
Hari sudah berlalu, namun pikiran Lusia masih tak tenang akan hutang-hutang ayah tirinya. Tidak jarang ia sering melamun saat bekerja di Cafe. Meski ia berusaha terlihat baik-baik saja, namun tidak akan mengubah fakta jika kemungkinan para rentenir juga akan mengganggu keluarganya.
“Semangat Lusia” ucapnya setelah memasang apron miliknya bersiap untuk bekerja. Ia berdiri di kasir dengan senyum menyambut pelanggan yang mulai memesan.
‘Ting ting ting…’
Lonceng yang tergantung di pintu masuk Cafe berbunyi diikuti suara rusuh dari bisik-bisik para pengunjung melihat kedatangan seorang pria yang sudah mereka nantikan setiap harinya.
“Pangeran kita datang hari ini” ucap Dave melihat kedatangan Kelvin yang mengundang perhatian para pengunjung wanita.
“Dia datang, dia datang” ucap seorang pengunjung wanita histeris dan tidak melepaskan pandangannya dari Kelvin.
“Oh, betapa beruntungnya aku karena datang diwaktu yang tepat” ucap pengunjung lain dengan cepat langsung mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar Kelvin.
“Sepertinya ini bukan menjadi harimu Dave” celetuk Lusia menggoda Dave. Jika Kelvin sudah ada Cafe artinya wajah menggemaskan Dave akan tenggelam ditelan oleh ketampanan Kelvin.
Kelvin berjalan masuk sembari membalas sapa dengan senyum yang tampak dipaksanya kepada wanita-wanita yang sudah mulai liar menggambil gambar dirinya. Langkah Kelvin langsung tertuju kepada para staf yang sedari tadi juga ikut memperhatikan kedatangannya.
“Apa kalian juga menganggap seorang bintang yang datang?” tanya Kelvin melihat para stafnya melongo. “Lanjutkan pekerjaan kalian” perintahnya. Mendengar itu sontak semua langsung bubar kembali ke posisi masing-masing.
“Sepertinya kita akan mulai disibukkan dengan Cafe yang akan membeludak dengan pengunjung” ucap Vhia dengan nada kesal.
“Ada apa dengannya?" celetuk Grace dengan tatapan aneh terhadap Vhia yang terlihat sangat tidak senang.
“Ok, semangat… .” sahut Lusia kepada yang lainnya.
“Dave, jangan mempostingnya” ancam Vhia lalu pergi ke depan membersihkan meja pengunjung. Dave adalah admin yang selalu mengisi konten sosial media Friends Cafe. Vhia tidak ingin Dave memposting keberadaan Kelvin di Cafe.
Vhia adalah satu-satunya orang yang merasa tidak senang dan risih jika Cafe ramai dengan pengunjung wanita yang datang alih-alih membeli tapi sibuk mengambil gambar Kelvin dan bergosip.
“Tidak Dave, tetap kerjakan ambil gambar. Siapa yang peduli dengannya. Kita harus meningkatkan penjualan dengan cara apapun. Jika ia merasa lelah karena Cafe semakin sibuk, kenapa tidak berhenti saja berkerja. Bukannya dia punya banyak pria yang bisa diandalkannya” celetuk Grace merasa kesal dengan sikap Vhia.
Lusia meminta Grace untuk tidak melanjutkan perkataannya yang hanya akan memancing keributan jika didengar oleh Vhia. Ia meminta Grace untuk mengabaikannya seperti biasa dan tidak membawa hal pribadi Vhia untuk menyerangnya karena urusan Cafe.
“Baiklah Lusia aku mengerti, jujur sungguh sulit bagiku untuk bisa bersabar seperti dirimu” ucap Grace.
“Dave tetap kerjakan ambil gambar dan cari posisi yang pas, kalau perlu sisipkan gambarku disana.” Lanjut ucap grace memainkan alisnya. Lusia hanya tersenyum, sementara Dave hanya menggelengkan kepalanya.
Kelvin memakai apron miliknya dan langsung berdiri di sebelah Dave memeriksa pesanan yang belum disiapkan. Dave kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Grace terus memberi kode kepada Dave untuk segera mengambil gambar dirinya yang bersiap-siap mendekati Kelvin.
“Kau juga lanjutkan pekerjaanmu” perintah Kelvin kepada Grace yang berusaha mencuri kesempatan.
“Baik pak” jawab grace menunduk dan pergi setelah memasang wajah sedih ke Dave. Perintah Kelvin langsung mematahkan semangatnya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Kelvin kepada Lusia.
“Aku? kenapa dengan diriku? Tanya balik Lusia.
__ADS_1
Kelvin hanya menghela nafas mendengar pertanyaan Lusia yang menunjukkan ketidakpekaannya. “Tentu saja aku menanyakan kondisimu? Akhir-akhir ini kau tampak tidak semangat dan sering melamun" jawab Kelvin.
"Kau sudah lama tidak datang ke Cafe, pasti kau memperhatikannya dari CCTV Cafe. Aku baik-baik saja" celetuk Lusia.
"Tentu saja, aku memasang CCTV untuk dilihat. Dan... " ucap Kelvin menahan perkataannya. "Kata aku baik-baik saja kini aku tidak bisa mempercayainya lagi" lanjutnya. Lusia terdiam mendengarnya.
"Aku hanya bisa meminta kepadamu untuk tidak melarangku melakukan apa yang ingin kulakukan, meskipun itu tentangmu" lanjut Kelvin lalu kembali membantu Dave. Lusia tidak bisa menjawab apapun, ia hanya bisa menghela nafas perlahan lalu kembali membersihkan meja bekas pengunjung.
Dave diam-diam mencuri kesempatan mengambil gambar Kelvin untuk diunggah di story Ia hanya memotret tangan Kelvin yang memegang mesin espresso lalu menambahkan story' baru dengan caption “Kalian tahu tangan siapa ini?”.
“Sudah kukatakan jangan melakukannya” ucap Kelvin melihat Dave sibuk dengan ponselnya.
“Saya hanya melakukan tugas saya sebagai staf di Cafe ini” ucap Dave sembari memasukan ponsel kedalam apron usai menyelesaikan unggahannya.
“Tugas ?” tanya Kelvin dengan menaikan alisnya.
“Tugas menaikkan omset penjualan Cafe ini” jawabnya tersenyum lalu kembali berkerja. Lusia ikut tersenyum mendengar jawaban Dave.
“Meski dengan memanfaatkan bosmu sendiri?" Tanya Kelvin terheran dengan jawaban Dave.
Lusia mendekati Kelvin. “Toh ini juga Cafe milikmu, anggap saja sedang berhemat tidak perlu keluar uang untuk membayar model” ucapnya menepuk bahu Kelvin perlahan berulang dengan menahan tawa. Secara tidak langsung ia meminta Kelvin bersabar dan menerima kenyataan jika dirinya adalah aset penting Friend Cafe.
Seperti biasa unggahan Dave langsung mendapatkan banyak view dan mengundang banyak pengunjung wanita yang datang ke Cafe. Cafe pun semakin ramai. Kelvin dan Dave disibukkan sebagai barista sementara Vhia menerima pesanan di kasir. Lusia, Grace dan staf lainnya melayani pelanggan dengan mengantar pesanan dan membersihkan meja.
Tidak sedikit pengunjung wanita yang memberanikan diri mendatangi Kelvin dan meminta izin mengambil gambarnya lebih dekat. Tentunya mereka tidak berani meminta foto bersama dengan Kelvin karena sudah pasti akan ditolak mentah-mentah olehnya.
Pengunjung itu mengatakan jika dirinya adalah seorang vlogger. Ia meminta Lusia membantunya mengambil video saat sedang menikmati makanan dan memintanya sesekali mengambil view kearah Kelvin. Lusia menerima permintaan itu dengan mengambil video sesuai arahannya. namun gadis itu merasa tidak puas dengan hasil gambar yang diambil Lusia dan berulang kali meminta Lusia terus mengulanginya.
Lusia mencoba melakukan yang terbaik dan bersabar meski gadis itu sesekali kesal kepadanya dan berbicara dengan nada tinggi. “ Aku sudah bilang jangan mengambil gambar terlalu ke bawah” ucapnya kepada Lusia.
“Ah, maaf. Saya akan mengulangnya lagi untuk anda” jawab Lusia tersenyum dan kembali mengambil posisi.
Melihat sikap gadis itu, Kelvin mulai merasa geram dan menghampiri mereka. “Maaf, saya membutuhkan staf saya untuk melayani pengunjung yang lain. Seperti yang anda lihat, Cafe kami sedang ramai dan saat ini kami kekurangan orang” ucap Kelvin meraih lengan Lusia. Ia mengambil kamera dari tangan Lusia lalu meletakkannya di meja.
Perilaku Kelvin sontak mengudang perhatian pengunjung lain. Mereka semakin berbisik dan mengeluarkan ponsel untuk mengambil video.
“Dia memegang tangannya, beruntung sekali pelayan itu. Andai saja ada lowongan aku ingin bisa bekerja disini.” Bisik seorang pengunjung kepada temannya.
“Lagi pula gadis itu yang keterlaluan, mengganggu stafnya yang sedang bekerja” bisik pengunjung lain dengan suara keras sengaja agar gadis yang mereka maksud mendengarnya.
“Ia kau benar, memang dia yang gaji staf di Cafe ini? Seenaknya saja” gumam yang lain dengan tatapan sinis.
Melihat reaksi vlogger itu yang mulai terlihat kesal akan bisik dan cemoohan pengunjung lain, Lusia lekas mengambil tindakan yang mengejutkan.
“Oh, jika begitu. Bagaimana jika bos saya membantu anda mengambil gambar?” tanya Lusia mengambil kembali kamera dan menyerahkannya kepada Kelvin. Kelvin menaikkan alisnya menatap tajam Lusia yang berani memerintahnya.
"Lakukan saja, cukup sekali saja aku yakin dia pasti akan langsung puas dengan hasilnya. Ya… meskipun tampak biasa-biasa saja tapi dia akan menyukainya karena kau yang membantunya” bisik Lusia kepada Kelvin.
__ADS_1
Kelvin memasang wajah kesal kepada Lusia lalu dengan cepat merubah reaksi wajahnya dengan senyum manis memandang ke arah vlogger itu.
“Dia benar, boleh saya membantu anda mengambil gambar?” tanya Kelvin meraih kamera dari tangan Lusia. Gadis itu langsung menyetujuinya dengan tersipu malu.
“Ok siap, satu, dua, tiga” lanjut ucap kelvin mengambil gambar dengan cepat dan langsung mengembalikan kamera tanpa melihat hasilnya.
“Aku yakin anda akan menyukainya meskipun…” lanjut Kelvin belum sampai selesai kakinya diinjak oleh Lusia. Ia khawatir jika Kelvin akan mengatakan apa yang dia katakan sebelumnya.
“Anda yakin akan menyukainya. Meskipun view Cafe saya tidak terlalu bagus, namun wajah cantik anda yang membuat hasilnya sempurna” lanjutnya dengan senyum yang dipaksakan. Lusia pun ikut tersenyum.
Gadis itu memeriksa hasilnya dan terlihat sangat puas. Ditambah dengan pujian Kelvin yang membuat pipi gadis itu langsung memerah. Ia sangat berterima kasih kepada Kelvin. Kelvin menarik tangan Lusia lalu menggandengnya dan membawanya kembali untuk melanjutkan pekerjaannya. Tindakan kelvin semakin mengundang iri para penggemarnya. Bahkan sampai ada yang melakukan Live streaming. Banyak yang memuji tindakan sopan Kelvin kepada gadis vlogger itu. Mereka juga memuji pelanyanan Cafe yang sangat baik.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Kelvin sesampainya di dapur.
“Apa kau tidak melihat jika gadis itu sudah mulai bertanduk karena malu?” jawab Lusia. Jawaban Lusia justru membuat geram Kelvin.
“Lalu apa kau tidak melihat diriku yang juga sudah bertanduk?” tanya Kelvin.
“Kenapa kau ikut bertanduk?” tanya Lusia.
“Kau …” ucap Kelvin menahannya dengan menghela nafas kasar.
“Aku tahu, karena dia sudah sangat keterlaluan memerintahku kan. Tapi dia seorang vlogger jika dia menulis dan mengatakan sesuatu yang buruk tentang pelayanan kita maka tamatlah sudah kita.” Ucap Lusia.
“Jadi kau lebih takut dengannya daripada diriku?” tanya Kelvin.
“Aku bukanya takut kepada dirinya. Lebih tepatnya aku takut kepada fakta dengan istilah Netizen maha benar. Apa kau tidak pernah mendengarnya?” tanya Kelvin.
“Jangan hanya pikirkan ego saja pak, tapi pikirkan Cafe ini, dan juga kami yang bisa saja kehilangan pekerjaan jika Cafe ini tutup.” sahut Dave memasuki dapur melewati keduanya.
Lusia mengangguk membernarkan ucapan Dave. “Dave benar, jadi anggap ini pengorbanan kecil. Yah... memang perlu sedikit pengorbanan untuk bisa menghadapi mereka“ ucap Lusia lirih dengan menepuk bahu Kelvin lagi.
"Pengorbanan“ lanjut ucap Lusia tersenyum meninggalkan Kelvin.
“Apa dia tidak sungguh tidak mengerti alasan kenapa aku marah?” tanya Kelvin dalam hati menatap Lusia yang meninggalkannya.
Menjelang tutup Cafe tempat mulai sepi. Kelvin memasang tanda tutup lebih awal dan hanya melayani sisa pelanggan yang ada di Cafe. Tiba-tiba Lusia menghampiri Kelvin setelah menerima panggilan dari David. Bersamaan Kelvin keluar dari ruang ganti berjalan keluar.
"Kelvin, kau sudah mau pergi?" tanya Lusia.
"Apa kau juga menerima panggilan dari David?" tanya Kelvin melihat wajah panik Lusia dengan memegang erat ponselnya. Lusia hanya menjawab dengan anggukan cepat.
"Baiklah, kita bisa pergi bersama." ucap Kelvin.
Kelvin akhirnya pergi dengan Lusia meninggalkan Cafe lebih awal. Ia menyerahkan urusan Cafe kepada Vhia dan Dave dan meminta mereka jika sebisanya menutup Cafe dengan cepat.
Apa yang membuat David tiba-tiba menghubungi Kelvin dan Lusia ?
__ADS_1
*** To Be Continued***