
Hari sudah berlalu, Lusia kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa, mengumpulkan pundi-pundi uang dengan bekerja di kediaman Rayn dan Cafe milik Kelvin. Saat Lusia disibukkan dengan Cafe yang sangat ramai, Ponsel Lusia terus bergetar di dalam kantong apron yang dikenakannya. Lusia dengan sengaja mengabaikan panggilan yang masuk karena ia sedang melayani pengunjung Cafe.
Ketika ada kesempatan, ia segera mengintip siapa yang sedari tadi tiada henti menghubunginya. Lusia sangat terkejut saat ia tahu jika ibunya sudak melakukan panggilan dari 10 kali. Lusia lekas mempercepat gerakan tangannya membersihkan meja bekas pengunjung agar cepat selesai.
Lusia menjadi panik dan khawatir terjadi sesuatu dengan keluarga kecilnya. Saat ia menuju kasir, dilihatnya Vhia yang sudah bersiap untuk pulang mengakhiri shifnya. Lusia menghampirinya Vhia dan langsung memberikan nampan yang berisi sampah gelas plastik. “Kau sudah ingin pulang? Tunggu, bantu aku sebentar saja jaga kasir. Aku mau melakukan panggilan sebentar saja yah” ucapnya lalu pergi ke ruang ganti.
Vhia tampak tidak peduli. “Hei, hei, jangan main tinggal seenaknya saja” teriaknya.
Vhia meletakkan nampan kosong dari Lusia di meja kasir begitu saja. “Dave, kau lanjutkan jaga kasir. Aku ada urusan yang lebih penting. Kenapa juga aku harus membuang waktuku untuk menggantikannya.” lanjut ucap Vhia meminta Dave berdiri di meja kasir menggantikan Lusia, lalu ia pergi begitu saja.
“Bagaimana bisa ada wanita tanpa hati nurani sepertinya” gerutu Dave mengambil nampan berisi sampah itu lalu membawanya ke dapur.
.
.
Di dalam ruang ganti, Lusia sedang dalam panggilan dengan ibunya. “Ibu, maaf baru bisa menjawab panggilan ibu. Cafe tadi sedang ramai. Ada apa ibu menghubungiku? Apa ada sesuatu terjadi?” tanyanya dengan nada panik.
“Nak… “ panggil sang ibu.
“Ada apa ibu? Katakan” sahut Lusia yang sudah tidak sabar.
“Ibu hanya ingin memberitahumu soal hutang jaminan rumah kita” jawab ibu Lusia.
Belum sampai ibunya menyelesaikannya ucapannya Lusia sudah memotong dengan begitu banyak pertanyaan. “Kenapa ibu? Apa mereka sudah menagih? Atau melakukan sesuatu kepada ibu, Lucas dan nenek? Apa mereka mengancam keluarga kita?” tanya Lusia.
Ibu Lusia tidak terlalu mendengar jelas apa yang sedang ditanyakan putrinya. Tanpa menjawab pertanyaan Lusia, ia langsung mengatakan apa yang ingin di sampaikan kepada putrinya. Sebuah kabar baik jika hutang yang menjadikan rumah sang nenek sebagai jaminan sudah dilunasi.
“Lusia… apa kau mendengar apa yang ibu katakan barusan nak?” tanya sang ibu karena Lusia tidak memberi respon apapun. Lusia terdiam mendengar berita baik itu, antara bingung dan tidak percaya.
“Sepertinya sinyal disini sangat buruk, ibu akan keluar sebentar mencari tempat dengan sinyal yang bagus” lanjut sang ibu.
“Tidak ibu, aku mendengarnya, namun aku hanya masih tidak percaya dan tidak mengerti kenapa hutang itu tiba-tiba Lunas?” tanya Lusia.
“Seorang pria yang mengatakan utusan dari bos tempatmu bekerja yang melunasinya nak" jawab sang ibu.
Lusia masih tidak percaya, ia khawatir jika ibunya bisa saja ditipu oleh orang yang berusaha mencari kesempatan ditengah kesulitan mereka. “Apa ibu yakin? Lusia takut jika orang itu justru berniat buruk” ujarnya.
__ADS_1
“Ibu yakin nak, bahkan ia juga langsung menyerahkan semua surat-surat rumah kembali kepada ibu. Karena itu ibu
menghubungimu untuk memintamu berterima kasih kepada Bosmu itu” jawab Ibu Lusia.
“Bos? Bos yang mana?” tanya Lusia dalam hati mengingat jika dirinya saat ini bekerja untuk Rayn dan Kelvin. Mereka berdua lah yang saat ini menjadi Bos Lusia.
Lusia mencoba mencari informasi lebih dari sang ibu. Namun Ibunya juga masih tidak tahu pasti, karena dirinya hanya bertemu dengan perwakilan yang mengurus semuanya langsung dengan para rentenir.
Lusia mengakhiri panggilannya dengan sang ibu. Ia mulai berfikir keras Bos mana yang akan mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk melunasi hutang karyawannya.
“Mungkinkan jika itu Kelvin?" tanyanya kepada diri sendiri dengan menghentikan langkahnya. "Tapi tidak mungkin. Kelvin tidak mengetahui urusan keluargaku. Apa dia diam-diam menyeledikiku? Aaaa…. Itu lebih tidak mungkin lagi. Meskipun dia pernah menyukaiku, tapi untuk apa dia melakukannya setelah jelas-jelas ia tahu jika aku hanya menganggapnya teman. Apa dia sengaja untuk menjeratku? Haha, itu lebih tidak mungkin lagi Lusia, jangan konyol. Kelvin bukan pria dengan pikiran licik seperti itu” gumam Lusia.
Lusia masih terus komat-kamit seorang diri dengan mondar-mandir di ruang ganti. Ia terus menerka-nerka segala kemungkinan untuk menemukan petunjuk siapa Bos yang dimaksud sang ibu.
"Jika itu bukan Kelvin, orang lain lagi yang bisa mengaku Bosku adalah Rayn. Rayn…? Rayn…? Seorang Rayn...?” tanya Lusia ragu dengan ucapannya sendiri.
“OK Fix. Aku sangat yakin, itu pasti bukan Rayn. Dia orang yang lebih tidak mungkin dari banyaknya orang. Rayn yang hanya mengurung diri di Villa tidak akan mungkin tau masalah pribadiku. Andaipun ia tahu, apa untungnya buat dia membuang begitu banyak uang cuma-cuma” lanjut Lusia berbicara sendiri.
Tidak lama sang ibu mengirimkan pesan untuk Lusia.
[Besok ibu sudah membuat janji dan mengundangnya untuk ke rumah. Jika bisa besok kau luangkan waktumu bersama ibu menjamunya]
Lusia seketika terpikirkan Reisa dan langsung menghubunginya. Ia masih berpikir jika itu adalah Kelvin, maka Kelvin pasti tahu dari Reisa.
Reisa menjawab panggilan Lusia. “oh bayi kecilku,,, ada apa?”
Lusia : “Aku ingin langsung kepada intinya. Apa mungkin kau ada mengatakan kepada Kelvin soal hutang keluargaku?Atau mungkin kau ada mengatakan kepada David hingga akhirnya sampai Kelvin?”
Reisa : “Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?”
Lusia : “Seseorang telah melunasinya, tapi aku tidak tahu siapa”
Di seberang telepon Reisa terdiam. Ia langsung terpikirkan oleh satu orang yang membantu Lusia melunasi hutang. Orang yang ada dikepalanya saat ini bukan Kelvin atau Rayn, tetapi justru David.
Belum lama ini hubungan Reisa dan David mulai membaik setelah ia akhirnya berterus terang dan memberitahu David alasannya berkerja paru waktu di restauran. David saat itu langsung meminta Reisa untuk berhenti bekerja di restoran dan memintanya saat ini tidak terlalu khawatir dengan urusan Lusia.
Reisa mengatakan jika ia tidak juga tidak tahu. Ia izin menutup telepon karena ada pekerjaan yang harus dilakukannya.
__ADS_1
Reisa mulai tidak tenang, entah mengapa kabar baik itu justru membuatnya merasa gelisah. "Mungkinkah jika itu David, tapi kenapa harus David" tanyanya dalam hati.
Reisa merasa buruk kepada dirinya sendiri yang justru tidak merasa bahagia akan kabar baik dari sahabatnya Lusia.
Reisa mengingat kembali fakta jika David pernah menaruh hati kepada Lusia saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Semua bermula dari pertemuan David dan Lusia pada klub photografi di sekolahnya.
Pada waktu itu, David mengatakan kepada ketua klub jika dirinya memutuskan pindah dari klub bahasa ke klub photografi karena sedang mengejar seorang gadis dan ingin lebih dekat mengenalnya. Saat itu hanya Lusia satu-satunya anggota wanita dalam klub photografi.
Hal yang sama dengan Reisa, ia mulai mengenal David saat klub Reisa sedang mengadakan kegiatan sosial. Ia meminta Lusia dan teman clubnya untuk membantu mengabadikan kegiatan itu. David dan Lusia yang turun tangan membantu kegiatan sosial klub Reisa. Dari situlah Reisa langsung jatuh hati pada pandangan pertama dengan David. Reisa yang pantang menyerah ditambah mendapat dukungan serta bantuan dari Lusia, ia memutuskan untuk pindah ke klub photografi demi David.
Lusia tidak mengetahui jika David menyimpan rasa kepadanya, dan rasa itu entah sejak kapan dan bagaimana David mulai jatuh hati dengannya. Perasaannya kepada David tidak lebih dari seorang teman.
Oleh sebab itu Lusia sangat mendukung Reisa saat mengatakan kepadanya jika sedang jatuh hati kepada David. Sepanjang berjalannya waktu hubungan Reisa dan David menjadi dekat hingga akhirnya mereka menjalin kasih sebagai sepasang kekasih.
Tidak lama mereka menjalin hubungan, Reisa baru mengetahui fakta perasaan David kepada Lusia dari mantan ketua klub saat acara perpisahan sekolah. Namun Reisa tidak ingin terlalu memikirkannya, baginya itu hanya masa lalu dan ia hanya akan menatap masa depan dengan David dan percaya akan perasaan David terhadapnya. Selama itu tidak melukai siapapun, ia berusaha untuk menutup mata dan telinga.
Namun kini entah apa yang membuatnya menjadi merasa gelisah. Perhatian David terhadap Lusia dari dulu memang selalu berbeda. Ia terus berusaha membuang jauh pikiran yang terus mendorongnya untuk menaruh curiga kepada kekasih dan sahabatnya itu. "Reisa, apa yang kau pikiran, kumohon jangan bodoh dan hanyut terbawa perasaan" ucapnya lalu memejamkan mata meletakkan kepalanya bersandar pada kursi.
.
.
Di Cafe, Dave yang merasa jika Lusia sudah terlalu lama didalam membuatnya khawatir. Ia pergi keruang ganti untuk memeriksanya. Dilihatnya Lusia jongkok bermain dengan kain lap ditangannya dengan tatapan kosong.
"Tidak lama kak Lusia bisa mengoyaknya hingga robek" ucap Dave menyadarkan Lusia.
Lusia menatap Dave mendongakkan kepalanya. "Dave... Siapa dia.... aku masih tidak menemukan jawabannya, apa yang harus aku lakukan...." rengek Lusia kepada Dave dengan semakin kuat mengoyak kain lap ditangannya.
"Apa kak Lusia baik-baik saja?" tanya Dave. Lusia hanya mengangguk.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kak Lusia katakan. Jika kak Lusia masih perlu waktu menemukan jawaban yang kak Lusia cari, silahkan lanjutkan tapi kembalikan kain lap itu dulu kepadaku" lanjut ucap Dave perlahan meraih kain lap dari tangan Lusia dengan hati-hati lalu merayap pergi.
Dave perlahan meninggalkannya lalu menutup pintu, ia hanya menggelengkan kepala mendengar teriakan Lusia dengan nada merengek memanggil namanya. "Dave.....Siapa Dia" rengek Lusia melihat Dave meninggalkannya.
.
.
__ADS_1
***To Be Continued***