Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 125 - Melindungi Perasaanmu


__ADS_3

Mentari pagi telah menyapa, bahkan jejak hujan semalam pun ikut menyambut pagi kota Quebec, aroma khas petrichor. Hari ini adalah hari terakhir Lusia dan keluarganya berada di kota Quebec. Lusia akan habiskan sisa waktu yang ada untuk membawa Ibu dan adiknya menikmati liburan ke pantai sebelum mereka kembali pulang besok. Tidak hanya Lusia dan keluarganya, tapi Reisa dan David pun juga ikut bersama mereka.


Mereka sangat menikmati setiap hembusan angin dan aroma pantai, begitu juga dengan Lusia yang terlihat sangat bahagia. Bahkan ia sampai tidak menyadari jika Rayn kini telah duduk seorang diri di sebuah pondok pantai. Rayn tidak ingin mengganggu waktu bahagia Lusia bersama keluarga dan sahabatnya hanya untuk mengurus dirinya yang menderita Haphephobia.


Meskipun dirinya tidak bisa bergabung dengan mereka, cukup dengan melihatnya saja Rayn sudah sangat bahagia. Ditengah perhatiannya terhadap Lusia, tiba-tiba David berjalan ke arahnya dan hendak duduk tepat disebelahnya. Rayn pun seketika beranjak bangkit untuk menghindari David.


"Duduklah, aku akan menjaga jarak ku" ucap David meminta Rayn untuk kembali duduk.


Rayn pun urung bangkit dan perlahan kembali duduk, sementara David duduk sedikit menjauh dari Rayn. Situasi sempat menjadi canggung mengingat Rayn selama ini tidak sering bertemu ataupun bicara dengan David. Namun, David memecahkan suasana canggung itu dengan mengucapkan selamat kepada Rayn.


"Selamat atas pernikahanmu" ucap David tanpa bisa menjabat tangan Rayn.


Rayn menoleh, ia mengurai senyum dan sangat berterima kasih kepada David. Keduanya kini memandang ke arah pantai, dimana saat ini di sana Lusia, Reisa dan lainnya sedang menikmati keindahan pantai. Mereka tertawa, berlari dan bermain dengan gembira.


Kedua mata Rayn dan David pun tampak fokus memandang istri dan kekasih mereka masing-masing. Tanpa sadar keduanya mengurai senyum bersamaan. "Dia adalah cinta pertamaku" ucap David tiba-tiba.


Rayn mengakhiri senyumnya lalu menoleh menatap David. "Aku bisa melihatnya, betapa kau sangat mencintainya" sahut Rayn lalu kembali memandang ke arah pantai, tepat dimana Lusia dan Reisa saat ini sedang mengambil gambar berdua.


"Bukan kekasihku saat ini, tapi dia" ucap David memandang lekat Lusia yang kini juga sedang memandang dan melambaikan tangan melempar senyum ke arah Rayn dan David.


"Apa yang mereka lakukan di sana?" tanya Lusia kepada Reisa.


"Biarkan para pria dengan waktunya" ucap Reisa mengabaikan dan meminta Lusia kembali mengambil gambar.


Rayn pun dengan cepat menoleh dan menatap ke arah David dengan tatapan yang berbeda. Sementara David masih menatap ke arah Lusia lalu membalas melambaikan tangan kepada Lusia. "Dia... cinta pertamaku, Lusia" ucap David tanpa rasa ragu kepada Rayn.


"Kau..." sahut Rayn.


David menoleh memandang Rayn. "Jangan menatapku seperti itu, dia adalah cinta pertama yang sudah aku akhiri tanpa mengungkapnya. Seperti sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ya, cinta bertepuk sebelah tangan" ucapnya.


Tidak ada yang tahu jika Lusia memanglah cinta pertama David. Lusia dan David dulu bersekolah dalam satu sekolah yang sama. Saat itu, Lusia adalah siswi dengan beasiswa, ia juga bertemu dengan teman satu kelas yang akhirnya menjadi sahabatnya hingga saat ini, yaitu Reisa. Di sanalah awal mereka bertemu dan awal dari persahabatan ketiganya dimulai.


David jatuh cinta kepada Lusia saat mereka bertemu untuk pertama kalinya dalam pendaftaran Club' Fotografi di sekolahnya. David sangat menyukai kegigihan dan rasa percaya diri Lusia yang tidak mudah terintimidasi hanya karena dirinya menjadi siswi disekolah bergengsi itu karena beasiswa yang ia dapatkan.


Awalnya David pergi ke club' hanya untuk bertemu dengan seniornya, namun karena melihat Lusia akan mendaftar Club' Fotografi, saat itu ia memutuskan untuk mendaftarkan diri juga. Keduanya pun mulai menjadi semakin dekat selama berada di Club' sampai akhirnya Reisa bertemu dan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan David.


Lusia tidak pernah tahu akan perasaan David terhadapnya. Bagi Lusia, David adalah teman baiknya, sama seperti Reisa. Lusia tahu jika Reisa sangat menyukai David, bahkan ia memutuskan membantu Reisa untuk bisa masuk Club dan mengenal David lebih dekat. Lusia bahkan bertekad menjodohkan keduanya.


Tanpa sengaja David mengetahui hal itu, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Lusia. Seperti apa dirinya dimata Lusia dan apa arti dirinya bagi Lusia. 'Teman terbaik, sampai kapanpun David akan menjadi teman terbaiknya', itulah yang dikatakan Lusia. Mendengar hal itu, David pun mulai melepas perasaanya dan memutuskan untuk menjadi teman terbaik seperti yang Lusia katakan.

__ADS_1


"Apa kau pernah menyesal? Karena tidak memperjuangkan perasaanmu saat itu?" tanya Rayn setelah mendengar cerita David.


"Tidak...! Aku tidak pernah menyesalinya. Meskipun pada akhirnya aku mengubur perasaan itu tanpa mengungkapkannya, aku tidak pernah menyesal" sahut David.


"Kenapa?" tanya Rayn santai.


David kini memandang ke arah Reisa. "Karena dia.... Karena dia aku tidak menyesal. Aku justru akan menyesal jika sampai akhir tidak bisa melihat perasaannya. Saat itu aku baru mulai menyadari jika Reisa lah orang yang selama ini selalu ada untukku dengan semua ketulusan hatinya. Dan aku akan menjadi orang bodoh jika mengabaikannya demi menunggu cinta yang tidak pernah ada untukku" ucap David.


"Lalu mengapa kau mengatakannya kepadaku sekarang?" tanya Rayn.


"Karena kau orang yang beruntung" sahut David singkat.


David tersenyum lalu kembali memandang pantai. "Lusia seperti sebuah berlian, siapapun yang melihatnya akan mulai menginginkannya. Dia adalah wanita yang berharga dan juga luar biasa. Jadi, jangan pernah berpikir untuk melepasnya ataupun menyerah. Jika itu terjadi, kau akan menjadi orang yang akan sangat menyesalinya. Melindungi wanita yang kita cintai tidak hanya sekedar menjaga perasaannya, tapi kau juga harus menjaga perasaanmu untuk tidak lemah" lanjut ucapnya.


David mengatakannya bukan untuk menggoyahkan Rayn, tapi ia justru berharap Rayn bisa lebih menghargai perasaannya sendiri untuk bisa melindungi cinta mereka. Hal itu ia lakukan setelah mengingat Rayn pernah menyerah akan perasaannya dan melepas Lusia saat ia berpikir tidak bisa melindunginya.


"Terima kasih" ucap Rayn seperti pria sejati. "Terima kasih sudah memberitahuku jika dia pernah menjadi cinta pertamamu. Kau benar, akulah orang yang sangat beruntung bisa memilikinya" lanjut ucap Rayn tersenyum kepada David.


...***...


Tanpa terasa waktu telah berlalu, bahkan Lucas mulai terlihat kelelahan dan ingin kembali ke Hotel. Mereka sudah berpergian ke pantai, menikmati keindahan kota, berbelanja dan kini diakhiri dengan menikmati berbagai hidangan khas Kanada di sebuah restoran mewah.


"Dia mengatakan untuk mencari udara segar sebentar. Aku akan menghubunginya" ucap Mickey.


"Tidak perlu, aku akan menghubungi dan mencarinya" sahut Lusia.


Lusia pamit sejenak kepada ibunya untuk meninggalkan ruangan makan, ia lalu pergi keluar untuk mencari Rayn. Bersamaan dengan Lusia, Rayn pun juga hendak kembali setelah membaca pesan dari Lusia yang mengatakan jika mereka sudah selesai dan akan kembali ke hotel.


Ryan seketika menghentikan langkah kakinya saat melihat sosok wanita yang kini telah menjadi istrinya berjalan ke arahnya. Lusia terlihat sedang mencarinya melihat ke sana kemari. Rayn terdiam menatap ke arah Lusia. Seketika dirinya teringat kembali perkataan David saat di pantai.



"Melindungi wanita yang kita cintai tidak hanya sekedar menjaga perasaannya tapi kau juga harus menjaga perasaanmu untuk tidak lemah."



Meskipun dalam jarak yang cukup jauh, kedua mata mereka berdua akhirnya saling bertemu dan saling memandang satu sama lain.


"Maafkan aku Rayn, seharian ini aku sudah terlalu sibuk dengan ibu dan adikku sampai mengabaikanmu" batin Lusia memandang Rayn yang berdiri di sana.

__ADS_1


Rayn pun kembali melangkah menghampiri Lusia. Lusia mengurai senyum dan mengulurkan satu tangannya kepada Rayn yang semakin dekat. Rayn pun segera meraih uluran tangan Lusia dan menggandengnya. Lusia berterima kasih kepada Rayn karena telah memberinya waktu hari ini untuk bersama ibu dan adiknya. Ia juga bertanya tentang apa yang sedang dilakukan Rayn sendirian di sana. Rayn hanya tersenyum, ia mengatakan hanya sekedar mencari udara segar.


Rayn meminta Mickey untuk membawa Ibu Lusia dan Lucas kembali ke Hotel, sementara dirinya akan membawa Lusia ke suatu tempat karena ada seseorang yang ingin ia temui. Lusia menyetujuinya tanpa bertanya kemana dan siapa orang yang akan mereka temui.


Di dalam mobil, Rayn sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari Lusia. "Ada seseorang yang harus aku temui, aku tahu seharusnya aku menemuinya sebelum pernikahan kita untuk mendapatkan restu, tapi aku terlalu tidak percaya diri dan khawatir akan mengecewakannya. Karena itu aku ingin memperkenalkan dirimu langsung padanya sebagai istriku" ucap Rayn tersenyum.


"Seseorang yang akan memberi restu?" tanya Lusia.


Rayn hanya menjawab dengan anggukan sehingga membuat Lusia menjadi semakin gugup, ia bahkan lebih gugup daripada waktu bertemu dengan ayah Rayn sebelumnya.


Setelah cukup lama berkendara, kini keduanya telah sampai di sebuah pemakaman. Rayn berdiri di depan makam seorang wanita yang selalu menempati kedudukan nomor satu dihatinya. Dan juga disebelah Rayn berdiri Lusia, wanita yang sangat ia cintai dan akan mendampingi dirinya disisa waktu hidupnya.


Dengan penuh percaya diri, Rayn semakin menggenggam erat tangan Lusia dan mulai menyapa ibunya, Ny.Angelina. "Mom, aku datang" ucap Rayn memandang makam sang ibunda dengan tersenyum,


"Aku tahu, ibu mungkin akan mengeluh dan memukulku dengan kesal karena aku baru memperkenalkannya sekarang" ucap Rayn.


Rayn lalu menoleh menatap ke arah Lusia. "Apa ibu masih ingat gadis bekuncir kuda yang aku ceritakan kepada ibu saat aku datang kemari beberapa tahun lalu? Dia adalah orangnya, gadis bar-bar yang sama sekali tidak punya rasa takut" lanjut ucap Rayn masih menatap lekat Lusia.


"Dia adalah orang yang menyelamatkanku waktu itu, dia juga orang yang selalu aku andalkan dan dia..." ucap Rayn tertahan. "Dia adalah istriku. Apa ibu menyukainya? Dia sangat cantik kan? Ayah pun merestui kami meskipun aku harus mengancamnya dulu. Tapi tidak, tanpa aku melakukannya ayah pasti akan percaya setiap keputusanku, seperti ibu yang juga akan selalu mendukungku, benar kan ibu" ucap Rayn.


Lusia terpana melihat Rayn mengatakannya dengan hati yang begitu tulus. Dia pasti sangat dekat dengan ibunya, itulah yang dipikirkan Lusia saat ini. Lusia tersenyum lalu kembali memandang makam ibu Rayn.


Kini saatnya Lusia menyapa Ibu mertuanya. "Ibu, senang bisa bertemu denganmu. Meskipun Rayn sudah pernah mengatakan tentang diri saya, namun saya tetap harus menyapa dan memperkenalkan diri saya dengan benar. Nama saya Lusia, istri dari putra anda. Ibu tidak akan keberatan kan jika saya juga memanggil anda ibu kan. Maafkan saya karena baru menemui ibu sekarang" ucap Lusia.


Lusia menatap Rayn, lalu menatap tangan Ryan yang menggenggam erat tangannya. "Ibu, terima kasih sudah melahirkan seorang putra yang luar biasa. Meskipun dia suka jahil dan terlihat acuh, tapi dia adalah seorang pria berhati baik. Saya sangat mencintainya, sangat, sangat mencintainya. Tidak hanya itu, saya sungguh ingin selalu ada disisinya, melihatnya, menemaninya dan berbagi kasih dengannya. Saya harap ibu bisa memberikan restu dan doa ibu dari surga untuk kita, ibu" ucap Lusia membuat Rayn terharu.


"Terima kasih Lusia, Di hidupku yang sulit dan penuh rasa gelisah, kau datang seperti cahaya" ucap Rayn dalam hati.



"Saya yang akan melanjutkan perjuangan ibu untuk menjaga Rayn, tidak akan pernah meninggalkannya dan akan selalu mencintainya."


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2