
Lusia sudah sampai dirumahnya. Ia bergegas membuka pagar halaman rumahnya yang tidak dikunci. “Nenek… Ibu…” panggil Lusia sambil terus mengetuk pintu.
Mendengar suara sang cucu, nenek Lusia langsung pergi membukakan pintu. Melihat kedatangan cucunya ia memeluk dan menangis histeris.
“Cucuku, akhirnya kau pulang nak, apa yang harus kita lakukan sekarang” ucapnya dengan terus menangis dan mengelus punggung Lusia dalam pelukannya.
“Nenek, maafkan Lusia baru mengetahuinya dan baru bisa pulang” ucap Lusia mulai berkaca-kaca mendengar perkataan neneknya. Lusia membalas memeluk erat sang nenek.
“Tidak nak, nenek yang salah tidak bisa memberi kehidupan yang baik untuk kalian.”
“Nenek, apa yang terjadi? dimana ibu? dimana Lukas?” tanya Lusia.
“Ibumu ada dikamarnya bersama Lukas. Cepat temui ibumu, kasihan ibumu nak” jawab sang nenek menggandeng tangan Lusia mengantarnya ke kamar.
Dilihatnya sang ibu sedang duduk termenung diantara tumpukan kotak-kotak kardus yang sudah tersusun rapi. Dipangkunya Lukas yang tertidur pulas. Entah apa yang sedang dipikirkannya atau sengaja mengabaikan kedatangan Lusia. Lusia langsung mendekat dan duduk memeluk ibunya dari belakang.
“Ibu… maafkan Lusia terlambat datang bu” ucap Lusia dengan menitihkan air matanya.
Merasakan pelukan putrinya, Ibu Lusia langsung mengusap airmatanya dengan kedua tangannya. Ia bangun perlahan membaringkan Lukas ditempat tidur.
“Kita bicara diluar nak” ucap sang ibu tidak ingin membangunkan Lukas.
Ibu Lusia keluar kamar lebih dahulu menuju ruang tamu. Melihat wajah ibunya yang lebam karena menangis, Lusia semakin menitihkan air mata memandang punggung sang ibu yang berjalan meninggalkannya. Lusia mengusap airmatanya lalu berjalan keluar kamar mengikuti ibunya. Ibunya duduk dikursi tamu disebelah neneknya yang sedari tadi sudah duduk disana.
“Bagaimana kau bisa datang kemari malam-malam begini Lusia?” tanya sang ibu.
“Bibi Nia memberitahuku dan aku tidak bisa menghubungi ibu” ucap Lusia duduk disebelah ibunya.
“Maafkan ibu nak” ucapnya menunduk dan merasa bersalah karena saat itu dirinya sengaja mematikan ponselnya.
Lusia meminta penjelasan kepada ibunya tentang apa yang terjadi dengan memengang kedua tangan sang ibu yang sangat dingin. Alasan kenapa orang-orang itu merampas rumah neneknya yang juga menjadi rumah satu-satunya yang mereka miliki saat ini.
"Mereka tidak merampasnya nak, tetapi Ibu yang menjadikan rumah nenek ini sebagai jaminan untuk hutang ayahmu.” Ibu Lusia mengatakannya dengan kata yang terputus-putus karena sesak menahan tangis.
"Katakan dengan jelas ayah yang mana ibu maksud? Apa pria itu?” tanya Lusia dengan nada tinggi, ia tidak percaya dengan yang baru saja ibunya katakan.
Lusia menjadi sangat marah mendengar ayah tirinya lagi-lagi mengusik keluarganya. Bahkan sampai harus membuat mereka kehilangan rumah neneknya.
“Lusia, sopanlah ! Bagaimanapun juga dia masih ayahmu” ucap sang ibu dengan menangis.
“Ayah… ? apakah dia masih bisa disebut seorang ayah setelah meninggalkan anak dan istrinya sekian tahun. Bahkan dia tidak pernah pulang atau memberikan nafkah. Dia hanya pergi begitu saja dengan meninggalkan banyak hutang. Bagaimana orang seperti itu masih layak dipanggil ayah ?” ucap Lusia.
“Lusia…!!!” Teriak sang ibu tidak ingin Lusia melanjutkan menghina ayah tirinya.
“Apakah karena statusnya secara hukum masih resmi suami ibu, karena itu ibu memintaku untuk menghormatinya?" tanya Lusia.
__ADS_1
"Sudahlah Alvenia, biarkan Lusia istirahat dulu" ucap sang nenek kepada Ibu Lusia.
“Ibu kumohon, sudah cukup ibu” tangis Lusia pecah mendengar ibunya membela ayah tirinya yang hanya terus membawa masalah bagi keluarganya.
“Ibu akan memikirkan solusinya kau tidak perlu melakukan apapun nak” ucap ibunya.
“Ibu…!!!” teriak Lusia.
“Lalu ibu ingin aku membiarkan ibu, nenek dan Lukas menjadi gelandangan karena sudah tidak memiliki tempat tinggal? Ibu kumohon ajukan perceraian." Perintah Lusia karena sudah tidak tahan lagi membiarkan ibunya menderita karena harus bejuang melunasi hutang-hutang ayahnya.
"Maafkan ibu tidak bisa melakukannya Nak.”
“Lalu apa yang akan ibu lakukan? Apa lagi yang akan ibu berikan untuknya? Apa kita juga tidak penting dalam hidup ibu? kenapa ibu tidak bisa melakukannya? kenapa ibu… kenapa ?” tanya Lusia dengan nada tinggi.
“Lusia, maafkan ibu.” Ibunya hanya bisa meminta maaf tanpa memberi penjelasan apapun.
"Apakah ibu tidak merasa ini sudah sangat keterlaluan? kenapa ibu tega melakukan ini kepada kita semua hanya demi dia. Kenapa bu, apa demi cinta? apa ibu masih bisa memikirkan cinta?. Dia sudah tidak mengurus keluarga kita dan tidak pernah peduli bahkan… .“ Kekesalan Lusia sudah mulai memuncak. Belum sampai ia menyelesaikan ucapannya tapi sudah harus mendapat tamparan dari sang ibu yang juga mengejutkan neneknya.
“Lusia… !” teriak sang ibu dengan melayangkan tamparan kepada putrinya itu.
“Alvenia… !! “ teriak sang nenek bangkit dari tempat duduk melihat putrinya menampar cucunya. Ia pun menghampiri Lusia dan menyentuh pipih Lusia. Lusia hanya terdiam memejamkan mata dengan menitihkan air mata.
“Apa ibu takut itu akan menyakiti Lukas ?” tanya Lusia tertunduk dengan nada suara yang melemah.
“Lusia sudahlah, saat ini ibumu sedang tidak dalam kondisi baik. Ibumu tidak sengaja melakukannya nak” ucap sang nenek membantu Lusia bangun dari duduknya dan berniat membawa Lusia kekamarnya.
Teriak Lusia dalam batinnya yang ingin sekali dia ungkapkan pada ibunya, namun dia tidak bisa dan tidak tega. Lusia selalu mengalah dan berusaha mengendalikan diri. Bagaimanpun juga dia sangat tidak ingin menyakiti perasaan ibunya lebih dalam lagi.
“Aku juga putri ibu, apa ibu juga tidak memikirkan perasaanku? Aku pun sudah lelah bu, tapi aku terus berjuang untuk bisa melunasi hutang-hutang pria itu agar ibu juga bisa hidup lebih tenang tanpa memikirkan hutang” lanjut keluh lusia dalam hati.
Lusia hanya bisa menghela nafas panjang, batinnya pun seperti sedang teriris menahan isakan tangisannya. Dibandingkan dengan rasa sakit dari tamparan yang ia terima dari sang ibu, lebih menyakitkan batinnya menatap ibunya yang hanya tertunduk menangis merasa bersalah.
Lusia mengikuti sang nenek yang membawanya pergi ke kamar meninggalkan ibunya duduk seorang diri diruang tamu.
“Istirahatlah nak, kau pasti lelah. Besok kita bisa membicarakannya lagi” ucap sang nenek lalu menutup pintu kamar Lusia.
Tangis ibunya langsung pecah dan histeris diruang tamu. Mendengar itu air mata Lusia pun mulai bercucuran. Dia memegang dadanya yang terasa sangat sesak, satu tangannya mendekap mulutnya menahan suara tangisannya yang memuncak agar tidak didengar ibu dan neneknya. Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu dan perlahan terduduk lemas.
Lusia masih tidak percaya dengan ibunya yang terus mempertahankan pernikahannya, memilih bertahan dengan semua penderitaan yang dialami semenjak ditinggalkan ayah tirinya. Bahkan ibunya sampai menjaminkan rumah neneknya tanpa ada diskusi.
Lusia yang sudah terbaring dikasur mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Ia yang masih belum tidur langsung berbalik dan memejamkan mata. Ibunya masuk dan duduk dibibir kasur sembari menatap punggung putrinya. Ia sangat ingin memeluk putrinya, namun ia menahan lalu menarik kembali tangannya.
“Maafkan ibu nak, ibu hanya tidak ingin menyakitimu. Biarkan ibu yang menanggung semua penderitaan ini. Ibu sengaja tidak menjawab panggilanmu karena ibu tahu kau pasti akan khawatir, kau pasti akan lansung melakukan sesuatu dengan terus berkorban” ucap Ibunya dengan nada lirih.
Lusia yang mendengarnya hanya bisa menitihkan air mata. Ia sangat ingin memeluk ibunya saat ini, tapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada ibunya.
__ADS_1
“Ibu memiliki alasan kenapa tidak bisa menceraikan ayahmu. Itu adalah keputusan ibu tanpa paksaan siapapun untuk tidak meninggalkannya. Kelak kau akan mengerti kenapa ibu tetap ingin mempertahankan pernikahan ini” lanjut sang ibu dengan menangis.
Lusia masih tidak mengerti, namun saat ini bukan waktunya membahas hal itu. Saat ini yang harus ia pikirkan adalah bagiamana dia bisa menebus kembali rumah neneknya. Rumah itu adalah satu-satunya tempat tinggal yang mereka miliki. Lusia yang tidak tahan langsung bangun dari tidurnya dan memeluk sang ibu dengan menangis histeris.
“Maafkan Lusia ibu. Maafkan Lusia sudah menyakiti hati ibu tadi” ucap Lusia memeluk ibunya.
“Tidak nak, ibu yang salah. Maafkan ibu karena belum bisa menjadi ibu yang baik untukmu dan Lukas” balas sang ibu memeluk putrinya.
“Ibu, Lusia akan mencari cara untuk bisa menebus kembali rumah ini” ucap Lusia mengusap air mata ibunya dengan kedua tangannya.
“Lusia akan meminta keringanan untuk membayar bunganya dahulu dan akan melunasinya segara” lanjut Lusia.
“Tidak nak, ibu tidak ingin merepotkanmu lagi, kau sudah bekerja keras selama ini untuk Ibu, nenek dan Lukas. Bahkan kau sampai tidak bisa menyisahkannya untuk dirimu sendiri. Ibu ingin kau juga bisa pergi menikmati masa mudamu dengan teman-temanmu berbelanja dan membeli barang-barang yang kau inginkan” ucap sang ibu memeluk kembali Lusia.
"Disaat seperti ini, bagaimana ibu masih bisa mengkhawatirkanku” ucap Lusia dalam hati semakin erat memeluk ibunya.
Keesokan hari Lusia menemui rentenir untuk bernegoisasi. Merekan pun memiliki kesepakatan dan membuat kontrak baru. Lusia menghabiskan seluruh tabungan yang disimpannya selama ini untuk membayar bunga hingga 6 bulan kedepan. Dalam waktu 6 bulan dia sudah harus melunasi hutang ayahnya atau bisa menundanya dengan membayar bunga lagi dengan jumlah yang sangat fantastik.
Tentu saja bunga yang ia bayar tidak mengurangi hutang sang ayah dan diluar dari bunga hutang itu sendiri. Jika sampai pada saat ia sudah tidak bisa membayar bunga atau melunasinya maka hak milik rumah itu manjadi milik rentenir.
Hari ini menjadi hari yang sangat panjang bagi Lusia. Ia pun membantu ibunya mengembalikan barang-barang yang sudah dikemasnya. Lusia berencana kembali kekota dengan Bus terakhir. Tapi ibu dan neneknya melarangnya kembali malam-malam seorang diri.
Akhirnya ia memutuskan kembali keesokan hari pagi-pagi mengambil Bus pertama. Ia sudah mendapatkan Izin dari toko bunga tempatnya bekerja jika dia akan terlambat membuka toko. Bahkan ia juga sudah memberi kabar kepada Reisa untuk tidak datang menjemputnya.
Malam semakin Larut, Ia melihat ibunya sudah tertidur tanpa selimut. Lusia mengambil selimutnya dan menyelimuti sang ibu.
Lusia berjalan keluar rumah menenangkan diri, ia duduk seorang diri dibangku luar rumahnya. Memikirkan kembali semua yang terjadi membuatnya tidak bisa lagi menahan kepedihan yang ia pendam. Segala keluh kesah yang ia tahan seorang diri, dalam hati sungguh menyesakkan dan menyiksa batinya. Matanya mulai berkaca-kaca, perlahan air matanya jatuh membasahi pipi.
Lusia menunduk dan menyandarkan keningnya dikedua lututnya yang ia lipat. Ia pun mulai menangis terisak bahkan sampai tidak menyadari ada seorang yang membuka pagar dan masuk mendekatinya.
“Apa kau baik baik saja ?” tanya seorang pria yang sudah berdiri didepannya.
*** To Be Continued***
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃
✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..
❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍
📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)
__ADS_1
🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.
Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆