Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 162 - Hanya Ingin Melindungimu


__ADS_3

Para dokter dan perawat sudah keluar meninggalkan kamar Rayn. Mereka mengatakan jika saat ini Rayn hanya perlu istirahat. Mereka juga sudah langsung melaporkan hasil pemeriksaan kepada Dr. Leona yang saat ini berada di Kanada. Selain karena reaksi akan phobia yang di derita Rayn, Lusia tidak perlu mengkhawatirkan adanya cedera fisik lain.


Dokter menjelaskan jika luka fisik di tangan Rayn sudah diobati dan hanya itu luka fisik yang dimiliki Rayn saat ini. Mendengar hal itu membuat hati Lusia bisa merasa sedikit lebih tenang, ia sangat berterima kasih kepada para dokter dan perawat.


Usai mengantar para dokter ke mobilnya, Lusia bergegas kembali ke kamar untuk menemani Rayn. Lusia menatap suaminya yang terbaring ditempat tidur dengan jarum infus ditangannya. Lusia pergi mengambil air hangat pada wadah untuk membasuh tubuh Rayn. Lusia duduk di bibir ranjang sembari membersihkan wajah Rayn dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat.



Sesekali Lusia memeriksa suhu tubuh Rayn, ia khawatir jika Rayn tiba-tiba mengalami deman. Lusia terus berjaga hingga menjelang malam. Tidak ada yang ia lakukan selain mendampingi suaminya dengan tatapan yang tidak ia lepaskan sedetik pun. Lusia bahkan tidak menyentuh makanan yang sudah disiapkan Arka. Masih terlihat jelas kesedihan yang menyelimuti wajahnya.


Tiba-tiba air mata Lusia kembali mengalir mengiringi perasaannya yang terus saja merasa gelisah. Meskipun dirinya tidak ingin percaya dengan apa yang diucapkan orang-orang tentang apa yang terjadi dengan Rayn. Tapi, semuanya benar telah terjadi.


"Dia menghajarnya habis-habisan. Tidak ada yang berani melerai karena salah satu dari pria itu seperti sedang menggila. Dia bahkan memukul semua orang yang hendak melerainya."


Lusia kembali duduk, meraih tangan Rayn yang dibalut dengan kain perban. Tangan yang sudah digunakan Rayn untuk memukul Jarry hingga babak belur. "Kau sungguh menghajarnya habis-habisan seperti yang mereka katakan, hingga melukai tanganmu sendiri seperti ini" ucap Lusia lirih seraya menatap tangan Rayn.


Lusia sangat ingin tahu apa yang membuat Rayn sampai bertindak seperti itu. Bahkan ia tidak tahu bagaimana cara Rayn menahan siksaan Haphephobia yang dideritanya bisa sampai pada titik itu. Lusia meneteskan air matanya lagi saat mengingat bagaimana kondisi Rayn tadi. Mengingat saat Rayn tidak berdaya jatuh dalam pelukannya usai menyebut namanya. Lusia menunduk memalingkan wajahnya seolah tidak ingin Rayn yang bahkan masih terlelap melihatnya menangis.


Lusia percaya jika Rayn memiliki alasan kenapa dia melakukan itu kepada Jarry. Meskipun Rayn bisa melakukan pemukulan terhadap Jarry, tetapi Rayn tetap tidak bisa membiarkan orang-orang menyentuhnya. Itu sebabnya ia juga memukul orang-orang yang berusaha melerainya. Bahkan Rayn juga tidak membiarkan Lusia untuk menyentuhnya.


Mengingat bagaimana Rayn menghampas tangan Lusia dan memintanya untuk tidak menyentuh tubuhnya. Hal itu membuat Lusia menjadi ketakukan. "Rayn, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus kulakukan jika kau benar-benar tidak bisa lagi menerima sentuhan dariku?" tanya Lusia meletakan telapak tangan Rayn pada pipinya dengan air mata yang mengalir membasahi tangan suaminya.


Lusia memeluk tubuh Rayn yang masih terbaring diranjang. Lusia takut jika saat Rayn kembali membuka matanya, dia tidak bisa lagi memeluk tubuh suaminya. Tentang bagaimana Rayn menolak sentuhannya, Lusia masih belum mengatakan kondisi itu kepada dokter untuk dilaporkan kepada Dr. Leona. Lusia berharap jika tidak akan terjadi hal yang lebih buruk dengan phobia Rayn.


.


.


Lusia masih setia berjaga dengan terus menggenggam tangan suaminya. Waktu menujukkan pukul 04.00 petang, Lusia merasakan adanya pergerakan tangan Rayn. Lusia yang sempat tertidur langsung bangun dan segera melepaskan genggaman tanganya. Ia bergegas berdiri mengambil dua langkah mundur dari ranjang Rayn. Lusia takut jika sentuhannya akan kembali memicu phobia Rayn.

__ADS_1


Lusia melihat Rayn perlahan mulai membuka matanya. "Rayn, kau sudah bangun. Aku akan menghubungi dokter memberitahu mereka jika kau sudah sadar" ucap Lusia segera meraih ponselnya.


"Lusia..." panggil Rayn lirih.


Dengan pergerakan tubuhnya yang masih lemah, Rayn berusaha mengulurkan tangannya. Tapi Lusia justru semakin mengambil langkah mundur hingga menubruk meja. Rasa takut karena tidak ingin menyakiti Rayn membuat tubuh Lusia yang gemetar langsung jatuh terduduk saat menyentuh meja.


Mendengar sesuatu dari kamar Rayn membuat Arka yang berjaga diluar bergegas membuka pintu dan masuk. Dia terkejut melihat Lusia terduduk dan langsung menghampirinya. Arka berusaha membantu Lusia untuk bangun. "Apa anda baik-baik saja Nyonya?" tanyanya.


"Menyingkirlah...!" ucap Rayn perlahan dengan suara yang begitu lemah.


Rayn meminta Arka untuk melepaskan tangannya dan menjauh dari Lusia karena itu menghalanginya untuk mendekat. Rayn berusaha untuk bangun, ia melepas jarum infus yang terpasang di tangannya. Dengan tubuh yang masih lemas, Rayn turun dari ranjang menghampiri Lusia yang masih terduduk di lantai bersandar pada meja.


"Rayn, jangan memaksakan dirimu! Aku tidak ingin sentuhanku memperburuk kondisimu dan...."


Belum sampai Lusia menyelesaikan ucapannya, Rayn sudah memeluk tubuh istrinya yang masih gemetar. "Maafkan aku Lusia jika sudah membuatmu khawatir, aku tidak akan membiarkan tubuh ini tidak bisa menyentuhmu. Aku tidak akan pernah membiarkannya. Maafkan aku, Lusia" ucap Rayn semakin erat memeluk tubuh Lusia.


Lusia menghela nafas lega, ia melepas pelukan Rayn lalu menatapnya dengan air mata yang terus mengalir. Raut wajah, cemas, takut, bahkan amarah berpadu terpancar jelas dari sorot matanya. "Rayn, kau tahu betapa takutnya diriku saat kau menolak sentuhanku. Aku takut jika diriku tidak bisa menyentuh atau memelukmu lagi" ucap Lusia dengan suara yang bergetar.


Lusia meminta Rayn untuk tetap menjadi dirinya seperti biasa. "Kau tidak harus memaksakan diri melakukan hal yang lain. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Aku tidak ingin jika kau berada dalam kesulitan dan memperburuk phobiamu. Aku..., aku takut, aku sangat takut Rayn."  Lusia terus menangis terisak sehingga ucapannya terputus-putus.


"Aku takut jika aku tidak bisa menyentuhmu lagi. Apa kau tahu itu? Itu lebih menyakitiku, itu lebih menyiksaku, itu seperti membunuhku Rayn. Tentang apa yang terjadi hari ini, sudah sangat membuatku seperti orang gila. Aku takut jika harus kehilanganmu" lanjutnya.


Tanpa memberi jawaban apapun, Rayn langsung memeluk Lusia untuk membuatnya lebih tenang. Rayn sangat mengerti kegelisahan dan rasa takut yang dirasakan istrinya saat ini.



"Maafkan aku, maafkkan aku Lusia" ucap Rayn memeluk erat istrinya.


.

__ADS_1


.


.


Apa yang sebenarnya terjadi antara Rayn dan Jarry adalah karena Rayn ingin melindungi Lusia. Saat itu, Rayn melihat Lusia berbicara dengan Jarry, ia melihat pria itu memeluk istrinya tiba-tiba. Hal itu sudah sangat membuat Rayn kesal, namun ia tidak ingin tersulut rasa cemburu dengan mencoba untuk memahami situasinya.


Namun, saat berpapasan dengan Jarry, Rayn mendengar percakapan Jarry dalam panggilan telepon yang membuatnya sangat marah. Saat itu Jarry tidak tahu jika pria yang berpapasan dengannya adalah suami Lusia.


"Kau tahu Lusia? Aku bertemu dengannya, dia masih terlihat cantik dan bahkan lebih seksi. Bukannya kau akan mengadakan party night di rumahmu? Bagaimana kalau kita bertaruh? Jika aku bisa membawanya kesana kita bisa menikmatinya bersama, kau cukup membayarku dengan barang itu."


Rayn sontak berbalik berjalan di belakang Jarry, ia mengikuti Jarry yang terus berjalan dengan panggilan telepon yang masih aktif. Jarry terus mengatakan tentang Lusia yang akan menjadi bahan taruhan mereka. Tidak hanya itu, bahkan Jarry akan menjadikan Lusia sebagai wanita bergilir yang akan memuaskan mereka dalam acara pesta party itu.


"Asal kau memberiku berat dua kali lipat, aku akan membiarkanmu memasukinya lebih dulu, bukankan itu akan memberimu sensasi yang berbeda, karena menjadi orang pertama yang menjebol gawangnya."


Rayn mengepalkan tangannya dengan kuat. "Bajingannn gila, beraninya kau...!!" ucap Rayn lalu menarik bahu Jarry dari belakang dan memukulnya.


Dengan penuh amarah Rayn terus melayangkan pukulannya pada wajah Jarry. Rayn meluapkan kemarahannya dan berkata kepada Jarry jika dia akan membuat Jarry menyesali niatnya. Jarry mecoba menghindar namun gagal menghindari pukulan Rayn. Jarry terus bertanya siapa Rayn dan apa yang membuatnya dengan brutal memukul dirinya.


Setiap kalimat yang diucapkan Rayn selalu disertai dengan pukulan. "Beraninya kau menyebut namanya dengan mulut kotormu..!!!" ucap Rayn kembali memukul wajah Jarry.


"Sebelum kau menyentuh sehelai rambutnya, aku akan membuatmu kehilangan tangan berhargamu ini..." ucap Rayn menekan pergelangan tangan Jarry hingga membuatnya berteriak kesakitan seolah Rayn akan mematahkan pergelangan tangan Jarry.


Rayn terus saja memukulnya dengan murka seperti ingin membunuh pria itu. Orang-orang mulai mendekat dan berkerumun. Kehadiran orang-orang itu membuat Rayn mulai merasakan kembali siksaan phobianya. Tanpa sadar ia juga memukul semua orang yang mencoba melerainya.


Apa yang terjadi dengan Rayn? Bagaimana dia bisa melakukannya? Itu yang masih menjadi pertanyaan Lusia. Apa pun itu, Lusia tidak ingin lagi melihat Rayn menderita, karena dia tidak ingin kehilangan pria yang dicintainya.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2