
Reisa terlihat sangat khawatir setelah mendapat telepon dari Lusia dengan menangis memintanya untuk menunggu di depan rumah kost. Sesampainya di dalam rumah, Lusia hanya duduk tertunduk berusaha bersikap seolah baik-baik saja.
“Apa yang terjadi?” tanya Reisa mendekat dan memeluk sahabatnya itu. Air mata Lusia perlahan menetes lalu membalas pelukan Reisa.
Lusia masih tak bisa berkata apa-apa. Ia sendiri masih tidak percaya dengan semua yang telah terjadi kepadanya. Ia sangat menyesali keputusan bodohnya itu.
“Baiklah, kau tidak perlu memberitahuku sekarang. Istirahatlah dahulu, aku akan menyiapkan makan malam untukmu” ucap Reisa tidak ingin menambah kesedihan Lusia.
Lusia menahan Reisa untuk tidak meninggalkan dirinya dengan semakin erat memeluk Reisa. Ia perlahan mulai membuka suara menceritakan semua yang terjadi. Semua kesulitan yang sedang ia hadapi bersama keluarganya yang membuatnya mengambil keputusan bekerja di Bar tanpa sepengetahuan Reisa.
“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Reisa. “Jika aku tahu, aku pasti akan berusaha membantumu dengan cara apapun” lanjutnya.
“Maafkan aku” ucap Lusia yang hanya bisa mengucapkan maaf.
“Bagaimana kau bisa bekerja di sana? Lusia, ini bukan seperti dirimu. Seberapa putus asanya dirimu atau sesulit apapun situasinya, bagaimana bisa kau memutuskan… “ucap Reisa dengan amarah lalu seketika menahan diri dan menghentikan perkataanya saat melihat Lusia hanya menunduk dan terus menangis.
Reisa seketika sadar, ini bukan waktunya untuk memarahi Lusia. Saat ini justru dirinyalah satu-satunya orang yang bisa menghiburnya. Tidak seharusnya ia menceramahi Lusia tanpa memikirkan kondisinya. Bukan saatnya memberondong pertanyaan yang membuat Lusia merasa terpojokkan dan semakin terpukul.
“Maafkan aku Lusia" ucap Reisa. "Kenapa kau harus menanggungnya seorang diri Lusia" Lanjutnya dengan kembali memeluk Lusia.
Reisa meraih kedua pipi Lusia, menghapus air mata yang sudah membasahi wajah manis gadis itu. "Lusia, dengarkan aku. Kau bukan hanya sekedar sahabat bagiku. Kau sudah seperti ibu, adik, kakak, teman dan segalanya. Aku rela menggunakan semua tabunganku yang ada atau bekerja paruh waktu atau apapun itu. Meski mungkin tidak seberapa tapi setidaknya aku merasa masih bisa berguna untukmu” ucapnya kembali memeluk Lusia dengan menangis.
“Terima kasih banyak Reisa, namun aku tidak bisa menerimanya.”
“Apa yang membuatmu tidak bisa menerimanya?” tanya Reisa.
"Jangan khawatir, aku pasti bisa menemukan jalan lain" jawabnya.
Reisa menghela nafas. “Baiklah, kita tidak perlu membahasnya sekarang. Istirahatlah, kita akan mencari jalan keluarnya bersama” ucap Reisa menenangkan Lusia.
***
Pagi telah menyambut. Reisa berusaha bangun lebih awal agar bisa menyiapkan sarapan untuk Lusia. Selama ini selalu Lusia yang menyiapkan sarapan untuknya. Reisa ingin melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk Lusia sahabatnya.
Lusia terbangun, dirinya yang masih setengah sadar berusaha meraba meraih ponselnya. Ia terkejut karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Lusia segera bangkit mengumpulkan semua nyawanya.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Reisa dengan meletakkan susu dan sandwich di meja kecil sebelah tempat tidur.
“Aku harus kembali ke Villa” jawabnya.
“Pria bernama Mickey itu sudah telepon dan mencari dirimu tadi, karena kau masih tidur jadi aku menjawabnya panggilannya. Ia mengatakan untuk membiarkanmu menjadi putri tidur dan memintaku untuk tidak membangunkan dirimu” ujar Reisa dengan meraih segelas susu lalu diberikannya kepada Lusia.
“Mickey mengatakan itu? Ada apa dengannya?” tanya Lusia dengan meneguk susu yang diberikan Reisa.
“Entahlah, tapi bukannya itu justru bagus. Jadi, aku membantu langsung menjawab OK dalam hitungan detik.
Tidak selang lama Lusia menerima pesan dari Rayn.
[Hari ini kau bisa bebas. Aku sibuk di ruang lukis jadi jangan menggangguku dan jangan mengetuk]
Lusia hanya menghela nafas membaca pesan dan Rayn.
“Jadi, apa dia memberimu libur hari ini?” tanya Reisa.
__ADS_1
“Eemm, tidak juga. Jika ia sudah berkata begitu, artinya tidak ada yang bisa kulakukan untuknya selama ia sibuk di ruang melukisnya. Karena jika ia sudah ada di sana, biasanya sore bahkan malam baru keluar dari kandangnya itu” jawab Lusia
“Baiklah,,, kita nikmati saja hari ini. Aku akan mengisi dayaku kembali dengan menjadi putri tidur” lanjut Lusia dengan kembali berbaring dan meraih selimut. Ia ingin sejenak mengistirahatkan diri dan melupakan semua yang
terjadi semalam.
“Tidak bisa” teriak Reisa menarik selimut Lusia.
“Kenapa? Ada apa juga denganmu?” tanya Lusia merengek meminta selimutnya.
“Sudah aku putuskan, jika aku akan meminta cuti kepada David hari ini. Jadi, bagaimana jika kita pergi jalan-jalan? OK ?" tanya Reisa. Reisa ingin menemani Lusia dan menghiburnya
“Wah…, apa dia akan menggunakan jabatannya lagi untuk mengabulkan permintaanmu ini?" celetuk Lusia menggelengkan kepalanya.
“Tunggu, mobil? Aku lupa jika aku meninggalkannya di Bar. Mickey mengatakan jika dia akan mengurusnya saat memberiku tumpangan. Bodohnya aku main ikut-ikut saja. Bagaimana jika dia mengatakan yang tidak-tidak kepada Rayn telah bertemu denganku di Bar” ucap Lusia panik meraih ponselnya untuk segera menghubungi Mickey.
Dalam panggilan telepon. “Mickey, apa kau benar-benar mengatur mobilku?” tanya Lusia.
“Tentu saja, aku tidak pernah asal bicara” jawab Mickey yang terdengar seperti baru bangun dari tidur.
“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Lusia.
“Apanya yang bagaimana? Aku hanya perlu meminta orangku untuk mengambilnya dan memintanya membawa kembali ke Villa" jawab Mickey.
"Kenapa harus ke Villa?" tanya Lusia dengan menghantuk kepalanya ke lututnya yang dilipat.
“Apa kau ada memintaku untuk membawanya ke suatu tempat? Aku rasa kau tidak ada mengatakan apapun padaku. Apa kau butuh tumpangan kembali ke Villa? Jangan khawatir aku bisa menjemputmu” jawab Mickey santai.
“Tunggu, bagaimana kau tahu jika aku saat ini tidak sedang berada di Villa?” tanya Lusia.
“Kau benar, aku yang aneh dan bodoh” jawab Lusia merengek. "Apa yang harus ku katakan padanya jika ia menyadari aku pergi tapi mobilku masih ada di sana” lanjutnya.
“Haha, itu bukan urusanku” jawab Mickey.
“Apa orang mu tidak mengatakan apapun seperti bertemu Rayn atau semacamnya saat membawa mobilku kembali?” tanya Lusia.
“Itu juga bukan urusanku. Atur sendiri sisanya, OK” jawab singkat Mickey lalu menutup telepon. Lusia hanya melongok mendengar Mickey mematikan teleponnya.
***
Lusia akhirnya mengambil kesempatan waktu bebas yang diberikan Rayn untuknya dengan menuruti permintaan Reisa untuk pergi jalan-jalan. Lusia tidak mengetahui jika Ryan sudah tahu semua yang terjadi.
Lusia dan Reisa menikmati waktu berjalan berdua tanpa David. Mereka pergi ke mall, cafe yang sedang tren bahkan pergi nonton ke bioskop. Tadinya Reisa ingin mengajaknya ke taman hiburan namun hari ini Lusia masih harus bekerja di cafe. Jadi ia tidak ingin membuat Lusia menjadi lelah nantinya.
Di Mall, dari kejauhan Lusia tampak melirik sepatu Heels yang sedang menjadi tren. Reisa mengajaknya masuk. “Hey, untuk apa kita masuk jika sudah nyata tidak akan beli” tolak Lusia.
“Kenapa? Tidak ada tulisan masuk berarti membeli kan" ucap Reisa menarik lengan Lusia main masuk begitu saja.
“Tapi kita justru akan menyibukkan mereka” jawab Lusia lirih kemudian tersenyum kepada pramuniaga yang menyambut mereka.
Lusia mencoba sepatu yang diinginkannya lalu memotret bagian kaki yang sedang
mengenakannya kemudian mempostingnya di akun sosial medianya dengan caption :
__ADS_1
[Haha, aku tahu ini memalukan, tapi demi menunggu orang yang berbaik hati Hahaha]
“Cantik, aku akan membelikannya untukmu” ujar Reisa.
“Hei, apa-apaan kau ini. Tidak usah, aku hanya ingin mencobanya” ucap Lusia melepaskan sepatunya dan meletakkan kembali.
Reisa terus memaksa untuk membelikan Lusia. Karena ia jarang sekali melihat Lusia menunjukkan ketertarikannya terhadap Fashion. Lusia tetap menolak dan langsung menarik lengan Reisa mengajaknya keluar.
“Terima kasih, maaf sudah merepotkan” ucap Lusia tersenyum kepada pramuniaga lalu pergi.
Sampai diluar Lusia tertawa geli. Hal ini mengingatkannya waktu masih sekolah. Mereka pergi ke berbagai toko sepatu, tas, baju untuk memotretnya lalu memasang di online untuk menjalankan bisnis Jastip.
“Oh ya, kapan kau akan memperkenalkan aku dengan itu?” tanya Reisa.
"Pria mana yang kau maksud?" tanya balik Lusia.
“Aku pikir pria semalam yang mengantar dirimu pulang itu adalah dia. Aku penasaran seberapa tampan dia” ucap Reisa nyengir-nyengir sendiri. “Apa kau tidak bisa mencuri-curi kesempatan untuk memotretnya?” tanya Reisa.
“Haha, kenapa kau jadi terobsesi dengannya” jawab Lusia tertawa.
“Bagaimana jika kita mengundangnya bergabung untuk makan malam?” tanya Reisa.
“Sudahlah, jangan meminta yang macam-macam, kau tahu sendiri hal itu sangat tidak mungkin sekarang” jawab Lusia dengan menariknya memasuki Bioskop.
“Lalu apa yang dia kerjakan di rumah nya?”
“Eemm..., melukis, membaca buku atau olahraga dan menonton film” jawab Lusia sambil memeriksa jadwal film hari itu.
“Melukis? dia seorang pelukis?" tanya Reisa semakin penasaran.
“Benar, aku juga baru-baru saja mengetahuinya” jawab Lusia sambil memesan tiket.
“Ah iya, aku lupa jika saat itu aku belum selesai membahas lukisan dengannya” lanjut celetuk Lusia mengejutkan Reisa dan petugas tiket yang melayaninya.
"Belum selesai apa katamu?" tanya Reisa.
Reisa masih terus saja kepo dengan memberondong pertanyaan soal Rayn kepada Lusia. Bahkan ia sampai tidak menyadari tiket film apa yang sudah dibeli Lusia tanpa mendiskusikannya dengannya. Lusia tidak terlalu menghiraukannya karena ia tahu pasti ujung-ujungnya main jodohkan dengan Rayn. Reisa menghabiskan waktu bersama Lusia untuk menghibur Lusia.
Saat memasuki ruang tunggu, tiba-tiba datang seorang staf wanita bioskop menghampiri keduanya. Ia memberikan popcorn berukuran large dengan kertas pesan yang hanya dilipat menjadi dua. "Maaf, seseorang meminta saya memberikan ini kepada anda" ucap wanita itu menyodorkan popcorn dan pesan kertas kepada Lusia.
"Untuk saya, dari?" tanya Lusia.
"Benar, ia memesannya untuk anda. Dari pria itu" ucap wanita itu menunjuk seorang pria yang memakai hoodie sedang berjalan keluar meninggalkan bioskop.
"Oh, baik terima kasih" ucap Lusia. Meski ia ingin menolak dan menanyakan lebih detail, tapi ia sadar wanita itu hanya menyampaikan pesan saja.
"Siapa dia? tanya Reisa kepada Lusia dengan meraih pesan kertas dari tangan Lusia.
"Entahlah, apa yang ditulisnya?" tanya Lusia.
[Maaf aku tidak ada di sana saat itu, aku akan memberi pelajaran kepada mereka] - pesan yang tertulis pada selembar potongan kertas.
"Apa maksudnya ini?" tanya Reisa kepada Lusia. Lusia yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menjawab dengan menggelengkan kepala. Lusia dan Reisa hanya saling menatap dengan raut wajah penuh tanya. Mereka bertanya dalam hati, siapa pria itu.
__ADS_1
***To Be Continued***