Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 06 - Tidak tahu Terima Kasih


__ADS_3

Melihat Rayn hanya terus menatapnya tanpa berkata apapun membuat Lusia semakin salah tingkah. Ia berusaha mencairkan suasana dengan memulai obrolan. Lusia pun duduk menyandarkan punggungnya ke dinding tepat disebelah Rayn.


“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanya Lusia menoleh menatap kearah Rayn. Ryan masih hanya diam tertunduk tidak meresponnya.


“Apa kau datang seorang diri?” tanya Lusia lagi dan masih tidak mendapat jawaban sepatah kata pun dari Rayn.


“Apa kau datang dengan kendaraan sendiri?. Jika kau masih belum merasa baik aku bisa mengantarmu pu…lang…” ucap Lusia perlahan menutup mulutnya berhenti bicara.


Sesaat Lusia merasa kesal karena terus diabaikan. “Baiklah, kau bisa melanjutkan merenung atau menenangkan dirimu sejenak. Aku akan berhenti bicara ataupun bertanya” ucap Lusia memalingkan kembali wajahnya fokus ke depan. Menurutnya akan percuma karena pria disebelahnya seperti menganggapnya tak kasat mata. Ryan masih saja tunduk dengan memejamkan matanya.


Lusia berusaha untuk diam dan mengabaikannya, tapi entah sampai kapan. Lusia akhirnya memutuskan bertanya sekali lagi untuk yang terakhir kali. “Apa kau butuh sesuatu atau… .”


“Berhentilah bertanya seolah aku anak kecil yang kehilangan orang tuanya” jawab Rayn membuka matanya perlahan. Dengan nada dingin ia memotong pertanyaan Lusia yang belum diselesaikannya.


"Eemm, sorry… ” ucap Lusia dengan senyum kecil berusaha untuk bersabar lagi.


Rayn mulai beranjak berdiri, ia merapikan kemejanya yang kacau karena pertikaian kecil tadi. Rayn menghela nafas kasar saat menyadari telah kehilangan dua kancing atas kemejanya. Tentu saja hal ini membuatnya harus memamerkan dada mempesonanya dengan terpaksa.


Tampak sekilas namun sangat jelas ABS dari tubuh Rayn terpampang nyata. Bentuk tubuh dengan bidang dada yang mempesona, tidak diragukan lagi hal itu bisa membuat setiap wanita gagal fokus jika melihatnya.


“Upsss…. “ celetuk Lusia lirih menutup mulut dengan kedua tangannya, perlahan ia menundukkan kepala setelah tak sengaja sekilas melihat keindahan dada pria yang berdiri didepannya.


"Oh My God, apakah imanku sedang diuji?" lanjut ucap Lusia dalam hati.


“Apa kau akan tetap disini?” tanya Rayn dengan nada sinis melihat Lusia yang masih duduk.


“Tidak… ! Kita akan kembali” jawab Lusia tegas lalu dengan cepat ia berdiri dan memalingkan pandangannya dari Rayn. Ucapannya yang lantang secara tiba-tiba mengejutkan Rayn.


“Oke… ” ucap Rayn mengangguk dengan meninggalkan Lusia lebih dahulu berjalan menuju lift.


“Yahh… !” teriak Lusia menyadari pria itu benar-benar akan meninggalkannya begitu saja.


Teriakan Lusia langsung menghentikan langkah kaki Rayn. Rayn berbalik dan menatap Lusia dengan tatapan tajam.


“Bu…bu... bukankah kita bisa keluar bersama-sama“ lanjut ucap Lusia mulai menurunkan nada bicaranya. Tatapan tajam Rayn seketika mengurungkan niatnya memaki pria yang sama sekali terlihat angkuh dan tidak tahu terima kasih itu.


Rayn kembali mengabaikan Lusia tanpa kata, ia melanjutkan langkahnya memasuki lift lebih dulu. Rayn menahan tombol agar pintu lift tetap terbuka menunggu Lusia untuk masuk lift bersamanya.


“Kau tidak ingin masuk? Bukankah tadi kau sendiri yang bilang kita bisa keluar bersama-sama” tanya Rayn kepada Lusia yang masih saja berdiam diri tidak memasuki lift.


“Pria ini sungguh sesuatu… !“ kesal Lusia lirih masih saja diam.

__ADS_1


“Baiklah, kau bisa tetap di sana, aku akan menutup liftnya.” Rayn melepaskan jarinya agar pintu lift bisa tertutup melihat respon Lusia hanya diam saja.


"Tunggu, tunggu, tidak sabaran sekali" Lusia menahan pintu lift dengan tatapan aneh kepada Rayn.


“Ada apa sebenarnya dengan pria ini, apa dia ada dendam denganku? Dan juga, ada apa juga denganku?. Dia yang bertingkah angkuh bahkan tidak tau terima kasih, kenapa aku yang tunduk dan harus mengimbanginya” gerutu Lusia dalam hati memasuki lift berdiri tepat disebelah Rayn.


Seketika Lusia masuk, Rayn langsung menekan tombol lantai underground yang merupakan lantai tempat parkiran mobil.


“Apa karena pertunjukkan dada seksi tadi? Haha tidak mungkin, jangan kau pikir dada seksi mu itu akan menaklukkan ku. Ok, siapa yang peduli. Aku harus memperjelas situasi ini kepadanya, sepertinya pria ini ada sedikit kongslet dengan otaknya” ucap Lusia dalam hati memandang sinis pria yang tetap tenang berdiri disampingnya.


“Terima Kasih… “ ucap Rayn.


Lusia secepat kilat menoleh kearah pria yang baru saja mengucapkan kata yang seharusnya sudah ia dengar dari tadi.


“Itu yang ingin kau dengar bukan… ?" tanya Rayn tanpa menatap ke arah Lusia. Ia mengucapkannya dengan tetap memandang lurus ke depan.


"Tatapanmu dari tadi sudah seperti ingin memukulku dengan kepalan tanganmu itu, seolah aku pria yang tidak tahu terima kasih" lanjut ucap Rayn menoleh kearah Lusia, melirik kepalan tangan Lusia yang tampak sedang kesal.


“Wahhhh…, pria ini” sahut Lusia tidak percaya. Hampir saja ia berfikir jika Rayn benar-benar dengan tulus berterima kasih kepadanya.


“Yaaah... ! Apa kau tahu jika kau sungguh… ” teriak Lusia.


Ting… .


“Aku bisa merasakan kau tulus melakukannya. Dan jika benar setulus itu, kau seharusnya tidak perlu mengharapkan apapun” jelas Rayn sambil melangkah meninggalkan lift dengan tersenyum kecil dibalik masker yang menutupi wajahnya.


“Ada apa dengannya? Apa dia baru saja membaca pikiranku?“ Lusia hanya bisa bertanya dengan suara kecil dengan wajah penuh kebingungan dan kekesalan. Ia lalu mengikuti Rayn berjalan keluar dari lift. Lusia masih tidak percaya jika ucapan terima kasih Rayn hanya untuk menyindirnya.


“Sepertinya aku sudah terhipnotis” ucap lusia menepuk-nepuk kedua pipinya berulang kali berharap sadar jika benar dia sedang dikendalikan oleh pria itu. Ia merasa tak bisa berkata apapun untuk melawan Ryan setiap kali Rayn membuka suara.


“Apa aku yang mudah pasrah atau aku tidak tega untuk memaki?” lanjut gerutu Lusia.


Dukk… .


Ditabraknya punggung exotis Rayn. Lusia tidak menyadari jika Rayn berhenti didepannya. “Aw… kenapa kau berhenti?” tanya Lusia.


Rayn memutar balik tubuhnya menatap Lusia yang masih sibuk mengelus-elus kening setelah menabrak punggungnya. "Dimana mobilmu?" tanya Ryan.


"Untuk apa kau mencari mobilku?" tanya balik Lusia.


“Bukankah tadi kau menawarkan diri mengantarku pulang?” tanya Rayn dengan mengacungkan kunci mobilnya kepada Lusia.

__ADS_1


“Pulang…? Oh Iya… tentu, aku bisa memberimu tumpangan. Kurasa itu yang terbaik untuk kondisimu saat ini. Simpan saja kunci mobilmu karena aku akan mengantarmu dengan mobilku.


“Tentu saja aku akan ikut dengan mobilmu, karena kau tidak mungkin memintaku mengantarmu kembali bukan” sahut Rayn.


"Jika kau sudah berencana ikut dengan mobilku, lalu untuk apa kau memberiku kunci mobilmu?” tanya Lusia bingung.


“Untukmu membawanya kepadaku besok” jawab Rayn meraih tangan Lusia dan meletakkan kunci mobilnya ditangan Lusia.


“Ke... ke... kenapa harus aku yang melakukannya?” tanya Lusia menunjuk pada dirinya sendiri. "Kau bisa mengambilnya sendiri besok atau meminta orangmu mengurusnya" ucap Lusia.


“Apa yang terjadi ?” tanya Rayn dalam hati melihat bagaimana dia bisa memegang tangan Lusia tanpa reaksi apapun. Ia masih sulit mempercayainya, bahkan dirinya juga sampai bisa memeluk dan membiarkan gadis itu berada dekat dengannya.


Lusia masih tidak habis pikir, pria macam apa yang sedang dihadapannya ini. Melihat Rayn memegang tangannya alih-alih memberikan kunci membuat Lusia langsung menarik kembali tangannya dari genggaman Rayn.


“Wahhh... ini tidak benar. Ini tidak benar Lusia !“ ucap Lusia dalam hati menggelengkan kepala, mengepalkan tangannya dengan meremas kunci mobil Rayn.


“Hei, kau!" teriak Lusia dengan menghela nafas kasar. "Maafkan aku, tapi apakah kau sadar jika kau sangat… ” ucap Lusia tidak sampai selesai, namun sudah dipotong oleh Rayn.


“Sangat tidak tahu malu!!” sahut Rayn memotong kalimat Lusia. “Jika kau berniat untuk memaki, seharusnya tidak perlu mengucapkan kata maaf dalam makianmu, karena pada akhirnya kau juga akan tetap memaki” lanjutnya.


“Oh… My God… bagaimana dia selalu bisa membaca pikiranku dari tadi sehingga aku mati kata” gumam Lusia dalam hati.


“Kau sadar juga, lalu bagaimana bisa kau memintaku mengantar mobilmu juga?” tanya Lusia.


“Aku hanya sedang membantumu untuk tidak setengah-setengah dalam berbuat kebaikan. Jika kau sungguh berniat baik menolongku, kuharap kau bersedia melakukannya hingga selesai. Jadi sekarang, bisakah kau tunjukkan kepadaku dimana mobilmu?” tanya Rayn melihat ke sekililing parkiran.


“Seharusnya aku membiarkanmu babak belur mendapat pukulan tadi, setidaknya itu mewakili perasaanku sekarang” ucap kesal Lusia merogoh tasnya mengambil kunci mobilnya. Ditekannya remote mobil dengan kasar sambil berjalan meninggalkan Rayn lebih dahulu.


Lusia terus menggerutu jika Rayn tampak pendiam namun sangat menyebalkan dan bermulut tajam jika sudah membuka suara. Ia pun mengakui jika tidak bisa melawan apa yang dikatakan Rayn karena secara nalar, apa yang dikatakan Rayn tidak ada salahnya, hanya saja tidak memiliki rem.


Rayn tersenyum tipis seolah dia puas melihat reaksi Lusia sambil berjalan mengikutinya. Tentu saja senyuman misterius itu tidak dapat dilihat Lusia dibalik masker yang dikenakannya. Bahkan Rayn dengan tenangnya masuk ke dalam mobil tanpa mengeluhkan jika mobil Lusia bukanlah mobil pribadi melainkan sebuah foodtruck.


*** To Be Continued***


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)

__ADS_1


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆


__ADS_2