
Sekujur tubuh Lusia terasa lemas, ia tidak bisa menahan rasa sakit yang sedang menghujam hatinya saat ini. "Bagaimana mungkin, apa yang terjadi dengan ayahku?" tanya Lusia kepada Kelvin dengan pikiran yang kacau.
"Aku mengerti perasaanmu Lusia, tapi bisakah kita bicara dulu" sahut Kelvin memegang tangan Lusia, menahannya membuka pintu.
Lusia terdiam menatap Kelvin dengan tatapan tajam, sebuah tatapan yang berlawanan dengan sorot mata Kelvin yang terlihat sedang memohon kepada Lusia untuk mengerti. Lusia kembali memandang ke dalam kamar 503, ia menatap pilu ayah dan ibunya lalu menuruti Kelvin. Kelvin menggandeng tangan Lusia meninggalkan kamar itu untuk mereka bisa saling berbicara di tempat lain.
Rayn menahan lengan Lusia yang baru saja mengambil langkah pertamanya. Meskipun Rayn masih belum bisa memahami situasi yang sedang terjadi, tapi ia yakin jika Lusia membutuhkan dirinya. Rayn menatap ke arah Kelvin seolah ingin memberi peringatan untuk melepaskan tangannya dari tangan Lusia. Perlahan Kelvin melepaskan genggaman tangannya. Rayn kemudian menggenggam tangan Lusia dan menggandennya untuk berjalan meninggalakan Kelvin lebih dulu tanpa kata.
Pasien yang saat ini bersama dengan ibu Lusia adalah ayah tiri Lusia. Pria yang selama ini Lusia benci setelah tega meninggalkan ibunya yang saat itu tengah mengandung adiknya, Lucas. Ayah tirinya tidak hanya meninggalkan ibunya begitu saja, tetapi dia juga meninggalkan hutang yang begitu banyak. Hutang-hutang itu memaksa sang ibu harus menjual rumah tinggal mereka. Lusia bersama keluarga kecilnya harus hidup penuh kesengsaraan serta menghadapi para penagih hutang yang silih berganti datang, bahkan tak jarang mereka berbuat kasar.
Kejadian itu seperti badai yang tiba-tiba datang ditengah awan yang cerah, semua terjadi begitu saja tanpa memberi pertanda. Keterpurukan yang terjadi saat itu tidak hanya menjadi beban finasial tetapi juga mental bagi semua anggota keluarga Lusia. Saat itu, Lusia harus menjadi satu-satunya orang yang lebih kuat diantara keluarganya. Lusia tidak ingin terjadi sesuatu dengan ibu dan calon adik yang dikandung ibunya saat itu. Ia terus berjuang dan bertahan dengan membenci ayahnya.
Kondisi ayah tirinya yang ia lihat saat ini, membuat Lusia berpikir jika ini yang mungkin menjadi alasan ibunya bersikeras tidak ingin menceraikannya. Benarkah ini yang menjadi satu-satunya alasan? Inilah yang saat ini terlintas dalam pikiran Lusia. Tapi mengapa, mengapa ibunya harus menyembunyikan fakta yang membuat dirinya begitu sangat membenci ayahnya. Mengapa ibunya tidak mengatakan kebenaran jika ayahnya bukan melarikan diri tetapi sedang dalam kondisi yang memprihatinkan, bahkan menjadi pasien disebuah Panti Jompo dengan mental yang tidak stabil seperti yang ia lihat tadi.
Di taman Panti, Lusia meminta Kelvin untuk bicara. "Cukup katakan apa yang kau tahu dan bagaimana kau bisa mengenalnya" ucap Lusia yang hanya ingin mendengar kebenaran dibandingkan sebuah alasan dari Kelvin.
Dari semua orang, kenapa harus Kelvin. Lusia tidak mengerti kenapa harus Kelvin menjadi orang yang mengetahui semua fakta yang tidak ia ketahui dan kenapa dia menyembunyikan itu darinya.
Kelvin mengambil nafas dalam lalu menghelanya perlahan. Ia sendiri tidak tahu harus memulainya dari mana. Disatu sisi ia ingin mengatakan kebenaran tanpa membuat Lusia terluka dan disatu sisi kenyataan pahit itu bisa saja membuat Lusia juga akan membenci dirinya. Namun, apapun yang akan terjadi dan Lusia pikirkan tentang dirinya itu tidaklah penting, sudah saatnya Lusia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayahmu selama ini bukan meninggalkan keluargamu atau melarikan diri, tetapi ia dirawat di Panti Jompo ini. Ayahmu tidak hanya mengalami gangguan dengan mentalnya tapi seperti yang kau lihat dia mengalami kelumpuhan yang membuatnya hanya bisa duduk di kursi roda, itu sebabnya dia tidak bisa kembali ke keluargamu" jelas Kelvin.
"Lalu, kenapa menyembunyikannya? Apa dengan kondisi itu aku tidak akan mau menerima atau merawatnya? Apa itu yang dipikirkannya dan ibuku? Tidak hanya mereka, tapi apa itu juga yang kau pikirkan tentangku? Karena itu aku menjadi orang yang tidak pernah tahu?" tanya Lusia kepada Kelvin dengan penuh ketegasan.
Kelvin menjawab dengan pertanyaan yang sama untuk Lusia. "Apa itu yang juga kau pikirkan tetangku? Memandang rendah dirimu dengan pikiran bodoh itu? Ayahmu..." ucap Kelvin tertahan, ia menunduk sejenak lalu kembali memandang ke arah Lusia. "Bukan hanya dirimu yang menjadi alasan kenapa ibumu menyembunyikannya. Tapi semua juga demi masa depanmu" lanjut jelas Kelvin.
"Masa depan? Apa kau lupa seperti apa kehidupan yang ku jalani selama ini? Bicaralah dengan jelas, jangan menganggapku seperti anak-anak yang tidak akan memahami semuanya!" pinta Lusia kepada Kelvin.
"Aku tahu, aku sangat semua yang terjadi sudah sangat menyulitka hidupmu, karena itu ibumu tidak ingin semakin membuatmu terbenani dengan status ayahmu" jawab Kelvin.
__ADS_1
Lusia semakin marah. "Sudah aku katakan bicaralah dengan jelas" ucapnya dengan nada teriakan semakin tinggi disertai emosi dan air mata.
"Narapidana...! Karena status ayahmu saat ini adalah seorang narapidana" sahut Kelvin.
Lusia membulatkan matanya. "Apa yang kau katakan?" tanya Lusia terkejut dengan suara yang bergetar.
"Ayahmu... adalah seorang narapidana" jelas Kelvin.
Sekujur tubuh Lusia pun seketika dingin dan semakin lemas mendengar pernyataan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Tubuhnya kembali hampir terjatuh, dengan cepat Rayn langsung menahannya. "Lusia.." panggil Rayn dengan suara cemas.
Kelvin mulai menceritakan semua yang ia tahu tentang apa yang terjadi dengan ayah Lusia. Beberapa tahun lalu, ayah Lusia adalah seorang kepala pekerja yang bekerja dibawah perusahaan ayah Kelvin. Saat itu Paman Kelvin yang tidak lain adalah adik dari ayahnya yang menangani dan bertanggung jawab atas peroyek itu.
Darah memang lebih kental dari air, tapi tidak disadari jika darah kental itu juga mengalir seperti air. Samahalnya seorang sudara yang tanpa disadari telah melakukan penghianatan dengan mengenakan topeng keluarga. Paman Kelvin melakuakan korupsi besar, ia tidak hanya mengurangi anggaran tetapi juga mempercepat waktu pekerjaan untuk mengurangi biaya gaji karyawan. Paman Kelvin telah memalsukan laporan dan berhasil mencuri dana yang begitu fantastik.
Saat itu ayah Lusia tahu jika Paman Kelvin telah mengubah cetak biru dan memotong begitu banyak anggaran serta mengganti bahan dengan kualitas yang tidak memenuhi standart pembangunan proyek yang sedang mereka kerjakan.
Setelah 6 bulan berjalannya pembangunan, apa yang dikhawatirkan ayah Lusia benar terjadi. Bangunan yang sedang dalam tahap pembangunan itu roboh dan hancur lulu lanta dalam waktu sekejap. Kejadian tak terduga itu telah menewaskan hampir 70 karyawan yang saat itu sedang bekerja. Peristiwa mengerikan itu menjadi sebuah tragedi yang tidak akan pernah dilupakan bagi semua yang terlibat baik itu keluarga para korban.
Perusahaan Ayah Kelvin yang bertanggung jawab penuh atas kejadian ini dituntut dan dilakukan pemeriksaan. Sungguh ironis, fakta telah berbalik 360 derajat. Paman Kelvin berhasil memanipulasi data dan melempar semua kesalahan itu kepada kepala proyek yang tidak lain adalah ayah Lusia.
Sebelum malam penangkapan, ayah Lusia mengatakan jika dirinya memiliki bukti yang menunjukkan jika orang yang seharusnya bertanggung jawab adalah Paman Kelvin. Malam itu, Kelvin mendengar pembicaraan ayahnya dengan ayah Lusia melalui telepon. Meskipun ia tidak tahu pasti apa yang dikatakan ayah Lusia, tetapi ia bisa memahami situasinya dari apa yang diucapkan ayahnya dalam telepon. Bagaimanapun juga Kelvin masilah anak-anak yang tidak bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi.
Ayah Lusia mengatakan jika ia akan menemui ayah Kelvin dikediaman rumah Kelvin untuk memberikan bukti yang dimilikinya. Tapi sayanganya hari itu ayah Lusia tidak datang dan mereka justru mendengar kabar jika ayah Lusia mengalami kecelakaan. Ayah Lusia menjadi korban tabrak lari yang menyebabkan kondisinya kritis.
Tidak ada yang tahu jika kecelakaan itu sudah direncanakan dan satu-satunya dalang dibalik kecelakaan itu adalah orang suruhan Paman Kelvin. Mereka tidak tahu pasti bukti seperti apa yang dimiliki ayah Lusia, tapi bukti itu tidak akan muncuk jika orang yang memilikinya juga tidak muncul. Inilah yang menjadi alasan Paman Kelvin mencoba melakukan pembunuhan terhadap ayah Lusia.
Saat kondisi ayah Lusia dinyatakan bisa menerima pemeriksaan, dia langsung mendapat surat panggilan untuk diminta keterangan dan harus menghadiri persidangan. Namun kondisinya semakin hari terus kian memburuk. Setelah melewati waktu yang begitu sulit dan panjang, Hakim mengetuk palu dengan keputusan jika Ayah Lusia menjadi orang yang harus bertanggung jawab atas peristiwa itu, ia ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan bukti yang ada. Bukti palsu yang sudah disiapkan oleh Paman Kelvin untuk menjebak ayah Lusia.
Tekanan yang ia rasakan dan juga rasa bersalah yang terus menghantuinya membuat mental ayah Lusia semakin memburuk. Tidak hanya sampai di situ, ayah Lusia mengalami struk yang semakin hari terus bertambah parah. Kondisi ini yang membuat ayah mendapat penangguhan perawatan.
__ADS_1
Ironisnya tidak hanya kasus kecelakaan ayah Lusia yang ditutup sebagai kasus tabrak lari, tapi kebenaran untuk memenjarakan Paman Kelvin tidak dapat dilakukan. Paman Kelvin meninggal 2 tahun setelah kejadian karena serangan jantung. Perusahaan dan ayah Kelvin berpikir mungkin sudah seharusnya mereka mengubur kasus ini dan tidak perlu lagi mencari kebenaran yang belum tentu ada.
Sudah cukup banyak orang yang menderita akan kejadian ini. Peristiwa itu telah menjadi luka yang dalam bagi para keluarga korban yang kehilangan orang terkasih dan tulang punggung mereka. Dengan alasan tidak ingin semakin menambah luka, Ayah Kelvin memutuskan untuk berhenti mencari kebenarannya.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Ayahku tidak akan mungkin melakukan penggelapan yang membuat semua ini terjadi" sahut Lusia.
Sebuah fakta yang sudah seperti membuatnya mendapat cambukan yang menyakitkan. Ia tidak kuasa menahan kesedihan mendengar penderitaan yang dihadapi ayahnya. Beban dan tekanan yang tidak bisa Lusia kendalikan membuat dirinya tidak bisa lagi bertahan.
"Ayah...tidak mungkin" ucap Lusia dengan suara lemah, tubuhnya limbung dan langsung jatuh terduduk.
"Lusia..." teriak Rayn dan Kelvin.
Kelvin menahan langkahnya saat Rayn lebih dulu mendekap tubuh Lusia. Dengan kesadaran yang masih ia miliki, dengan suara yang lemah ia bertanya kepada Kelvin.
"Lalu, kenapa kau melibatkan diri?" tanya Lusia seblum ia akhirnya kehilangan kesadaran.
Rayn segera menggendong tubuh Lusia dan membawanya masuk. Kelvin masih berdiri menatap ke arah Rayn yang membawa Lusia pergi. Ia menunduk memejamkan matanya disertai air mata yang menetes.
"Maafkan aku Lusia" ucap Kelvin lirih
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1