
Kaburnya ayah Mickey tentu saja menjadi sebuah ancaman besar bagi Rayn. Orang yang menjadi target Ayah Mickey adalah Rayn. Alasan kenapa Ayah Mickey membunuh Ny. Angelina juga karena Rayn. Mickey berharap polisi bisa segera menemukan tempat persembunyian ayahnya. Mickey telah mengerahkan semua team dan koneksi yang dimiliki Ayah Rayn untuk menemukan ayahnya.
Di bandara, 20 menit sebelum keberangkatan kembali ke Kanada, Mickey yang duduk dengan raut wajah yang tidak tenang. Arka yang baru saja menerima panggilan telepon menghampiri Mickey. Ia menyampaikan pemberitahuan dari kepala keamanan perihal perintah yang diturunkan Tuan Charles.
[Singkarkan langsung ditempat.. !]
Perintah ini yang diturunkan Tuan Charles kepada semua bawahannya. Tuan Charles akan memberikan hadiah besar bagi siapa pun yang bisa menyingkirkan Mike Ryden meskipun harus dengan membunuhnya. Tuan Charles sudah cukup bersabar tidak melenyapkannya selama masih di penjara, hal ini karena dia masih memiliki empati kepada Mickey.
Namun kali ini Tuan Charles yakin, alasan kenapa Mike Rayden kabur dari penjara karena ia ingin balas dendam. Ayah Rayn tentu saja tidak akan membiarkan putranya dalam bahaya. Sudah cukup ia kehilangan istri tercintanya. Tuan Charles tidak peduli jika Mike Rayden adalah Ayah Mickey. Membunuh pria itu adalah hal yang harus ia lakukan untuk putra dan mendiang istrinya.
Arka menyerahkan boarding pass milik Mickey. "Apa anda baik-baik saja?" tanya Arka.
Mickey hanya diam, ia menunduk lalu berdiri karena sudah masuk Boarding Time. "Kenapa kau bertanya, kita kembali untuk menyelesaikan semuanya. Aku akan menjadi orang pertama yang menyingkirkannya" sahut Mikcey lalu menyerahkan Boarding Pass ke petugas diikuti Arka di belakangnya.
.
.
Di Kediaman Anderson,
Lusia melihat sekeliling kamar Rayn, kamar berukuran besar dengan gaya Mediterania. Desain interior alam Mediterania yang menyatukan pengaruh Spanyol, Yunani, dan juga Perancis. "Lihatlah, bahkan dia memiliki kamar seluas halaman rumah nenekku" ucap Lusia takjub.
Lusia melihat foto-foto Rayn pada bingkai foto yang tersusun rapi diatas meja. Semua barisan foto itu tentang masa kecil Rayn. Tidak ada foto baru selepas Rayn meninggalkan rumah itu. Lusia membuka laci dan menemukan beberapa barang milik Rayn yang ia gunakan waktu kecil. Lusia menemukan laci yang dipenuhi oleh beberapa peralatan lukis.
Pada laci lain, Lusia melihat buku album yang tampak sudah memiliki usia belasan tahun. Satu persatu Lusia membuka setiap lembaran album yang cukup tebal itu. Lusia mengurai senyum ketika melihat foto-foto menggemaskan Rayn sewaktu kecil dalam album itu. Tidak hanya Rayn, tetapi juga terdapat beberapa foto yang menampilkan masa kecil Mickey.
Tidak lama, Rayn mengetuk pintu kamar dan masuk. Rayn memberitahu Lusia jika makan malam sudah siap. Rayn sengaja memasak secara khusus untuk menyambut kedatangan istrinya pertama kali di rumahnya. Lusia meminta Rayn untuk duduk disebelahnya sejenak.
__ADS_1
"Bisakah kau menceritakan sedikit tentang foto-foto ini?" tanya Lusia.
Terlihat wajah Rayn yang tampak malu menatap foto dirinya sendiri. Rayn duduk dan melihat kembali foto di album itu. Lusia bertanya tentang foto dimana Rayn dengan menangis memeluk Mickey yang juga sedang menangis. "Kenapa kalian menangis bersama?" tanya Lusia.
Tanpa berpikir untuk mengingat, Rayn menjelaskan apa yang terjadi. "Saat itu, aku tidak sengaja merusak mainan Mickey. Dia mengatakan jika dia tidak marah padaku dan dia juga tidak terlalu menyukai mainan itu. Karena itu dia memintaku untuk tidak khawatir. Tapi, setelah itu aku melihat dia menangis di kamarnya dan aku pun merasa bersalah. Aku memeluknya meminta maaf dengan menangis. Ibuku datang dan bertanya apa yang terjadi, saat mendengar penjelasan ku, ibuku justru menyukai momen itu dan memotret kami" jelas Rayn.
"Kini aku mengerti kenapa kalian begitu dekat sehingga aku berpikir bromance tentang kalian berdua" sahut Lusia tersenyum.
"Lalu, bagaimana dengan itu? Apa kau juga melakukannya dengan Mickey?" lanjut tanya Lusia menunjuk tembok yang di penuhi coretan garis pertumbuhan tinggi badan.
Rayn menatap bekas catatan tinggi badan dari pengukuran yang pernah dilakukan Rayn dan Mickey. "Kau benar, saat itu tinggi badanku kalah dengannya. Tapi lihatlah, kini aku lebih tinggi darinya" jawab Rayn tersenyum.
Lusia ingin mengenal lebih dekat tetang kehidupan sang suami. Lusia percaya jika begitu banyak kenangan manis dibalik ingatan penuh luka yang dimiliki Rayn. Rumah adalah tempat yang paling indah untuk menantinya pulang, itulah yang Lusia ingin Rayn bisa rasakan.
.
.
Kamar dengan minim cahaya itu sungguh tampak berantakan karena banyak sampah bekas bungkus makanan berserakan. Kamar yang gelap karena tidak ada penerangan selain dari cahaya televisi yang menyala dengan suara yang cukup nyaring. Baram, ya itulah nama pria yang baru saja memasuki kamar motel. Baram melempar paspor dan tiket pesawat ke atas meja dengan kasar.
"Itu bantuan terakhir dariku, tinggalkan negara ini. Aku sudah menyiapkan identitas baru untukmu, jangan lagi menginjakkan kakimu di negara ini lagi!" perintah Baram pada teman lamanya, Mike Rayden.
Pria yang saat ini sedang bersembunyi di kamar motel usai melarikan diri dari lapas itu adalah Ayah Mickey, Mike Rayden. Mike Rayden bisa kabur dari penjara karena memiliki koneksi dengan berapa petugas sipir. Koneksi itu, tentu saja bukan sebuah circle yang bersih. Mike Rayden memanfaatkan identitas saudara kembarnya Louis untuk mendapat jaringan narkoba dengan berberapa mafia. Mike Rayden secara ilegal menyuplai barang haram itu untuk beberapa sipir penjara.
"Bantuan terakhir? kau pikir itu yang aku butuhkan?" tanya Mike kepada Baram seraya menatap paspor dengan identitas orang lain yang dibawa Baram.
"Jika kau ingin memberi bantuan terakhir, maka aku hanya butuh satu" lanjut ucap Mike dengan melempar foto sebuah senjata api.
__ADS_1
Baram meraih foto itu lalu meremasnya kuat hingga rusak "Apa kau sudah gila??" tanya Baram.
Baram meminta Mike untuk berhenti bertindak bodoh. Hanya demi membalas dendam pada bocah laki-laki itu Mike telah melakukan beberapa kali pembunuhan. Jika tertangkap, Mike bukan hanya bisa dijatuhi hukuman seumur hidup tapi hukuman mati. "Kau mungkin masih beruntung jika polisi yang menangkapmu. Tapi, aku tidak bisa menolongmu jika jatuh ditangan Tiger atau Charles Anderson."
"Karena itu, dapatkan benda itu untukku...!!!" teriak Mike.
Mike berdiri menatap tegas Baram. "Apa kau lupa siapa diriku?? Apa kau tidak ingat bagaimana aku menyelamatkanmu dulu?? Boommmm...!!! Aku membunuh mereka semua yang kau inginkan mati" ucap Mike seolah sedang menodongkan pistol ke arah Baram.
Baram mengepalkan tangannya, ia tentu saja ingat dengan pasti bagaimana Mike menyelamatkan hidupnya dulu. Disaat Baram sedang berada diambang kematian di tangan para mafia, Mike datang menyelamatkan dirinya dan membunuh semua anggota mafia itu. Ya, alasan itu kenapa Baram sangat patuh dan bersedia membantu Mike.
"Jadi, kau sungguh akan membunuhnya?" tanya Baram menatap layar komputer Mike yang sedang membuka begitu banyak laman artikel tentang Lotus.
Mendengar pertanyaan itu membuat Mike tertawa terbahak-bahak bak seorang psikopat. Dia terus tertawa lalu meraih botol minuman keras yang sudah kosong dengan kasar.
Pyaaarrrr.... !!!
Mike menghantam botol itu ke dinding hingga pecah, hanya menyisakan leher botol di tangannya. "Membunuhnya?" tanya Mike mengacungkan pecahan botol itu dihadapan Baram.
"Aku tentu saja tidak akan membiarkan dia mati begitu saja. Hahaha, Lihatlah. bukankan wanita itu terlalu sempurna untuk bocah itu! Bocah itu, aku akan membuat merasakan siksaan neraka sebelum aku benar-benar menyeretnya ke neraka" ucap Mike dengan wajah penuh dendam.
.
.
.
*** To Be Continued***
__ADS_1