
Hari ini Lusia telah kembali bekerja seperti hari-hari biasanya. Rayn meminta Arka untuk menjaga dan menjadi pengawal Lusia. Lusia tidak lagi merasa tidak nyaman dengan hal itu, karena ia tahu jika semuanya Rayn lakukan untuk melindungi dirinya. Sudah menjadi konsekuensi dirinya karena telah memutuskan untuk tetap bekerja di Cafe. Dan sudah menjadi syarat Rayn jika Lusia masih tetap ingin bekerja.
Sesampai di Cafe, Arka pamit pergi ke toko buku untuk mendapatkan beberapa buku yang diminta Rayn. Lusia pun mempersilahkan Arka, karena bagaimanapun juga segala sesuatu tentang Rayn adalah prioritas.
Saat baru masuk Cafe, Lusia langsung disambut oleh Dave. Dave menyambut Lusia dengan salam lalu mengatakan jika beberpa waktu lalu ada seorang pria yang mengaku teman Lusia datang mencari Lusia. Bahkan pria itu memaksa Dave untuk memberikan alamat tinggal Lusia.
Dave yang merasa curiga dan tidak mudah percaya tentu saja tidak akan memberikan informasi apapun dengan mudahnya kepada pria itu. Dave hanya bisa mengatakan jika dia bisa datang lagi nanti.
Lusia yang penasaran tampak berpikir sejenak, sekiranya siapa yang akan datang mencarinya. Lusia merasa jika dirinya tidak memiliki janji dengan siapapun. Di tengah upaya Lusia yang sedang menebak-nebak, Dave dikejutkan dengan pelanggan yang baru saja masuk Cafe.
"Wah..., pria itu sungguh mengerikan. Lihatlah, dia benar-benar datang lagi tepat waktu" ucap Dave menatap jam ditangannya lalu kembali memandang pelanggan yang baru saja masuk.
Lusia sontak menoleh, memastikan siapa kiranya orang itu. Sungguh mengejutkan saat melihat sosok Eric berjalan ke arahnya. Lusia menghela nafas kasar melihat pria menyebalkan itu. Lusia bahkan masih belum bisa melupakan kekesalannya pada malam acara reuni mereka. Dan kini pria itu tiba-tiba datang mencarinya.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Lusia tanpa basa-basi atau mengucap sapa.
Mengabaikan pertanyaan Lusia, Eric langsung mendekat dan memegang kedua bahu Lusia. Ia tiba-tiba memohon kepada Lusia. Eric meminta bantuan untuk bisa bertemu dengan Rayn, suaminya.
"Lusia, aku mohon bantu aku. Apa aku bisa bertemu dengan suamimu?" tanya Eric yang lebih to the point mengatakan maksud dan tujuannya tanpa menyapa apalagi bertanya kabar
Sikap Eric sungguh membuat Lusia merasa tidak nyaman. Lusia meminta Eric untuk melepaskannya dan duduk karena dia sudah menarik perhatian pengunjung yang ada di Cafe. Alih-alih mendengarkan Lusia, Eric justru meraih kedua tangan Lusia sambil memohon.
Dave yang masih berdiri dibelakang Lusia langsung melotot melihat pria itu main pegang tangan Lusia. Dave menatap tajam Eric yang terus memohon seperti sedang meminta pengampunan.
Eric mengakui jika apa yang dia lakukan kepada Lusia saat acara reuni salah. Dia yakin jika sikapnya saat itu pasti telah menyinggung Rayn. Eric sangat ingin bertemu dengan suami Lusia untuk meminta maaf langsung.
Saat ini Eric sedang mendapat desakan dari ayahnya untuk menyelesaikan masalah dengan NK Group. Perusahaan ayahnya terancam mengalami kebangkrutan. Eric sangat yakin jika Rayn adalah orang yang telah membuat NK Group mencabut semua saham pada perusahaan ayahnya. Dia juga sangat yakin jika suami Lusia pasti terlibat bisnis atau hubungan baik dengan NK Group yang memiliki pengaruh kuat.
"Lusia, ayahku akan membunuhku jika aku tidak bisa memulihkan perusahaan" ucap Eric.
NK Group selama ini telah menanamkan saham pada perusahaan ayah Eric. Namun tiba-tiba NK Gruop mencabut saham sepihak. Perwakilan NK Group mengatakan kepada ayah Eric, jika dia ingin tahu alasannya dapat bertanya kepada putranya, Eric. Eric berusaha mengingat kesalahan apa yang begitu fatal sehingga membuat perusahaannya akan berada diambang kebangkrutan setelah NK Group menarik dukungannya. Dan ia lalu teringat akan perkataan David kepadanya tetang Rayn.
__ADS_1
Lusia sungguh tidak mengerti tentang semua yang dikatakan Eric. "Eric, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan dan lagi pula kenapa aku harus peduli dengan perusahaannmu. Dan juga...." belum sampai Lusia menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh teriakan Eric.
"Karena itu aku ingin bertemu dengan suamimu!!!" teriak Eric dengan nada dan raut wajah yang sangat frustasi.
Teriakan Eric membuat Dave menjadi sangat marah."Jaga sikap anda, bertingkahlah layaknya seorang pelanggan atau keluar dari Cafe kami!" ucap Dave
Dave berkata kepada Lusia, jika pria itu terus mengusiknya maka ia akan menghubungi Arka untuk memberinya pelajaran. Dave segera meraih ponsel dari kantong lalu mencari nomor Arka.
"Arka ?" tanya Lusia menahan ponsel Dave untuk tidak melakukan panggilan.
Lusia lalu berbicara dengan Eric. "Eric, seperti yang ku katakan, aku sungguh tidak mengerti. Aku akan mencoba bertanya dan berbicara dengan suamiku. Tapi, aku tidak bisa menjanjikan apapun kepadammu. Jadi aku mohon, jika kau masih ingin menjaga nama baikmu, jagalah sikapmu. Dan juga, jika kau sudah tidak memiliki urusan lain, kau bisa meninggalkan Cafe, aku harus kembali bekerja."
Lusia pergi meninggalkan Eric diikuti oleh Dave yang berjalan dibelakangnya bak seorang bodygyard. Sampai dapur, Lusia menghentikan langkah kakinya tiba-tiba dan berbalik menghadap ke arah Dave. Dave yang terkejut pun langsung menghentikan langkah kakinya.
"Arka? apa yang kau maksud pengawal Rayn? Kenapa kau bisa memiliki nomor Arka dan kenapa kau harus menghubunginya?" tanya Lusia dengan tegas kepada Dave.
Dave menjelaskan jika Arka sendiri yang meminta Dave untuk menyimpan nomor nya. Arka meminta Dave untuk menghubunginya kapanpun disaat terjadi sesuatu dengan Lusia ketika diluar pengawasannya. Arka melakukan itu tentu saja atas perintah Rayn. Rayn berkata kepada Arka jika dia bisa mempercayai Dave.
"Tidak perlu, aku akan menghubunginya sendiiri jika aku membutuhkannya. Kembalilah bekerja" perintah Lusia.
Dave pun akhirnya menuruti permintaan Lusia dan kembali bekerja. Eric sudah meninggalkan Cafe dan Lusia bisa berkerja dengan tenang.
.
.
Meskipun kini hidupnya terjamin, namun Lusia tetap bekerja dengan giat. Jam kerjanya telah berakhir dan hari ini ia tampak lebih lelah dari biasany. Mungkin karena hari sebelumnya ia harus menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang merawat suaminya yang sedang sakit.
Keluar dari Cafe, Lusia sudah langsung disambut Arka yang hendak membukakan pintu mobil untuknya. Lusia pamit kepada rekannya untuk pulang. Perlakuan Arka kepada Lusia membuat beberapa staf lain merasa iri.
"Wah... aku tidak menyangka jika Lusia sangat beruntung. Dia memiliki suami yang tampan dan kaya, dan lihatlah dia bahkan memiliki seorang supir yang begitu rupawan. Bukan supir, tapi pengawal pribadi. Ahh... bukankah itu semakin sempurna" gumam seorang staf kepada rekannya yang lain.
__ADS_1
Hidup Lusia memang telah berubah menjadi wanita yang beruntung dimata mereka. Semuanya terjadi begitu saja tampak sangat mudah bagi Lusia mendapatkannya. Tapi, mereka tidak pernah tahu perjalanan dan perjuangan serta pengorbanan apa yang sudah dilakukan Lusia hingga saat itu. Meskipun begitu, Lusia akan selalu merasa jika dirinta adalah wanita yang beruntung bertemu dengan Rayn yang kini telah menjadi suaminya.
Dalam perjalanan kembali pulang ke Villa, Lusia sesekali ia melirik ke arah Arka yang sedang mengemudi. Tampak jelas jika Lusia ingin berbicara atau menanyakan sesuatu kepada Arka tapi ragu.
"Sepertinya ada yang ingin anda tanyakan, silahkan" ucap Arka dengan sopan.
"Apa kau tahu sesuatu tentang NK Group? Aku tahu, tidak seharusnya menyakan hal ini kepadamu tapi..." ucap Lusia tertahan.
"Apa karena teman anda yang datang ke Cafe menemui anda tadi?" tanya Arka.
Lusia memalingkan wajahnya ke jendela, ia membuang rasa kesal karena sepertinya kejadian tadi sudah langsung dengan cepat sampai ke Arka. Lusia yakin jika sudah pasti Dave yang melaporkan hal ini kepada Arka.
Arka pun bertanya lebih rinci kepada Lusia, apakah Eric datang untuk meminta maaf. Namun, seperti apa yang telah terjadi, Lusia mengatakan jika Eric tidak ada mengucapkan maaf, hanya lebih ke meminta bantuan dirinya. Eric terus memaksa untuk bertemu Rayn.
"Apa ini benar-benar ada hubungan dengan Rayn?" lanjut tanya Lusia.
Arka tersenyum kecil disudut bibirnya. "Jadi dia tidak meminta maaf. Pria itu sepertinya benar-benar telah melakukan kesalahan yang besar lagi" sahut Arka.
"Apa kau sungguh tahu sesuatu?" tanya Lusia.
"Nyonya Lusia tidak perlu khawatir, pria itu tidak akan mengganggu anda lagi. Tentang apa yang ingin anda ketahui, anda bisa menanyakannnya langsung kepada Tuan Muda Rayn. Saya merasa akan sangat lancang jika menjawab pertanyaan itu meskipun saya mengetahuinya" jelas Arka.
Lusia pun tersenyum untuk mengakhiri pembicaraan itu. Ia pun diam sepanjang jalan mengkhawatirkan sesuatu yang masih belum ia pahami. Ditambah lagi hal ini melibatkan Rayn, membuat Lusia sangat cemas.
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1