Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 122 - Duniaku Bersamanya


__ADS_3

Keesokan hari...


Rayn pergi ke kamar hotel Lusia untuk menjemputnya, keduanya hari ini sudah memiliki janji untuk pergi menemui ayah Rayn, Tuan Charles Dean Anderson sesuai dengan jadual yang sudah diatur Mickey. Rayn kini berdiri di depan pintu kamar Presidential Suite, meskipun dirinya memiliki akses langsung untuk masuk, namun Rayn menghormati privasi ibu Lusia yang juga tinggal di sana. Rayn menunggu Lusia membukakan pintu untuknya.


Ibu Lusia membuka pintu dan langsung mengurai senyum menyambut kedatangan Rayn. Namun, tidak lama senyum itu sirna dan raut wajahnya seketika menjadi bingung saat Rayn mengatakan jika dirinya datang untuk menjemput Lusia.


"Bukankah Lusia pergi bersamamu?" tanya Ibu Lusia.


Ibu Lusia mengatakan jika saat ini putrinya tidak ada didalam. Lusia sudah meninggalkan kamar hotel dari pagi dan dia mengatakan jika akan pergi ke suatu tempat bersama Rayn.


Menyadari situasi yang aneh membuat Ibu Lusia menjadi khawatir. Lalu kemana Lusia pergi dan bersama siapa jika Rayn sendiri saat ini datang mencarinya.


Rayn membenarkan jika mereka akan pergi ke suatu tempat, tetapi itu dijadualkan masih 1 jam ke depan, itu sebabnya kenapa dirinya baru datang sekarang. Rayn terdiam, ia masih tampak sedang berpikir sejenak. Rayn tidak ingin membuat ibu Lusia khawatir, ia mengatakan jika kemungkinan Lusia ingin menghirup udara pagi dan menunggunya di suatu tempat.


Rayn meminta ibu Lusia untuk tidak khawatir karena dirinya akan menghubungi Lusia langsung, dia tahu dimana Lusia saat ini. Rayn pamit kepada ibu Rayn untuk pergi menemui Lusia. Rayn meninggalkan kamar hotel dengan raut wajah yang begitu sangat tenang seolah tidak ada merasa cemas. Hal ini Rayn lakukan karena tidak ingin Ibu Lusia menjadi khawatir.


Usai meninggalkan kamar hotel Lusia, Rayn segera menghubungi Mickey dengan raut wajah yang berbeda saat ia berpamitan dengan ibu Lusia. Ia tampak cemas bercampur dengan amarah yang tertahan selama berada didepan ibu Lusia.


"Apa dia bersamanya?" tanya Rayn tanpa basa-basi ketika Mickey menjawab panggilan teleponnya.


"Jangan khawatir" sahut Mickey yang sepertinya sudah paham akan pertanyaan Rayn yang begitu singkat itu.


"Apa kau sudah gila? Jangan khawatir katamu?" tanya Rayn dengan berteriak kepada Mickey.


Teriakan Rayn menarik perhatian setiap tamu hotel dan beberapa staf hotel yang berpapasan dengannya. Rayn menghentikan langkahnya lalu berbicara dengan nada suara lirih namun terdengar sedang mengancam, ia seperti sudah tahu pasti dimana Lusia saat ini.


"Mickey, aku mungkin bisa memaafkan mu untuk hal yang lain, tapi tidak akan pernah jika itu menyangkut Lusia. Jadi, berhentilah bertindak di belakangku" ucap Rayn lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan hotel dengan langkah kaki cepat.


...***...


Di sebuah Penthouse, hunian mewah yang berada di lantai teratas bangunan apartemen berkelas di Quebeq. Hunian para jutawan yang membuat Lusia hanya bisa menelan salivanya. Hunian pribadi yang begitu luas dan terbuka menyuguhkan segala kemewahan dan juga pemandangan 360 derajat dengan view yang sangat indah serta menakjubkan.


Terlihat jelas dari sorot matanya yang seperti terbius dengan kemewahan tempat yang ia datangi saat ini. Lusia duduk dijaga oleh tiga pria yang berdiri tidak jauh darinya. Meskipun begitu, ia tampak tenang dan menikmati pemandangan yang tersuguh didepannya.


"Apa ini duniamu yang sesungguhnya, Rayn?" batin Lusia melihat kemegahan dan segala kemewahan yang ia lihat saat ini. Ia merasa jika dunia Rayn sungguh jauh berbeda dari dunia.


Tidak lama seorang pria berpenampilan rapi penuh wibawa berjalan ke arahnya. Ia meminta para penjaga yang sedari tadi tidak melepaskan tatapannya dari Lusia untuk keluar meninggalkan ruangan itu. Lusia bisa melihat jika pria itu memiliki kekuasaan yang membuatnya semakin merasa begitu sangat kecil.


Pria itu adalah ayah Rayn, Tuan Charles Dean Anderson. Ini bukan kali pertama Lusia bertemu dengan ayah Rayn, seorang ayah yang sudah mengasingkan putranya sendiri selama bertahun-tahun.


"Jangan menatapku seolah aku akan melakukan kejahatan besar kepadamu" ucap Tuan Charles lalu duduk di sofa tepat didepan Lusia.


Lusia bangkit dari duduknya, ia lalu membungkuk memberi salam kepada ayah Rayn. "Maafkan saya jika reaksi saya telah membuat anda tersinggung" ucap Lusia lalu kembali duduk setelah seorang pria bernama Tuan Alex memberinya isyarat untuk kembali duduk.


"Aku akan langsung pada intinya. Pernikahan itu, apa kau yakin akan melakukannya? Apa kau tahu keputusan apa yang sudah kau buat? Tapi, terlepas dari semua itu, apa kau sudah menilai kelayakanmu sendiri?" tanya Tuan Charles seperti tidak memiliki perasaan.


Tuan Charles bahkan tidak menjawab sapa salam Lusia tapi langsung menodongnya dengan pertanyaan mengiris hati tanpa ada kata basa-basi. Wanita mana yang tidak akan langsung goyah ketika mendengar pertanyaan seperti itu dari seseorang yang akan menjadi mertuanya kelak.


Lusia menghela nafas perlahan, ia berusaha untuk tetap terlihat tenang. Lusia menjawab setiap pertanyaan secara langsung, tanpa filter atau merangkainya terlebih dahulu. Pikirnya, ia tidak perlu menjawab pertanyaan itu dengan dibuat-buat atau bertentangan dengan hatinya hanya untuk mendapat pengakuan ayah Rayn.


Dengan tegas Lusia mengatakan jika keputusannya menerima lamaran Rayn sepenuhnya keputusan dari hatinya. Kelayakan itu, ia tidak perlu menilainya karena hanya Rayn yang lebih berhak menilai kelayakannya. Rayn adalah orang yang akan menjalani hidup bersanding dengan dirinya, maka Rayn yang akan memutuskan seberapa layak dirinya sebagai pendamping hidup.

__ADS_1


"Apa hanya untuk ini anda memanggil saya? Apa ini yang anda khawatirkan? Atau... mungkin ini pertama kali bagi anda merasa khawatir terhadapnya? Setelah sekian lama dia terlahir sebagai putra anda" ucap Lusia.


Tuan Charles melempar senyum sinis. "Apa kau masih belum sadar saat ini kau berada dimana?" tanya ayah Rayn setelah mendengar Lusia berani menanyakan hal itu kepadanya.


"Saya tahu, sangat tahu dimana saya berada saat ini. Bahkan tempat ini membuat saya menyadari betapa jauh berbeda antara dunia yang saya miliki dengan dunianya. Tapi, saya tidak perlu mengkhawatirkan perbedaan dunia itu karena kami akan membangun istana dan dunia kami sendiri kelak" jawab Lusia.


Lusia melihat sekeliling lalu kembali memandang Tuan Charles. "Namun, terlepas dari anda yang menghawatirkan orang rendahan seperti saya bersanding dengannya, apa anda tidak pernah sekalipun mengkhawatirkan penderitaannya?" tanya Lusia.


"Dan kau orang yang manfaatkan penderitaan itu dengan terus membuatnya menempel padamu?" potong ayah Rayn.


"Menempel..." ucap Lusia lirih berbicara sendiri menahan amarah akan perkataan menyakitkan yang dilayangkan ayah Rayn.


Lusia mengepalkan kedua tangannya untuk menahan amarahnya. Ia bukan marah dan terluka atas perkataan ayah Rayn kepadanya, tapi bagaimana bisa mengatakan hal itu tentang putranya sendiri.


"Sepertinya anda salah akan sesuatu, yang Rayn lakukan bukanlah menempel, tapi berjuang untuk tetap bertahan hidup" ucap Lusia dengan tatapan tegas.


"Disaat Rayn mengurung dirinya jauh dari orang lain tanpa seorang pun disisinya, kenapa dia harus melakukannya? Kenapa dia diperlakukan berbeda? Bahkan mungkin tidak ada satupun yang menyadari keberadaan. Bukankah itu sama halnya dengan hidup tapi mati. Apakah anda pernah sekalipun memikirkan hal itu darinya?" tanya Lusia kepada ayah Rayn.


Lusia masih terus membalas ayah Rayn dengan semua perkataan yang ingin ia katakan. "Layak atau tidak layaknya diri saya dimata anda, saya hanya akan tetap pada keputusan saya. Saya akan tetap bersamanya dan tidak akan pernah meninggalkannya" lanjut ucap Lusia.


"Jika kau sudah sangat sadar saat ini kau ada dimana, maka kau juga tahu siapa dia. Dia adalah putra tunggal dan satu-satunya yang akan menjadi pewaris keluarga Anderson. Apa kau pikir kau bisa melakukannya hanya karena kau menginginkannya?" tanya ayah Rayn.


"Putra? Apa saat ini anda memanggilnya putra tulus dari hati anda sebagai seorang ayah? Bukan hanya sebagai boneka yang hanya akan menjalankan perannya pada panggung bisnis anda? Lalu, apa pernikahannya juga akan menjadi bagian dari bisnis anda?" tanya Lusia.


"Jaga ucapannmu !!!" bentak ayah Rayn. "Kau wanita yang berani, bahkan kau berani mengatakan hal itu dengan tatapan matamu itu" lanjut ucap Tuan Charles.


Lusia tertunduk, ia memejamkan matanya sejenak lalu kembali memberanikan diri memandang ayah Rayn. "Lalu.... kenapa anda melakukannya? Kenapa anda melakukan ini kepadanya? Kenapa anda membuatnya harus menanggung penderitaan itu sendiri? Sampai kapan? Sampai kapan anda akan melakukan ini kepadanya? Apa menurut anda dengan mengasingkan dia jauh dari hidup anda itu adalah jalan terbaik. Anda tidak melakukan apapun untuk kesembuhannya dan memilih untuk menyerah. Dan kini anda mengatakan dia adalah pewaris keluarga ini. Wahh... setelah semua yang anda lakukan padanya, anda masih ingin mengatakan jika diri anda adalah seorang ayah?" tanya Lusia yang sudah mencapai puncak amarahnya.


"Lancang kauuu..." sahut ayah Rayn.


Lusia kembali melanjutkan ucapannya usai menghela nafas. "Anda salah besar..., dia adalah pria sempurna, dia adalah pria yang memiliki hati yang begitu hangat, polos dan penuh perhatian. Kesempurnaan itu, saya yakin anda tidak akan bisa melihatnya sehingga anda tidak pernah tahu jika dia adalah seorang putra yang berharga dan patut dibanggakan, bahkan jauhhhh lebih berharga dibandingkan dengan semua pewaris bangsawan yang memiliki hidup normal diluar sana."


Lusia mengangkat satu tangannya "Jikapun hanya tangan ini yang bisa Rayn genggam, maka saya rela dan akan membiarkan dia menggenggamnya seumur hidup saya. Saya akan menjadi orang yang akan melindunginya disetiap waktunya yang sulit. Saya akan membawanya melihat dunia. Apa anda pernah tahu apa yang Rayn inginkan? Dia mengatakan jika dirinya juga ingin melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang ia cintai. Saya yakin, jika dia masih berpikir kalau anda juga bagian dari orang yang ia cintai. Keinginannya itu, saya yang akan mewujudkannya meskipun tanpa dukungan anda. "


Lusia berdiri dari duduknya, ia membungkukkan badannya lalu kembali tegap dan kembali melanjutkan perkataannya, kali ini yang terakhir sebelum ia akan meninggalkan tempat itu.


"Jadi, saya tidak akan pernah meninggalkannya. Seberapa keras anda mencoba memisahkan, saya tidak akan pernah goyah dan menyerah. Saya tidak peduli, sekalipun anda akan membuatnya pergi jauh dari hidup saya atau pun membuatnya membenci saya. Saya akan tetap mencintainya, tetap melindunginya dan tidak akan pernah sekalipun meninggalkannya. Hanya cukup salah satu diantara kami tidak goyah, maka semua akan baik-baik saja" ucapnya dengan tegas.


Tuan Charles menyeringai. "Apa kau yang membuatnya berpikir seperti itu tentang ayahmu ini?" tanya Tuan Charles.


Pertanyaan itu bukan ia tanyakan kepada Lusia, matanya menatap tajam kepada seseorang yang sedari tadi berdiri dibelakang Lusia. Lusia sontak berbalik dan terkejut melihat kehadiran Rayn yang entah sejak kapan dia sudah ada di sana.


"Rayn..." panggil Lusia.


"Apa kau tahu apa yang dikatakannya untuk menikahimu?" tanya ayah Rayn, kali ini pertanyaannya itu ditujukan kepada Lusia


"Ayah..." sahut Rayn meminta ayahnya untuk berhenti.


Rayn melangkah menghampiri Lusia untuk lebih dekat dan berdiri tepat disebelahnya. Rayn meraih tangan Lusia dan menggenggamnya dengan erat.


Tuan Charles tidak peduli dengan perintah Rayn yang memintanya berhenti menekan Lusia, ia tetap melanjutkan ucapannya kepada Lusia.

__ADS_1


"Aku bertanya kepadanya, apa hebatnya dirimu? Jika dia sembuh, maka kau tidak akan memiliki arti apa-apa lagi. Dia tidak akan membutuhkanmu lagi. Aku bisa menjanjikan kesembuhan itu tanpamu. Dan apa kau tau apa dia katakan? Dia berani mengancamku akan menolak semua pengobatan. Hanya karena wanita sepertimu, dia tidak peduli meskipun harus mengidap phobia itu seumur hidupnya. Konyol sekali, membuatku ingin tertawa." ucapnya.


Tuan Charles menatap Lusia dengan tatapan serius. "Aku pikir tidak ada gunanya berbicara dengan anak itu, jadi aku akan bertanya kepadamu. Kenapa harus dia?" lanjut tanya Tuan Charles kepada Lusia.


"Saya tidak butuh alasan, hanya mengikuti perasaan yang kami rasakan" jawab Lusia.


Tuan Charles mengendus kasar. "Sepertinya, dari sikapmu kau datang bukan untuk meminta restu tapi menebar jarum" ucap ayah Rayn lalu berdiri dari duduknya.


"Bukankah kau datang untuk menjemputnya? Pergilah" perintah Tuan Charles kepada Rayn.


"Apa ayah sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan hati ayah?" tanya Rayn kepada ayahnya.


Ayah Rayn tidak menjawabnya, ia pergi meninggalkan ruangan itu setelah meminta Tuan Alex melaporkan schedulenya. Rayn hanya terdiam menatap punggung sang ayah, tangannya semakin erat menggenggam tangan Lusia.


...***...


Rayn dan Lusia meninggalkan ruangan itu. Di dalam lift khusus yang menjadi aksen pribadi langsung, Lusia menghela nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya.


"Apa semua berakhir seperti ini saja?" ucapnya lesu. "Jika aku pikirkan lagi, ayahmu sangat menakutkan. Jika itu adalah wanita lain, aku tidak yakin apa dia bisa menghadapinya" lanjut ucapnya.


Rayn tersenyum melihat Lusia yang berusaha menghibur diri. Rayn tahu jika Lusia sudah menahan rasa takutnya. Rayn semakin erat menggenggam tangan Lusia dan menyandarkan kepala Lusia di bahunya. "Ayahku memang menakutkan, tapi menurutku kau lebih menakutkan. Aku tidak percaya jika kau akan menyerangnya dengan penuh percaya diri seperti tadi. Aku rasa kau akan menang" ucap Rayn.


"Lalu, apa menurutmu ayahmu merestui kita?" tanya Lusia dengan raut wajah penasaran. "Aku tidak mengerti, kenapa ayahmu main pergi saja setelah menggantung restunya" ucap Lusia lesu tapi juga kesal karena merasa dipermainkan ayah Rayn.


Belum sampai Rayn menjawab, terdengar bunyi denting lift menunjukkan lift akan terbuka. "Kita akan tahu nanti" sahut Rayn singkat lalu menggandeng Lusia keluar lift.


"Hya... apa menurutmu ini adil, bagaimana bisa ayahmu mengakhiri pembicaraan tanpa memberi jawaban akan merestui kita atau tidak. Dan juga, apa ayahmu ada dendam padaku, kenapa hanya menyerangku dibandingkan dirimu" lanjut keluh Lusia. Rayn hanya menanggapinya dengan tersenyum.


Rayn mengantar Lusia kembali ke kamar hotel, ia menemani Lusia hanya sampai didepan pintu. "Kau sudah melakukan hal besar, jadi istirahatlah. Aku memintanya bukan agar kau bisa menyiapkan diri untuk besok. Tapi, aku tidak ingin kau mencemaskan apapun di momen spesial itu" ucap Rayn.


Rayn mengecup singkat kening Lusia. "Terima kasih sudah menjadi wanitaku yang luar biasa" ucapnya lalu mempersilahkan Lusia untuk masuk.


Lusia menjijitkan kakinya, membalas kecupan Rayn dengan mencium pipi Rayn lalu kabur masuk meninggalkan Rayn begitu saja. Rayn pun tertawa gemas akan sikap menggemaskan Lusia yang terlihat malu.


...***...


Sesampai didalam, Lusia menghampiri ibunya. "Ibu...." panggil Lusia melihat ibunya yang sibuk merapikan sesuatu didepannya.


Ibu Lusia menoleh. "Bukankah ini sangat cantik dan cocok untukmu nak" ucapnya.


Lusia terkejut melihat sebuah gaun cantik dan begitu mewah sudah berada didalam kamar hotel nya. Sebuah Gaun berwarna putih yang akan membuat kecantikan Lusia hingga terbalut sempurna esok hari.


Lusia mengurai senyum bahagia melihat gaun yang sangat tidak asing baginya. Gaun ini adalah gaun yang Lusia lihat di sebuah butik saat jalan-jalan seorang diri tanpa Rayn.


Rayn benar-benar telah mempersiapkan semua untuknya, bahkan ia tahu gaun yang Lusia inginkan.


"Cantik..." ucap Lusia meraba gaun itu sembari menitihkan air mata bahagianya.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2