Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 175 - Kaburnya Louis


__ADS_3

Di kanada, Rayn kali ini tidak membawa Lusia tinggal di hotel atau salah satu apartemen miliknya. Rayn membawa Lusia pulang dan tinggal di kediamannya, rumah dimana dia dilahirkan dan menjalani masa kecilnya.


Rayn membawa Lusia pulang bukan hanya karena dia sudah resmi menjadi bagian dari keluarga Anderson, tapi Rayn ingin Lusia semakin dekat dengan dirinya dan mengenal mendiang ibunya.


Sesungguhnya bukan keputusan mudah bagi Rayn untuk pulang ke rumah itu lagi, karena Rayn sendiri pun sudah belasan tahun tidak pulang ke rumah itu.


Setiap tahun, Rayn memang pulang ke Kanada setiap kali upacara peringatan hari kematian sang Ibu. Namun, Rayn lebih memilih untuk tinggal di Penthouse miliknya.


Hal ini karena Rayn tidak mampu menahan kerinduan, kesedihan dan luka yang tidak pernah bisa ia lupakan Setiap kembali ke rumah itu. Selain itu, karena Tuan Charles yang juga tinggal di sana yang membuat Rayn semakin enggan.


Setalah cukup lama berkendara, kini Rayn dan Lusia telah sampai di depan kediaman Anderson. Lusia langsung dibuat takjub saat sampai ia disambut pintu gerbang yang besar dan tinggi. Tidak hanya itu pagar beton yang tinggi dan panjang mengelilingi pekarangan menunjukkan seberapa luas halaman didalamnya.


Gerbang otomatis terbuka saat mobil yang dikendarai Rayn akan masuk. Mobil Rayn masih harus berkendara untuk sampai pada bangunan rumah utama. Melewati taman bunga yang tertata rapi, pepohonan cemara, kolam ikan dan beberapa area olahraga outdoor yang berada pada halaman yang sangat luas itu.


Terlihat dari kejauhan sebuah bangunan yang dibuat dengan batu alam untuk seluruh fasad rumah, langit-langit yang tinggi sehingga dari luar tampak tinggi bak sebuah castil bak rumah seorang bangsawan.


Rayn dan Lusia turun dari mobil langsung disambut oleh beberapa staf yang nampaknya sudah menunggu kedatangan Rayn. Mereka membungkuk menyambut dengan rasa hormat. Seorang staf membukakan pintu berukuran besar itu untuk Rayn dan Lusia.


Pintu terbuka, Lusia langsung disambut kemewahan dekorasi interior di dalam rumah, benda-benda berukuran besar seperti patung, lukisan besar, dan lampu gantung kristal membuat Lusia tidak lagi bisa membayangkan bagaimana Rayn menikmati masa kecilnya di rumah yang menakjubkan itu.


Mata Lusia tertuju pada sebuah lukisan berukuran besar tergantung dengan bingkai yang mewah. Dalam lukisan itu tampak figure pasangan pria dan wanita duduk pada sofa di samping perapian. Ada seorang anak balita laki-laki yang begitu mungil duduk di pangkuan wanita itu. Sudah jelas jika sosok dalam lukisan itu adalah Rayn, ayah dan ibunya.


Melihat kedatangan Rayn, Bibi Adelin pun langsung menyambut Rayn dengan haru. Bibi Adelin adalah pengasuh Rayn sejak ia masih balita. Bibi Adelin berlari menghampiri Rayn namun langkahnya terhenti seketika Rayn mengambil satu langkah mundur.


Bibi Adelin sontak meminta maaf dan menitihkan air mata, karena kerinduan yang dalam terhadap Rayn membuatnya sampai lupa akan phobia yang diderita Rayn.


Terlihat jelas kesedihan di wajah Bibi Adelin karena dia tidak lagi bisa memeluk Rayn seperti dahulu, bahkan ia sudah hampir tidak ingat sudah berapa tahun mereka tidak bertemu.


"Bibi selama ini hanya bisa melihat pertumbuhan Tuan Muda dari foto-foto yang dikirim Mickey" ucap Bibi Adelin yang sangat ingin memeluk Rayn.


Bibi Adelin lantas menoleh ke arah Lusia yang sudah dari tadi berdiri di sana. "Nyonya Lusia, anda begitu sangat cantik bahkan jauh lebih cantik saat bertemu langsung" Puji Bibi Adelin.


Bibi Adelin menyapa dan menyambut Lusia dengan penuh rasa hormat dan sopan. Lusia adalah bagian dari keluarga Anderson, sudah menjadi kewajibannya juga melayani Lusia dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Lusia hanya bisa membalas dengan mengurai senyum karena ia tidak sepenuhnya mengerti akan apa yang diucapkan Bibi Adelin. Perbedaan bahasa menjadi penghalang keduanya. Bibi Adelin adalah penduduk lokal kewarganegaraan Kanada, itu sebabnya Lusia akan sulit berkomunikasi dengan Bibi Adelin untuk kedepannya.


Bibi Adelin mengantarkan Lusia dan Rayn ke kamar Rayn. Kamar itu adalah kamar pribadi Rayn waktu kecil. Namun kamar itu sudah tidak seperti dulu lagi karena Ayah Rayn, Tuan Charles Dean Anderson sudah merubah kamar itu untuk menjadi lebih layak. Terlihat wajah Rayn yang kecewa karena itu membuatnya tidak bisa lagi merasakan masa kecilnya.


"Bibi, sudah meminta Tuan Charles untuk tidak merubahnya, namun Tuan Charles mengatakan jika Tuan Muda bukan akan kecil lagi saat pulang nanti" ujar Bibi Adelin kepada Rayn.


Setiap tahun, sebelum hari peringatan kematian Ny. Angelina, Bibi Adelin selalu merapikan kamar Rayn dan berharap jika Rayn akan pulang ke rumah. Tetapi Mickey selalu kembali seorang diri dan memberi kabar jika Rayn tidak akan datang dan tinggal di Penthouse.


Bibi Adelin pun berkata jujur kepada Rayn, jika alasan kenapa Tuan Charles selalu sibuk urusan di luar setiap kali peringatan ibu Rayn karena ia berharap Rayn akan pulang. Ayah Rayn berpikir jika keberadaan dirinya yang membuat Rayn enggan pulang. Tuan Charles selalu bertanya apakah Rayn pulang atau memberi kabar.


Mendengar hal itu, Rayn hanya diam. Tidak ada yang bisa disalahkan atas kesalahpahaman yang selama ini terjadi antara Rayn dan ayahnya. Tapi hubungan keduanya semakin membaik, tentu saja hal itu juga karena Lusia.


Ini kali pertama setelah sekian tahun Rayn pulang dan membawa seorang wanita yang sudah resmi menjadi istrinya. Hal ini membuat Rayn merasa lebih baik dan bisa menerima semua masa lalunya. Lusia adalah orang yang selalu menguatkan dirinya seperti saat ini.


Usai melepas rindu dengan Bibi Adelin, Rayn pamit untuk memasak. Yah hal itulah yang ingin Rayn lakukan saat pertama kali pulang ke rumah. Memasak untuk istrinya tercinta. Raym meminta Lusia untuk istirahat melepas lelah usai melakukan perjalanan panjang.


.


.


"Melihatmu duduk disini dan mengurus semua untuknya, aku sudah tidak heran karena dia putra tunggal Pengusaha Charles Dean Anderson. Tapi, terlepas dari status dan latar belakang keluarganya, dia benar-benar pria yang mengejutkan" ucap David usai memeriksa dokumen kontrak yang suda ditanda tangani kedua belah pihak.


"Meskipun menjadi orang yang tak terduga, Rayn adalah Rayn, dia bukan orang yang berbeda" sahut Mickey menepis ucapan Davi lalu pamit menerima panggilan telepon yang sedari tadi memanggil.


Mickey keluar ruangan lalu menerima panggilan dari orang kepercayaannya di Kanada. Mickey mendapat kabar mengejutkan dimana Louis yang ia duga adalah ayahnya kabur dari penjara.


Mereka baru menerima informasi jika kaburnya Louis sebenarnya sudah berlangsung selama empat hari. Pihak lapas menyembunyikan kejadian itu karena berpikir bisa mengatasinya secara internal, namun mereka gagal.


Kepala sipir meminta kepada pejabat lapas untuk memberinya waktu sebelum memberitahu Tuan Charles, dan hari ini batas tanggal itu.


Mickey tampan marah, ia mengepalkan satu tangannya sekuatnya untuk menahan amarah itu. Saat ini Mickey tidak bisa menahan Rayn pergi ke Kanada karena saat ini Rayn berdasarkan laporan dari Kanada Rayn sudah sampai di Kanada.


"Sepertinya kita harus memberitahu Tuan Muda tentang kondisi saat ini yang tidak aman" saran pria itu kepada Mickey.

__ADS_1


Mickey tampak berpikir sejenak sebelum membuat keputusan. Kepulangan Rayn ke Kanada kali ini bukan hanya sekedar untuk upacara peringatan kematian ibunya, tetapi ada rencana lain yang harus Mickey selesaikan. Dan tentu saja kaburnya Louis sungguh tidak terduga sehingga membuat Mickey harus melakukan sesuatu demi keselamatan Rayn.


"Saat ini, yang perlu kau lakukan adalah perketat penjagaan di kediaman Tuan Charles. Pastikan Tuan Muda dan Istrinya tidak meninggalkan kediaman sampai aku kembali. Dan juga pastikan Tuan Muda tidak tahu kondisi ini. Aku akan mencari tahu tentang situasinya sekarang. Aku peringatkan, lakukan pengawasan ekstra, jangan biarkan seorang pun menyentuh mereka bahkan sentuhan sekecil apapun. Kau paham?" tanya Mickey dengan nada suara yang begitu tegas.


Mickey mematikan panggilannya lalu kembali masuk ke ruangan David. "Ada urusan mendesak sehingga saya harus kembali. Saya akan mengirim perwakilan untuk menyelesaikannya" ucap Mickey dengan terburu-buru lalu pamit pergi.


"Wahh... dia langsung pergi begitu saja, bahkan aku belum mengucapkan sepatah kata pun" gerutu David sembari memegang dokumen ditangannya yang tadinya hendak di serahkan Mickey.


Usai menghubungi seseorang untuk mengurus penerbangan, Mickey menghubungi Lusia. Ponsel Lusia terus berdering, namun saat ini dia sedang berada di kamar mandi. Rayn sendiri saat ini sedang sibuk di dapur memasak untuk Lusia.


Usai mandi, melihat banyak nya panggilan tidak terjawab dari Mickey membuat Lusia langsung menghubungi Mickey kembali.


Panggilan terhubung, Mickey meminta Lusia untuk mencari tempat lain untuk bicara jika saat ini dia sedang bersama Rayn. Lusia mempersilahkan Mickey bicara karena dia seorang diri sekarang.


"Aku hanya akan mengatakan kepadamu dengan singkat, karena aku tidak punya waktu dan hanya kau orang yang bisa aku andalkan saat ini untuk keselamatan kalian berdua. Dengarkan aku Lusia, pamanku.. tidak, tapi ayahku kabur dari penjara. Situasi ini akan mengancam keselamatan Rayn bahkan juga keselamatanmu. Aku tidak bisa memberitahu Rayn hal ini karena aku tidak bisa menduga apa yang akan dilakukannya. Aku khawatir justru aku tidak akan bisa mengatasinya nanti." jelas Mickey.


Lusia menatap ke arah pintu. "Lalu apa yang kau ingin aku lakukan?" tanya Lusia.


"Cukup waspada, aku akan kembali ke Kanada, sebisa mungkin kalian tidak meninggalkan rumah sebelum aku kembali" pinta Mickey.


Lusia mengerti, dia akan melakukan yang terbaik dan Mickey bisa mengandalkan dirinya.


Usai menerima panggilan dari Mickey, Lusia berjalan menatap ke luar jendela. Di bawah sana, beberapa pengawal sudah mulai melakukan penjagaan yang ketat. "Mereka benar-benar bergerak cepat" ucap Lusia lalu menutup tirai.


Lusia menoleh, menatap sebuah foto Rayn dan Mickey kecil. "Aku percaya semua akan baik-baik saja. Tuhan, lindungilah dia yang aku cintai. "


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2