Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 28 - Hiburan Malam


__ADS_3

Melihat para bodyguard yang terus berjaga membuat hati Lusia merasa gelisah. Ia masih berfikir jika orang yang sedang diwaspadai Mickey adalah rentenir yang kemungkinan sedang mencarinya. Niat untuk mencari pekerjaan ekstra lagi saat ini terus muncul dalam benak Lusia.


Lusia akhirnya memutuskan menggunakan waktu kosongnya saat weekend untuk bekerja. Ia terus mencari informasi lowongan pekerjaan, termasuk menghubungi beberapa temannya.


Tidak selang beberapa hari, seorang teman lama Lusia bernama Nana menghubunginya untuk menawarkan pekerjaan. Pekerjaan yang ditawarkan Nana adalah berkerja di sebuah Bar malam. Lusia awalnya menolak karena bekerja disalah satu hiburan malam akan menyakiti hati ibunya jika tahu. Namun, ia sadar diri jika sulit mencari pekerjaan paruh waktu hanya dihari weekend dengan gaji lumayan. Pekerjaan lamanya sebagai supir pengganti saat ini sudah tidak terlalu menjanjikan. Tak jarang Lusia sama sekali tidak menerima panggilan.


Nana terus membujuk Lusia dengan kata-kata manis jika tidak semua hiburan malam artinya melakukan pekerjaan maksiat. Ia mengatakan jika Lusia hanya perlu menjual minuman saja. Pekerjaan yang akan Lusia lakukan nantinya bukan sebagai bartender atau pelayan. Ia harus menawarkan minuman ke beberapa pengunjung di dalam room yang ingin membeli ekstra minuman. Ia bahkan juga dijanjikan bisa mendapat ekstra tips dari pengunjung.


Lusia belum memutuskan untuk menerima pekerjaan itu. Ia masih mempertimbangkannya. Lusia terlihat sangat tidak fokus selama bekerja di Cafe. Bahkan sepulang kerja, ia langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat tanpa memeriksa keadaan Rayn terlebih dahulu seperti biasa.


Hari minggu adalah hari bebas untuk Lusia. Ia biasa menggunakan waktu liburnya untuk mengunjungi Reisa. Namun, kali ini Lusia hanya berdiam diri di Villa. Sementara Rayn dari pagi masih berada di ruang lukisnya.


“Kau masih disini?" tanya Rayn yang baru keluar dari ruangannya menghampiri Lusia yang duduk di sofa baca.


"Kau sudah selesai?" tanya Lusia. Rayn menjawab dengan mengangguk.


"Apa kau tidak memiliki rencana hari ini?” tanya Rayn.


“Oh itu… “ jawab Lusia ragu melanjutkan kalimatnya.


“Jika begitu, kau mau… “ celetuk Rayn belum sampai ia menyelesaikan perkataannya sudah potong Lusia.


“Aku, aku sudah membuat janji dengan temanku, hanya saja aku masih menunggu kabarnya” potong Lusia. “Kau mau apa tadi?” lanjut tanya Lusia.


“Kau bisa membuatkan ku jus? aku haus” sahut Rayn. Sesungguhnya Rayn berencana mengajak Lusia melihat ruang melukisnya. Mengingat terakhir kali Lusia sangat tertarik dengan ruangan itu. Namun, karena Lusia mengatakan sudah ada janji maka Rayn mengurungkan niatnya daripada mendengar penolakan dari Lusia.


“Oh, baiklah.” Lusia bangkit dari duduknya meletakkan ponselnya di meja lalu pergi ke dapur. “Ada apa dengannya, biasa langsung main perintah seenaknya tapi kini tumben bertanya dahulu” ucapnya dalam hati meninggalkan Rayn.


Hari sudah menjelang sore, Lusia yang sudah membuat janji dengan Nana pergi berpamitan dengan Rayn. Lusia berulang mengetuk pintu ruang lukis Rayn namun tidak mendapat jawaban dari Rayn.


[Malam ini aku bermalam di rumah kost dengan Reisa dan akan kembali esok pagi. Jangan khawatir aku tidak akan terlambat dan aku pastikan sudah kembali sebelum kau bangun]


Pesan Lusia kepada Rayn di depan pintu sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan itu.


Rayn hanya duduk di depan papan else menatap ponselnya membaca pesan dari Lusia. Dengan wajah serius ia menghela nafas melepas earphone yang ia pakai. Sebenarnya Rayn mendengar Lusia mengetuk pintu, karena ia tidak memasang koneksi audio earphone ke ponselnya. Entah apa yang membuat Rayn mengabaikannya.


Di depan sebuah Bar ‘Party Night’ Lusia berdiri dengan ragu. Apakah ia harus melanjutkan langkahnya atau kembali pulang. Mengingat ibu, adik dan neneknya, Lusia membulatkan tekat memberanikan diri memasuki Bar. Gemerlap lampu warna warni dan teriakan para penikmat alunan musik dari seorang DJ mengusik hatinya.


“Kau akhirnya datang” sapa seorang wanita berusia 30an dengan pakaian Bodycon dress ketat berwarna biru dan heels hitam setinggi 7cm.

__ADS_1


Wanita yang biasa dipanggil Mami Rere itu langsung membawa Lusia untuk berganti pakaian. “Nana sudah menceritakan tentangmu. Hari ini dia sedang ambil libur. Jadi, kau akan menjadi tanggung jawabku” ucapnya dengan menyerahkan pakaian yang harus dikenakan Lusia.


"Apa aku harus memakainya?" tanya Lusia memandang dirinya di kaca setelah berganti pakaian. Lusia terlihat sangat cantik mengenakannya. Namun, terlihat jelas dari raut wajahnya jika dirinya tampak sangat tidak nyaman. Sesekali ia menurunkan dres yang tidak sampai menutupi lututnya itu. Meskipun terkadang dia sudah terbiasa memakai celana pendek sehari-hari, namun sangat tidak nyaman baginya memakai pakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya.


"Jangan menanyakan hal-hal kecil yang membuatku geli gadis manis. Jangan lupa, dimana kau sekarang" ucap Mami Rere dengan perlahan merapikan rambut Lusia.


"Wah, kau bisa menjadi ratu minuman dalam semalam dan bisa menghasilkan banyak extra tips dari pengunjung” lanjut ucap wanita itu dengan menggandeng Lusia keluar menuju bar minuman.


Disodorkan berbagai jenis minuman yang sudah disusun di atas nampan kepada Lusia. “Kau lihat gadis itu. Kau hanya perlu seperti dia, memasuki ruangan untuk menawarkan extra minuman ini” ucap Mami Rere.


Deguk jantung Lusia yang ketakutan tidak dapat ditutupi oleh tangan dan kakinya yang terus gemetaran. “Hei, jangan takut dan berhenti menatapku seolah aku akan menjual mu. Kau hanya perlu menarik perhatian mereka untuk membeli. Karena aku hanya akan membayar mu dari seberapa banyak kau menjual dengan membujuk mereka untuk mengosongkan nampan mu ini” ucap wanita itu.


“Apa kau yakin aku hanya perlu menawarkan minuman ini kepada mereka?” tanya Lusia.


“Hahaha, tugasku kepadamu hanya itu. Tapi, jika kau ingin bermain lebih aku tidak melarang mu” jawabnya dengan tersenyum menatap tubuh Lusia.


“Apa maksudmu dengan bermain?” tanya Lusia kembali.


“Sepertinya Nana benar soal dirimu. Aku tidak melarang mu untuk mencari tips dari pengunjung, kau bebas melakukan apapun demi terus mengeruk uang mereka. Bagiku, kau cukup bisa menghabiskan seluruh isi rak itu dengan menarik banyak pengunjung datang” jawabnya menunjuk deretan rak berisi berbagai jenis minuman keras.


“Sedikit tips dariku untuk pemula sepertimu. Hanya dengan menawarkan diri duduk menemani mereka untuk menghabiskan minumannya sudah bisa mendapatkan uang tips dari mereka. Aku sudah mengatur beberapa ruangan untukmu jadi kau bisa pergi sekarang” perintah wanita itu.


“Aku bisa saja langsung membawanya ke ruang VVIP. Tapi, karena ini hari pertamanya aku tak ingin membuat keributan dengan anak-anakku yang lain. Jadi bersabarlah aku akan segera mengirimnya segera” jawabnya.


Dengan langkah kaki gemetar, Lusia memberanikan diri membuka pintu ruangan. Sekumpulan pemuda terlihat seperti sudah menunggu kedatangannya. “Wah, apakah kali ini kita mendapatkan bonus? Apa kau turun dari kelas VVIP?” tanya seorang pria yang merasa tercengang dengan kecantikan dan keindahan tubuh Lusia.


“Ya?” tanya Lusia bingung.


"Kemari lah gadis manis" ucap seorang pria lain menyambut Lusia mencari kesempatan menyentuh tangannya alih-alih menerima nampan minumannya.


“Apa kau ingin menambah minuman mu?” tanya Lusia.


“Sepertinya aku tidak perlu memasuki ruang VVIP jika disuguhkan gadis seperti dia” jawabnya lalu diikuti tawa dari yang lain.


“Tentu saja, bahkan aku akan menambah 2 jika kau mau menemani sampai aku menghabiskan 1 botol” ucap pria lain sambil meraih lengan Lusia memintanya duduk di sampingnya.


“Aku akan menuangkannya untukmu” tolak Lusia alih-alih menurunkan vodka dari nampannya.


“Duduklah” perintah pria lain. “Aku akan memberimu tips lebih jika kau menemani kami menghabiskan semua minuman itu” lanjutnya.

__ADS_1


“Hei, sudahlah jangan berlagak sok polos. Kau pikir kita akan membeli minuman mu jika kau kau tidak menghabiskan waktu dengan kita? Jangan konyol” ucap pria lain yang terlihat sudah mabuk.


“Haha, diam lah kau menakutinya” teriak seorang pria diikuti oleh tawa semua pria yang ada di ruangan itu.


*[Kau hanya akan bisa mendapatkan tips lebih jika menemani mereka minum]


"Benar, tips itu aku harus bisa mendapatkannya"* ucap Lusia dalam hati mengingat pesan Mami Rere. "Berjuang Lusia, cukup hanya jangan sampai menyentuh minuman itu yang akan membuatmu mabuk" lanjutnya dalam hati memberi dorongan kepada diri sendiri dengan menuangkan minuman ke gelas mereka.


“Kau tidak minum? tanya seorang pria yang sudah mabuk lalu merangkul bahu Lusia.


“Tidak” jawab Lusia singkat melepaskan rangkulan pria itu.


“Ya minumlah sedikit, kami sudah membelinya” paksa pria itu.


“Minumlah, jangan khawatir aku akan membayar mu hanya cukup dengan beberapa teguk saja” paksa pria lain.


Semua pria yang berada di dalam ruangan itu berseru bersamaan meminta Lusia untuk meneguk gelas berisi minuman yang disodorkan kepadanya. "Minum, minum, minum…” seru mereka.


Penolakan Lusia membuat pria itu menjadi geram. Ia berdiri dan langsung duduk di samping Lusia. “Jangan sok suci di tempat ini. Kau pikir bisa mendapatkan uang dengan kepolosan mu itu” ucapnya dengan menyentuh paha Lusia.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Lusia berdiri. Pertanyaan Lusia lantas mengundang tawa yang lain.


“Hei, apa kau baru? Kurasa sikap kurang ajar mu ini yang membuatmu tidak bisa memasuki ruang VVIP. Kemarilah, aku akan mengajarimu agar bisa segera naik ke ruang VVIP” perintahnya dengan meraih tangan Lusia.


"Jangan menyentuhku ! Teriak lusia menghampas tangan pria itu.


Pria itu langsung marah menghampiri Lusia. Ia meraih tangan Lusia kembali dan memaksanya untuk duduk. Genggaman yang begitu kuat membuat Lusia tak mampu memberontak. Ia terus sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dengan menendang kaki pria yang tidak melepaskan tangannya.


“Plak…!!!” tamparan keras mendarat di wajah manis Lusia.


“Sepertinya aku harus memberikan hukuman pada gadis ini karena berani menolak ku” ucapnya.


"Lepaskan aku, kumohon tolong aku" mohon Lusia kepada pria lain yang hanya menonton dengan penuh tawa.


Keringat dingin Lusia mulai bercucuran, jantungnya berdeguk kencang. Kaki dan tangannya tiada henti gemetar. Ia terus meronta ketika pria itu mulai menelusuri wajahnya. Isak tangis dan teriakannya meminta tolong dikalahkan oleh suara alunan musik diluar.


Apa yang terjadi selanjutnya dengan Lusia ?


*** To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2