Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 110 - Dia Masih Hidup


__ADS_3

Mickey telah sampai di sebuah gedung apartemen yang mewah dan megah. Sebelum turun dari mobil, ia sudah langsung disambut oleh beberapa pria berpakaian jas rapi lalu mengantarnya ke unit Penthouse yang berada pada lantai tertinggi gedung itu.


Terdengar bunyi berdenting dan pintu lift terbuka. Mickey kini telah memasuki sebuah hunian pribadi yang menyuguhkan segala kemewahan dan juga pemandangan 360 derajat dengan view yang sangat indah dan menakjubkan.


Mickey melirik seorang pria paru bayah yang menghampirinya. Ya, pria itu bernama Tuan Alex. Tuan Alex meminta Mickey mengikutinya masuk sebuah ruangan yang begitu sangat luas. Cahaya matahari yang masuk menembus kaca jendela berderet di salah satu sisi ruangan, membuat ruangan itu terasa hangat, terang, dan sangat nyaman. Di sana sudah berdiri ayah Rayn memandang ke arah lautan yang terbentang luas dibawah sana.


"Aku dengar kau sudah lama berada di Canada tapi baru saat ini kau datang berkunjung" ucap Tuan Charles menyadari langkah kedatangan Mickey. Ia tetap fokus memandang ke depan sembari menyeduh teh ditangannya.


"Maafkan saya Tuan, jika ketidaksopanan saya sudah menyinggung anda, itu karena saya memiliki urusan pribadi." sahut Mickey.


Tuan Charles berbalik, ia memberi kode kepada Tuan Alex sekertarinya lalu dengan segera Tuan Alex mendekat dan meraih cangkir dari tangan Tuan Charles untuk diletakkan di meja. Tuan Charles berjalan menuju sofa mewah yang berada di ruangan itu lalu duduk.


"Katakan..." perintah Tuan Charles. "Bukankah kau punya alasan kenapa datang mencariku?" Imbuhnya.


Tanpa basa-basi lagi, Mickey langsung mengatakan maksud dan tujuannya menemui ayah Rayn. "Saya ingin meminta bantuan anda untuk membuka kembali kasus penembakan ayah saya" ucap Mickey.


Tuan Charles mendengus kasar lalu menatap Mickey dengan tersenyum tipis setelah mendengar permintaan yang tidak terduga dari anak laki-laki yang sudah ia besarkan itu. Terlebih lagi Mickey meminta bantuan untuk membuka kembali kasus yang sudah hampir masuk masa kadaluarsa pidana.


Mickey sendiri pun tahu jika pengadilan telah memutuskan mengeluarkan masa kadaluarsa penuntutan pidana 18 tahun untuk kasus pembubuhan ayahnya. Selama masa kadaluarsa berjalan, kasus itu tidak terpecahkan sehingga pengadilan menutup kasusnya maka jaksa akan kehilangan hak untuk menuntut lagi perkara pidana tersebut.


Tidak hanya itu, Mickey dan Tuan Charles pun tahu alasan kasus itu di tutup bukan karena para aparat kepolisian tidak bisa menemukan pelakunya, namun mereka tidak ingin menyelidiki lebih lanjut dan sengaja menutupnya. Mereka menghindari sangsi kelalaian karena penyerangan itu terjadi disaat para aparat kepolisian sedang memindahkan para narapida ke lapas, ditambah kejadian itu sampai menewaskan seorang narapidana.


Selama ini Mickey dan Tuan Charles tidak meminta menindak lanjut pidana karena bagi mereka kematian pria kejam itu sudah sudah cukup untuk membayar semuanya.


"Bukankan kau sangat membenci ayahmu? Lalu... kenapa kau ingin membuka kasus itu kembali? Sepertinya urusan pribadimu selama di Canada bukan hanya sekedar menghibur diri" sindir ayah Rayn kepada Mickey.


"Ayah saya masih hidup" ucap Mickey lirih.


Mickey sangat yakin para aparat kepolisian kemungkinan mengetahui siapa dalang dibalik penyerangan itu. Namun mereka tidak bisa menangkap karena para tersangka bagian dari pelaku kejahatan terorganisir yang dilindungi oleh salah satu kelompok mafia.

__ADS_1


"Jadi, selama ini kau sudah menipuku?" tanya Tuan Charles dengan mimik wajah geram.


Mickey berlutut kepada ayah Rayn, ia tidak ada sedikitpun memiliki niat ingin menutupi fakta. Mickey menjelaskan jika ia juga baru mengetahuinya setelah mengunjungi saudara kembar sang ayah di lapas. Mickey sendiri pun tidak menyangka jika ayahnya telah menyamar menggunakan identitas adiknya bernama Louis dan kini mendekam di penjara.


Mickey menyadarinya saat ia melihat bekas luka di tangan Louis adalah luka yang sama persis dengan luka ayahnya, bahkan ia sangat ingat jika dirinyalah yang dulu membuat luka ditangan ayahnya itu. Louis memiliki kaki pincang permanen sejak kecil, karena itu Mickey sengaja membuat keributan dan ternyata pria yang ia temui di penjara tidak benar-benar pincang. Dari sana Mickey sangat yakin jika Louis yang ia temui bukanlah benar-benar pamannya tapi dia adalah ayahnya.


"Katakan semua yang kau tahu dan rencanamu kepada Alex. Setelah itu kembalilah karena selebihnya aku akan mengurusnya."


"Tapi Tuan Charles... " potong Mickey.


"Kenapa? Kau takut aku akan membunuhnya? Atau... kau ingin melenyapkannya dengan tanganmu sendiri? Apa kau yakin kau bisa melakukannya?" tanya Tuan Charles dengan tegas.


Mickey menatap dengan alis terangkat heran. "Apa maksud anda?" tanyanya.


Tuan Charles tersenyum sinis. "Jika bukan karena Rayn, kau mungkin sudah membunuhnya saat itu" sahutnya.


Tidak pernah terbayangkan oleh Mickey jika ayahnya ternyata masih hidup. Ayahnya tidak hanya sudah membunuh ibu Rayn tapi juga meninggalkan trauma mendalam yang membuat Rayn menderita phobia. Bahkan ayahnya seolah tidak pernah puas dan semakin haus akan kejahatan. Jika benar narapidana yang tewas adalah pamannya, maka kemungkinan besar ayahnya juga berada dibalik dalang penyerangan itu.


Mickey mengepalkan kedua tangannya marah, ia ingin menjadi orang yang akan membalas semua dendam itu. Jika tidak, maka ia tidak akan pernah lepas dari rasa bersalahnya kepada ibu Rayn dan juga Rayn.


Tuan Charles berdiri dari duduknya. "Tidak lama peringatan kematian ibu Rayn, pastikan Rayn tidak datang ke Kanada sampai aku menyelesaikan masalah ini" ucapnya.


"Tapi kita tidak punya alasan melarangnya selain mengatakan yang sesungguhnya" jawab Mickey.


"Bukankah Leona sudah menemukan pemicunya dan memiliki rencana dengan gadis itu? Karena itu aku memintamu kembali dan fokus pada pengobatan Rayn" perintah Tuan Charles.


"Ternyata dia sudah memberitahu Tuan Charles" gumam Mickey dalam hati.


Mickey tidak menyangka jika Leona sudah mengatakan semua perkembangan Rayn kepada Tuan Charles.

__ADS_1


"Apa anda akan terus seperti ini?" tanya Mickey kepada ayah Rayn. "Alasan kenapa anda mengasingkannya, apa anda akan terus menyembunyikan dari Rayn?" lanjut tanyanya.


Tuan Charles berjalan ke tepi jendela, ia kembali memandang pemandangan dibawah sana. "Itu tidak penting sekarang" sahutnya. "Kenyataan dimana ayahmu kembali menjadi ancaman, itu yang harus kau ingat" lanjutnya.


Mickey merasa jika dirinya sudah tidak memiliki alasan lagi untuk tetap berada disana. Ia pun pamit dan meninggalkan apartemen sembari menghubungi Dr. Leona.


"Apa kau memberitahunya?" tanya Mickey tanpa basa-basi setelah terhubung dengan Dr. Leona.


"Maksudmu Tuan Charles?" tanya Dr. Leona yang sudah bisa menebaknya. "Bukankah sebagai ayahnya dia perlu tahu? lanjut tanya balik Dr. Leona kepada Mickey.


"Apa kau masih tidak mengerti alasan kenapa aku memintamu untuk merahasiakannya?" tanya Mickey.


"Apa kau lupa? Jika aku tidak akan pernah berada dipihak siapapun. Aku hanya akan fokus pada pasienku" ucap Dr. Leona.


Mickey tersenyum tipis menggambarkan kekecewaannya. "Baiklah, lalu apa kali ini aku bisa mempercayaimu? Fokus dengan pasien tanpa berpihak kepada siapapun?" tanya Mickey dengan nada marah.


"Jika begitu fokuslah untuk menemukan alasan kenapa harus Lusia dan pastikan kau bisa menyelesaikan itu sebelum peringatan kematian Ny. Angelina" perintah Mickey dengan nada sinis sebelum ia hendak menutup telepon.


"Mickey..." panggil Dr. Leona masih dalam panggilan. "Ku pikir kau bisa memahamiku" lanjut ucapnya lirih.


Mendengar hal itu, Mickey kembali melanjutkan panggilannya dan berkata. "Kita mungkin memiliki pemahaman yang sama, tapi aku rasa kita tidak sejalan" sahutnya lalu benar-benar menutup telepon.


.


.


.


*** To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2