Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 168 - Percayalah Padaku


__ADS_3

Lusia segera berlari dari ruang pengawasan untuk bisa segera kembali ke Villa. Sesampai di depan pintu Lusia dengan terburu-buru menekan sandi.Terdengar suara tuts dari sandi pengaman yang ditekan Lusia. Sandi terverifikasi dan pintup pun terbuka.


Lusia membulatkan matanya saat melihat sosok pria yang sudah berdiri dibalik pintu. Rayn menatap kearahanya seolah berdiri disana untuk menanti kedatangan Lusia.


"Rayn.. kau mengejutkanku" sapa Lusia dengan nada suara yang ia buat biasa untuk tidak membuatnya curiga.


Rayn tersenyum tipis "Aku khawatir kau akan kembali dengan berlari, tapi melihat nafasmu yang memburu, sepertinya kau benar-benar berlari untuk bisa segera sampai" ucap Rayn. Dengan tatapan yang begitu manis ia menyeka keringat yang mengalir membasahi kening Lusia.


Dengan lembut dan penuh perhatian Rayn menyeka keringat itu menggunakan ujung lengan bajunya. Jika ada seseorang melihat perhatian Rayn pasti akan merasa iri akan sikapnya yang romantis itu.


Tapi sayangnya berbeda dengan yang dirasakan oleh Lusia sekarang, ini tidak seperti Rayn yang akan tetap bersikap tenang tanpa bertanya alasan kenapa ia berkeringat dan muncul dengan nafas yang memburu. Kenapa kau berkeringat, apa kau berlari, itu pertanyaan normal yang sementinya Rayn tanyakan.


Lusia berusaha untuk tetap bersikap wajar agar Rayn benar-benar tidak curiga jika dirinya telah berbohong. Ia tersenyum seolah terhanyut akan perhatian Rayn.


Rayn kembali menatapnya tanpa mengatakan apapun untuk kesekian detik, Lusia pun terdiam. "Bukanya kau ingin mencari udara segar, tapi kenapa kau jadi sangat berkeringat?" tanya Rayn tiba-tiba. "Aku menunggumu untuk mengatakannya, tapi pada akhirnya aku benar-benar harus menanyakannya." lanjutnya


"Aku hanya ingin segera bertemu denganmu" sahut Lusia lalu berusaha mengalihkan pembicaraan yang canggung itu dengan melangkahkan kaki untuk masuk. "Ayo masuk, kenapa kita berdiri disini" lanjut ucap Lusia berjalan lebih dulu masuk meninggalkan Rayn dibelakang.


Rayn menahan lengan Lusia, seketika membuat Lusia menghentikan langkahnya. Manik mata Lusia menatap tajam pada tangan Rayn yang menggenggam erat lengan nya. Terlihat sorot mata Lusia yang tidak nyaman disertai panik yang tidak bisa ia sembunyikan.


"Apa jantungmu berdetak sangat kenjang sekarang? Apa kau ingin aku akan membuatnya lebih berdebar lagi?" tanya Rayn seraya menarik tubuh Lusia untuk lebih dekat dengannya.

__ADS_1


Rayn menggiring dan menghimpit tubuh Lusia pada dinding. Tanpa kata ataupun aba-aba, Rayn langsung menyambar bibir Lusia. Ia mencium dan melmmattnya begitu dalam. Tidak ada yang bisa Lusia lakukan, ia hanya bisa menerima ciuman liar itu dari suaminya.


Meskipun bukan lagi ciuman yang pertama, namun Lusia bisa merasakan susuatu yang berdeta. Ada perasaan lain dibalik ciuman Rayn saat ini. Perasaan apa itu, apa yang terjadi dengannya, pertanyaan ini yang mengusik pikiran Lusia. Lusia bahkan tak menutup matanya saat Rayn terus mencumbunya.


Melihat reaksi Lusia, Rayn melepaskan ciuman itu dengan nafas yang memburu.Rayn menatap lekat kedua manik mata Lusia yang menatapnya dengan tatapan tenang. "Aku hanya sedang sedih, dan aku merasa terluka karena kau tidak mempercayaiku" ucap Rayn dengan suara lirih.


Rayn melepaskan genggaman dan kukuhannya. "Maafkan aku jika mengejutkanmu" ucap Rayn meminta maaf atas apa yang ia lakukan kepada Lusia baru saja.


"Tentang sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu, aku akan menunjukkan nanti. Pergilah istirahatlah, kau pasti sangat lelah" ucap Rayn lalu pergi lebih dulu meninggalkan Lusia untuk kembali ke kamaranya.


Lusia kini mengerti apa yang terjadi dibalik sikap yang tidak biasa baru saja. Lusia sadar, jika Rayn tahu jika dirinya telah berbohong. Rayn tampak menahan diri dan menunggu dirinya untuk bicara, namun Lusia hanya diam sehingga membuat Rayn tidak bisa menahan diri lagi.


Lusia mengejar langkah Rayn lalu memeluknya dari belakang. "Aku..., aku bukan tidak mempercayaimu, tapi sangat mengkhawatirkanmu" ucap Lusia lalu menyandarkan kepalanya pada punggung Rayn.


Rayn membawa Lusia ke ruang baca pribadinya. Rayn meminta Lusia untuk duduk dikursi dengan tampilan layar PC yang masih menyala. Tampilan yang masih seperti apa yang Rayn lihat dari tadi. Lusia membulatkan matanya lalu memandang ke arah Rayn saat melihat tampilan cctv ruang pengawasan saat ini.


Lusia kini tidak heran jika Rayn langsung tahu jika dirinya berbohong. Rayn meraih mouse lalu menutup laman yang menampilkan. Rayn lalu membuka sebuah laman situs yang terbuka setelah ia memasukan username dan password miliknya. Menampilkan halaman web tentang sebuah Yayasan di Kanada. Rayn mengatakan jika itu adalah Yayasan yang didirikan oleh mendiang ibunya, Ny. Angelina.


Sewaktu Ny. Angelina masih hidup, ia membangun sebuah Yayasan yang memberikan beasiswa penuh kepada anak-anak yang kurang mampu hingga menjadi anak-anak berpendidikan dan memiliki segudang prestasi yang membanggakan negaranya.


Setelah Ny.Angelina meninggal, saat Rayn mulai dewasa, tentunya dia orang yang menggantikan ibunya menjalankan Yayasan itu dibantu oleh Mickey. Awalnya Rayn hanya ingin mempetahankan Yayasan itu melanjutkan keinginan dan harapan sang ibu.

__ADS_1


Rayn mengatakan jika awalnya dia hanya ingin melindungi Yayasan yang dibangun ibunya, tapi sepanjang perjalanan, semakin lama dia semakin dilibatkan pada binis lain dengan dalih demi yayasan oleh ayahnya. Kau pun sudah pasti tahu, meskipun aku sangat membencinya saat itu tapi akhirnya aku benar-benar terjebak dan terjun dalam beberapa bisnis.


"Aku memang seorang pelukis seperti yang kau tahu selama ini, tapi aku juga mengerjakank hal lain. Meskpin aku tidak menghabiskan waktuku secara penuh pada urusan bisnis. Tapi, aku selalu berusaha semampuku untuk mempertahankan Yayasan dan beberapa bisnis yang menopangnya. Itu sebabnya, aku bisa melakukan hal mengerikan itu pada perusahaan Eric" jelas Rayn.


"Aku pun sempat merasa ljika itu beban dan lelah, bahkan saat sampai pada titik dimana aku sangat membenci ayahku, aku ingin melepas semuanya. Tapi, ratusan orang bergantung padaku sekarang. Mudah saja bagiku mengalihkan semuanya pada ayahku, dia lebih dariku dalam urusan bisnis. Tapi, aku tidak ingin menjadi pencundang dengan tidak bertanggung jawab melepaskan tanggung jawab yang aku mulai sendiri."


Satu hal lagi yang Rayn pahami, saat Lusia mengatakan jika apa yang dilakukannya terhadap perusahaan ayah Eric adalah salah. "Pada akhirnya aku mengerti, alasan kenapa ayahku sangat ingin menjadikan aku penerusnya. Karena ia juga sedang menanggung beban ribuan orang dipundaknya yang harus ia pertahankan. Dan ia mulai melibatkanku dengan memanfaatkan Yayasan ibuku."


"Tapi Rayn, kenapa kau tidak pernah mengatakannya kepadaku. Aku sungguh tidak tahu" ucap Lusia.


"Karena itu yang kau lihat dariku semalam ini. Dan bagiku itu sudah cukup bagiku. Aku ingin tetap menjadi Rayn yang kau kenal. Aku serius saat mengatakan jika tidak hal lain yang aku inginkan selain tetap berada disisimu" jawab Rayn.


Rayn meraih kedua tangan Lusia dan menatapnya. "Tapi, sepertinya semakin waktu aku semakin menujukkan sisi lain dari diriku. Aku tidak memperdulikannya karena itu tidak penting bagiku. Tapi setelah mendengar kau mengatakan jika dirimu semakin tidak mengenalku, membuatku menyadari satu hal, jika sesuatu yang aku anggap tidak penting itu telah membuamu melihatku seperti orang yang berbeda. Maafkan aku jika sudah banyak membuatmu khawatir, ,seperti tadi" ucap Rayn.


Lusia pun meraih tubuh Rayn dan memeluknya. "Terima kasih sudah mengatakannya. Kau tidak melakukan sesuatu yang buruk, maafkan aku jika sudah bertindak bodoh.


Tidak ada yang disalahkan atas kesalapahaman yang terjadi. Menjadi diri sendiri,berbicara jujur dan juga selalu menjaga komunikasi adalah pilah utama dalam sebuah hubungan. Semua masa sulit akan terlewati dan berlalu selama mereka mejaga pilar itu.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2