Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 74 - Menjadi Istriku


__ADS_3

Sulit dipercaya hal ini akan terjadi kepadanya. Lusia baru menyadari jika dirinya tidak memakai dengan sempurna jubah handuk yang diberikan Rayn. Hal itu membuat belahan dari dua gunung kembar miliknya terpampang indah. Menyadari hal itu, Lusia dengan cepat menutup rapat dan mendekapnya dengan kedua tanganya.


"Kau sudah menutupnya?” tanya Rayn yang masih tetap menutup matanya memandang lurus kedepan.


“Eemmm” jawab Lusia singkat karena ia sudah sangat malu.


"Apa kau tadi sempat…?” Tanya Lusia ragu.


Rayn menatap Lusia, ia merasa geli dengan pertanyaan Lusia. “Kau ingin aku menjawabnya dengan jujur?" tanya Rayn. "Tentu saja aku melihatnya, karena itu aku memejamkan mataku. Jika tidak, aku tidak punya alasan untuk melakukannya. Tapi, aku akan menganggap tidak melihatnya” goda Rayn.


“Itu artinya Arka….” Gumam Lusia lirih melirik Arka yang masih membelakangi keduanya.


Rayn memerintah Arka untuk pergi karena lampu sudah menyala. Ia lalu tersenyum dan berbisik ditelinga Lusia. “Itu tidak seperti benar-benar terlihat seutuhnya. Hanya sedikit, yah hanya sedikit dan sekilas…” ucap Rayn dengan suara lirih.


“Hya…! Kau tidak perlu menjelaskannya secara detail juga kali.” Lusia berteriak memotong ucapan Rayn yang masih belum diselesaikannya.


Rayn tertawa, ia sangat suka melihat reaksi Lusia ketika sedang terpojokkan. Rayn lanjut menggendong Lusia ke kamarnya. “Aku tahu itu sangat sensitif, tapi aku tidak ingin kau terlalu memikirkannya dengan liar. Reaksi Arka itu karena dia menghormatimu sebagai bos nya” ucap Rayn dengan menurunkan tubuh Lusia duduk dikasur.


“Boss ?” tanya Lusia.


“Eemmm…” jawab Rayn dengan mengangguk.


Lusia tampak bingung dengan ucapan Rayn karena dirinya dan Arka sama-sama seorang karyawan yang berkerja untuk Rayn. Kenapa Arka harus memperlakukannya seperti seorang Bos.


Rayn membungkukkan badanya agar bisa sejajar memandang wajah Lusia. “Karena aku bos Arka dan kau pacarku. Jadi, tentu saja kau juga bos Arka. Kenapa? Apa itu menjadi beban baru untukmu? Jika begitu mari kita resmikan saja dengan menjadi istriku” ucap Rayn tersenyum.


“Waahhh… apa itu sebuah proposal? Apa kau tiba-tiba mendapat inspirasi menjadikanku istrimu hanya karena agar aku tidak memiliki beban sebagai bos nya Arka?” Tanya Lusia kesal.


"Apa jangan-jangan kau tadi sengaja melakukannya untuk menggodaku?” tanya Rayn memandang wajah Lusia yang sudah memerah bak kepiting rebus.


"Hya...! Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Lagian Arka juga ada disana, apa aku sudah gila sengaja memperlihatkannya kepadamu didepannya” sahut Lusia.


"Jadi, jika Arka tidak ada kau akan melakukannya?" lanjut tanya Ryan yang masih ingin menggoda Lusia.


Lusia seperti telah mati kata, sekali salah ucap sudah dijadikan serangan balik oleh Rayn. Ia tidak percaya jika orang seperti Rayn yang hanya tahu membaca buku dongeng memiliki pemikiran mesum yang mengerikan seperti itu.


Rayn semakin mendekatkan wajahnya dan menatap tajam dirinya. "Tentu saja aku ingin melihatnya, bahkan ingin melihatnya seutuhnya" ucap Rayn.


"Raynnn....!!!" Teriak Lusia membulatkan matanya.


"Hanya setelah kau resmi menjadi istriku" sahut Rayn dengan wajah serius.


Rayn lalu mendekap kedua pipi Lusia dengan kedua tangannya, ia lalu mengecup singkat ranum bibir Lusia dengan lembut. "Aku akan menunggu sampai kau resmi menjadi istriku. Maka sudah menjadi hak ku untuk melihatnya seutuhnya bukan" lanjut ucap Rayn dengan tersenyum.


Kekesalan yang terlihat diwajah Lusia justru semakin membuatnya gemas. Kecupan Rayn dengan mengatakan menjadi istri membuat Lusia merasa ingin melayang. Perasaan antara senang, malu dan panik tiba-tiba membuatnya cegukan.


Rayn pun tertawa. "Jangan khawatir, aku bukan pria seburuk itu" ucapnya mengelus kepala Lusia lalu pergi menuju lemari baju Lusia, ia mengambil sepasang baju secara acak tanpa memeriksanya.


“Pakailah, kita akan pergi ke Rumah Sakit setelah kau berganti baju” perintah Rayn.


“Rumah sakit? Aku rasa tidak perlu” tolak Lusia.


“Aku hanya akan menurutimu jika kau seorang dokter. Berhubung bukan, jadi jangan mengeluh atau menolak karena aku sudah memutuskan. Aku akan meminta Arka menyiapkan mobil, hubungi aku jika kau sudah siap” ucap Rayn lalu pergi usai menutup pintu kamar Lusia.


.

__ADS_1


.


Mereka telah sampai di Rumah Sakit, Lusia turun dibantu Arka. Sementara Rayn hanya bisa menunggu di mobil seorang diri. Tidak lama Arka kembali menghampiri Rayn di mobil. Ia meminta Rayn untuk mengikutinya ke ruang pemeriksaan Lusia.


Rayn akhirnya turun dari mobil dan pergi menemui Lusia di ruang pemeriksaan bersama Arka. Sesekali mereka bertemu dengan perawat yang lalu lalang, sehingga memaksa Rayn menghentikan langkahnya lalu menghindar. Arka yang berjalan tidak jauh darinya langsung pasang badan melindungi Rayn. Tentu saja sikap keduanya mengundang perhatian, sehingga para perawat yang melihatnya menatap keduanya dengan tatapan aneh.


Hasil pemeriksaan Dokter mengatakan jika kaki Lusia hanya terkilir. Dokter meresepkan obat pereda nyeri dan obat oles. Rayn memaksa meminta dilakukan X-Ray untuk melihat adanya kemungkinan patah tulang. Namun Dokter meyakinkan Rayn jika Lusia tidak mengalami patah tulang.


“Sudah aku katakan itu tidak seperti yang kau pikirkan” gumam Lusia menunduk malu.


Karena pemeriksaan telah selesai, Rayn meminta Arka mendapatkan kursi roda untuk Lusia. Perintah Rayn sontak membuat Lusia terkejut, ia lalu memanggil Rayn dan meminta untuk mendekat kepadanya. “Jangan berlebihan, aku tidak harus pergi dengan kursi roda. Kau dengar sendiri, kakiku hanya terkilir dan aku masih bisa berjalan” bisik Lusia.


“Bagaimana kau bisa mengatakan itu sementara kakimu jelas terluka. Dokter meresepkan obat artinya ada masalah, jadi ikuti saja” ucap Rayn dengan suara yang membuat Lusia semakin malu karena didengar Arka dan Dokter.


“Arka, cepat ambil kursi roda setelah itu ambil obatnya” lanjut perintah Rayn kepada Arka.


“Tongkat saja, cukup tongkat saja. Kita bisa memakai tongkat saja OK?” potong Lusia meminta kepada Rayn.


“Jika kau masih menolak, aku akan menggendongmu” ancam Rayn. Ia bahkan tidak peduli jika saat ini mereka masih diruang pemeriksaan bersama Dokter.


Melihat perdebatan keduanya membuat Dokter tersenyum, ia merasa jika Rayn dan Lusia adalah pasangan suami istri yang menggemaskan. Dokter mendekat untuk berbicara kepada Rayn, namun Rayn sontak menghindar dan menempel pada Lusia. Seketika ia langsung meraih dan menggenggam tangan Lusia.


Melihat reaksi Rayn, Dokter kembali tersenyum. Ia yang tidak mengetahui Phobia Rayn manarik kesimpulan dan berpikir sikap Rayn seolah takut jika ia akan melakukan sesuatu kepadanya atau Lusia.


“Saya mengerti kekhawatiran anda, tetapi kenyaman istri anda juga penting. Ia jutrsu akan kesulitan beraktifitas jika harus menggunakan kursi roda untuk kesehariannya” saran sang Dokter.


“Istri ?” tanya Lusia. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Kesalapahaman Dokter membuat Rayn mulai berpikir liar. “Anda benar, saya yang terlalu memiliki kekhawatiran berlebihan sebagai seorang suami. Namun, istri saya tidak pernah mau mendengarkan saya sebagai suaminya. Sebagai suami yang lebih dan sangat sangat sangat menyayanginya hanya bisa mengikuti setiap keputasannya. Tapi kali ini demi kesembuhannya, saya akan tetap dengan keputusan saya” ucap Rayn kepada Dokter.


"Baik Tuan Muda" sahut Arka lalu keluar.


Lusia hanya bisa bengong dan menelah salivanya. “Apa dia sedang mainkan sebuah drama? Sepertinya kau sengaja melakukannya untuk membullyku” kesal Lusia dalam hati akan tingkah Rayn.


Sambil menunggu Arka kembali, Dokter menyarankan beberpa hal yang harus Rayn perhatikan untuk kesembuhan Lusia.


“Bagaimana istri anda bisa sampai terluka seperti ini? Karena ini sudah larut, akan sulit menemukan klinik yang masih buka, sehingga anda hanya bisa membawanya ke Rumah Sakit” tanya Dokter.


Seolah tidak ingin lagi mendengar Rayn semakin mengatakan yang tidak-tidak, Lusia segera meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Rayn.


[Berhenti memainkan drama yang tidak-tidak, kita bisa menunggu Arka dimobil, bantu aku keluar] – pesan Lusia.


Mendapat notifikasi pesan dari Lusia membuat Ryan segera membacanya meskipun ia belum menjawab pertanyaan Dokter. Usai membacanya, Rayn memandang Lusia dengan senyum yang semakin mencurigakan. Ia mematikan ponselnya lalu kembali menjawab pertanyaan Dokter.


"Saya sangat panik jadi hanya terpikirkan membawanya ke Rumah Sakit yang memilki fasilitas lebih lengkap. Dan soal bagaimana istri saya bisa terluka..." ucap Rayn lalu memandang wajah Lusia.


"Itu karena ini malam pertama istimewa kami, jadi kami terlalu bersemangat melakukannya sampai…” jawab Rayn dengan tersenyum kepada Lusia.


Lusia membulatkan matanya, ia melotot kepada Rayn yang semakin berbicara ngelantur. “Hya….!!!” ucap Lusia tanpa suara kepada Rayn memintanya untuk berhenti.


Rayn kembali memandang Dokter dan melanjutkan ucapannya. “Ini malam pertama kami menempati rumah baru. Jadi, kami terlalu bersemangat bersih-bersih hingga larut. Istri saya mungkin lelah jadi kurang hati-hati dan melukai kakinya” lanjut jawab Rayn kepada Dokter. Ia lalu menoleh kepada Lusia lagi. “Benarkan sayang” tanyanya dengan senyum puas karena berhasil menggoda Lusia.


“Sepertinya kami harus pamit, kami bisa menunggu dimobil” jawab Lusia menyarankan Rayn untuk pamit.


Saat Lusia hendak berdiri, tiba-tiba Arka masuk dengan kursi roda bersama seorang Dokter. “Dokter Frans?” sapa Rayn mengenali Dokter yang datang bersama Arka.

__ADS_1


“Rayn, aku tidak sengaja melihat Arka jadi datang kemari untuk memastikan” sahut Dr. Frans.


“Jadi anda dan Dr. Frans sudah saling mengenal” sahut Dokter yang menangani Lusia.


“Tentu saja, karena beliau adalah saksi pernikahan kami. Benarkan sayang, ayo kita pergi” sahut Rayn. Ia menyambut Lusia yang sudah dibantu Arka duduk di kursi roda lalu mendorongnya keluar.


Dr. Frans yang mengetahui Rayn memiliki Haphephobia sontak melangkah menghindari pintu untuk mempersilahkan Rayn keluar. Ia lalu juga pamit mengikuti Rayn keluar untuk mengantar Rayn kembali.


“Apa kau sungguh sudah menikah? Bahkan aku tidak ingat jika pernah jadi saksi pernikahanmu” ucap Dr. Frans. Ia tahu jika Rayn hanya asal bicara. Tapi ia juga penasaran apakah Rayn benar-benar sudah menikah tanpa ia ketahui.


“Anggap saja seperti itu” sahut Rayn singkat.


Lusia hanya diam mendengar Rayn terus memainkan dramanya yang penuh kehaluan. Lusia yakin, sebelumnya jika itu hanya untuk menggoda dirinya. Lusia memotong pembicaraan keduanya agar Rayn tidak semakin bertingkah. Ia mengalihkan dengan kembali mengeluhkan jika dirinya tidak membutuhkan kursi roda.


Dr. Frans membenarkan Lusia, dengan kursi roda akan semakin menyulitkan Lusia melakukan aktifitanya seorang diri, ia justru akan lebih banyak membutuhkan bantuan orang lain.


"Benar, aku mungkin jadi akan lebih menyulitkan Arka dengan terus meminta bantuannya nanti” ucap Lusia.


“Mana mungkin aku membiarkan istriku diperhatikan pria lain. Tentu saja aku yang akan melakukan apapun untukmu” potong Rayn dengan tersenyum.


“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Dr. Frans kepada Rayn.


“Kenapa anda menanyakan itu kepadaku sementara dia yang seorang pasien saat ini” jawab Rayn dengan tetap berjalan memandang kedepan mendorong kursi roda Lusia.


“Haha, tentu saja aku tahu itu. Aku hanya bertanya soal dirimu.”


“Seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja. Bahkan saat ini saya bisa sampai berada di rumah sakit ini demi istriku. Saya rasa itu sudah cukup menjadi informasi baru yang bisa anda laporkan padanya” sahut Rayn.


“Jangan terlalu keras dengan ayahmu. Dia tidak seperti yang kau pikirkan Rayn” ucap Dr. Frans.


Rayn menghentikan langkah kakinya, ia berhenti mendorong kursi roda Lusia. Rayn menoleh memandang Dr.Frans yang berjalan tidak jauh di sebelahnya.


“Saya tidak peduli soal pandangan anda dan yang lain terhadap ayah saya. Bagi saya, perlakuannya yang saya terimalah sudah cukup meyakinkan saya untuk menilainya sendiri” ucap Rayn dengan serius.


“Rayn…” panggil Lusia memegang tangan Rayn, ia memberi isyarat meminta Ryan untuk tidak meneruskan.


“Lihatlah, bahkan istriku tidak nyaman mendengarnya” ucap Rayn lalu pamit dan melanjutkan kembali langkahnya mendorong kursi roda Lusia.


Dr. Frans adalah teman baik ayahnya sewaktu Dr. Frans masih tinggal di Canada. Meskipun ia seorang Dokter, namun ia memiliki sikap buruk yang suka mengadu satiap ada informasi apapun yang ia dapat soal Rayn. Apapun itu pasti akan langsung sampai kepada ayahnya hanya untuk mencari perhatian ayah Rayn.


Lusia dan Rayn akhirnya pergi meninggalkan Rumah Sakit. Lusia sesungguhnya masih sangat kesal dengan sikap Rayn yang mengada-ngada dengan menyebutkan diirinya adalah istrinya. Terutama sikap Rayn yang sengaja membuat panas membully dirinya dengan memainkan kata-kata malam pertama.


Rayn hanya diam saja selama di mobil, hal ini pasti karena ia bertemu dengan Dr. Frans yang membuatnya mengungkit lagi soal ayahnya.


"Kenapa aku tiba-tiba merasa lelah, padahal aku sudah berjanji akan merawatmu sesampai di Villa. Bolehkah aku istirahat sejenak? Hanya sampai kita tiba di Villa" ucap Rayn tiba-tiba menggandeng tangan Lusia. Ia menyandarkan kepala dibahu Lusia lalu memejamkan matanya.


"Bagaimana kau sudah lelah padalah belum sampai sehari bermain menjadi suami?" tanya Lusia lirih, ia tersenyum seorang diri menatap Rayn yang sudag tertidur.


Melihan Rayn yang kembali manja, membuat Lusia luluh dan melupakan kekesalannya akan drama yang sudah dibuat Rayn di Rumah Sakit tadi.


.


.


.

__ADS_1


***To Be Continued***


__ADS_2