
Mickey menghubungi Lusia untuk mengkonfirmasi
apakah Lusia masih menunggu di perpustakaan. Karena ia sudah mengatur supir atas permintaan Arka yang juga merupakan perintah dari Rayn.
“Apa Rayn yang memintamu?” tanya Lusia.
“Iya, tunggulah. Aku sudah mengatur orang dan ia akan segera sampai” jawab Mickey lalu menutup telepon.
Lusia semakin merasa kesal. “Untuk apa dia meminta Mickey mengatur orang menjemputku sementara dia pergi meninggalkan begitu saja” ucapnya dalam hati.
Lusia meminta Arka untuk tetap menunggu, sementara dirinya tidak kembali ke Villa dan akan langung pergi ke Cafe. Arka melarang Lusia pergi seorang diri karena Rayn sudah menugaskan dirinya untuk memastikan Lusia kembali dengan selamat.
“Bukannya ini masih belum waktunya anda bekerja di Cafe Nona Lusia?” tanya Arka.
“Aku akan menemui seseorang lalu pergi bekerja” jawabnya.
Lusia akhirnya tetap memutuskan pergi meninggalkan Arka setelah memanggil taxi. Lusia menghubungi Reisa dan memberitahunya jika ia sedang dalam perjalanan menuju rumah kost. Namun, Reisa sedang tidak ada di sana dan meminta Lusia bertemu di Cafe tempat Lusia berkerja.
Sesampai di Cafe, Reisa sudah menunggu. “Kau cepat sekali sampai” ucap Lusia duduk. Reisa tersenyum dengan menyodorkan Jus yang sudah ia pesan untuk Lusia.
“Bagaimana kabarmu dengan David? Apa semua sudah baik-baik saja” tanya Lusia.
Reisa terlihat tidak ingin terlalu membahasnya, ia hanya meminta Lusia untuk tidak khawatir dengan hubungan mereka. Ia juga meminta Lusia untuk tidak khawatir dengan hutang keluarganya. Reisa tidak ingin jika Lusia mengambil tindakan yang membahayakan tanpa berpikir panjang seperti waktu lalu.
“Reisa, terima kasih sudah mencemaskanku. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi” ucap Lusia menyinggung keputusan yang pernah ia ambil yaitu bekerja di Bar.
Di tengah waktu mereka saling mengobrol, Reisa terus memperhatikan jamnya. “Apa kau sedang ada janji?” tanya Lusia.
Reisa mengangguk. “Maafkan aku Lusia, aku harus segera pergi” jawab Reisa.
Lusia menawarkan diri untuk menemani Reisa, namun Reisa menolaknya karena ia bisa pergi sendiri.
“Akhir-akhir ini apa yang membuatmu sangat sibuk?” tanya Lusia.
Lusia merasa beberapa waktu ini ia sangat kesulitan menghubungi Reisa. Sekalipun Reisa merespon hanya membalas dengan chat singkat saja.
__ADS_1
“Jangan khawatir, hanya sedikit disibukan dengan urusan galeri” ucap Reisa melihat Lusia mengkhawatirkannya. Reisa lanjut pamit. Saat Reisa beranjak dari kursinya tiba-tiba Kelvin datang dan menghampiri mereka.
“Kalian sudah mau pergi?” tanya Kelvin.
“Aku ada janji dan harus pergi, tapi mungkin Lusia masih akan disini. Aku pamit dulu” ucap Reisa kepada Kelvin. “Aku akan menghubungimu nanti” lanjutnya kepada Lusia lalu pergi.
“Bagaimana kabarmu?" tanya Kelvin kepada Lusia.
“Kenapa kau bertanya sementara kau tahu aku masih baik-baik saja dan masih bisa bekerja hari ini” jawab Lusia dengan tertawa.
Kelvin ikut tertawa. Ia mengakui, meskipun Lusia selalu datang ke Cafe namun tidak untuk dirinya. Karena kesibukannya, ia jarang mengunjungi Cafe.
“Apa kau masih sering bertemu dengan David?” tanya Lusia.
“David? Sesekali berbicara lewat telepon, tapi sudah lama aku tidak bertemu. Kenapa kau menanyakan dia?” tanya Kelvin.
“Aku hanya merasa Reisa sedikit berbeda, jadi aku mengkhawatirkannya. Kali saja ada terjadi sesuatu dengan hubungannya dengan David.” Jawab Lusia.
“Mereka sudah dewasa, jikapun terjadi sesuatu dengan hubungan mereka, kita tidak bisa terlalu ikut campur. Percayalah mereka bisa mengatasinya” ucap Kelvin.
“Sebelum mereka menyerangku dan menimbulkan gosip, sebaiknya kita mengakhiri obrolan kita” bisik Lusia kepada Kelvin.
Kelvin melirik ke sekitar lalu tertawa. “Biarkan saja mereka menciptakan gosip baru. Menurutku justru lebih baik jika mereka beropini kita memiliki hubungan” ucap Kelvin dengan tersenyum. “Itu justru membantuku bebas dari mereka” lanjut Kelvin kembali berbisik kepada Lusia.
“Haissttt. Itu menguntungkan bagimu tapi bencana bagiku. Aku masih sayang dengan hidupku, jadi aku tidak mau menjadi target mereka” ujar Lusia.
“Maka aku akan menjadi pangeran yang melindungimu” celetuk Kelvin.
“Oh, No… tidak semudah itu melawan mereka. Lalu bagaimana kau akan melindungiku? Dengan merentangkan tanganmu? Membawaku lari dengan kuda putihmu? Atau menghadang mereka dengan pedang apimu? Apa kau pikir dirimu Goblin.” Ucap Lusia. Kelvin hanya tertawa geli akan imajinasi Lusia.
“Bagaimanpun juga, dalam banyak hal dan segala aspek tetap akulah orang yang dirugikan. Kerugian dalam hal fisik yang mungkin saja mereka akan menyerang hingga menjadikanku tempe penyet” lanjut Lusia.
Ia semakin menggebu melihat reaksi Kelvin yang santai. “dalam hal image, aku yakin mereka akan selalu mencari celah untuk menjatuhkan aku. Kau pikir mereka akan mendukungnya dan menerima seperti kebanyak kisah Novel romantis dengan judul Bosku Idolaku, CEOku Kekasihku, My Sweet moments with my Boss?” tanya Lusia. “No !! Tidak
!! yang ada mereka akan menggambarkanku menjadi kisah Pelayan Penggoda, Gadis tak Tahu Diri, Perebut Masa Depan dan mungkin lebih mengerikan dari itu” lanjutnya.
__ADS_1
“Cukup abaikan saja” sahut Kelvin.
“Jika bisa, mungkin aku juga akan mengabaikannya. Justru yang paling parah dan sulit dihadapi adalah psikis. Kau lihat sekarang, bagaimana mereka menatapku? Membuatku seperti anak kelinci kecil yang malang dalam kepungan macan betina” jawab Lusia bergidik.
Kelvin kembali tertawa. “Jangan tertawa! Kau tidak tahu kejamnya para haters.
Lalu masa depan Café ini akan berubah hanya karena diriku” ucap Lusia
menggeleng kepala sambil beranjak dari kursinya.
Kelvin ikut bangkit namun dilarang Lusia. “Jangan berdiri!” ucap Lusia, sontak Kelvin kembali menaruh pantatnya duduk. “Tetap disini, kau bisa pergi nanti setelah beberapa waktu kemudian. Jika tidak, mereka akan semakin yakin dengan opini liar mereka” lanjut Lusia.
Kelvin mengabaikannya dengan tetap berdiri mengikuti Lusia. “Ini belum jam kerjamu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Kelvin.
“Untuk mencari gaji extra. Apa kau tidak bangga memiliki karyawan teladan?” tanya Lusia tersenyum.
“Bagaimana bisa dikatakan karyawan teladan sementara kak Lusia baru saja menyebut soal gaji extra” sahut Dave. Lusia hanya tertawa mendengar sindiran Dave.
“Dave, aku padamu” sahut Kelvin.
***
Rayn yang pergi meninggalkan Lusia bukan kembali ke Villa melainkan pergi ke sebuah hotel. Ia sebelumnya memang kesal karena sikap Lusia, namun sebelum sampai dimeja kasir ia mendapat pesan dari seseorang yang mengirimkan gambar foto Lusia.
Sesampainya di hotel, ia langsung pergi menaiki tangga darurat dari lantai underground hingga sampai di lantai 4. Kepergiannya seorang diri tanpa adanya penjagaan Arka dan Lusia membuatnya tidak bisa melalui lobi layaknya tamu hotel yang lain.
Rayn langsung menuju ke salah satu kamar hotel yang sudah dijaga oleh beberapa pengawal. Rayn menahan langkahnya hingga jarak aman ketika para pengawal mulai mengambil langkah mendekatinya. Kedatangan Ryan dianggap sebagai ancaman.
“Hentikan langkahmu dan katakan pada tuanmu jika aku Rayn ada disini” Perintah Rayn kepada para pengawal yang berniat menghadangnya. Para pengawal itu tidak menghiraukan perintah Rayn dan tetap mengambil langkah untuk mendekat.
“Sepertinya Michael tidak memberitahumu. Sebelum kau kehilangan pekerjaanmu, cepat kau beritahu dia jika aku sudah ada disini" perintah Rayn.
Seorang pengawal lalu memberi kode kepada bawahannya untuk menghentikan langkah dan menghubungi seseorang yang berada didalam kamar Hotel.
Siapakah orang yang akan ditemui Rayn ?
__ADS_1
***To Be Continued***