
Matahari telah bersinar, mengusir kegelapan dengan sinarnya. Kilau cahaya mentari pagi pun mulai menyapa, menerobos sela-sela awan hingga menembus jendela kaca. Cahaya surya telah memantulkan kehangatannya menyentuh lembut kulit Lusia.
Perlahan Lusia mulai membuka matanya, tangannya merayap meraba hamparan kasur disebelahnya untuk mencari sesosok pria yang menemaninya semalam. Alis Lusia mengkerut, matanya tiba-tiba terbuka membelalak menyadari ada yang salah.
"Rayn....?"
Lusia sontak bangun dari tempat tidur memanggil nama Rayn dengan raut wajah panik. Ia masih belum yakin dan khawatir jika dirinya baru saja terbangun dari mimpi panjang yang begitu indah. Lusia turun dari keranjang berlari untuk membuka pintu pergi ke luar.
Bersamaan dengan dirinya yang hendak memegang gagang pintu, pintu terbuka. Sudah berdiri sesosok pria membuka pintu. Ya dia adalah Rayn, pria yang ia cari dengan penuh kecemasan.
Rayn yang kini berdiri di ambang pintu pun menegaskan raut wajah khawatiran saat melihat Lusia yang memandangnya dengan gelisah.
"Ada apa Lusia?" tanya Rayn panik mendekap wajah Lusia.
Tanpa menjawab pertanyaan Rayn, Lusia langsung memeluk tubuh Rayn dengan erat. "Aku takut saat tidak melihatmu disisiku. Aku pikir kau benar-benar pergi meninggalkanku lagi" ucap Lusia.
Rayn seketika terdiam, ia menghela nafas lega. Ia pikir sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya. Perlahan Rayn membalas pelukan Lusia dengan memeluknya.
"Aakkhh"
Desis Lusia menahan sakit karena pelukan Rayn tidak sengaja menekan lukanya. Rayn segera melepaskan pelukannya dan membawa Lusia untuk duduk ditepi ranjang tidurnya.
"Apa aku boleh melihatnya?" tanya Rayn.
Lusia terdiam, ia memutar tubuhnya seolah mempersilahkan Rayn melihat luka itu. Perlahan Rayn menyibak baju Lusia untuk melihat bekas jahitan ditubuh Lusia. Rayn membuka perban yang terlihat sedikit basah. Dengan keraguan Rayn mengulurkan tangan, jemarinya perlahan menyentuh luka itu dengan ekstra hati-hati.
Rayn seketika merasa hatinya seperti diiris, kesedihan pun menyelimuti wajahnya dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku" ucapnya lirih lalu memeluk tubuh Lusia dari belakang dengan penuh kehati-hatian.
"Kenapa kau meminta maaf? Lihatlah, aku baik-baik saja dan masih bisa bersamamu saat ini" ucap Lusia memandang ke arah kaca yang berada didepannya.
Masih memeluk tubuh Lusia, Rayn pun memandang wajah kekasihnya pada kaca.
Dia tersenyum, cantik dan menghanyutkan di bawah kilau cahaya matahari pagi. Keinginan untuk menciumnya begitu kuat sehingga Rayn hampir melanggar aturan dan janjinya.
Ray terdiam sejenak, seolah-olah kembali tenggelam dalam pesona cantik Lusia. Ia perlahan menyandarkan dagunya dan menenggelamkan wajahnya pada bahu Lusia.
Keduanya tampak begitu mesra dibalik cahaya matahari yang menembus kaca jendela berderet di salah satu sisi ruangan, ruangan itu terasa hangat, terang, dan sangat nyaman. Sebuah cahaya yang menyambut dan melengkapi keindahan dari dua insan yang kini kembali bersama.
Ketukan pintu tiba-tiba terdengar meskipun pintu dalam kondisi terbuka. "Maaf Tuan Rayn, perawat dari rumah sakit sudah datang" ucap Arka dengan tubuh yang membelakangi keduanya.
__ADS_1
Arka seolah tidak berani menatap Tuan nya yang sedang terlihat mesra memeluk dan nyaman bersandar dipunggung Lusia. Namun ia tidak ingin menunda dan membiarkan perawat menunggu karena kesehatan Lusia yang terpenting saat ini. Dengan berat hati Rayn melepaskan pelukannya, ia berjalan pergi keluar meninggalkan kamar Lusia.
"Maafkan saya Tuan" ucap Arka menunduk.
"Kau memang tidak ahli dalam memahami situasi, untungnya kau memiliki alasan yang bisa aku terima. Tapi, aku rasa kau juga perlu pergi berkencan untuk bisa lebih memahami perasaanku" ucap Rayn kepada Arka sembari berjalan pergi keluar dari kamar Lusia.
Arka hanya bisa menunduk mengikuti Rayn keluar. Ia lalu memanggil dan mempersilahkan perawat masuk untuk memeriksa dan mengobati luka Lusia.
Rayn kembali masuk setelah Lusia selesai mendapat perawatan, ia menanyakan perkembangan pemulihan Lusia kepada perawat. Rayn bertanya sedetail mungkin bahkan hingga bagian paling terkecil yang harus ia perhatikan. Lusia tersenyum kecil menatap pria yang saat ini terlihat begitu serius mendengarkan perkataan perawat dan bersikap seolah seperti suaminya.
"Apa kau juga mendengar apa yang sudah dikatakan perawat tadi?" tanya Rayn membuyarkan lamunan Lusia yang entah sejak kapan dimulai.
"Oh itu" sahut Lusia melirik dan sudah tidak melihat sosok perawat di kamarnya. Bahkan ia tidak sadar kapan perawat itu pergi.
"Apa kau bisa membersihkan dirimu sendiri? Apa kau ingin aku membantumu?" tanya Rayn.
Lusia sontak mendekap tubuhnya, ia berdiri berjalan pergi keluar untuk ke kamar mandi. "Apa yang kau pikirkan, tentu saja aku bisa melakukannya sendiri. Tanganku masih baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir" oceh Lusia.
"Jika Lusia tidak mau, kenapa kau tidak membantuku saja untuk membersihkan diri?" sahut Mickey yang tampak nyaman baring di Sofa.
"Mickey? sejak kapan kau ada di sana?" tanya Lusia terkejut akan keberadaan Mickey.
Mickey membuka pintu kulkas dan berseru. "Aku lupa jika kau tidak punya apa-apa selain minuman sialan ini." ucapnya memandang isi kulkas Rayn.
Mickey mendesah dan mengambil sebotol minuman beralkohol itu lalu menutup pintu kulkas. "Ya, mungkin kini aku yang sedikit membutuhkannya" lanjut ucapnya dengan meneguk airnya langsung dari botol. Ia lalu berjalan kembali ke ruang duduk.
Lusia menoleh menatap Rayn dengan tajam. Sulit dipercaya jika Rayn adalah pria ceroboh yang selalu lari pada minuman disaat sedang terpuruk. Dengan langkah kaki cepat Lusia berjalan ke dapur dan membuka pintu kulkas.
"Arka, bawakan aku kemari box atau apapun itu untuk menyingkirkan semua ini!" perintah Lusia dengan lantang sembari menatap barisan minuman yang ada didalam kulkas.
Teriakan Lusia mengejutkan Mickey yang hendak meneguk kembali minuman yang ada ditangannya. Lusia menghampiri Mickey dan menatapnya tajam. Mickey tersenyum kecil lalu perlahan menyerahkan minuman di tangannya kepada Lusia untuk disingkirkan.
Mickey terdiam dengan mimik takut terhadap Lusia yang masih menatap tajam dirinya. Seperti Macam betina yang siap menerkam, Lusia tidak melepaskan tatapannya dan membuat pria itu memberi kode kepada Rayn untuk meminta bantuan.
"Kau sudah mengambil minumanku, apa ada lagi?" tanya Mickey. "Ah... aku tahu, Ok aku mengaku salah karena membiarkannya menyimpan minuman-minuman itu. Tapi setiap aku datang, aku selalu membuangnya namun keesokan hari kulkas itu sudah terisi lagi" ucap Mickey dengan senyum canggung diselimuti rasa takut akan diterkam Lusia.
Mickey segara menarik tangan Arka dan memintanya untuk berdiri disisinya. "Aku bisa menjadikan Arka sebagai saksi. Sumpah" lanjut ucap Mickey dengan memberi simbol kedua jari terangkat menunjukkan sumpahnya.
"Apa kau lupa dengan kesalahan terbesarmu?" tanya Lusia.
__ADS_1
Kesalahan terbesar Mickey adalah sebuah fakta dimana dia juga sudah membodohi Lusia dengan mengatakan jika Rayn telah kembali ke Canada. Lusia seketika lupa, jika bagaimanapun juga Mickey adalah orang Rayn yang artinya dia akan selalu berada di pihak Rayn.
"Itu... " ucap Mickey tertahan.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Melihat kau kembali dari Canada dan menjaganya itu sudah sangat membuatku berterima kasih" sahut Lusia.
"Maafkan aku Lusia. Tapi aku lega kau sudah kembali dan kalian bersama lagi" ucap Mickey lalu menghela nafas. "Kini aku bisa tidur dan tidak perlu khawatir jika pria itu akan melakukan hal bodoh."
Selama ini Mickey selalu menjaga Rayn di Villa usai menyelesaikan urusan pekerjaannya. Ia bahkan sering terjaga di malam hari karena mengkhawatirkan Rayn akan melakukan hal bodoh atau semacamnya. Tak jarang ia harus berkelahi dengan Rayn setiap kali Ryan sudah terlalu banyak minum atau setiap kali ia menyingkirkan minuman itu.
"Kenapa kau harus merasa lega disaat kau masih harus menjaganya" sahut Lusia.
Rayn sontak menoleh menatap Lusia dengan alis terangkat heran. "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Karena setelah membersihkan diri aku harus kembali pulang ke apartemen Reisa. Lagipula bukankah kau sudah memintaku untuk kembali tinggal bersama dengan Reisa kan" jawab Lusia lanjut untuk pergi ke kamar mandi.
"Lusia..." panggil Rayn menahan lengan Lusia.
Lusia menoleh menatap nanar pria yang menggenggam lengannya dengan kuat. Lusia mendesah lalu perlahan melepaskan genggaman tangan Rayn.
"Lusia..., aku" ucap Rayn panik, seketika ia merasa jantungnya berhenti sejenak dan napasnya tercekat akan sikap Lusia yang melepaskan tangannya.
Usai melepas paksa genggaman tangan Rayn, Lusia perlahan mendekat dan memeluk tubuh Rayn. "Apa kau takut aku akan meninggalkanmu? Bukankah sudah aku katakan jika aku tidak akan pernah meninggalkanmu Rayn" ucap Lusia sembari memeluknya.
Lusia melepaskan pelukannya. "Aku hanya kembali untuk menemui Reisa, aku yakin dia pasti akan sangat khawatir."
Mendengar hal itu membuat Rayn menghela nafas lega. Lusia tersenyum lalu mendekap wajah Rayn. "Auhhh apa kau setakut itu? Sangat menggemaskan" ucapnya.
"Kau sengaja menjahili ku?" sahut tanya Rayn.
Lusia hanya menjawab dengan tawa kecil. Arka dan Mickey pun ikut tersenyum melihat tingkah keduanya. Kekesalan Rayn seketika berubah setelah melihat senyum indah Lusia. Sebuah senyum bahagia yang sudah lama tidak dilihatnya.
"Mungkin kau masih belum sepenuhnya mengetahuinya, betapa berharga dan istimewanya dirimu dalam hidupku. Aku pikir aku telah memiliki begitu banyak kekhawatiran sehingga memaksaku menginginkanmu lebih.Jangan membenciku dan jangan pernah meninggalkanku, meskipun suatu saat nanti kita kembali pada titik dimana kita tidak bisa melihat masa depan kita, tetaplah percaya padaku. Inilah keserakahan ku yang menjadikanmu takdirku. Satu-satunya orang yang ingin ku lindungi sampai akhir."
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued***