mickey mengajak Dr.Brian turun dengannya untuk berbicara di lantai 1.


Saat Mickey dan Dr.Brian hendak menuruni tangga, datang seorang wanita yang bersamaan juga menaiki tangga.


“Leona… kau sudah datang” Sapa Mickey.


“Tentu saja, mendengar panggilanmu soal kondisi Ryan membuatku sampai harus meminta supir untuk mengebut” ucap wanita yang benama Leona itu.


“Dr. Brian. Sudah lama tidak bertemu” sapa Leona kepada Dr. Brian dengan menunduk menunjukkan rasa hormatnya.


“Ryan ada dikamarnya, aku masih akan berbicara dengan Dr. Brian. Kau bisa menjenguknya langsung” sahut Mickey lalu mempersilahkan Dr.Brian untuk turun dengannya.


Mendengar adanya suara seorang wanita, membuat Lusia menghentikan langkah kakinya yang akan memasuki kamar Ryan. Ia menatap seorang wanita berparas cantik dengan rambut ikal yang terurai berbicara dengan Mickey dan Dr. Brian.


Lusia bertanya dalam hati siapa wanita itu. Bagaimana dia bisa masuk ke dalam Villa. Apakah wanita itu masuk di antar oleh Arka atau mungkin dia mengetahui sandi Villa. Terlihat jelas wanita itu tidak merasa canggung, bahkan Mickey dan Dr. Brian sangat mengenalnya.


“Apa dia gadis itu?" Tanya Leona kepada Mickey dengan memandang Lusia yang juga sedang memandang dirinya. Mickey menjawab dengan mengangguk.


Leona berjalan mendekati Lusia. “Hai…” sapa Leona.


“Apa kau datang kemarin untuk….” Tanya Lusia ragu dengan menatap kamar Rayn.


“Kau benar, aku datang untukknya. Tapi melihatmu ada disini aku rasa aku kita juga bisa berbicara untuk bisa saling mengenal” jawabnya.


“Saling mengenal?” tanya Lusia dalam hati dengan menaikkan alisnya.


“Mickey sudah memberitahuku saol dirimu. Ia banyak menceritakan soal dirimu sehingga membuatku semakin penasaran untuk tahu lebih banyak tentangmu” lanjut ucap Leona.


“Maaf, tapi saat ini aku harus menjaganya” sahut Lusia.


Leona diam, ia menatap Ryan yang terbaring di kamarnya. Sebuah tatapan sendu seperti menatap seseorang yang sudah lama tidak pernah bertemu. “Melihat kondisinya, seharusnya kita membiarkannya istirahat dan tidak mengganggunya. Aku yakin hal itu juga yang seharusnya dikatakan dokter” ucap Leona dengan berjalan menuju ruang baca lalu duduk di sofa.


"Kau tidak ingin duduk?” tanya Leona melihat Lusia masih berdiri.


"Oh..." sahut Lusia, ia pergi menutup pintu kamar Rayn kemudian duduk di sebelah Leona.


“Mungkin kau bingung dan bertanya siapa diriku. Perkenalkan, namaku Leona” ucapnya dengan mengulurkan tangannya.


Perlahan Lusia meraih tangan Leona dan memperkenalkan dirinya. “Lusia…” ucapnya dengan suara lirih.


“Aku baru saja datang dari Canada dengan Ayah Ryan. Aku datang kemari spesial hanya untuk Ryan. Jadi, kedepannya kita akan sering bertemu. Aku dengar kau satu-satunya orang yang bisa ia sentuh. Sayangnya keajaiban itu tidak berlaku kepadaku. Untuk itu, aku mohon bantuan dan kerjasamamu” ucap Leona dengan tersenyum.


“Kerjasama?” tanya Lusia.


“Eemm…” sahut Leona dengan mangangguk. "Tentu saja aku butuh kerjasamamu, karena aku juga sangat mengharapkan keajaiban itu terjadi kepadaku, itu tujuan kenapa aku datang kemari" lanjutnya.


“Jadi..., kau sudah tahu soal kondisinya?” tanya Lusia.


“Maksudmu phobianya? Tentu saja aku tahu, lebih dulu tau sebelum dirimu. Dan lebih banyak tahu dari yang kau tahu” jawabnya.


Lusia terdiam, ia memikirkan hubungan apa yang dimiliki wanita itu dengan Rayn. Wanita itu tampak sudah sangat lama mengenal baik Ryan. Bahkan ia datang dari Canada bersama ayah Ryan. Lusia sangat ingin tahu, tapi bibirnya terkunci rapat untuk menanyakan langsung apa hubungan wanita itu dengan Rayn. Kejutan dan misteri apa lagi yang harus ia temui sekarang.


"Bagaimanapun juga aku hanya seorang pekerja yang baru masuk dalam kehidupan Ryan. Tidak banyak yang aku tahu tentangnya. Aku hanya sebagian kecil dalam hidup Ryan, dan aku aku harus tahu batasku yang tidak pantas mengharapkan lebih" ucap Lusia dalam hati dengan menatap wanita yang memiliki paras sangat cantik duduk disebelahnya.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued***


__ADS_2