
Mimik pengawal itu berubah seketika mendengar teriakan dari seseorang yang berada dalam panggilan telepon dengannya. Ia mematikan panggilannya, lalu dengan tegas meminta para bawahannya segera mengambil langkah mundur menjauhi pintu kamar yang dijaganya.
Pengawal itu langsung menunduk, memberi salam kepada Rayn yang diikuti oleh semua para penjaga lainnya. Ia meminta maaf kepada Rayn atas tindakannya baru saja dan mempersilahkan Rayn untuk masuk.
“Silahkan Tuan Muda Rayn” ucapnya dengan jelas, menyebut nama Ryan yang sebelumnya tidak ia kenali.
Belum sampai Rayn mendekati pintu kamar, seorang pria berusia 40 tahun berpakaian jas rapi keluar membuka pintu. Pria dengan wajah yang terlihat lebih muda dari usianya itu menunduk menyambut kedatangan Rayn.
“Maafkan mereka Tuan Muda” ucapnya dengan mengambil langkah keluar menjauhi pintu agar Rayn bisa masuk. Tentu saja sikap itu diambil karena ia sangat tahu kondisi phobia Rayn.
“Kalian sudah bersikap tidak sopan kepada Tuan Muda, kalian semua tidak layak dan hari ini akan menjadi hari terakhir kalian bekerja" ucapnya berteriak kepada para penjaga yang sudah berani menghadang kedatangan Rayn.
“Lalu apa hari ini juga akan menjadi hari terakhirmu, Pak Alex?" celetuk Rayn.
Rayn menatap para penjaga yang masih menunduk, mereka tidak berani memandang pria paruh baya yang akan mengakhiri masa kerja mereka hanya dengan sekali perintah. “Kau menyalahkan mereka dan memecatnya hanya karena tidak sopan kepadaku?” tanya Rayn kepada Pak Alex.
“Maafkan saya jika sudah lancang Tuan Muda” jawabnya menunduk.
“Lalu, aku harus menyalahkan siapa jika alasan mereka tidak sopan karena tidak mengenaliku?” lanjut tanya Rayn kepada pria itu. “Pak Alex, usiamu sudah semakin bertambah, jadi jangan menjadi semakin kejam. Biarkan mereka tetap bekerja” lanjut perintah Rayn lalu masuk ke dalam sebuah kamar Presidential Suite yang mewah dan elegan.
Pak Alex hanya menunduk lalu mengikuti Rayn masuk. Rayn menghentikan langkahnya tepat di depan seorang pria yang sudah sedari tadi duduk di meja kerjanya. Rayn membungkukkan badannya memberi salam kepada Pria itu.
“Aku tahu kau pasti akan datang” ucap pria itu sembari menutup notebook di depannya.
“Anda sengaja meminta Pak Alex melakukannya hanya untuk membuatku datang kemari?” tanya Rayn mengingat pesan yang ia terima saat berada di perpustakaan bersama Lusia.
Sebelumnya Pak Alex mengirim foto Lusia kepada Rayn dengan sebuah pesan yang mengatakan jika Tuan Besar bertanya kapan Tuan Rayn akan memperkenalkan gadis itu. Pesan itulah yang membuat Rayn langsung pergi meninggalkan Lusia saat di perpustakaan. Pesan itu merupakan sindiran dan ancaman bagi Ryan jika mereka telah mengetahui akan keberadaan Lusia dalam kehidupan Ryan.
“Cara bicaramu masih tidak berubah” ucap pria itu akan perkataan Rayn yang terdengar sopan tapi juga kasar.
“Terakhir kau kembali ke Canada di hari kematian mendiang ibumu, bukankah sangat keterlaluan pulang tanpa mengunjungi ayahmu?” tanyanya kepada Rayn.
“Bukankah sekarang aku sudah ada disini, apa lagi yang anda inginkan sekarang?” tanya balik Rayn.
"Kau hanya akan datang setelah aku memaksamu untuk datang?” tanya pria itu.
“Jika anda tidak memintaku datang, bukankah itu artinya anda tidak sedang membutuhkanku? Lalu untuk apa membahas kepulanganku ke Canada. Aaa... aku lupa. Sebagai alat bisnis, boneka seperti diriku hanya tinggal menunggu kapan aku harus naik ke atas panggung." jawab Rayn. Ia merasa seperti alat bisnis yang hanya akan diperhatikan jika dibutuhkan.
“Dasar, anak kurang ajar ini” ucap pria itu dengan bangkit dari kursinya.
__ADS_1
Rayn tidak ingin basa-basi lagi, ia langsung mengatakan tujuannya datang bukan untuk membahas dirinya. “Aku datang memperingatkan anda untuk tidak menyentuhnya” ucap Rayn membicarakan Lusia.
"Kau akan terus mengandalkan gadis itu?” Tanya pria itu dengan mengambil langkah, ia berjalan mendekati Rayn. Rayn berusaha menahan phobianya dengan tetap berdiri tanpa mengambil langkah mundur.
“Itu tidak ada hubungannya dengan anda. Jadi anda tidak perlu membuang waktu anda hanya untuk mengusik orang-orang yang tidak memberi pengaruh besar bagi anda” jawab Rayn.
"Tentu saja akan memberi pengaruh besar, jika aku menjadikannya pemain baru dalam panggungmu" ucap pria itu.
"Lalu aku adalah orang yang akan meruntuhkan panggung itu" sahut Rayn.
Pria itu tersenyum tipis. “Ada apa dengan reaksimu? Apa kau merasa itu adalah ancaman bagimu?” tanyanya.
“Aku tidak pernah merasa anda adalah ancaman bagiku. Tapi, sepertinya sekarang anda yang merasa jika gadis itu akan menjadi ancaman bagi anda” jawab Rayn.
“Tentu saja dia adalah ancaman bagiku, karena dia bisa saja mempengaruhimu. Aku punya hak menentukan siapa saja orang-orang yang layak berada dalam hidupmu ” ucap pria itu duduk di sofa tamu.
Rayn mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. "Sangat menggelikan mendengar itu. Selama ini jika bukan karena bisnis, mungkin anda sudah membuangku. Bagaimana anda tidak malu menyebutkan hak akan hidupku. Lalu, apa anda sudah mencapai kelayakan anda? Perlu anda tahu, aku tidak akan pernah memasuki dunia bisnis anda. Jadi, berhenti menaruh harapan padaku dan jangan menyentuh orang-orang ku. Asal anda tahu, orang-orang yang kau anggap tidak layak itulah yang memperlakukanku selayaknya manusia, bukan boneka yang dalam kendali” ucap Rayn.
"Kau masih tidak berubah sama sekali" ucap pria itu.
Tiba-tiba Mickey datang memasuki ruangan. “Hentikan langkahmu” perintah Rayn kepada Mickey yang mencoba mendekat berusaha untuk menenangkan amarahnya.
“Sepertinya kau juga sudah lama tidak bertemu dengannya, kau bisa menemaninya menikmati waktu sebelum dia kembali ke Canada” ucap Rayn kepada Mickey.
"Mungkin banyak hal yang ingin anda bahas dengannya, maka aku akan pamit" lanjut ucap Rayn memandang pria itu dan Mickey.
"Rayn, aku akan mengantarmu kembali" ucap Mickey namun di tolak oleh Rayn.
"Meskipun aku tidak yakin anda masih menganggap diriku sebagai seorang putra atau bukan. Tapi, aku rasa harus tetap mengatakannya dengan benar” ucap Rayn memposisikan dirinya dengan tegap.
“Semoga anda kembali ke Canada dengan selamat” lanjut ucap Rayn dengan membungkuk. “Dan jaga kesehatan anda… Ayah” lanjutnya lalu pergi meninggalkan Mickey dan Tuan Besar Charles yang tidak lain adalah ayah kandungnya.
Ini adalah pertama kali Rayn menyebutkan kata 'Ayah' kepada Ayahnya. Keretakan hubungan Rayn dan ayahnya terjadi semenjak kematian sang ibu. Hubungan itu semakin buruk saat ayahnya memutuskan menghentikan pengobatan Phobianya dan mengasingkan dirinya.
Rayn berjalan keluar. Pak Alex meminta para penjaganya untuk kembali mengambil langkah mundur membuka jalan untuk Rayn. Pak Alex bersiap mengantar Rayn kembali, namun ia juga di tolak oleh Rayn. "Berhenti mengikutiku jika kau masih sayang dengan hidupmu" tolak Rayn.
Tuan Charles meminta Mickey untuk tetap tinggal. Lalu Ia memerintahkan Pak Alex untuk menuruti Ryan dan cukup mengirim orang untuk memastikan dia kembali dengan selamat.
"Hah, Lihatlah bagaimana dia memandang ayahnya" kesal ayah Rayn berbicara kepada Mickey dengan kembali duduk di meja kerjanya.
__ADS_1
Rayn yang sedari tadi berusaha untuk tetap kuat mulai merasa sekujur tubuhnya lemah saat memasuki lift. Kakinya menjadi lemas dan tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia berusaha sekuat tenaga berjalan keluar dari lift.
Rayn semakin menjadi tak berdaya ketika phobianya mendorong ingatannya kembali mengingat kejadian kelam itu. “Ibu… ibu… Tuan, tolong ibuku tuan, tolong ibuku… “ suara tangisan dan teriakan Rayn kecil memanggil ibunya yang terjebak dalam kecelakaan mobil dan meminta tolong telah mengguncang pikiran dan pendengarannya. Rayn berusaha menahan ingatan yang menyiksanya itu dengan menutup kedua telinga dan meremas kepalanya.
Menyusul ingatan lain yang juga muncul mengacaukan pikirannya. Ingatan akan pembicaraan sang ayah dengan seorang dokter keluarganya. “Jangan lanjutkan pengobatannya. Saya sudah putuskan akan mengirimnya kembali pulang ke negara asal kami." Perintah sang ayah kepada dokter itu yang terus terekam dalam ingatan Rayn kini muncul.
Potongan-potongan ingatan itu kembali menghantui dan menyesakkan dirinya. Wajah Rayn semakin pucat, keringat dingin mulai bercucuran menelusuri keningnya, Ia pun sudah kan mampu untuk melanjutkan langkah kakinya.
.
.
***
Di Cafe, Lusia sudah bersiap untuk memulai pekerjaannya. Ponselnya terus berdering adanya panggilan masuk dari Rayn. Lusia yang masih merasa kesal terhadap Rayn, mengabaikan panggilannya dan melanjutkan memakai apron. Panggilan telepon yang tiada henti mulai mengusiknya. Ia menyadari tanggung jawabnya bekerja dengan Rayn. Ia akhirnya menjawab panggilan itu meskipun dengan nada malas.
“Kenapa kau menghubungiku berulang kali? Sudah seperti tukang tagih saja” jawab Lusia dalam panggilan telepon dengan Rayn.
Dalam panggilan telepon, Rayn hanya menyebut namanya dengan nada lemas dan nafas tidak beraturan. Lusia menjadi cemas dan panik. Ia langsung meminta Rayn memberitahu posisinya dan bergegas pergi menjemputnya. Lusia semakin panik saat menyadari jika dirinya sedang tidak membawa mobil. Sementara Mobil Cafe Momo, saat ini sedang dibawa oleh staf lain.
Kelvin menghampiri Lusia menanyakan apa yang terjadi setelah melihat kepanikan di wajah Lusia. Lusia seketika meminta izin sekaligus meminjam mobil Kelvin. Kelvin menawarkan diri untuk mengantarnya, karena ia cemas jika membiarkan Lusia berkendara seorang diri dalam kondisi panik.
Lusia menolak tawaran Kelvin, ia tidak ingin membuatnya buruk karena dirinya pergi untuk menemui Rayn. Meskipun dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan Rayn, namun ia memikirkan perasaan Kelvin.
Kelvin tidak mengizinkan Lusia pergi jika menolak tawarannya. Meskipun Kelvin sendiri masih belum tahu kemana Lusia akan pergi, ia akan tetap menemaninya.
Akhirnya Lusia pergi bersama Kelvin. Lusia hanya meminta Kelvin mengantarnya sampai di lobby hotel, seterusnya dia akan mengurusnya sendiri.
Sesampai di hotel, Lusia turun dan bergegas lari memasuki hotel. Menyadari saat ini mereka ada di sebuah Hotel, Kelvin semakin mengkhawatirkan Lusia. Ia khawatir jika saja sesuatu yang mendesak itu akan memberi ancaman bagi Lusia. Kelvin memutuskan tidak meninggalkan Lusia.
“Rayn... Rayn... apa yang terjadi?” panggil Lusia menghampiri Rayn yang hanya memejamkan matanya bersandar tak berdaya di sudut lorong menuju lobby di lantai presidential Suite.
Menyadari kedatangan Lusia, Rayn langsung merangkulnya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lusia yang berdiri di depannya.
Kelvin yang mengikuti Lusia karena cemas menjadikannya melihat Lusia bersama Rayn. Ia mengambil langkah mendekat menghampiri keduanya untuk mengakhiri adegan yang membuatnya marah akan sikap Rayn yang secara tiba-tiba merangkul Lusia. Ia merasa hatinya seperti diremas bercampur rasa amarah.
Kelvin mengambil langkah, namun tiba-tiba ia menghentikannya setelah melihat Lusia perlahan meraih bahu Rayn. Rayn semakin erat memeluknya dengan menyandarkan kepalanya tepat dia perut Lusia. Lusia perlahan mengusap punggung Rayn berulang untuk menenangkannya.
.
__ADS_1
***To Be Continued***