Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 77 - Siapa Dia (Part2)


__ADS_3

Di hari ulang tahunnya, alih-alih mendapat kejutan dari Reisa, ia malah mendapat ceramah panjang dari sahabatnya itu. Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan Reisa, keseruan mereka terus berlangsung di kamar Lusia dengan menikmati tart yang dibawa Reisa hingga mendekati waktu kerja Lusia di cafe.


Jika Lusia tidak harus segera bekerja, mungkin perbincangan mereka tidak akan berakhir sampai esok hari. Reisa akhirnya memutuskan mengantar Lusia pergi bekerja ke Cafe, karena Rayn mengatakan jika dia yang akan menjemput Lusia pulang nanti.


Sesampai di Cafe, Lusia masuk Cafe sembari mengirim pesan kepada Rayn jika ia sudah sampai. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh Dave dan staf lain yang menghampirinya dengan membawa tart dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.


Meskipun pengunjung Cafe sedang tidak ramai, kejutan itu tetap menarik perhatian dan beberapa diantara mereke merekamnya. Ditambah kejutan itu dikepalai Dave, salah satu idola di Friend's Cafe. Dave dan yang lain memberi hadiah buket bunga dan sebuah sepatu sport dari salah satu brand terkenal.


Hadiah itu dibeli dari uang yang mereka kumpulkan bersama. Lusia sangat terharu dan sangat berterima kasih, terutama untuk Dave yang menjadi pelopor dalam kejutan itu.


“Oh yah, ada kiriman paket hadiah untuk Kak Lusia. Aku meletakkannya di atas loker kakak” ucap Dave.


“Hadiah? Dari?” tanya Lusia.


“Entahlah, seorang kurir yang mengantarnya” sahut Dave.


Lusia segera pergi ke lokernya untuk memeriksa. Ia melihat sebuah bingkisan yang rapi dan indah, tertulis jelas nama penerima adalah dirinya. Bahkan terdapat sebuah kartu ucapan yang ditulis dengan tangan.


‘Selamat ulang tahun Matahariku.


Aku tahu kau telah melewati begitu banyak waktu sulit selama ini.


Tapi aku selalu ada untukmu, selalu ada bersamamu.


Aku akan memberanikan diriku. Tunggu Aku.’


“Apa maksud dari ditulisnya ini?” gumam Lusia.


Lusia membuka paket hadiah itu, ia dikejutkan dengan barang yang sangat tidak asing baginya. “Ini kan sepatu Heels yang pernah aku inginkan beberapa bulan lalu waktu pergi ke Mall bersama Reisa” ucapnya.


Lusia segera memeriksa akun sosial medianya, ia ingat pernah mencoba memakainya untuk di-posting dengan cuitan:


[Haha, aku tahu ini memalukan, tapi demi menunggu orang yang berbaik hati Hahaha]


Ya, inilah cuitan Lusia dalam akun sosial medianya saat mencoba memakainya namun tidak membeli.


"Apa Reisa yang membelikannya untukku?” gumam Lusia mengingat saat itu Reisa berkeras hati membelikannya, namun Lusia menolak.


“Tapi itu tidak mungkin, untuk apa dia menulis kartu ucapan yang aneh” ucap Lusia.


Tidak ada nama atau alamat pengirim pada paket itu, hanya ada sebuah kartu ucapan bertuliskan kata-kata yang membuat Lusia tidak mengerti apa maksud dari isi kartu ucapan itu.


Demi menyelesaikan rasa penasarannya, Lusia menghubungi Reisa untuk klarifikasi langsung. Reisa mengatakan jika itu bukan darinya. Reisa justru menjadi kepo siapa orang yang berbaik hati membelikannya untuk Lusia.


Lusia tiba-tiba terpikirkan oleh 2 orang yang mungkin saja cocok menjadi kandidat pengirim misterius ini.


“Kelvin ? Atau... Rayn?"


Tanya Lusia dengan wajah yang sedang berpikir keras. Lusia berusaha menyangkal pada dirinya sendiri jika tidak mungkin Rayn atau Kelvin. Lusia kembali teringat dengan pria misterius yang sudah membelikannya popcorn waktu di Bioskop. Momen itu usai dia melihat sepatu itu di Mall bersama Reisa.


“Mungkinkan pria itu? Jika benar artinya dia sudah mengikutiku dan Reisa?” tanya Lusia masih berpikir keras.


Kelvin tidak mungkin melakukan hal yang kekanakan seperti ini, apalagi Rayn. Dari kartu ucapan terlihat dia sangat mengetahui situasi ku selama ini, Rayn adalah orang yang mungkin saja melakukannya. Tapi kondisi Rayn tidak mungkin akan mengikuti Lusia seorang diri hingga ke Mall disaat dia menderita Haphephobia.


Jawaban-jawaban plin plan Lusia tidak menemukan titik terang siapa yang mengirimnya. Lusia memutuskan untuk bertanya dahulu kepada Rayn langsung nanti saat pulang bekerja.


.


.


Hari sudah semakin larut, mendekati jam tutup Cafe mobil Rayn sudah terparkir menunggu Lusia. Usai Cafe tutup, Lusia segera menghampiri Rayn dan masuk mobil usai berpamitan kepada rekan yang lain.


“Bukannya pria itu yang datang terakhir ke Cafe bersamanya?” tanya Vhia.


“Kau benar” jawab Grace.


“Apa mereka berpacaran?” tanya Vhia kepada Dave seolah Dave yang paling tahu segalanya tentang Lusia.

__ADS_1


“Kanapa bertanya kepadaku? Jelas-jelas kak Lusia orang yang masuk ke dalam mobilnya. Jadi, tanyalah langsung sendiri kepada orangnya" jawab ketus Dave lalu pamit pergi.


“Dasar Bocah tengik” decak Vhia.


Dalam perjalanan kembali ke Villa, Lusia mencoba bertanya kepada Rayn soal hadiah sepatu yang ia terima. Rayn mengatakan jika ia memiliki hadiah lain yang belum ia berikan kepada Lusia karena seharian Reisa terus menempel kepada Lusia.


“Kenapa? Apa kau mendapat hadiah dari seorang penggemar?” ejek Rayn.


“Kau yakin itu bukan dirimu?” tanya balik Lusia tanpa menjawab pertanyaan Rayn.


“Aku justru ikut penasaran, siapa yang berani memberikan hadiah mewah kepada wanitaku dengan gaya sok misterius” sahut Rayn.


“Aku serius, Ryan” ucap Lusia.


"Aku juga serius, kau ingin aku membantumu menyelidikinya?” tanya Rayn.


“Kau yakin tidak pernah mengikuti atau mungkin tidak sengaja bertemu denganku di Mall?” tanya Lusia sekali lagi meyakinkan dirinya.


“Kenapa? Kau mencurigai sesuatu yang aneh dari hadiah itu?” tanya Rayn.


Lusia kembali memandang lurus ke depan dan kembali berpikir seorang diri. “Melihat reaksinya, sudah jelas bukan dia” gumam Lusia dalam hati.


Rayn mengurangi kecepatan dan menepikan mobilnya. Ia kembali bertanya kepada Lusia apakah ada sesuatu yang mengusiknya dari paket itu.


"Aku hanya merasa mungkinkah dia orang yang sama dengan orang yang pernah mengirim bunga, membelikan popcorn dan entah kebetulan atau bagaimana dia tahu dan memberi hadiah sepatu yang aku inginkan ini.”


“Jadi, ini bukan pertama kali kau menerimanya?” tanya Rayn.


Lusia mengangguk, Ryan meyakinkan Lusia jika itu sungguh bukan dirinya. Rayn justru menjadi khawatir, ia menanyakan apa Lusia mungkin mencurigai orang lain selain dirinya.


Lusia mengatakan semuanya kepada Rayn jika awalnya ia mengira, jika bukan Ryan maka dia adalah Kelvin. Namun jika ternyata semua berhubungan dengan hadiah lain yang ia terima maka sudah pasti itu bukan Kelvin.


Lusia mulai menceritakan kejadian aneh yang ia alami kepada Rayn. Mulai dari hadiah bunga yang dibeli oleh seorang pria misterius dari toko bunga tempatnya bekerja dan bunga itu diberikan kepadanya. Pria misterius yang membelikan popcorn dan kini hadiah sepatu saat ini.


Lusia menjadi terpikirkan dengan hal kecil lain sebelumnya. Ia pernah bertemu dengan pria yang memberinya payung saat hujan di Halte. Pria itu mengatakan jika ia sudah menduga Lusia tidak memilik payung sebelum akhirnya pria itu pergi begitu saja.


Selain itu masih banyak kejadian kecil lain. Selama ini Lusia tidak pernah menanggapinya dengan serius, ia yang awalnya berpikir jika semua itu hanya kebetulan kini menjadi parno dan khawatir.


Rayn meminta Lusia untuk tidak khawatir, sementara waktu Rayn akan meminta Arka untuk menjaganya selama Lusia beraktifitas di luar Villa atau di luar pengawasan Rayn.


Lusia awalnya menolak karena baginya itu terlalu berlebihan. Namun jika Rayn sudah memutuskan, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menurutinya. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang.


Sesampai di Villa, Lusia turun dari mobil lebih dulu dan masuk ke dalam Villa duluan, sementara Rayn masih tetap di dalam mobil. Ia menghubungi Mickey dan memintanya datang ke Villa besok saat Lusia sudah pergi kerja ke Cafe.


.


.


Keesokan hari…


Sesuai dengan permintaan Rayn, Mickey datang ke Villa saat Lusia sudah pergi bekerja dengan Arka. Rayn tahu jika Lusia tidak akan nyaman dengan adanya Arka yang selalu mengikutinya. Tapi demi keamanan Lusia, Rayn tidak punya pilihan lain.


“Kau mengirim Arka bersamanya? Apa ada sesuatu?” tanya Mickey mengetahui Rayn mengirim Arka pergi bersama Lusia.


“Itu hal yang ingin aku bahas denganmu, karena itu aku memintamu untuk datang” sahut Rayn.


Rayn meminta Mickey menyelediki lagi mobil misterius yang pernah memasuki kawasan Villa. Mobil misterius yang dulu Lusia kira adalah para rentenir penagih hutang ayah tirinya.


“Kau ingin menyelidikinya lagi?” tanya Mickey. “Kenapa?” lanjut tanyanya.


Saat itu Mickey sudah melaporkan kepada Rayn jika mobil itu menggunakan plat palsu yang tidak terdaftar. Mickey juga memastikan jika orang itu bukan suruhan ayah Rayn atau orang dari pesaing ayahnya yang mengancam Rayn.


Mobil misterius itu datang untuk Lusia, seseorang yang berhubungan dengan Lusia. Itulah sebabnya saat itu Rayn meminta Mickey menyiapkan beberapa pengawal untuk Lusia. Namun, tidak selang lama pengawalan di cabut sesuai permintaan Lusia.


Rayn menceritakan semua yang terjadi dengan Lusia kepada Mickey. Ia meminta Mickey menyelidiki


ulang mobil misterius itu, termasuk semua tentang kiriman paket yang diterima Lusia. Ia meminta Mickey mencari tahu siapa pria itu dari rekam jejak kejadian yang dialami Lusia.

__ADS_1


“Maafkan aku jika aku lalai dan tidak menindaklanjuti penyelidikan mobil misterius itu, aku awalnya juga berpikir jika itu para rentenir” ucap Mickey.


“Jika itu rentenir, maka mereka tidak perlu memalsukan plat mobil” sahut Rayn berpikir serius.


"Soal mobil misterius aku akan menyelidikinya. Tapi soal paket dan pria misterius itu, apa… itu bukan kau?” tanya Mickey.


“Apa kau sudah gila?” sahut Ryan dengan tatapan serius.


“Hahaha, aku hanya bercanda” tawa Mickey.


“Kirimkan aku kembali rekaman cctv mobil misterius itu” lanjut perintah Rayn kepada Mickey.


Mickey menganggukan kepalanya masih dengan tertawa kecil. Ia tahu jika saat ini keseriusan Rayn tentu saja karena semua tentang Lusia.


Mickey memutuskan akan mengirimkan tambahan beberapa pengawal di Villa, termasuk penjagaan di pintu masuk kawasan Villa. Meskipun ini masalah Lusia, namun Mickey tidak ingin lengah, ia akan menambahkan pengawasan lebih ketat secara pribadi untuk keselamatan Rayn.


Rayn menyetujuinya karena keamanan Villa, ia sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Mickey. Kecuali pengawalan untuk dirinya, ia hanya mempercayakan 1 orang yaitu Arka.


Mickey akhirnya pamit, saat hendak meninggalkan ruang baca ia menghentikan langkahnya dan


berbalik. Dengan wajah yang terlihat ragu ia bertanya kepada Rayn.


“Oh ya, Leona memberitahuku jika kau menunda hipnoterapi selanjutnya. Apa ada masalah?” tanya Mickey.


Mickey tidak tahu hasil dari hipnoterapi sebelumnya, karena meskipun Dr. Leona sangat dekat dengan dirinya, Dr.Leona tidak pernah membuka rekam medis kepada orang lain diluar izin dari sang pasien. Begitu juga sebaliknya dengan Mickey, ia hanya akan menunggu sampai Rayn yang mengatakan sendiri kepadanya.


“Tidak ada masalah, hanya saja aku tidak ingin terburu-buru. Aku pun butuh waktu” sahut Rayn.


“Apa karena Lusia?” tanya Mickey.


Rayn diam, ia tidak segera menjawab hanya menatap Mickey yang berdiri didepannya.


“Atau mungkin karena diriku” lanjut ucap Mickey dalam hati menatap Rayn yang hanya diam.


Rayn membutuhkan waktu untuk menerima segala kemungkinan yang bisa saja akan mengubah hidupnya nanti setelah mengingat semuanya. Ia tidak ingin menyesal dan tidak ingin kehilangan siapa pun lagi, termasuk Mickey.


“Kau bisa menganggapnya seperti itu. Aku juga butuh waktu untuk bermanja-manja ria dengannya.” sahut Rayn tersenyum.


“Wahh… sepertinya aku perlu menyingkirkan semua buku dongeng di lemari mu ini dan menggantinya dengan buku percintaan”celetuk Mickey.


Mickey berjalan mendekati Rayn yang duduk di meja bacanya. “Apa kau juga perlu ku bantu carikan konsultan cinta?” tanya Mickey dengan suara lirih meledek Rayn.


“Keluar…”


Perintah Rayn singkat lalu melanjutkan membaca kembali buku dongeng ditangannya. Mickey tertawa terkekeh melihat reaksi Rayn.


“Khawatirkan saja dirimu yang masih saja melajang” ucap Rayn saat Mickey hendak menuruni tangga.


Mendengar sindiran Rayn, Mikcey menjadi tidak fokus dan hampir terpeleset. Serangan balik Rayn akan ledekan nya sudah seperti tembakan maut.


“Wah kau menyakiti harga diriku yang sudah setia kepadamu sampai tidak memiliki waktu untuk berkencan” ucap Mickey.


Mickey lanjut menuruni anak tangga dengan mengomel, sementara Rayn hanya tersenyum.


“Ini yang selalu aku harapkan, sebuah hubungan yang tetap ingin aku pertahankan diantara kita. Ibu, tunggu aku sebentar lagi. Percayalah kepadaku, aku akan mengakhiri semuanya tanpa kehilangan siapapun. Mickey, Ayah dan Lusia”


Rayn menutup buku dongeng ditangannya lalu menatap sebuah photo yang terletak di sudut mejanya. Sebuah foto dirinya dengan Mickey waktu kecil.


.


.


*** To Be Continued***



Visual untuk Rayn dan Mickey kecil

__ADS_1


__ADS_2