Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 50 - Bahagia diatas Penderitaanku


__ADS_3

Semakin memahami kondisi Rayn, Lusia mulai mengambil langkah kecil dengan membantu Rayn membuka diri kepada dunia luar. Jika pun usahanya tidak mampu membantu kesembuhan Rayn, namun Lusia ingin jika Rayn bisa melihat dan menikmati indahnya dunia tanpa harus selalu mengurung diri di Villa.


Meskipun Rayn telah memutuskan melepas kehidupan bersosialisasi seumur hidupnya, Lusia tetap ingin mengubah pandangan itu dari Rayn. Setelah melihat penderitaan dan siksaan psikis yang dialami Rayn, Lusia tidak bisa menutup mata dan membiarkan Rayn memilih jalannya sendiri. Lusia akan melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk Rayn, karena itulah alasan kenapa dia bekerja dengan Rayn.


Hari sudah pagi, seperti biasa Lusia menyiapkan sarapan untuk Rayn. Hari ini Rayn tidak melakukan aktifitas apapun, ia bahkan tidak melakukan rutinitasnya berolahraga dan juga tidak menyentuh sarapannya. Ryan masih baring tidur di kamarnya.


Lusia sibuk di kamarnya sendiri menyiapkan beberapa peralatan. Saat ia keluar kamar, Lusia melihat Arka turun dari lantai 2 dengan nampan berisi mangkuk dan gelas kosong. “Apa akhirnya dia menghabiskan sarapannya?” tanya Lusia. Arka hanya mengangguk diikuti senyum lalu melanjutkan melangkah ke dapur.


Lusia kembali ke kamarnya, ia segera mengemas beberapa barang yang ia pilah tadi ke dalam sebuah kardus. Ia lalu membawanya pergi ke lantai 2. “Boleh saya bantu Nona Lusia?” tanya Arka dari dapur yang melihat Lusia membawa box itu sendiri hingga tidak bisa melihat anak tangga.


“Tidak perlu, tidak apa. Aku bisa melakukannya” jawab Lusia dengan tetap berusaha menaiki satu-persatu anak tangga dengan sangat hati-hati.


Arka tidak bisa menahan diri, ia langsung berjalan mendahului Lusia. “Maaf jika saya memaksa, tapi biarkan saya membantu” ucapnya dengan mengambil box dengan paksa dari tangan Lusia.


“Apa anda ingin membawanya ke ruang melukis Tuan Muda Rayn?” tanya Arka yang berjalan di depannya.


“Oh tidak, tolong bawa ke kamar Rayn” jawab Lusia.


Sampai di lantai atas, Lusia langsung mendahului Arka dan pergi mengetuk pintu kamar Rayn. Lusia membukanya setelah mengetuk. Rayn sangat jarang mengunci pintu kamarnya, tapi sebaliknya ia justru menaruh keamanan ekstra untuk ruang melukis dengan memasang sandi pintu.


Arka meletakkan box itu di lantai, ia pamit keluar kepada Lusia yang masih ada di dalam. Usai Arka keluar dan menutup pintu untuknya, Lusia langsung mengeluarkan beberapa barang dari Box. Diantaranya sapu tangan, payung, topi bucket, masker, kaca mata dan masih banyak yang lain.


"Apa yang kau lakukan?” tanya Ryan yang sudah terbangun. Ia dari tadi diam menatap Lusia yang membelakanginya sibuk dengan apa yang dilakukannya.


Lusia terkejut, ia pun langsung menoleh memandang Rayn yang sudah duduk di tempat tidurnya. “Baguslah jika kau sudah bangun. Aku sedang menyiapkan peralatan tempur untuk Misi ke-2” ucap Lusia dengan mengacungkan payung dan topi ditangannya.


Ryan mengerutkan kening, ia memikirkan apa yang akan di lakukan gadis itu dengan barang-barang ditangannya. Bahkan sampai harus membongkar semua seperti mau buka lapak saja. “Peralatan tempur Misi ke-2?” tanya Rayn dengan menyilangkan tangannya.


Lusia tersenyum polos. “haha, kita akan pergi ke Taman hari ini. Jadi, aku membutuhkan semua ini” jawanya.


“Apa maksudmu membawaku ke Taman adalah Misi ke-2 mu?” tanya Rayn.


“Emm… misi pertama ke perpustakaan kita gagal, jadi aku lanjutkan rencana berikutnya yaitu pergi ke Taman. Tapi, karena Taman akan lebih penuh dengan orang, jadi aku mempersiapkan ini semua” jawab Lusia.


“Payung, untuk melindungi kita jika ada serangan mendadak saat kau tidak bisa bangkit” ucapnya dengan memperagakan dirinya jongkok dan berteduh di bawah payung.


“Topi, kaca mata dan sarung tangan, untuk kau pakai” lanjutnya dengan menunjukkan kepada Rayn.


“Dan… .“ Belum sampai Lusia menyelesaikan ucapannya, Rayn sudah memotong.


“Dan kau akan membawa semua ini lalu memintaku memakainya saat pergi ke Taman?” tanya Rayn heran dan tidak percaya. Lusia hanya menjawab dengan mengangguk dengan cepat.


“Kau pikir aku sedang melakukan pertunjukkan topeng monyet?” lanjut tanya Rayn.


“Bukan aku yang mengatakannya loh yah, tapi kau sendiri!” jawab Lusia. “sudahlah, bersiaplah, aku akan menunggumu di bawah, OK” lanjutnya lalu pergi meninggalkan kamar Rayn.


“Gadis itu…, apa dia baru saja memerintahku?” gerutu Rayn dengan menggaruk kepalanya.

__ADS_1


Rayn akhirnya mengikuti permintaan Lusia. Mereka akhirnya pergi ke Taman ditemani oleh Arka. Sesampai di Taman, Arka lebih dahulu turun dari mobil lalu ia membukakan pintu untuk Lusia dan Rayn.


Lusia lebih dahulu turun mobil diikuti Rayn. Lusia memegang payung yang masih tertutup di tangannya dan tas Tote bag yang berisi peralatan yang sudah ia siapkan untuk Rayn. Saat Rayn sudah turun mobil, Lusia mengeluarkan kaca mata dan dipakaikan kepada Rayn. Seperti adegan Sultan yang didampingi seorang asisten dan pengawalnya.


Rayn merasa sangat tidak nyaman memakai kaca mata dari Lusia, ia melepas kaca mata itu lalu meletakkannya diatas topi. Ia menghela nafas panjang melihat keramaian yang ada di Taman.


“Kau sudah siap?” tanya Lusia dengan mengulurkan tangannya untuk Rayn genggam. Rayn dengan sangat yakin langsung meraih tangan Lusia dan siap melangkah. Namun arak-arakan bak seorang sultan tiba-tiba buyar ketika sebuah bola yang tidak sengaja dilempar oleh seorang anak kecil ke arah mereka. Seperti dalam drama, ibarat arakan-arakan yang diiringi musik merdu, maka tiba-tiba perlahan musik itu berubah seperti kaset rusak.


Rayn menatap bola kecil yang menggelinding di kakinya. “Gray…. Kejar bolanya” teriak anak itu dengan boneka dinosaurus ditangannya, ia berlari menghampiri Rayn.


Mendengar teriakan itu, Rayn yang sudah mengambil bola langsung menatap tajam anak yang sedang berlari ke arahnya. Matanya semakin membulat. “No… no… no apa yang akan ia lakukan?” ucap Rayn panik ketika anak itu semakin dekat. Rayn spontan langsung melempar jauh bola itu dan bergeser pindah sembunyi dibelakang Lusia.


Arka dengan cepat pasang badan di depan Lusia menghadang anak kecil yang sudah semkin dekat. “Paman, kenapa kau melempar bola itu?” tanya anak itu dengan polos usai melihat Rayn melempar jauh bolah miliknya tadi.


“Gray… gigit dia!” teriak anak itu dengan menggaung menirukan suara dinosaurus mendekati Rayn.


Menyadari hal itu, Ryan langsung melepaskan genggaman tangan Lusia dan berlari menjauh. Lusia sontak mengikuti mengejar Rayn. “Rayn tenang Rayn” teriak Lusia. Arka pun ikut lari untuk tetap melindungi Rayn.


Anak kecil itu justru terus mengejarnya karena merasa jika respon Ryan yang berlari seolah ia setuju untuk bermain dengannya. Anak itu tampak senang dan terus menggaung seolah boneka dinosaurus ditangannya sedang mengejar mangsa. Mereka sungguh tampak seperti seorang anak bermain kejar-kejaran dengan ayah dan pamannya. Siapa yang tahu jika ternyata pria itu menghindar dan lari karena takut disentuh.


Arka tampak kesulitan melindungi Rayn, karena Rayn terus bergerak maju mundur kiri kanan menghindari anak itu dan tetap menjaga jarak darinya. "Arka... hentikan anak itu!!" perintah Rayn dengan berteriak.


"Taun Muda Rayn yang harus berhenti dahulu" jawab Arka.


"Gray... kejar dia Gray..." ucap anak itu penuh semangat.


Lusia meminta Rayn berlari ke arahnya. "Kenapa aku seperti sedang menjadi Baby Sister mereka bertiga" gerutunya sambil mendekati Rayn.


Anak itu menangis histeris dengan mengucik-ngucik matanya, Lusia sontak bingung, ia membantu anak itu berdiri dan menenangkannya. “Arka apa yang


kau lakukan?” tanya Lusia kepada Arka.


“Saya tidak punya pilihan lain Nona Lusia” jawabnya tegas.


Rayn tampak sangat kelelahan. Dengan nafas tidak beraturan ia memanggil Lusia. Anak itu kemudian diambil alih oleh Arka. Arka membantu membersihkan celana anak itu yang kotor karena jatuh tadi.


Lusia menghampiri Rayn, ia meraih tangan Ryan dan menggenggamnya kembali. Ia menuntunnya untuk mendekati anak itu. Rayn menahan tangan Lusia dengan semakin erat menggenggam. "Apa yang kau lakukan?" tanya Rayn melihat Lusia yang justru mengajaknya untuk menghampiri anak itu.


Lusia tersenyum dan mengangguk memberi tanda jika semuanya akan baik-baik saja. Melihat Rayn


tak mau bergerak lagi, Lusia akhirnya mengalah, ia jongkok untuk mengimbangi berdirinya anak itu.


“Lihat… paman raksasa yang akan menjadi


mangsa Gray sudah mengaku kalah dan tidak kuat lagi lari apalagi kabur. Kakak sudah membantu menangkapnya” ucap Lusia mencoba menghibur anak itu hingga sang ibu datang dan meminta maaf jika sudah merepotkan. Ia juga berterima kasih karena sudah menemani anaknya bermain. Lusia hanya membalas dengan tersenyum.


Lusia lalu mengajak Rayn pergi dan duduk di sebuah kursi kayu di Taman yang sepi dari kerumunan. Sementara Arka berdiri tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


Lusia tertawa geli mengingat apa yang terjadi baru saja. Rayn masih berusaha mengatur nafasnya. Lusia mengeluarkan Air Mineral dari tas nya untuk Rayn.


“Apa yang dilakukan anak itu?” tanya Rayn tidak percaya dengan napa yang baru saja ia alami.


Lusia dengan masih tertawa kecil menjawab “Tapi dia terlihat sangat bahagia dan senang” jawabnya.


“Diatas penderitaan ku ???” sahut Ryan. Lusia semakin tertawa lepas.


Lusia menghentikan tawanya saat melihat wajah kesal Rayn. Ia lalu memandang anak-anak kecil yang sedang asyik bermain di Taman. “Aku jadi


ingin kembali menjadi anak-anak” ucapnya dengan tersenyum.


“Jika waktu bisa di putar kembali, akau sangat berharap bisa kembali masa itu” sahut Rayn.


“Aku paham kenapa kau sangat ingin kembali ke masa itu. Tapi, kau juga harus memandang ke depan agar tetap bisa melanjutkan hidup” ucap Lusia.


“Meraka hanya tahu bagaimana menyenangkan diri sendiri dengan terus bermain dan merasa bebas. Tanpa memikirkan betapa sulitnya untuk bertahan hidup yang menjadibtugas orang dewasa. Menyenangkan bukan?” tanya Lusia.


“Kau benar itu sangat menyenangkan, tapi masa-sama itu tidak berlaku untukku.” Jawab


Rayn.


“Aku tahu, tapi kau masih bisa menikmati masa mudamu saat ini. Eemm… apa aku masih bisa menyebutkan kita masih muda?” tanya Lusia pada dirinya sendiri dengan wajah yang sedang berpikir keras. Rayn hanya tersenyum mendengarnya.


Rayn lalu melirik memandang tangannya yang masih digenggam Lusia. “Kau benar, bahkan sekarang kau sedang menikmati masa itu. Apa saat ini kita sedang berkencan?” tanya Rayn dengan menunjukkan tangannya yang masih digenggam erat Lusia meskipun saat ini mereka aman.


Menyadari itu, Lusia sontak melepaskan genggaman tangannya. Wajahnya memerah


karena sangat malu, ia tidak sadar jika ia masih belum melepas tangan Rayn. Ia sontak berdiri "Kencan apanya??? Jujur aku tidak menyadarinya. Lagian kenapa kau hanyabdiam saja?? Jangan-jangan justru kau yang sangat menikmatinya" jawab Lusia.


Rayn hanya tersenyum mendengar ocehan Lusia. Ia berdiri meraih tangan Lusia dan menggenggamnya kembali.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lusia.


"Apa lagi... seperti yang kau bilang, aku hanya lanjut menikmatinya" ucapnya lalu berjalan lebih dahulu dengan tetap menggenggam tangan Lusia.


Lusia sudah sangat malu karena sindiran Rayn, ia memukul kepalanya berulang. "Apa sih yang kau pikirkan Lusia" gerutunya.


Rayn menghentikan langkahnya dan berbalik, ia menahan tangan Lusia yang masih akan memukul kepalanya. "Berhenti menyakiti diri sendiri dan tidak perlu malu, kita sudah terbiasa bergandengan tangan, meskipun kau tidak akan pernah melepasnya pun aku tidak masalah" ucap Rayn yang justru semakin membuat wajah Lusia memerah.


"Sudah, mari kita pulang" ajak Rayn berjalan kembali. "Apa misimu dibilang gagal lagi kali ini? tanya Rayn dengan tersenyum.


" Entahlah... "jawab Lusia lesu.


Mereka akhirnya berjalan bersama kembali ke mobil dengan tetap bergandengan tangan. Rayn terus membuka obrolan kecil agar Lusia kembali merasa nyaman.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued***


__ADS_2