Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 29 - Pertolongan


__ADS_3

Lusia yang tidak berdaya berusaha terus memberontak. Namun ia tak kuasa menahan tubuh pria yang sudah mengunci tubuhnya. “Dasar gadis tidak tahu diri” ucap pria itu dengan kembali menampar Lusia hingga melukai bibirnya.


Pria itu sudah sangat mabuk, ia semakin menjadi-jadi setiap mendengar tawa dari teman-temannya yang sudah seperti dorongan untuknya melanjutkan aksinya. Lusia berusaha mencari kesempatan melawan dengan menendang tahta pria itu lalu berhasil melepaskan diri.


Pria mabuk itu dengan cepat bangkit meskipun kesakitan meraih rambut Lusia dan menariknya dengan kuat. Lusia yang merasakan sakit spontan berbalik menendang perut pria itu hingga pria itu melepaskan rambut Lusia. Lusia pun bergegas lali keluar. Namun pria yang berdiri di dekat pintu menghadang kaki Lusia hingga ia jatuh tersungkur di lantai.


Lusia tersungkur tepat di depan pintu. Bersamaan pintu terbuka, tepat di depan wajahnya terlihat dua pasang sepatu dari orang yang baru saja membuka pintu. “Apa ini akhir dari hidupku?” tanya Lusia dalam hati semakin deras menitihkan air mata melihat kedatangan orang lain lagi.


Lusia berusaha sekuat tenaga bangkit dan berlari ke sudut ruangan setelah meraih botol minuman yang ia pukulkan ke meja hingga pecah.


“Aku tidak segan-segan melukai kalian semua” ancamnya dengan mengacungkan botol minuman yang sudah ia pecahkan sebagai senjata.


Pria mabuk itu mendekati kembali Lusia, namun tubuh besarnya langsung dihadang oleh dua pria yang baru masuk. Pria dengan pakaian bak bodyguard itu menghempasnya ke lantai. Mereka terus melayangkan pukulan hingga pria itu tak berdaya. Para pria lain tampak ketakutan dan tidak berani untuk membantu. Lusia yang sudah ketakutan hanya bisa menangis dan menutup mata akan perkelahian yang terjadi di depannya.


“Sudah cukup hentikan!” perintah seorang pria dengan lantang setelah membuka pintu. “Bawa Nona Lusia keluar dari ruangan ini” lanjutnya.


“Si… si… siapa kalian?” tanya sorang pria yang dari tadi hanya menjadi penonton. Ia bertanya dengan nada ketakutan dan perlahan mencoba mendekati temannya yang sudah tidak berdaya untuk membantunya berdiri.


“Lusia, maafkan aku terlambat” ucap Mickey meraih tangan Lusia. Perlahan ia melepaskan botol dari genggaman tangan Lusia.


“Mickey” ucap Lusia membuka mata melepaskan botol yang diraih Mickey. Dihempasnya botol itu ke dinding tempat para pria itu berdiri.


“Bawa Nona Lusia mengganti pakaiannya dan kembali ke mobil” perintah Mickey kepada Arka yang berdiri di belakangnya.


“Jangan khawatir, kau bisa pergi dengan Arka. Aku akan mengurus semuanya disini” ucap Mickey dengan memberikan jaketnya menutupi bahu Lusia. Lusia bangkit di bantu Mickey lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan Arka. Melihat tubuh Lusia yang tiada henti gemetar dan bibir yang terluka akibat tamparan pria kasar itu membuat Mickey geram.


“Para bedebah ini bahkan melukai bibirnya” ucap Mickey lirih.


Mickey bangkit menghampiri pria yang kembali tertunduk kesakitan. “Kau bilang apa tadi? Gadis murahan? Lalu kau ingin aku sebut apa yang hanya bisa bermain kasar dengan gadis yang kau anggap murahan? Tanya Mickey dengan tatapan tajam berjalan mendekati pria penuh amarah.


“Aaaa…!!! Ampun, ampun, maafkan aku” teriak pria itu meronta kesakitan.


“Kau masih bisa merasakan rasa sakit?” tanya Mickey memberi pelajaran dengan menginjak tangan pria yang sudah berani menampar Lusia.


“Hari sialmu hari ini adalah karena telah berani menyentuh orang yang salah” ucap Mickey kepada pria mabuk itu.


“Sudah cukup, hentikan! Utamakan untuk melindungi Lusia” ucap seorang pria kepada Mickey melalui sambungan telepon yang terdengar dari earphone bluetooth nya.

__ADS_1


“Kau masih beruntung bertemu denganku. Jika dia yang turun tangan, aku tidak yakin apa kau masih bisa memakai tanganmu lagi. Karena dia pasti sudah mematahkan tangan kotormu ini karena telah melukai gadis itu” lanjut Mickey melepaskan kakinya.


“Tolong ampuni saya tuan” ucap pria itu bangkit dan bersujut. Mickey berdiri mengabaikannya lalu meninggalkan ruangan diikuti oleh para bodyguardnya.


“Satu lagi” ucap Mickey menghentikan langkahnya. “Berhenti menganggap mereka sebagai teman setelah hanya diam seperti tikus menonton penderitaanmu” lanjutnya sambil menatap para pria yang berdiri dengan raut wajah ketakutan.


Usai berganti pakaian, Lusia masih bertahan di toilet menangis tersedu. “Ibu maafkan aku, aku tau ini tidak benar tapi apa lagi yang bisa ku lakukan” ucapnya dengan membasuh wajah membersihkan riasannya.


Lusia keluar dari toilet, terlihat Mami Rere datang berjalan menghampirinya. Arka dengan cepat mengambil sikap melindungi Lusia dengan berdiri di depan Lusia untuk memberi keamanan.


“Tidak perlu berlebihan, aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan dengannya” ucap Mami Rere meminta Arka untuk tidak menghalangi. Namun Arka tidak menghiraukan dan tetep berdiri didepan Lusia.


“Biarkanlah” ucap Lusia dengan nada suara serak.


“Kenapa? Apa kau merasa sesulit itu? Kau tau hidup ini memang keras. Jika kau ingin mendapatkan sesuatu dengan instan maka banyak yang harus kau korbankan. Bahkan jika perlu…” ucap Mami Rere menatap tubuh Lusia dari atas hingga bawah. “Jika perlu kau harus mengorbankan semua milikmu itu” lanjutnya.


“Maaf, saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini. Hari ini saya berhenti” ucap Lusia menunduk lalu pergi diikuti Arka.


“Tunggu” perintah Mami Rere. Ia melemparkan beberapa lembar uang yang dilemparkan di wajah Lusia. “Itu hasil minuman yang sudah kau jual. Aku tidak pernah ingkar janji” ucapnya lalu pergi meninggalkan Lusia.


Lusia yang mencoba kuat, menahan air matanya dengan memejamkan mata. Bukan hanya harga dirinya yang saat ini ia sendiri lukai, tapi juga harga dirinya sebagi seorang anak. Perlahan Lusia mengambil lembaran uang yang di lemparkan lalu menangis dengan sekuat-kuatnya.


Tidak lama Lusia berjalan perlahan keluar dari Bar dengan pikiran yang masih kalut. Diluar sudah ada Mickey bersandar di mobil menunggunya. Ia membukakan pintu untuk Lusia. “Masuklah, aku akan mengantarmu pulang ke rumah kost Reisa” ucapnya.


“Bagaimana kau bisa ada di sana?“ tanya Lusia masih dengan nada suara lemas.


“Hanya kebetulan saja, aku sedang ada janji dengan seseorang dan tidak sengaja melihatmu di sana” jawab Mickey.


“Hanya kebetulan?” tanya Lusia ragu. Mickey hanya mengangguk.


“Ku mohon jangan katakan apapun kepada Rayn” minta Lusia kepada Mickey.


“Kenapa? Bukannya kau harusnya saat ini lebih takut kepadaku yang bisa saja memutuskan kontrak denganmu? Kenapa kini kau lebih peduli dengannya? Apa sekarang kau mengakui jika dia yang membayar gajimu?” tanya Mickey.


“Perihal bagaimana aku bisa ada di sana…” ucap Lusia belum sampai ia menyelesaikan perkataanya namun sudah dipotong Mickey.


“Soal itu, kau tidak harus memberitahunya sekarang, kau bisa pulang tenangkan pikiran dulu dan obati lukamu. Kau bilang tidak ingin dia tahu kan?” ucap Mickey.

__ADS_1


“Kau yakin dengan ucapanmu itu?” tanya Lusia.


“Memangnya apa yang salah?” tanya Mickey kembali.


“Tidak ada, hanya saja bukan seperti dirimu yang biasanya selalu penasaran” jawab Lusia.


“Kau benar, aku sendiri juga merasa ini bukan seperti diriku. Jika bukan karena perintahnya mungkin aku sudah mengorek semuanya sekarang” jawab Mickey dalam hati.


Mereka sudah sampai di rumah kost Reisa. Terlihat Reisa sudah berdiri di bibir jalan menunggu kedatangan Lusia.


“Aku sebelumnya mengatakan kepada Rayn jika malam ini tidak kembali ke Villa, jadi kumohon…” ucap Lusia sebelum keluar mobil.


“Sudah, sudah, jangan khawatir. Kau ingin memintaku anggap tidak bertemu denganmu kan” potong Mickey sudah mengetahui jika Lusia memintanya untuk pura-pura dan menutupinya dari Rayn.


Lusia turun dari mobil langsung disambut Reisa. Reisa merangkulnya berjalan bersama ke rumah kost. Mickey masih berada di sana memastikan keduanya sudah aman masuk baru ia akan pergi. Melihat Lusia sudah aman bersama Reisa, Mickey memutuskan untuk pergi.


"Kau sudah lihat dan dengar sendiri kan? Tanya Mickey kepada seseorang yang masih berada dalam panggilan dengannya. “Sekarang kau sudah bisa tenang dan kembali ke Villa” lanjutnya dengan menatap dari spion mobil yang parkir tidak jauh di belakang mobilnya.


“Kirim beberapa orang untuk menjaganya, pastikan ia tidak tahu, karena itu akan membuatnya tidak nyaman dan selesaikan semua tentang kejadian hari ini” perintah Rayn kepada Mickey melalui panggilan telepon.


“Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya” jawab Mickey mematikan panggilan dan melepas earphone lalu pergi.


Rayn yang berada di dalam mobil masih menatap ke arah rumah kost Reisa. Rayn adalah orang yang meminta Mickey untuk datang ke Bar. Sebelumnya Rayn juga sudah mengutus beberapa orang untuk mengikuti kemana perginya Lusia.


Rayn dari awal sudah selalu terhubung dengan Mickey melalui panggilan telepon yang tidak disadari oleh Lusia. Rayn menyadari keterbatasannya sehingga memaksanya mengandalkan Mickey untuk hal ini. Ia hanya bisa menunggu di mobil dengan tetap mendengar semua yang terjadi.


Rayn memiliki kecurigaan saat tidak sengaja melihat notifikasi pesan diponsel Lusia yang ia tinggalkan dimeja saat membuatkan jus untuknya. Dan ia semakin merasa ada yang salah saat Lusia mengirimkan pesan kepadanya untuk meninggalkan Villa hingga esok hari tepat saat ia berada diruang melukis.


[Kau bisa mulai malam ini dan temui Mami Rere langsung di bar....]


Notifikasi pesan yang tidak tampil penuh ini yang membuat Ryan kesulitan mengetahui dari sekian banyaknya Bar yang ada. Itulah sebabnya ia mengutus seseorang untuk mengikuti Lusia.


“Apa kita sudah bisa kembali Tuan Rayn?” tanya Arka yang saat ini berada di kursi kemudi bersama Rayn.


“Kita kembali ke Villa” perintah Rayn.


Arka menjalankan perintah dengan menjalankan kendaraanya. Mobil perlahan meninggalkan, sementara Rayn masih menatap rumah kost yang perhalan mulai hilang dari pandangannya.

__ADS_1


*** To Be Continued***


__ADS_2